INDAHNYA ISLAM

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).


Rabu, 24 Oktober 2012

Tarbiyyah + Dakwah

Diposting oleh Yusuf shadiq


Alhamdulillah diri ini masih boleh untuk menghidu udara yang segar disamping dapat melihat burung-burung berkicauan di angkasa yang terbentang luas subhanallah... ucapan syukur tidak terhingga juga kepada Pencipta atas segala nikmat dan nikmat tertinggi,iman & islam. itulah ciptaan Allah swt... ketika diri melihat ciptaan Sang Pencipta yang memutarkan bumi yang langit dan tanah tiada paksi. Terlintas di fikiran sejenak.

Adakah ukhuwwahfillah sesama ikh/akh cukup kuat?
Adakah ahlinya sudah jauh dari segala musykilah?
Adakah mutabaah amal sudah ditanda + diamal?
Adakah wajibat yang ditaklifatkan sudah terselesai?
Adakah DF kita semakin bergerak kencang atau hanya di awangan semata2?

tepuk dada tanya IMAN...

Tergerak jari-jemari ini untuk menulis dan berkongsi gambaran mengenai PROSES DAKWAH oleh seorang qudama' yang sekian lama memperjuangkan ISLAM hingga ke titisan darah terakhir...

Sebelum itu, apakah tarbiyyah yang difahami?

Telah didefinasi tarbiyyah dari seorang pakar tarbiyyah yang mengatakan
"Cara yang paling ideal dalam berinteraksi dengan firah manusia,baik secara langsung melalu
i perkataan atau secara tidak langsung melalui keteladanan untuk memproses perubahan diri manusia ke arah kondisi yang lebih baik."
[Dr.Ali Abdul Halim]

Gambaran Sayyid Qutb mengenai PROSES DAKWAH adalah seperti biola.
"Ia menganalisa fitrah manusia itu secara teliti, lalu menggesek seluruh tali dan seluruh nada yang dimiliki oleh tali-tali itu. kemudian mengubahnya menjadi suara yang merdu. Di samping itu,ia juga menggesek tali-tali secara menyeluruh,bukan satu demi satu yang akan menimbulkan suara sumbang dan tidak terasa. Tidak pula menggeseknya hanya sebahagian dan mengabaikan bahagian yang lain,yang menyebabkan irama tidak sempurna dan tidak mengungkapkan irama yang indah hingga sampai ke tingkat gubahan yang paling mengesankan."

Kesan tarbiyyah inilah yang dapat melahirkan "manusia bekerja rajin,produktif dan aktif sepanjang tahun.'

Sebagai seorang daei yang membawa risalah, bukanlah ibarat anjing yang tertipu dengan bayangannya sendiri. Jangan terlalu asyik dan berasa berada didalam zon selesa pabila diri berasa tinggi dari yang lain. Sedarlah, risalah ISLAM yang dibawa bukan untuk individu semata-mata tetapi UMMAT.

Mulakan dari dalaman diri setiap daei. Muhasabah diri kembali takut terleka dibuai mimpi-mimpi indah dan angan-angan yang tiada titik noktah. Moga diri-diri yang berjuang demi ISLAM ini thabat atas jalan yang dipilih kerana Allah bukan kerana lain. Jatuhnya seorang d
aei, daei yang lain harus bangunkan kembali agar dapat bersama-sama memperjuangkan ISLAM.

Firman Allah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمْ الصَّادِقُونَ

{Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak ragu (dalam keimanan itu) dan mereka berjihad dengan harta benda mereka serta diri mereka pada jalan Allah. Merekalah orang-orang yang benar (dalam menghayati keimanan/aqidah)}
Read More - Tarbiyyah + Dakwah

Kamis, 10 November 2011

JANJI ALLAH UNTUK KEMENANGAN ISLAM

Diposting oleh Yusuf shadiq
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Hikmah adalah mutiara tak ternilai bagi seorang Muslim. Terkadang, kita menemukan secercah cahaya justru dari lisan seorang anak kecil. Atau terkadang, kita tergugah dengan semangat berjuang dari seorang yang tampaknya lugu.
Dan barangkali, pertanyaan seorang murid tempo hari juga patut kita jadikan renungan bersama.
“Kenapa sih kita harus memperjuangkan Islam, padahal sudah jelas tertulis bahwa kelak Islam pasti akan menang?”

Saudaraku,
Saya sadar, memang tak cukup ilmu saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, sebisa mungkin saya mencoba menjawab pertanyaan adik kita itu.
Saya awali jawaban tersebut dengan penjelasan tentang takdir dan nasib. Takdir Allah meliputi hal-hal yang tidak dapat kita ubah, walau dengan usaha apapun. Hidup, rizki, jodoh, dan mati itu adalah takdir. Dan tidak akan mampu kita ubah, apapun caranya.
Allah berfirman:
“Katakanlah (Muhammad): ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (QS At Taubah: 51)

Adapun nasib, hanya akan Allah ubah jika seorang hamba melakukan ikhtiar. Sebagaimana yang Allah titahkan dalam firman-Nya yang indah:
“Dan Allah tidak akan mengubah nasib seorang hamba sebelum mereka mengubah nasibnya sendiri..” (QS Ar Ra’d: 11)

Yaa ikhwahfillah…..
Memanglah, Islam sudah dijanjikan menang oleh Allah. Semua ketentuan itu sudah tertulis jelas di Al Qur’an dan Sunnah. Dan itulah takdir. Tidak dapat diubah. Tapiiiiiii…coba kita renungkan bersama. Seandainya tidak ada yang memperjuangkan kemenangan itu, lantas siapakah yang akan menjadi relawan masuk surga? Siapakah yang mau dipaksa untuk jatuh ke neraka?
Rasulullah SAW bersabda:

Allah akan segera memberi pahala kepada orang-orang yang keluar berperang dalam keadaan beriman kepada Allah, dan iman kepada Rasul-NYA, “Aku akan memulangkannya denganpahala dan kemenangan, atau akan Aku masukkan ia ke surga”. (HR Bukhari)

Tentang ini, Allah juga sudah berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki…..” (QS Ali Imran: 169)

Maka, itulah permasalahannya. Kemenangan Islam itu takdir. Kematian seorang hamba juga takdir. Akan tetapi, surga dan neraka itu nasib. Bisa kita upayakan. Bisa kita ikhtiarkan. Melalui upaya penegakan kalimatullah, insya Allah akan menentukan nasib kita di akhirat kelak. Dan itulah ujian keimanan. Ujian Allah untuk menyeleksi, siapakah di antara kita yang lebih tinggi imannya.

Sahabatku,
Adik kita itu bertanya lagi. “Lantas, mengapa pula kita tidak bersatu membela Palestina, padahal sudah jelas bahwa Bani Israel itu dilaknat oleh Allah?”
Wallahu a’lam.  Mungkin itu jugalah yang namanya nasib. Tiap orang dikaruniai bekal yang sama oleh Allah. Sebagaimana yang Allah firmankan:
“Maka Dia mengilhamkan (sukma) kefasikan dan ketaqwaannya…” (QS Asy Syams: 

Nah, jika setiap orang mempunyai bekal yang sama, yakni kefasikan dan ketaqwaan. Nafsu dan hati. Tinggal apa yang akan dipilih. Apakah jalan yang dituntun oleh nafsu, ataukah jalan hati nuraninya.
Meskipun Bani Israel sudah jelas dilaknat oleh Allah, tapi kadang nafsu akan membutakan mata dan hati kita. Kebenaran yang nyata jelas di hadapan tidak mampu ia lihat.
Wallahu a’lam bish showwab

Fitri Fatimah Zahra
Read More - JANJI ALLAH UNTUK KEMENANGAN ISLAM

Menjadikan Anak Kita Lelaki Peminang Bidadari

Diposting oleh Yusuf shadiq
DARI RAHIM YANG DICATAT SEJARAH

Ketika Imam Syaifii di tanya sejak kapan beliau mendidik anak, maka jawabannya sungguh diluar dugaan.
"Sejak aku belum menikah" Kata Beliau
"Aku mencarikan Istri yang baik lagi sholeha, sebagai tempat lahirnya anak-anakku" lanjut beliau.

Iya Benar
Disini kita tak boleh salah pilih.
karena Istri adalah sebagian dari darah...
sebagian dari nyawa.....
yang akan membentuk Karakter anak itu kelak
maka mengetahui latar belakang akhlak calon istri
adalah wajib hukumnya

Lihatlah bagaimana Umar Ibn Khattab, menikahkan putranya, dengan seorang gadis jujur, yang ia dengar percakapan gadis itu dengan ibunya, dimana gadis itu menolak mencampurkan susu dengan air, karena itu adalah perbuatan curang lagi tercela, sekaligus dosa

Maka dinikahkanlah Gadis itu dengan putranya..
kelak lahirlah dari rahim gadis itu cucu Umar Ibn Khattab
yang kita kenal juga dengan nama Umar
Umar bin Abdul Aziz....Penyelamat sejarah Bani Umayyah, sekaligus termasuk dalam kategori Khalifah ke 5 diluar dari 4 Khalifah yang kita kenal

Maka bagaimana mungkin akan lahir Generasi Rabbani
jika Calon Istrimu
memiliki sejarah hitam dalam lumpur maksiat
maka buanglah cintamu itu di pojok sejarah...
Carilah Istri, yang Sholeha lagi Cantik dan Baik Hati..
disana lah Rahim itu akan mencatat generasi baru
Generasi Rabbani

3 KONSEP MEWARNAKAN JIWA PUTIH ITU

Ali bin Abu Thalib, membagi 3 tahapan dalam pendidikan atau Tarbiyah anak, yang harus dilakukan orang tua

Pertama
Usia 0-7 Tahun Menjadikan anak Ibarat Seorang Raja
pada usia ini, adalah usia dimana anak-anak harus menikmati masa kanak-kanaknya
maka isilah dengan pola-pola pembelajaran akhlak dalam suasana bermain
inilah awal menanamkan tunas itu
menanamkan karakter itu.....

Kedua
Usia 7-14 Tahun, jadikan anak Ibarat Tawanan Perang
maksudnya, pada rentang usia itu
Disiplin adalah nafasnya
adalah unsur dominannya
Sholat mulai di peringatkan
mulai di beri sanksi jika lalai melaksanakan sholat...

pada usia ini pula diberikan Pelatihan-pelatihan Beladiri untuk anak laki-laki, agar unsur Maskulinnya menguat..

Ketiga
Usia 14-dst menjadikan anak sebagai Seorang Sahabat
pada rentang Usia ini, dialog dari hati kehati adalah kewajiban orang tua
sapaan bersahabat adalah menu sehari-hari
maka akan terbukalah jiwanya
maka akan mudahlah kita menyempurnakan karakternya

Kelak ketika kita merasa dirinya sudah cukup matang
ketika dirimu mengatakan...
"Nak Mau kah engkau Menikah..., abi Insya Alloh mempunyai data wanita sholeha untukmu..."

Maka ia hanya tersenyum pasti...
"Ananda ikut abi dan Ummi saja, Insya Alloh pilihan Abi dan Ummi adalah yang terbaik buat ananda..."

Maka Lahirlah Gerenarsi Umar bin Abdul Aziz Baru....
Maka Lahirlah Generasi Imam Syafii Baru....

JANGAN BIARKAN CITA-CITA MENGALIR BEGITU SAJA
DI KONSEP DAN EVALUASI SELALU SETIAP SAAT !!!

Engkau Harus Sadar !!
Ketika engkau menikah !!
Maka Harus mempunyai cita-cita
yang Tinggi
Besar
dan Bening...

Surga Alloh...!!
itulah cita-cita kita semua

Maka jangan biarkan mengalir...!
karena jika mengalir cita-cita itu tak terkendali

Dikonsep !!
di evaluasi !!

agar setiap saat kita bisa mengukur
masih dekatkah darmaga kita akan melabuhkan kapal ini...!!
atau Masih Jauh ??
atau berbalik arah ??
atau mulai Karam ??
mengukur semua itu
hanya bisa lewat konsep yang jelas...!!
Terang
seterang Matahari

LELAKI PEMINANG SURGA
adalah bahasa kiasan
dari arti, melahirkan generasi Rabbani
yang lahir dari keturunanmu
keturunanku
keturunan kita semua....

Semoga Alloh mencatatnya sebagai cita dan doa yang terijabah. . .Aamiin Ya Robb
Read More - Menjadikan Anak Kita Lelaki Peminang Bidadari

Selasa, 01 November 2011

"Tarbiyah bukan segala-galanya tetapi segala-galanya bermula dengan tarbiyah."

Diposting oleh Yusuf shadiq
Merenung dan memahami ayat ini sedalam-dalamnya pasti akan membawa kita kepada pelbagai memori lama.

Bagaimana kita tersadung dengan jalan tarbiyah?
Bagaimana kita mula jatuh cinta dengan ukhwah fillah?
Bagaimana kita mula meninggalkan karat-karat jahiliyah?

Semua itu adalah satu kenangan yang boleh menjadi daya tolak untuk kita terus melangkah. Kita masih melangkah walau kepenatan maha dahsyat menjengah. Kita masih melangkah kerana kecintaan kita, kesyukuran kita dengan jalan yang telah merubah hidup kita dari segala aspek samaada luaran dan dalaman..Fikrah, ruhiyah dan jasad. Begitulah tarbiyah mengajarkan kita. Ia telah berjaya membentuk manusia biasa menjadi luar biasa.

"Dan Allah melebihkan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mahu memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama (merasakan) rezeki itu. Mengapa mereka mengikari nikmat Allah? (al-Quran, 16:71)."
Sedari awal lagi kita mengimani bahawa jalan tarbiyah yang sedang kita lalui ini adalah satu nikmat dan rezeki yang besar dari Allah untuk kita.

Dan atas dasar keimanan itu jugalah, kita bergerak dalam meyampaikan dan menyeru manusia untuk bersama-sama merasai nikmat jalan ini.

Sehinggalah suatu ketika,

Setelah bertahun ditarbiyah dan mentarbiyah,

Tiba-tiba kita sudah tiada rasa. Terasa hambar dan ada juga yang melemah hanya kerana asbab teknikal yang sangat remeh untuk difikirkan (lagi-lagi kepada para daei).

Mula kering ketika menerima taujihat dari murabbi. Mula berat untuk bertemu mutarabbi yang sedia untuk ditarbiyah.

Dimana masalah sebenarnya?

Dalam diri kita?hati kita?murabbi kita?

Sedangkan, ini adalah pendapat Imam Hassan Al-Banna tentang mujahid yang membawa islam:
 “Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang sentiasa mempersiapkan dan membekali diri, berfikir tentang keberadaannya dalam segenap ruang hatinya. la selalu dalam keadaan berfikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam siap siaga. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena yang dia persiapkan untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan kecil di sebalik perjuangan.

Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin.”
Tidakkah kita tertampar?

Masih ada masakah untuk kita memikirkan tentang lemah?

Lemahnya jiwa adalah kerana keringnya iman kita.

Keringnya iman kita kerana kurangnya mutabaah amal kita.

Kurangnya mutabaah amal kita kerana lemahnya mujahadah kita.

wallahuallam

Jom kita tingkatkan iman dan amal bersama-sama. Semoga Allah lindungi kita dari azab yang tidak terkata dahsyatnya.


"Dan kalau bukan kerana kurniaan Allah dan rahmatNya kepadamu (nescaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Sungguh, Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang."(24:20)
Read More - "Tarbiyah bukan segala-galanya tetapi segala-galanya bermula dengan tarbiyah."

Jumat, 21 Oktober 2011

Definisi Dakwah Bilhal

Diposting oleh Yusuf shadiq


dakwah dengan contoh perbuatan yang nyata
‘Dakwah Bilhal’. Dakwah inilah yang sangat sukar kita laksanakan, sedangkan dalam sirah Rasulullah dakwah inilah yang begitu banyak menundukkan musuh hingga mereka jatuh cinta kepada Islam. Cubalah kita hayati dan contohi.

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,
“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia orang gila, dia pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan
makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sehinggalah beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan
makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abu bakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain merupakan isteri Rasulullah SAW lalu beliau bertanya kepada anaknya itu:
“Anakku, apakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab,”Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan
hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
“Apakah Itu?” tanya Abu bakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan
makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abu bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu bakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikannya makanan itu kepadanya.
Ketika Abu bakar RA mulai menyuapinya, si pengemis Yahudi pun marah sambil mengherdik, “Siapakah kamu?”
Abu Bakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).”
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si
pengemis buta itu.
“Apabila lelaki itu datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, malah terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,
setelah itu ia berikan padaku.” Pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang daripada sahabatnya. Sesungguhnya Nabi yang mulia itu telah tiada, iaitu Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar
RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku sedikitpun,
dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia.
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadah di hadapan Abu Bakar RA. Saat itu juga dan sejak hari itu si Yahudi menjadi seorang Muslim.
Read More - Definisi Dakwah Bilhal

Selasa, 11 Oktober 2011

Prinsip Da’wah Da;am Al Qur’an

Diposting oleh Yusuf shadiq
Pengertian dan Tujuan Da’wah
Da’wah Secara lughawi berasal dari bahasa Arab, da’wah yang artinya seruan, panggilan, undangan. Secara istilah, kata da’wah berarti menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah Swt. dan rasul-Nya agar manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Syaikh Ali Mahfuzh -murid Syaikh Muhammad Abduh- sebagai pencetus gagasan dan penyusunan pola ilmiah ilmu da’wah memberi batasan mengenai da’wah sebagai: “Membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan maencegah dari perbuatan yang munkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.”

Da’wah adalah usaha penyebaran pemerataan ajaran agama di samping amar ma’ruf dan nahi munkar. Terhadap umat Islam yang telah melaksanakan risalah Nabi lewat tiga macam metode yang paling pokok yakni da’wah, amar ma’ruf, dan nahi munkar, Allah memberi mereka predikat sebagai umat yang berbahagia atau umat yang menang . Adapun mengenai tujuan da’wah, yaitu: pertama, mengubah pandangan hidup. Dalam QS. Al Anfal: 24 di
sana di siratkan bahwa yang menjadi maksud dari da’wah adalah menyadarkan manusia akan arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukanlah makan, minum dan tidur saja. Manusia dituntut untuk mampu memaknai hidup yang dijalaninya.
Kedua, mengeluarkan manusia dari gelap-gulita menuju terang-benderang. Ini diterangkan dalam firman Allah: “Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu untuk mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada terang-benderang dengan izin Tuhan mereka kepada jalan yang perkasa, lagi terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)
 Urgensi dan Strategi Amar ma’ruf Nahi munkar
Dalam Al-Qur’an dijumpai lafadz “amar ma’ruf nahi munkar” pada beberapa tempat. Sebagai contoh dalam QS. Ali Imran: 104: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Hasbi Ash Siddieqy menafsirkan ayat ini: “Hendaklah ada di antara kamu suatu golongan yang menyelesaikan urusan dawah, menyuruh ma’ruf (segala yang dipandang baik oleh syara` dan akal) dan mencegah yang munkar (segala yang dipandang tidak baik oleh syara` dan akal) mereka itulah orang yang beruntung.”

Dalam ayat lain disebutkan “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran: 110). Lafadz amar ma’ruf dan nahi munkar tersebut juga bisa ditemukan dalam QS. At Taubah: 71, Al Hajj: 41, Al-A’raf: 165, Al Maidah: 78-79 serta masih banyak lagi dalam
surat yang lain.
 Bila dicermati, ayat-ayat di atas menyiratkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan perkara yang benar-benar urgen dan harus diimplementasikan dalam realitas kehidupan masyarakat. Secara global ayat-ayat tersebut menganjurkan terbentuknya suatu kelompok atau segolongan umat yang intens mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kejelekan. Kelompok tersebut bisa berupa sebuah organisasi, badan hukum, partai ataupun hanya sekedar kumpulan individu-individu yang sevisi. Anjuran tersebut juga dikuatkan dengan hadits Rasulullah: “Jika kamu melihat umatku takut berkata kepada orang dzhalim, ‘Hai dzhalim!’, maka ucapkan selamat tinggal untuknya.”
Dari ayat-ayat di muka dapat ditangkap bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan salah satu parameter yang digunakan oleh Allah dalam menilai kualitas suatu umat. Ketika mengangkat kualitas derajat suatu kaum ke dalam tingkatan yang tertinggi Allah berfirman: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.” Kemudian Allah menjelaskan alasan kebaikan itu pada kelanjutan ayat: “Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110). Demikian juga dalam mengklasifikasikan suatu umat ke dalam derajat yang serendah-rendahnya, Allah menggunakan eksistensi amar ma’ruf nahi munkar sebagai parameter utama. Allah Swt. berfirman: “Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Isra’il melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.” (QS. Al Maidah 78-79). Dari sinipun sebenarnya sudah bisa dipahami sejauh mana tingkat urgensitas amar ma’ruf nahi munkar.
 Bila kandungan ayat-ayat amar ma’ruf nahi munkar dicermati, -terutama ayat 104 dari QS. Ali Imran- dapat diketahui bahwa lafadz amar ma’ruf dan nahi munkar lebih didahulukan dari lafadz iman, padahal iman adalah sumber dari segala rupa taat. Hal ini dikarenakan amar ma’ruf nahi munkar adalah bentengnya iman, dan hanya dengannya iman akan terpelihara. Di samping itu, keimanan adalah perbuatan individual yang akibat langsungnya hanya kembali kepada diri si pelaku, sedangkan amar ma’ruf nahi munkar adalah perbuatan yang berdimensi sosial yang dampaknya akan mengenai seluruh masyarakat dan juga merupakan hak bagi seluruh masyarakat.
Hamka berpendapat bahwa pokok dari amar ma’ruf adalah mentauhidkan Allah, Tuhan semesta alam. Sedangkan pokok dari nahi munkar adalah mencegah syirik kepada Allah. Implementasi amar ma’ruf nahi munkar ini pada dasarnya sejalan dengan pendapat khalayak yang dalam bahasa umumnya disebut dengan public opinion, sebab al ma’ruf adalah apa-apa yang disukai dan diingini oleh khalayak, sedang al munkar adalah segala apa yang tidak diingini oleh khalayak. Namun kelalaian dalam ber-amar ma’ruf telah memberikan kesempatan bagi timbulnya opini yang salah, sehingga yang ma’ruf terlihat sebagai kemunkaran dan yang munkar tampak sebagai hal yang ma’ruf.

Konsisnten dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar adalah sangat penting dan merupakan suatu keharusan, sebab jika ditinggalkan oleh semua individu dalam sebuah masyarakat akan berakibat fatal yang ujung-ujungnya berakhir dengan hancurnya sistem dan tatanan masyarakat itu sendiri. Harus disadari bahwa masyarakat itu layaknya sebuah bangunan. Jika ada gangguan yang muncul di salah satu bagian, amar ma’ruf nahi munkar harus senantiasa diterapkan sebagai tindakan preventif melawan kerusakan. Mengenai hal ini Rasulullah Saw. memberikan tamsil: “Permisalan orang-orang yang mematuhi larangan Allah dan yang melanggar, ibarat suatu kaum yang berundi di dalam kapal. Di antara mereka ada yang di bawah. Orang-orang yang ada di bawah jika hendak mengambil air harus melawati orang-orang yang ada di atas meraka. Akhirnya mereka berkata ‘Jika kita melubangi kapal bagian kita, niscaya kita tidak akan mengganggu orang yang di atas kita’. Jika orang yang di atas membiarkan mereka melubangi kapal, niscaya semua akan binasa. Tetapi jika orang yang di atas mencegah, maka mereka dan semuannya akan selamat.”

Suatu kaum yang senantiasa berpegang teguh pada prinsip ber-amar ma’ruf nahi munkar akan mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Swt. yang antara lain berupa:
 1.       Ditinggikan derajatnya ke tingkatan yang setinggi-tingginya (QS. Ali Imran: 110). 2.       Terhindar dari kebinasaan sebagaimana dibinasakannya Fir’aun beserta orang-orang yang berdiam diri ketika melihat kedzalimannya. 3.       Mendapatkan pahala berlipat dari Allah sebagaimana sabda Nabi Saw.: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun”.
4.       Terhindar dari laknat Allah sebagai mana yang terjadi pada Bani Isra’il karena keengganan mereka dalam mencegah kemunkaran. (QS. Al-Maidah: 78-79).

Secara prinsipil seorang Muslim dituntut untuk tegas dalam menyampaikan kebenaran dan melarang dari kemunkaran. Rasul Saw. bersabda: “Barang siapa di antara kamu menjumpai kemunkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangan (kekuasaan)nya, apabila tidak mampu hendaklah dengan lisannya, dan jika masih belum mampu hendaklah ia menolak dengan hatinya. Dan (dengan hatinya) itu adalah selemah-lemahnya iman”. Hadits ini memberikan dorongan kepada orang Muslim untuk ber-amar ma’ruf dengan kekuasaan dalam arti kedudukan dan kemampuan fisik dan kemampuan finansial. Amar ma’ruf dan khususnya nahi munkar minimal diamalkan dengan lisan melalui nasihat yang baik, ceramah-ceramah, ataupun khutbah-khutbah, sebab semua. Muslim tentunya tidak ingin bila hanya termasuk di dalam golongan yang lemah imannya.

Da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar dengan metode yang tepat akan menghantarkan dan menyajikan ajaran Islam secara sempurna. Metode yang di terapkan dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar tersebut sebenarnya akan terus berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dihadapi para da’i. Amar ma’ruf dan nahi munkar tidak bertujuan memperkosa fitrah seseorang untuk tunduk dan senantiasa mengikuti tanpa mengetahui hujjah yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki.

Ketegasan dalam menyampaikan amar ma’ruf dan nahi munkar bukan berarti menghalalkan cara-cara yang radikal. Implementasinya harus dengan strategi yang halus dan menggunakan metode tadarruj (bertahap) agar tidak menimbulkan permusuhan dan keresahan di masyarakat. Penentuan strategi dan metode amar ma’ruf nahi munkar harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang dihadapi. Jangan sampai hanya karena kesalahan kecil dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar justru mengakibatkan kerusakan dalam satu umat dengan social cost yang tinggi.

Dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar hendaknya memperhatikan beberapa poin yang insya Allah bisa diterapkan dalam berbagai bentuk masyarakat:
 1.       Hendaknya amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan cara yang ihsan agar tidak berubah menjadi penelanjangan aib dan menyinggung perasaan orang lain. Ingatlah ketika Allah berfirman kepada Musa dan Harun agar berbicara dengan lembut kepada Fir’aun (QS. Thaha: 44). 2.       Islam adalah agama yang berdimensi individual dan sosial, maka sebelum memperbaiki orang lain seorang Muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri, sebab cara amar ma’ruf yang baik adalah yang diiringi dengan keteladanan. 3.       Menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar disandarkan kepada keihklasan karena mengharap ridla Allah, bukan mencari popularitas dan dukungan politik.
4.       Amar ma’ruf nahi munkar dilakukan menurut Al-Qur’an dan Al-Sunnah, serta diimplementasikan di dalam masyarakat secara berkesinambungan.

Dalam menyampaikan da’wah amar ma’ruf nahi munkar, para da’i dituntut memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, baik kepada Allah maupun masyarakat dan negara. Bertanggung jawab kepada Allah dalam arti bahwa da’wah yang ia lakukan harus benar-benar ikhlas dan sejalan dengan apa yang telah digariskan oleh Al Qur’an dan Sunnah. Bertanggung jawab kepada masyarakat atau umat menganduang arti bahwa da’wah Islamiyah memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial umat yang bersangkutan. Bertanggung jawab kepada negara mengandung arti bahwa pengemban risalah senantiasa memperhatikan kaidah hukum yang berlaku di negara dimana ia berda’wah. Jika da’wah dilakukan tanpa mengindahkan hukum positif yang berlaku dalam sebuah negara, maka kelancaran da’wah itu sendiri akan terhambat dan bisa kehilangan simpati dari masyarakat.
Read More - Prinsip Da’wah Da;am Al Qur’an

POKOK-POKOK PIKIRAN TENTANG DAKWAH ISLAM DAN ‘AMAL JAMA’I

Diposting oleh Yusuf shadiq
  • Da’wah Islam adalah sebuah proses taghyier (merubah) waqi’ al-jahily (realitas yang jahiliy) kepada waqi’ al-Islami (realitas yang Islami)
  • Perubahan yang dikehendaki oleh Da’wah Islam meliputi perubahan yang bersifat dakhily (ke dalam) seperti aspek ruhiyah, i’tiqodiyah, fikriyah, dan syu’uriyah, serta yang bersifat kharijy (ke luar) seperti aspek sulukiyah dan ‘amaliyah.
  • Perubahan tersebut di atas dimulai dari lingkaran fardi (individu), kemudian lingkaran usroh (keluarga) dan ijtima’i (masyarakat).
  • Untuk mencapai sasaran-sasaran dari proses taghyier ini diperlukan suatu ‘amal jama’i (kerja bersama)
  • Kejayaan Islam (= keberhasilan Da’wah Islam) adalah merupakan suatu yang bersifat aksiomatis (sudah pasti). Ia akan terwujud dengan atau tanpa kita (manusia / individu da’i) di dalamnya. Artinya : bukan kita yang memberikan keuntungan pada Islam dengan keimanan dan keterlibatan kita dalam ‘amal Islam, tapi kita lah yang beruntung bila kita beriman dan beramal Islami (ikut serta dalam da’wah Islam) itu. QS Al-Hujurat 17 dan QS Al-Maidah 54.
  • Hal yang penting disadari adalah bahwa yang melakukan aktivitas da’wah ‘amal jama’i ini adalah manusia (harakah al-Insan), yang memiliki kecenderungan buruk (fujur) dan baik (taqwa) QS Asy-Syams 8, bukan para malaikat (harakah al-Malaikah) yang hanya memiliki sifat tha’at. Sehingga hal-hal yang terjadi dalam realitas Da’wah Islam ini juga harus dilihat dengan perspektif kemanusiaan.
Read More - POKOK-POKOK PIKIRAN TENTANG DAKWAH ISLAM DAN ‘AMAL JAMA’I

Senin, 10 Oktober 2011

QODHOYA ASASIYAH ‘ALA THORIQID-DA’WAH

Diposting oleh Yusuf shadiq
Da’wah dan Qodhoya AsasiyahJalan da’wah adalah jalan yang satu, jalan yang telah dilalui oleh para Nabi dan Rosul Allah. Setiap du’at wajib memahami berbagai Qodhoya Asasiyah (isu-isu mendasar) di seputar jalan da’wah, untuk menjaga keselamatannya di sepanjang perjalanan, dan agar ia sampai di tujuan juga dengan selamat, imma memperoleh kemenangan wa imma memperoleh syahid. Isu-Isu Mendasar di Jalan Da’wah

  1. Ar-Ru’yatu Al Wadihah ( Pandangan Yang Jelas )
  2. Al-Istimroriyah ( Kesinambungan )
  3. An-Namwu wa Al Quwwah ( Pertumbuhan dan Kekuatan )
  4. Al-Muhafatazhatu ‘ala Al-Asholah ( Memelihara Orisinalitas )
  5. At-Takhtithu wa At-Tathwir ( Perencanaan dan Pengembangan )
  6. Jam’u Kalimatil-Muslimin ( Kesatuan Pandangan Kaum Muslimin )
  7. Al-‘Amalu Fi Majalid-Da’wah ( Bekerja Dalam Lapangan Da’wah )
  8. At-Taurits wa At-Tuhamu Al-Ajyal ( Pewarisan dan Regenerasi )
 Isu Pertama : Ar-Ru’yatu Al Wadihah ( Pandangan Yang Jelas )
  •  
    • Pentingnya bagi setiap aktivis da’wah memahami Ahdaf (sasaran) Da’wah dan Karakteristik jalan yang akan dilaluinya.
    • Salah satu Hadafud-Da’wah yang penting adalah Tegaknya Khilafah Islamiyah ‘Alamiyah
      • Tugas kekhalifahan (mandataris) Allah bagi manusia di muka bumi (QS 2:30)
      • Hadits tentang periodesasi kekhalifahan (periode ; Nubuwwah, Khilafah ‘ala Minhajin-Nubuwwah, Mulkan A’dhan, Mulkan Jabbariyan, dan kembali berulangnya periode Khilafah ‘ala Minhajin-Nubuwwah)
      • Kaidah Ushul : Kullu ma la yatimmul wajib illaa bihi fahuwa wajib
    • Sesuai dengan kesenjangan antara realitas kehidupan di satu sisi dengan sasaran da’wah yang ingin dicapai di sisi lain, maka di antara Karakteristik Jalan Da’wah yang penting dipahami oleh setiap du’at adalah :
      • Volume problematika yang dihadapi sedemikian banyak & luas, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengatasinya sedemikian panjang, sementara kapasitas dan umur kita terbatas (konsekuensinya pada persiapan yang matang, tekad yang kuat, kesabaran yang tinggi, keikhlashan yang penuh, kesiapan untuk menyambungkan tongkat estafet da’wah dari generasi ke generasi dsb.)
      • Banyak orang yang tidak senang dengan aktivitas da’wah ini karena hawa nafsu dan tipu daya syaithan. Sunnatullah berupa mihnah, ibtila’ dan fitnah yang dihadapi para Nabi & Rosul Allah merupakan “satu paket” dalam perjalanan da’wah ini (konsekuensinya pada kewaspadaan yang tinggi, kesabaran yang kokoh, dll.)
    • Bahayanya kesalahan dalam memahammi Ahdafud Da’wah dan Karakteristik Jalan yang harus dilalui adalah :
      • Aspek Fikriyah : Terjebak pada pola pemikiran Takfir
      • Aspek Harakiyah : Isti’jal, Tambal Sulam, Fragmentaris
      • Aspek Syakhshiyah : Cenderung bersifat Politis dan Mengabaikan Tarbiyah
    • Pentingnya memahami dan berinteraksi secara intensif, menyeluruh dan seimbang dengan 10 rukun bai’at : al-Fahmu, al-Ikhlash, al-‘Amal, al-Jihad, at-Tadhhiyah, ath-Tho’ah, ats-Tsabat, at-Tajarrud, al-Ukhuwwah, dan ats-Tsiqoh
 Isu Kedua : Al-Istimroriyah ( Kesinambungan )
  •  
    • Istimroriyah dalam da’wah adalah salah satu tuntutan yang harus dipenuhi sebagai konsekuensi dari karakteristik jalan da’wah yang panjang
    • Problematika Istimroriyah dalam da’wah bisa bersifat internal maupun eksternal
    • Perbekalan yang penting disiapkan oleh setiap du’at dalam memelihara istimroriyah ini antara lain adalah :
      • Tarbiyah Pribadi (Syakhshiyah) yang seimbang antara aspek Ruh, ‘Aqal dan Jasmani
      • Membangun dan memelihara Ukhuwwah (Ta’aruf, Tafahum, Ta’awwun, Takaful)
      • Merapatkan shaf para du’at dengan ‘amal jama’I
 Isu Ketiga : An-Namwu wa Al Quwwah ( Pertumbuhan dan Kekuatan )
  •  
    • Istimroriyah (yang statis) saja belum cukup di dalam harakah yang dinamis. Ahdafud-Da’wah yang luas menuntut adanya pertumbuhan dan kekuatan dalam kesinambungan.
    • Pertumbuhan da’wah adalah bersifat horizontal (manuver dan penambahan kuantitas afrad du’at dan wilayah yang menyeluruh / ‘alamiyah) dan vertikal (peningkatan mustawa afrad du’at dari sisi kualitas individu, keluarga dan komunal).
    • Yang penting dipahami dalam aspek pertumbuhan ini adalah bahwa prosesnya bersifat tadarruj (bertahap) tidak seketika / tergesa-gesa, dan bahwa komposisi mujtama’ muslim yang ideal tidaklah mengharuskan seluruhnya berkualitas teladan dan utuh. Cukuplah sejumlah individu dan keluarga muslim yang ideal ditambah masyarakat yang responsif partisipatif terhadap da’wah Islam.
    • Aspek kekuatan merupakan tuntutan yang mengiringi aspek pertumbuhan, yang meliputi kekuatan ‘Aqidah, Wihdah (persatuan), dan Silah (sarana ; Ilmu, Fisik, Dana, Senjata, Publikasi, dsb.)
    • Hal-hal yang penting diperhatikan dalam memperkokoh kekuatan adalah :
      • Irodah Qowiyyah
      • Wafa’ Tsabit
      • Tadhkhiyyah ‘Azizah
      • Ma’rifatul Mabda’
 Isu Keempat : Al-Muhafatazhatu ‘ala Al-Asholah ( Memelihara Orisinalitas )
  •  
    • Memelihara Orisinalitas merupakan hal yang penting untuk diperhatikan agar kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan tidak menjadi kehilangan arah dan keluar dari rute perjalanan yang sebenarnya
    • Problema Internal (‘aqidah, fikriyah, akhlaqiyah, ukhuwwah, iqtishodiyah, dll) dan eksternal (ghozwul fikri, ghozwul askari, fitnah, dll) menuntut setiap du’at senantiasa terikat pada asholahnya (akar konsep rujukannya, manifestasi dari syahadatainnya, yakni Kitabullah dan Sunnah beserta Siroh Rosulullah saw).
    • Di antara bahaya mengabaikan pemeliharaan asholah ini adalah lahirnya bentuk-bentuk pemahaman dan aktivitas yang bersifat juz’iyah (parsial), mengutamakan satu hal dan mengabaikan hal-hal penting lainnya.
 Isu Kelima : At-Takhtithu wa At-Tathwir ( Perencanaan dan Pengembangan )
  •  
    • Upaya pencapaian Ahdafud Da’wah yang luas menuntut adanya takhthith (perencanaan) yang teliti dan seksama, tidak asal-asalan, spontanitas dan reaksioner.
    • Pentingnya dipahami bahwa perencanaan tidaklah bertentangan dengan keyakinan akan taqdir Allah, karena perencanaan juga disyari’atkan oleh Allah (QS 59:18). Tawakkal adalah mempergunakan seluruh sebab dan kemudian menyerahkan keputusannya pada Allah.
    • Perencanaan yang baik memperhatikan, menginventarisir, menghimpun berbagai potensi, faslitas, keahlian individu, dan mengarahkan, mendayagunakan dan memanfaatkannya secara optimal untuk mendukung pencapaian sasaran-sasaran da’wah.
    • Perencanaan yang baik memperhatikan berbagai faktor perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai sunnah kauniyah lainnya sehingga akan membuat khiththah da’wah berjalan secara waqi’I (realistis) dan praktis, tidak bersifat nazhari (teoritis) yang khayali / jauh dari kenyataan.
    • Aspek pengembangan dan pembaharuan sangat penting dan berpengaruh dalam proses da’wah Islam. Setiap du’at dapat memanfaatkan setiap penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung sarana da’wahnya. Bersikap statis dan menolak perkembangan iptek merupakan kekeliruan yang mesti segera diluruskan karena akan merugikan da’wah sendiri.
 Isu Keenam : Jam’u Kalimatil-Muslimin ( Kesatuan Pandangan Kaum Muslimin )
  •  
    • Kesatuan adalah qodhiyah paling penting dalam ‘amal jama’i. Tanpa persatuan dan kesatuan boleh dikatakan hampir mustahil dapat mewujudkan sasaran-sasarannya.
    • Diantara Kaidah Utama di dalam memelihara persatuan di antara kaum muslimin dan mengoptimalkan kerja berbagai gerakan da’wah Islam adalah ungkapan :
“Mari kita bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati, dan Tasamuh (tolerans) dalam hal-hal yang tidak / belum disepakati”. Isu Ketujuh : Al-‘Amal Fi Majalid-Da’wah ( Bekerja Dalam Lapangan Da’wah )
  •  
    • Yang dimaksud dengan ‘amal fi majalid da’wah mencakup aktivitas penanaman iman yang teguh, pembentukan yang cermat dan kerja yang berkesinambungan
    • Setiap du’at hendaknya lebih mementingkan segi ‘amaliyah daripada di’ayah (kampanye) dan propaganda, dan hendaknya setiap du’at siap untuk menjadi orang yang teruji dengan ‘amal.
    • Perbedaan bentuk kontribusi ‘amaliyah dalam da’wah hendaknya dipahami dalam konteks ‘amal jama’i. Keseimbangan dalam beramal juga mutlak diperlukan.
    • Yang penting diperhatikan adalah landasan yang memotivasi dalam ber’amal yakni ‘ibadah (kepada Allah) dan dalam rangka memberikan kemanfaatan (langsung maupun tak langsung) bagi kemashlahatan umum (manusia, alam semesta dan segenap isinya).
 Isu Kedelapan : At-Taurits wa At-Tuhamu Al-Ajyal ( Pewarisan dan Regenerasi )
  •  
    • Pewarisan dan Regenerasi merupakan salah satu konsekuensi dari luasnya sasaran da’wah yang akan dicapai, yang mana pencapaiannya tidak cukup hanya melalui upaya satu generasi (boleh jadi dibutuhkan beberapa generasi yang secara berkesinambungan berupaya melaksanakan ‘amaliyah-‘amaliyah da’wah untuk tercapainya sasaran tersebut).
    • Yang penting dipahami adalah bahwa pewarisan tidak akan berjalan mulus hanya dengan buku dan risalah-risalah.
      • Dibutuhkan mu’ayasah yang intensif antar generasi, sebab dengan keteladanan yang langsung akan melahirkan kesatuan hati, persenyawaan dan kecintaan yang tulus, sebagai landasan yang utama dalam proses regenerasi.
Read More - QODHOYA ASASIYAH ‘ALA THORIQID-DA’WAH

Cara Mudah Berdakwah

Diposting oleh Yusuf shadiq
Tanya : Saya mulai terbuka hati menerima Islam, mulai bersedia meninggalkan sikap bermain main, tidak serius dalam beragama semenjak saya mendengar dakwah dakwah yang menyentuh dari beberapa orang da’i. Bersamaan dengan tumbuhnya kesadaran tadi, ketika diri tengah terus melangkah di perjalanan [sabilillah], saya terkenang teman teman lama yang dulu seia sekata dalam kejahiliyyahan, saya telah tertolong, tapi bagaimana dengan mereka. Saya ingin berdakwah, tapi apa yang harus saya katakan, harus dari mana memulainya ??
  • Al Quran memberikan panduan dalam S.6:70, bagi para pemula yang baru saja meninggalkan kehidupan yang serba tidak serius dengan Islam adalah : tidak kembali dulu kelingkungan itu [Tinggalkanlah orang orang yang menjadikan agama mereka sebagai main main dan senda gurau serta mereka tertipu oleh kehidupan dunia]. Walaupun tentu meninggalkan di sini bukan berarti untuk selama lamanya, setelah beberapa waktu, setelah si pemula tadi pun mulai kokoh aqidah, amal dan akhlaqnya, maka ia harus kembali pada lingkungan lama tadi untuk mengingatkan [dan ingatkanlah mereka dengan Al Quran agar jangan sampai ada jiwa yang masuk neraka karena kegegabahan perbuatannya]. Walaupun khithob adalah Nabiyulloh Muhammad SAW, namun tentu hikmah pelajarannya buat kita semua para pembaca Al Quran.
  • Menjawab pertanyaan di atas : Saya ingin berdakwah, tapi apa yang harus saya katakan, harus dari mana memulainya ?? Maka mulailah dari diri sendiri [kata nabi Ibda binafsika !] disiplinkan diri dengan kebenaran yang telah diperoleh, setelah tiba pada tingkat kekokohan tertentu, yakin diri tidak akan terbawa bawa lagi arus buruk masa lalu, datangilah kawan kawan lama anda itu. Anda sudah punya jalan untuk menyampaikan Quran kepadanya [pernah kenal], namun ingat yang diutarakan jangan pendapat pribadi, keinginan sendiri, apalagi kebencian diri tapi fadzakkir bihi [Ingatkan mereka dengan Al Quran]. Insya Alloh kalaupun ada penolakan tidak akan frontal, karena dalam kasus ini yang berbenturan bukanlah “keinginan anda dan maunya dia” tetapi orang tersebut belum siap untuk selaras dengan firman pencipta dirinya sendiri ! Kita sendiri tidak akan tersinggung tokh bukan kata kata kita yang didustakannya.
  • Misalnya mulailah dengan pengalaman rohani anda sendiri, misalnya dengan berkata : “Setelah dijalani sekian lama, ternyata dirasa rasa apa yang saya lakukan selama ini hanya membunuh masa depan saya sendiri. Baik masa depan dunia, apalagi nasib saya di akhirat kelak. Kalau terus terusan begitu, entah bagaimana nasib anak anak saya nanti, kelakuannya, akhlaqnya, apakah mereka akan menghormati ayahnya jika saya sudah tua renta dan tidak sejagoan ini lagi. Dan ketika saya membaca Al Quran ternyata kehidupan seperti itu hanyalah …………..” Lakukan seperti itu berulang ulang dalam setiap kesempatan yang memungkinkan, bila ada perubahan pada dirinya Alhamdulillah, diakhirat anda akan mendapat bonus yang “lebih baik dari dunia dan isinya” Bila tidak berubah, anda pun jangan marah, tokh orang yang lebih mulia dari anda pun, yang tidak pernah berkubang dalam dosa [Nabi Muhammad SAW] beliau diperintah hanya sebagai juru ingat, sama sekali bukan pemaksa atas manusia [S.88:21-22]. Yang penting anda jangan lagi seperti mereka [S.5:105].
  1. Tanya : Mengapa saya harus berdakwah, tidakkah cukup dengan tanggung jawab saya atas diri saya sendiri ? Sekarang saya sudah berubah, tidak lagi seperti dulu. Ini saja memerlukan disiplin diri yang kuat, penjagaan yang ketat, kalau saya berdakwah apa malah tidak jadi terpecah konsentrasi ? Saya harus jaga diri, ditambah lagi dengan menjagai prilaku orang lain …..
  • Kita akui bahwa sebelum ini, kita sempat berkecimpung dalam kelalaian dan kekeliruan, tidakkah kita khawatir kalau kalau ada diantara manusia yang sekarang berbuat ma’shiyyat justru karena terilhami oleh prilaku kita yang dulu dulu ketika masih bersama mereka ? Tidak mustahil ada yang berani berbuat dosa justru karena kita pernah memperbuatnya. Bila ini terjadi, berarti ada atsar buruk -bekas langkah kita- yang masih tercecer dan terus mengalir. Ada amal jariyah [amal yang mengalir] yang bila tidak segera dihentikan akan terus menerus menambah berat timbangan keburukan kita, sebab walaupun kita telah berhenti berbuat, tetapi atsar ini tetap ditulis juga sebagai bagian dari yang harus kita pertanggung jawabkan. Perhatikan Surah Yaasiin [36] : 12 “…dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas bekas yang mereka tinggalkan …”
  • Shahabat ‘Umar ra nampaknya menyadari penuh akan bahayanya atsar buruk ini, dari itu tercatat dalam sejarah, setelah beliau masuk Islam, maka di tempat tempat mana dulu ia pernah berbuat dosa, beliau kunjungi kembali seraya mengumumkan keislamannya dan mengajak orang kepada Islam. Ini merupakan salah satu contoh kegigihan menghapus bekas [Atsar] tadi
  • Dengan demikian, berdakwah sebenarnya bukan “mengurusi orang lain”. tapi membenahi diri sendiri, jangan sampai ada bekas kejelekan diri yang belum disumbat hingga jadi amal jariyah negatif seperti diulas di atas.
  • Dakwah pun merupakan usaha kita membebaskan diri dari terlibat dalam ma’shiyyat yang terjadi di depan mata kita. Dinyatakan dalam sebuah hadits shohih bahwa di akhirat nanti akan ada orang yang menarik tangan kita dan berkata : “Ya Alloh inilah yang telah mencelakakan saya” Kita mengelak dan berkata : “Bagaimana mungkin saya mencelakakannya padahal saya tidak mengenal dia” Ia akan bilang “Benar Ya Alloh, dia tidak kenal akrab dengan saya, tapi dia pernah melihat saya berbuat dosa, dan tidak menegur kesalahan saya itu, andai ia mengingatkan tentu saya tidak akan berketerusan dalam ma’shiyyat”. Kita tidak bisa mungkir lagi sebab filem ketika peristiwa itu terjadi bisa ditayang ulang, sehingga akhirnya kita akan terpojok ketika ditanya : “Mengapa kamu melihat dia berdosa engkau biarkan …?”
  • Menghayati surat Al A’raf 164 – 165 [silahkan baca dan telusuri tafsirnya di kitab kitab tafsir] menyampaikan kita pada sebuah kesimpulan, bahwa nasib diri kita begitu terancam di akhirat, sudah harus mempertanggung jawabkan kekeliruan sendiri [sebagai manusia, kecil atau besar kita tak pernah luput dari kesalahan] ditambah lagi dengan “ditarik tarik tangan orang” , yang kebetulan di dunia pernah berbuat salah di depan kita dan kita tak berani mendakwahinya …… Kita punya hutang dakwah kepada semua wajah yang pernah kita lihat, yang ketika dirinya tampak di depan kita, kita tahu ia tengah melakukan kekeliruan. Kita tidak bisa menutup mata yang sebelah lagi untuk urusan ini. Sebab bila selama ini kita ‘menutup sebelah mata’ dengan kema’shiyyatan yang melanda, maka bila kita tutup sebelah lagi [dengan tidak mau belajar dakwah, walaupun hanya lewat obrolan] maka kita sendiri akan menjadi buta !
  • Dakwah bukanlah menjagai orang lain, tapi memelihara diri sendiri. Ini perlu dicamkan, sebab selama ini banyak orang yang menyamakan arti dakwah dengan “usilan atau memaksa orang seperti maunya kita”. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dengan melakukan amal dakwah yaitu
  • Kita ter________________tan karena telah mengingatkan orang [S.7:164 - 165] addapun soal takwa dan tidaknya yang didakwahi itu urusan kedua [ma’dzirotan ilaa robbikum, itu yang pertama, baru wa la’allahum yattaquun]. Lihat pula S.6:69
  • Dimasukkan dalam golongan Ulul Baqiyyah yang dijanjikan beroleh keselamatan, sedang acuh tak acuh dengan dakwah, mementingkan diri sendiri, terancam dapat gelaran dzalim, yaitu mereka yang hidup hanya mementingkan kemewahan dan kesenangan hidup duniawi [lihat S.11:116]
  • Ikut serta mencegah terjadinya fitnah [kemelut, rusaknya agama, tersebarnya bencana] yang bila itu terjadi, tidak hanya orang dzalim saja yang terkena, termasuk pula orang yang baik baik yang tadinya acuh tak acuh dengan dakwah ! Lihat S.8:25
  • Dakwah tidak memecahkan konsentrasi kita dalam berdisiplin melaksanakan tha’at justru menambah maraknya suasana jiwa kita dalam berislam. Mengapa ? sebab bukan hanya dilaksanakan tapi kita pun terus menerus membicarakannya. Minimal bila suatu sa’at datang malasnya, kita pun akan tertagih dengan kata kata sendiri. Bukankah ini menguntungkan ?? Daripada sudah diri tidak mengerjakan, kita pun tak pernah pula membicarakan. Apa tidak malah keterusan lupanya ?? Bukankah malu dan iman itu dua bagian yang tak terpisahkan [ Al Hadits], bila satu hilang yang satunya pun terancam segera sirna. Banyak membicarakan kebaikan, membuat kita semakin terikat dengan tuntutan untuk konsekwen, ada rasa malu bila diri sendiri tidak melaksanakan. Dari sudut ini, malu oleh kata kata sendiri adalah pelindung iman terakhir agar tidak cepat menguap.
  1. Saya malu berdakwah, kelakuan saya sendiri masih amburadul. Saya takut terkena murka, Apa artinya bicara baik bila diri sendiri masih berantakan.
  • Siapa yang memberi tahu anda bahwa bicara baik itu tidak ada artinya ?? Bicara baik itu sudah bagian dari tanda iman [man kaana yukminu billahi wal yaumil akhir fal yaqul khoiron au liyasmut HR. Bukhori] bila begitu menurut nabi, terus siapa yang berani mengatakan bicara baik tak berarti ?? Ini saya tegaskan agar sikap perfeksionis [prinsip jika tidak sempurna lebih baik tidak] yang menghambat potensi dakwah ummah tidak merebak luas. Bila diukur / dibandingkan antara tingkat bahayanya orang yang kelakuannya baik tapi bicaranya salah dengan orang yang kelakuannya buruk tapi pembicaraannya baik, maka daya rusaknya terhadap ummat, yang lebih berbahaya adalah mereka yang manis tingkah lakunya, mempesona akhlaqnya, tapi dari mulutnya keluar fatwa yang salah. Orang percaya dan mengikuti sebab tertarik dengan pribadinya, namun hasilnya Islam dirugikan [Ingat kasus Ulamaus syu’]. Adapun orang yang kelakuannya buruk, sedang perkataannya baik, resiko bagi masyarakat paling paling cuma sekedar “tidak ada yang mau percaya”.
  • Bagaimana pendapat anda terhadap seorang muslimah yang menunda pelaksanaan kewajiban berjilbab, dengan alasan kelakuannya masih belum baik, ilmunya masih kurang, belum bisa ngaji dsb dsb. Tentu anda tidak bisa menerimanya bukan ? Sebab Jilbab adalah sebuah kewajiban, sedang memelihara akhlaq dan meningkatkan ilmu adalah sebuah kewajiban lain pula. Yang sempurna tentu si muslimah tadi menutup aurotnya dan baik kelakuannya, artinya kedua hutang kewajiban tadi lunas kedua duanya. Bila muslimah tadi hanya baik kelakuannya, tapi tidak menutup aurot, ia lunas satu hutang, tinggal berusaha membayar yang satunya lagi. Atau bila ia telah menutup aurot, sedang ilmu dan amal lainnya belum sebaik pakaiannya, berarti baru lunas satu kewajiban saja, tinggal bagaimana caranya ia berusaha melunasi yang satunya lagi. Sebaliknya kalau sudah kelakuan belum baik, berkerudung pun tidak [dengan alasan percuma berkerudung juga, tokh kelakuan saya masih jelek] berarti dia punya dua hutang sekaligus ! Malah kalau ada orang yang baik dan menarik akhlaqnya, tapi tidak menutup aurot jadi berbahaya bagi kewibawaan hukum Islam sendiri. Orang yang kagum dan hormat pada kebaikan akhlaq wanita tadi, dengan mudah segera mengambil kesimpulan “Ooh berarti jilbab itu tidak wajib, buktinya dia yang begitu dalam ilmunya dan begitu baik akhlaqnya pun tidak pernah ribut soal busana muslimah … ” Mana yang lebih berbahaya bagi kewibawaan hukum ? Yang berbusana muslimah, tapi akhlaqnya belum baik, atau yang baik akhlaqnya tapi belum berbusana muslimah ? Yang pertama paling paling cuma jadi bahan ejekan [alaa ..h ngapain pake pakaian begitu, kelakuannya aja … ]artinya cuma satu pribadi itu saja yang bermasalah. Tapi untuk kasus kedua, bisa jadi preseden bagi orang awwam bahwa ternyata dalam Islam busana muslimah bukan perkara besar, tokh si anu pun yang segalanya jauh lebih baik dari kita tidak ribut soal itu… Saya melihat justru kasus kedua bukan lagi kasus pribadi, tapi bisa mengganggu daya cengkram hukum Islam dalam masyarakat muslimin. Persis seperti yang terjadi hari ini ….
  • Kembali pada masalah enggan berdakwah, dalam arti mengkomunikasikan kebenaran, hanya karena malu, terhalang oleh kelakuan sendiri yang belum baik tadi. Seperti kasus busana muslimah dan akhlaq, sebenarnya antara dakwah dan amal sholeh adalah dua kewajiban yang jadi hutang kita bersama. Amar makruf nahyi mungkar adalah wajib bagi setiap muslim, pada tingkat apapun keadaan amal dia sebagaimana beramal sholeh adalah wajib, tak peduli serendah apapun kemampuan dia berkomunikasi. Bagi yang sudah baik amalnya malah tidak ada alasan lagi untuk tidak berdakwah. Sedang bagi yang amalnya masih tercampur [antara baik dan buruk] semoga dengan diawali oleh baiknya perkataan, kelakuannya pun menjadi baik pula bersama sama dengan orang yang diajaknya, Aamiin.
  1. Tanya : Bagaimana dengan ayat yang mengancam keras orang orang yang mengatakan sesuatu sedang dia tidak memperbuatnya [S.61:2-3]. Begitu pula dengan celaan atas orang yang menyuruh fihak lain berbuat baik sedang dirinya sendiri dibiarkan [S.2:44].
  • Perlu difahami bahwa ayat itu bukan bermakna melarang dakwah, tetapi kecaman keras dan peringatan tegas bagi pengelabuan, penipuan yang dilakukan dengan cara cara memanipulasi kata kata. Contoh, ada orang yang berusaha membentuk citra baik di depan orang lain, dengan mengiklankan perbuatan perbuatan baik, memperkatakan amal amal sholeh, dengan harapan orang jadi percaya bahwa dia ahli dalam kebaikan itu. Ini jelas penipuan, orang yang begini tidak akan lepas dari siksa neraka ! Lihat S.3:188. Jelas berbeda dengan orang yang memperkatakan kebaikan, mengkomunikasikan kebenaran dengan niat agar dirinya pun terkondisikan dengan kebaikan tadi.
  • Ayat ayat di atas bukan bermakna larangan bagi dakwah, tapi larangan jangan sampai orang berilmu memanipulasi ummat dengan kepintaran kata katanya, orang lain disuruh suruh, sedang dianya sendiri tidak mengerjakan, ia memperalat orang lain dengan ilmu [anda bisa menangkap adanya i’tikad tidak baik dalam kasus ini]. Artinya kalau sudah menyuruh orang, harusnya anda pun melaksanakan. Tetapi logika tadi jangan dibalik : “Karena tidak bisa melaksanakan, maka anda jangan menyuruh orang”.
  • Menganjurkan kebaikan tetap mendapat nilai, sepanjang tidak didorong dengan niat memanipulasi, menipu, menciptakan kesan palsu seperti yang telah dijelaskan di atas. Beberapa hadits mendukung pernyataan ini antara lain ; “Barangsiapa yang menganjurkan pada satu kebaikan, maka ia mendapat pahala yang sama dengan orang yang mengerjakannya. Tanpa mengurangi pahala sipelaku tersebut.” Artinya kalau anda belum bisa mendapat pahala dengan mengerjakannya sendiri, jangan sampai kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya lewat cara menganjurkan orang lain untuk lebih dahulu memperbuatnya. Bagi anda yang telah bisa mengerjakannya, mengapa merasa cukup dengan satu pahala saja, tidakkah ingin berlipat ganda dengan cara menganjurkan orang lain melakukan apa yang telah anda kerjakan ??
  • Di dalam Al Quran, menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang miskin adalah modal awwal untuk tidak dikatakan sebagai pendusta agama [S.107:1-3], diakhirat ada orang yang dirantai dengan rantai neraka sepanjang 70 hasta, diberi minum darah bercampur nanah, juga karena tidak mau menganjurkan orang lain memberi makan orang miskin [S.69:31-37]. Perhatikan … menganjurkan orang lain memberi makanan jasmani kepada orang miskin saja sudah demikian besar nilainya, walaupun dianya sendiri tidak mampu memberikan makanan tadi. Sedang jika menganjurkan saja sudah tidak mau, kita lihat betapa mengerikan akibatnya.
  • Dakwah adalah menganjurkan orang lain berbuat baik, sama artinya dengan memberi dorongan, memberi energi agar orang itu mau melaksanakan kebaikan. Bila ini dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk membangun citra palsu, maka pasti baru berkata saja pun baik, apalagi bila ditambah dengan amalnya, Aamiin…
 Tanya : Bagaimana mungkin saya berdakwah, padahal ilmu saja masih kurang, saya perlu ditolong agar ilmu bisa bertambah, jiwa saya saja masih labil, pendirian belum teguh.
  • Ada satu ayat dalam Al Quran yang menjamin, bahwa pertolongan Alloh akan datang, kemudahan akan tiba, bahkan pendirianpun akan diteguhkan langsung oleh Alloh, kapan dan bilamana ? Ketika kita mau tampil menjadi pembela pembela agamaNya [lihat S.47:7]. Insya Alloh bagaimanapun keadaan awwal kita, mulai dari kurang ilmu, lemah keinginan, asalkan ikhlas punya keinginan untuk ikut serta membela agama Alloh ini, dibuktikan dengan keterlibatan aktif di dalamnya, maka kita akan dipandaikanNya terus setahap demi setahap, setingkat demi setingkat, hingga terampil kita membela dan menjalankan Al Islam ini sebagaimana seharusnya menurut Al Quran dan Al Haditsus Shohieh. Anda mau bukti ? Jadikanlah diri anda sebagai barang buktinya, silahkan, majulah ke depan, maka beranilah untuk mulai menerjunkan diri di bidang ini. Langkah pertama, pasti terasa berat, sebab syetan tidak ingin kubu dakwah Islam bertambah tenaga. Bagaimana dengan anda sendiri, tentu tidak sekeinginan dengan syetan bukan ? Dari itu buanglah rasa minder dan malu, lakukan apa yang bisa hari ini anda lakukan buat Islam, Yakin Alloh akan terus membimbing anda, Aamiin. Jadi kalau nunggu teguhnya, kapan mau teguh pendirian bila enggan turun ke gelanggang juang membela dakwah ini ?? sebab syarat peneguhan itu sendiri tidak dilengkapi ….
  1. Baiklah kini saya mengerti dan saya percaya bahwa kemampuan berdakwah itu tidaklah datang dengan ditunggu tapi mesti dicari di lapangan dakwah itu sendiri. Saya pun yakin bahwa keadaan diri pun akan diperbaikiNya, sepanjang niat tidak menipu dan tulus ingin baik. Saya bersyukur atas hadirnya orang yang pernah mendakwahi saya, hingga dengan itu saya selamat dari keterlenaan. Kini saya pun perlu bonus bonus tambahan, mengingat kurangnya amal amal saya, saya ingin ada orang lain yang mendapat hidayah Alloh lewat perantaraan usaha saya. Sebab Nabi SAW ada bersabda: “Bila satu orang saja mendapat hidayah dengan sebab perantaraan usahamu, bagimu pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya !” Tapi bagaimana yah, bukan tidak tertarik dengan pahalanya, cuma bagaimana memulainya. Kalau dakwah
    kan harus ada muqoddimahnya ….. Padahal saya paling terbata bata kalau membaca bahasa arab di depan umum
  • Baiklah kita clear
    kan dulu permasalahnnya, sekali lagi dakwah bukan hanya ceramah. Anda mengobrol, anda meminjamkan buku, anda bertanya di tengah majlis ta’lim tentang satu masalah, hingga jawabannya didengar orang banyak, anda ajak orang mengaji, ikut menghadiri ta’lim dsb dsb kesemuanya itu merupakan kontribusi [andil] anda dalam dakwah. Tapi kalau yang dimaksud dengan pernyataan di atas, bahwa anda sulit memulai untuk ceramah. Insya Alloh sandungan kecil ini dengan mudah kita atasi, biidznillah …..
  • Membuka ceramah prinsipnya hanya menyaratkan 3 hal saja : Hamdalah, syahadah dan sholawat. Anda memuji Alloh, anda umumkan keteguhan diri memegang prinsip dasar Islam, kemudian anda berdo’a untuk kemuliaan pemimpin pejuang, patriot teladan ummah Nabiyulloh Muhammad SAW. Asal anda jujur, tegas dan yakin, 3 hal ini saja akan mengangkat nilai, wibawa dan keyakinan diri anda di depan publik [umum]. Mengapa tidak ? Anda bukan akan membicarakan keperluan pribadi, anda tidak sedang membicarakan hasil pemikiran sendiri, tetapi anda tengah dan akan mengungkapkan konsep tertinggi di muka bumi, membawakan pesan Maharaja langit dan bumi, ditambah lagi bagi anda sendiri dijanjikan ridho dan pahala nan besar. Jika ini disadari, pasti semangat, dan isi bicara anda dengan sendirinya akan berbobot dan berkesan. Bukan hanya pada diri orang lain, tapi pada diri anda sendiri. Oh ya, saya ingatkan kembali, bukankah anda sedang menasehati diri anda pula ketika itu …. Hanya saja suaranya dikeraskan, sebab anda berharap bila ada orang yang ikut tergugah, sehingga kita pahala tambahan …. bonus yang lebih baik dari dunia dan isinya tadi !
  • Kalau pun yang anda ucapkan kalimat seperti ini : “Alhamdulillah, Asyhadu allaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna Muhammadar Rosuululloh, Allohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘ala Aali Muhammad, saudara saudara sekalian ….’ Iru sudah cukup memenuhi syarat bagi ceramah Islam. simple saja bukan …..
  • Atau baik pula bila kita tambahkan setelah hamdalah itu beberapa nikmat Alloh yang dinyatakanNya lewat Al Quran. Bahkan redaksi muqoddimah tadi bisa kita selaraskan dengan materi yang hendak kita sampaikan, misalnya :
  • Bila yang hendak kita bicarakan, perkara iman, ketenangan hati, rumah tangga yang tentram misalnya, bisa kita cuplik sebagian dari S.48:4 menjadi Alhamdulillah Alladzi anzalas sakiinata fi qulubil mukminin liyazdaadu iimaanam ma’a iimaanihim, Asyahadu allaa ilaaha illaaloh dst dst [Segala puji bagi Alloh, yang telah menurunkan ketentraman pada jiwa jiwa orang mukmin, sgar bertambah imannya di samping imannya yang telah ada], Asyahadu anlaa ilaaha illalloh dst dst …
  • Bila yang hendak dibahas mengenai perjuangan Islam, usaha usaha membela agama, bisa kita cuplik sebagian dari S.9:33 menjadi : Alhamdulillahilladzi arsala Rosuulahu bil huda wa diinil haqqi liyudzhirohu ‘ala diini kullihi walau karihal musyrikuun, Asyhadu allaa ilaaha illalloh dst dst [Segala puji bagi Alloh yang telah mengutus RosulNya dengan petunjuk dan Dien yang benar, agar dimenangkanNya di atas segala Dien, sekalipun orang orang musyrik membenci] Asyhadu allaa ilaaha illalloh dst dst … …
  • Bila yang hendak kita ungkap adalah mengenai Al Quran, keajaibannya, tuntutan untuk diikuti, akibat tidak mengikuti Al Quran bisa kita gunakan kalimat hamdalah yang ada dalam S.18: 1-3
  • Anda akan terharu, mungkin gembira, tidak menyangka, betapa mudahnya kita membuat muqoddimah. Coba anda hapalkan aya ayat di atas, resapkan maknanya, ketika mula ceramah, sepenuh jiwa dan setulus konsentrasi, faham akan arti anda sambungkan ayat tersebut dengan hamdalah. Anda akan merasakan getaran ghaib dalam sukma yang terus menerus memberi warna dan ilham pada setiap yang anda katakan. Mungkin anda tersenyum membaca tulisan ini, tapi saya merasakannya selama 6 tahun lebih. Ini bukan wahyu [na’udzubillah kalau saya merasa menerimanya] tapi katakanlah semacam bimbingan langsung, penyodoran ide, cara mengungkapkan yang dengan semua itu saya merasa lancar menyampaikannya. Bahkan tidak jarang saya menyadari makna yang lebih menggigit dari suatu ayat justru ketika membacakannya di depan orang lain. Insya Alloh anda pun akan merasakannya selama, anda ikhlash bahwa ceramah ini, semata mata upaya belajar bersama demi semakin melekatkan diri dengan Islam, tidak bermaksud lain kecuali menegakkan kalimatillah dan bukan pamer pengetahuan. Dan juga jangan lupa, anda menghayati betul semangat dari ayat yang anda cuplik menjadi muqoddimah itu.
  • Saya sering mengawali ceramah dengan mencuplik S.48:4 untuk hamdalah, karena dengan meresapi makna ayat tersebut, bahwa ketenangan itu dari Alloh, dan dengan ketenangan itu akan bertambah iman orang mukmin disamping imannya yang telah ada. Saya yakini ayat tadi sedemikian rupa. Alhamdulillah, rasa gugup, ragu, minder rasanya sirna dari dada dengan mengikatkan diri pada kalimat kalimat tersebut. Mengapa harus gelisah karena takut dianggap kurang penampilan, bicara dengan kelas rata rata, tidak didukung gelar dsb dsb. Bukankah ketenangan itu datangnya bukan dari semua itu tadi, tapi dari Alloh yang ayat ayatnya akan saya bacakan. Dan saya harus tenang, serta memelihara kestabilan perasaan ketika ini berlangsung, saya harus membawa suasana taklim ini demikian tentram, hingga memungkinkan datangnya penambahan iman pada diri saya dan pendengar, seperti dijanjikanNya di ayat tersebut. Kalimat kalimat di atas saya hunjamkan ke kalbu sebelum memula dan ketika membaca muqoddimah, hasinya …. Alhamdulillah saya selalu merasakan ketentraman itu ketika berceramah.
  • Ya, anda pun memang mesti membentuk konsep diri terlebih dahulu, menyelaraskan jiwa dengan apa yang anda baca sebagai muqoddimah, jika keselarasan ini sudah di dapat, ibarat orang sudah bisa seimbang mengendarai sepeda, anda tinggal mengayuh saja hingga ceramah berakhir, selamat mencoba, Alloh beserta orang yang ulet dan gigih bersungguh sungguh di jalannya [S.29:69], bersama kita sekalian, Aamiin. 
  1. Tanya : Terus bagaimana kalau saya menthok di tengah jalan, awalnya sih memang tenang, tapi apa tidak jadi blingsatan kalau di tengah tengah ceramah saya tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Masa harus berhenti begitu saja, diakhiri dengan senyum getir dan muka merah, malu …..kayaknya endak akan kuat mental kalau sampai begitu ….
  • Tergantung apa yang hendak anda bahas, bila anda tidak punya rencana tentang pesan apa yang ingin tumbuh di dada pendengar, kemana mereka hendak dibawa, apa yang anda inginkan terjadi diantara kita seusai ceramah ini. Jelas anda akan bingung, sebab dari awwal anda sudah kehilangan arah, tidak ada kompas yang dipedomani. Berbekal niat baik, lantas anda lari tanpa tahu mau kemana. Ini nekad namanya …..
  • Bagi pemula, belum begitu terbiasa lewat alur alur mana ummah hendak kita bawa ke gerbang Islam, kita sendiri belum hapal betul jalan, karena memang baru memulai. Dari awwal berpegang teguhlah pada peta dan kompas memang bisa jadi penolong untuk tetap selamat hingga akhir ceramah. Apa peta dan kompasnya bila dalam ceramah, tidak jauh jauh, Al Quran yang anda pegang !
  • Carilah ayat ayat yang menjelaskan satu tema secara berurutan misalnya :
  • Ciri ciri orang yang menjadi hamba Alloh : S.25 : 63 – 77
  • Ciri ciri prilaku orang yang bertaqwa : S.3 : 133 – 135
  • Ciri ciri orang munafiq : S.2 : 8 – 20
  • Watak yang harus dimiliki anak : S.31 : 12 – 19
  • Menejemen keluarga : S.66 : 6, S.64 : 14 – 15, S.4 : 19 – 20, 34 – 35.
  • Kejadian di akhirat : S.57 : 12 – 16
  • Setelah hamdalah yang dijiwai tadi, anda sampaikan beberapa kata untuk mengawali pembahasan ayat berangkai tersebut, misalnya kalau yang hendak dibahas mengenai “Ciri Ciri Hamba Alloh” anda katakan : “Hadirin yang mulia [atau lebih akrab anda katakan shahabat ku dalam Islam, atau lebih menyentuh ungkapkan, ibu ibu muslimah yang berbahagia dsb] kita sudah lama mengaku sebagai hamba Alloh, sekarang marilah kita lihat dari quran, ciri ciri yang diakui Alloh sebagai syarat menjadi hambanya, hingga dengan itu semua kita bisa berkaca diri, sudah berapa prosen ciri itu kita capai. Menurut Quran S.25 : 63 – 75, ciri cirinya adalah sebagai berikut, mari kita buka bersama ayat nya …
  • Cobalah untuk membahas ayat itu semaksimal yang bisa anda tangkap dari yang tertera dalam terjemahnya, bila menthok [tidak tahu lagi penjelasan apa lagi yang harus ditambahkan], segera anda bahas ayat yang berikutnya. Nah selamat khan
Setelah selesai, akhiri dengan kata : “Barangkali baru itu yang bisa saya fahami, semoga kesungguhan kita bersama untuk mengundang bimbingan Ilahi yang membawa kita pada kemampuan berislam yang senantiasa lebih baik dari sebelumnya, Aamiin, Wassalamu’alaikum warohmatulloh ….” Selesailah perjalanan kita yang pertama, mudah bukan ….. 
  1. Tanya : Baru belajar ceramah sudah mengupas Quran ??? wah wah apa tidak kualat tuh. Quran khan firman Alloh, kalau apa yang kita bahas tidak sesuai dengan Maqshud Nya apa tidak malah cilaka ?! Sudah kita sendiri ngaco, orang lain lagi disesatkan ??
  • Tergantung ayat mana yang anda akan bahas, kalau pertama kali ceramah anda mau membahas S.4 : 7 – 13. Biarpun beruntun, itu hukum waris, yah jangan coba coba, bisa bisa ditengah jalan anda bikin hukum waris sendiri tuh. Atau misalnya membahas S.2 : 196 -203, jelas tidak gampang, itu kan ayat haji … perlu didukung kekuatan ilmu fiqh yang mapan. Tapi kalau yang dibahas ciri orang yang bertaqwa itu gemar berinfaq, menahan marah. Ciri hamba Alloh itu tidak bertengkar dengan yang bodoh atau yang semisal itu, tentu tidak harus menunggu ilmu sampai segudang. Dari terjemah saja anda sudah mengerti bagaimana ayat itu diwujudkan. Cuma bedanya yang tambah luas ilmunya, bisa tambah mengembang pembahasannya, tambah dalam hikmah yang diungkapnya. Insya Alloh anda akan bisa begitu, bila mau memulai sejak awwal.
  1. Tanya: Gampang itu khan kalau tidak ada yang nanya, bagaimana kalau ketika kita membahas ayat yang gampang, terus ada yang bertanya dengan tingkat kerumitan yang tinggi, apa tidak bengong di tengah ceramah ?
  • Gampang, bilang saja tidak tahu, selesai. Kemudian tawarkan pada pendengar, “Barangkali ada yang pernah mendengar ayat atau hadits nabi berkenaan dengan masalah ini ?” Bila tidak, katakan padanya, “Alhamdulillah pertanyaan ini menumbuhkan minat ingin tahu yang lebih pada diri saya, Insya Alloh akan saya tanyakan pada yang lebih mengerti Al Quran dan hadits Nabi, begitu juga bagi anda sekalian saya harap pertanyaan ini jadi PR kita bersama. Saiapa saja yang mendapatkan jawabannya berdasar Quran dan Hadits Shohieh, dipersilahkan pada pertemuan mendatang untuk menyampaikan temuannya.” 
  1. Wah malu dong kalau begitu, masih sudah ngomong lama lama, sudah buka Quran sana sini, giliran ditanya malah bilang tidak tahu. Kalau ilmu belum cukup jangan ngomong di depan umum !
  • Mengapa mesti malu, agama ini khan bukan punya kita, dia milik Alloh yang disampaikan lewat RosulNya. Setiap ada masalah, yaa .. kesana kita mesti merujuk. Bila rujukannya belum ketemu, ngapain ngarang jawaban dan mereka reka segala. Jangankan kita yang baru belajar begini. Orang yang jauh lebih mulia dari kita, berpangkat tidak tanggung tanggung, seorang Rosul pun, bila ditanya masalah yang ia tidak yakin [bagaimana maunya Alloh atas perkara itu], beliau SAW akan diam, menunggu wahyu tiba. Nah, bila begitu beliau, apalagi kita. Wajar dong kalau diam dan memanfa’atkan waktu selanjutnya untuk menela’ah kembali sumber agama tadi.
  • Mengatakan tidak tahu, atas perkara agama yang anda tidak yakin jawabannya, bukan menunjukkan anda tidak punya ilmu. Justru itu merupakan tanda bahwa anda memiliki kesadaran dan tanggung jawab atas pengetahuan, justru karena tahu/berilmu itu anda tidak berani cuap cuap seenaknya. Kata ulama : “Tanda seseorang berpengetahuan, adalah berani mengatakan tidak tahu”. Imam Malik pernah ditanya 40 masalah agama, beliau hanya menjawab 4 masalah saja, sisanya beliau jawab dengan kata kata “Tidak Tahu”. Lihat Imam Mazhab saja begitu lugas, dan tidak malu malu, begitu pula kita seharusnya.
  • Mengapa mesti malu, kalau mengatakan tidak tahu atas perkara agama di depan umum, kita ceramah kan bukan pamer ilmu. Ini penting digaris bawahi. Sebab kalau anda mulai takut mengatakan tidak tahu [atas perkara yang betul betul anda tidak tahu], ini tanda sudah mulai ada yang salah dari niat anda ! Kita ceramah kan semata mata ibadah, mengingatkan diri, dan mengharap pahala tambahan, mudah mudahan ada orang yang tergugah beraman lewat usaha dakwah kita …. Jadi kalau pas tidak tahu, jangan menambah dosa dengan menyesatkan orang lain. Kalau anda yakin ini, Pasti anda akan merasa aman, ketika mengatakan tidak tahu, atas urusan yang anda belum faham ….. Ingat kita hanya mengutarakan apa yang kita mulai mengerti, selebihnya kita pun sedang terus belajar lagi ! Mudah mudahan ini jadi awal yang baik untuk tumbuh menjadi Generasi Robbani seperti yang diungkap dalam S.3:79. 
  1. Anda bisa bilang begitu, tapi kalau dijatuhkan di depan umum, khan yang malu saya …
  • Ibarat orang yang mau bisa naik sepeda, anda itu terus bertanya dan bertanya, sampai yakin bahwa kalau belajar anda akan langsung bisa, tanpa pernah jatuh biar sekali. Jelas ini tidak mungkin bukan ? Yang namanya belajar, pasti ada jatuhnya. Persoalannya mau bisa atau tidak dapat pahala ? Jika mau, berani tidak ambil resiko ? Sempat pipi merah misalnya. Jika anda mau dapat “Bonus” yang lebih baik dari dunia dan isinya, dimana dengan itu amal anda jadi berlipat ganda karena ada saudara muslim lain yang tertarik mengikuti jejak ibadah anda. Kalau itu yang dimaui, resiko malu itu kecil dibanding besarnya pahala yang Alloh janjikan buat anda. Jadi modalnya bismillah saja lah …..
  • Demikian, pelajaran kita yang pertama, Insya Alloh kita akan bertemu lagi, setelah anda mencoba memberanikan diri belajar ceramah. Saya pesankan sekali lagi, Beranilah bicara soal agama, dalam batas batas yang anda sudah faham ! Komunikasikan kebenaran itu. Ingat satu lilin yang menyala bisa menyalakan ribuan lilin yang padam, karena itu “Pass It On” Dengan siapa saja anda bertemu, usahakan ada upaya untuk saling menyalakan hati dengan Cahaya Ilahi. Siapa tahu hati yang berhasil menyala lewat usaha kecil anda, membesar menjadi api yang menerangi buana. Alloh tidak akan lupa mencatat, bahwa kegemilangan besar itu, dari anda juga awalnya ! Dalam hadits dikatakan bahwa : Alloh tersenyum [gembira] melihat seorang hamba yang mendengarkan kebenaran, lalu menyampaikan pada yang lain yang tidak sempat mendengar.
  • Ya Alloh, pandaikanlah kami, pakailah lidah kami ini untuk menyebarkan agamaMu. Jadikanlah pertemuan kami dengan manusia, menambah pahala kami, Aamiin.
 Disalin dari salah satu posting dari peserta milis Isnet (Islamic Network) 
Read More - Cara Mudah Berdakwah

Pentingnya Sabar di Dalam Berdakwah

Diposting oleh Yusuf shadiq
 Sabar di dalam berdakwah memiliki peran amat penting dan sebagai kewajiban bagi seorang da’i. Sabar, secara umum merupakan kewajiban bagi setiap muslim, namun bagi seo-rang da’i, ia lebih dan sangat ditekan-kan. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan kepada pemimpin para da’i dan teladan mereka, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk bersikap sabar, Dia berfirman, “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (QS. 16:127-128)

Di dalam ayat yang lain disebut-kan,“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.(Qs. Al-Ahqaaf: 35) Juga firman-Nya yang lain, artinya, “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka.” (QS. 6: 34) Jika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saja, yang beliau adalah manusia paling mulia, penghulu Bani Adam masih diperintahkan untuk bersabar, maka bagaimana lagi dengan kita? Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menjelaskan kepada kita semua, bahwa kehidupan ini penuh dengan ujian dan cobaan. Salah satu hikmah diturunkannya cobaan dan ujian adalah agar diketahuai mana orang yang jujur dan yang dusta, mana yang benar-benar mukmin dan yang munafik, mana yang bersabar dan mana yang tidak. Seorang da’i membutuhkan kesabaran yang ekstra kuat, hal ini karena keberadaan seorang da’i lain dengan masyarakat pada umumnya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah memberitahukan, bahwa semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin berat ujian yang dihadapi, beliau bersabda, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka. Seseorang diberi ujian berdasarkan tingkatnya dalam beragama.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim. Dihasankan oleh al-Albani) Maka kesabaran bagi seorang da’i amatlah penting, di antara pentingnya kesabaran di dalam berdakwah adalah sebagai berikut: 1. Sabar di dalam Berdakwah Ibarat Kepala bagi Badan
Dapat dikatakan, bahwa tidak ada dakwah yang tanpa kesabaran, sebagai-mana tidak ada badan yang tanpa kepala. Jika kepala lepas dari badan, maka itu artinya kematian. Oleh karena itu, Iman Ibnu Qayim mengatakan, ”Kedudukan sabar terhadap iman, ibarat kedudukan kepala terhadap badan. Maka tidak ada iman bagi orang yang tidak punya kesabaran, sebagaimana jasad juga tak berarti tanpa adanya kepala.” Jika dalam keimanan yang sifatnya masih individual dibutuhkan kesabar-an, maka dalam dakwah yang skupnya lebih luas dan kompleks sudah barang tentu sangat lebih dibutuhkan lagi.
2. Sabar Merupakan Salah Satu Empat Rukun Kebahagiaan.
Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103:1-3)
3. Sabar Termasuk Akhlak Paling Agung.
Kesabaran merupakan akhlak yang dibutuhkan oleh setiap muslim secara umum dan lebih khusus para da’i.


Para ulama telah banyak menying-gung masalah pentingnya sabar dalam banyak risalah dan karya mereka. 4. Sabar Termasuk Perkara Paling Penting. 5. Sabar Merupakan Pendekatan Diri kepada Allah yang Utama
Di dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa hanya kesabaranlah yang akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang tidak terhitung. Hal ini menunjukkan, bahwa ia merupakan amal yang sangat utama dan tinggi kedudukannya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS. 39:10
6. Kesabaran Meringankan Penderitaan
Setiap muslim dan terutama para da’i pasti menghadapi tantangan dalam hidupnya, karena seorang da’i menga-jak manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwat yang dibenci oleh Allah, tunduk terhadap perintah-Nya, berhati-hati terhadap batasan-batasan-Nya serta menjalankan apa yang disyariatkan oleh-Nya. Maka orang-orang yang berseberangan dengan dakwahnya, pasti akan memusuhi dengan segenap tenaga bahkan bila perlu dengan angkat senjata. Menghadapi rintangan semacam ini seorang da’i mau tidak mau harus me-megang kayakinan dengan teguh dan bersabar, karena sabar merupakan pedang yang tak pernah tumpul dan sinar yang tak kenal redup.
7. Sabar Adalah Sifat

Para Nabi
Para nabi dan rasul alaihimussalam mendapatkan keselamatan, kesukses-an dan kekuatan dikarenakan sikap sabar mereka. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Maka bersabarlah Kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. 30: 60) Lukman al-Hakim, seorang yang telah diberikan hikmah oleh Allah, telah mewasiatkan kesabaran kepada anaknya, sebagaimana yang telah difirmankan Allah Subhannahu wa Ta’ala , “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari per-buatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. 31:17)
8. Dengan Kesabaran Seorang Da’i Menjadi Teladan
Seorang dai hendaknya menjadi teladan bagi masyarakatnya, sebagai-mana ini merupakan salah satu sifat hamba yang ideal (Ibadur Rahman). Keteladanan dalam beragama tidak akan didapat, kecuali dengan bersabar, karena Allah telah menetapkan, bahwa imamah (keteladanan) hanya didapati oleh mereka yang sabar dan yakin ter-hadap ayat-ayat Allah. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. 32:24)
9. Sabar Menghantarkan Kepada Pertolongan Allah.
Hal ini tentunya bukan berarti dengan meninggalkan usaha, karena pertolongan dari Allah tidak mungkin tercapai dengan sendirinya tanpa melakukan sebab- sebab yang mengan-tarkan kepadanya. “Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah menge-tahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. 3:120) “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang- orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS. 3:186) Allah Subhannahu wa Ta’ala menceritakan perihal Nabi Yusuf, bahwasanya dia mendapatkan pertolongan dikarenakan kesabaran-nya. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguh-nya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (QS. 12:90)
10. Sabar Merupakan Kumpulan Berbagai Akhlak Luhur
Di dalam sabar termuat berbagai macam akhlak yang mulia, di antaranya adalah santun, lembut, ramah, pemaaf, toleran, lapang dada, adil, menyembunyikan aib orang dan lain sebagainya. Seorang da’i akan menghadapai orang yang memiliki berbagai macam karak-ter.


Ada yang banyak bertanya, sering membuat jengkel, malas, pembuat onar, menghadapi pertengkaran dan lain-lain, maka menghadapi masyara-kat yang bermacam-macam dibutuhkan kesabaran yang tinggi. 11. Sabar adalah Separuh Iman
Sabar dan Syukur adalah inti keimanan, Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS. 14:5) Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah menyifati seorang mukmin dengan sifat yang menakjub-kan, sifat itu tidak akan didapati, kecuali pada seorang mukmin, yaitu, “Kalau mendapatkan kelapangan, maka ia bersyukur, yang demikian adalah baik baginya. Dan apabila ditimpa kesempitan, maka ia bersabar dan itu pun baik baginya juga.” (HR. Muslim)
12. Sabar Merupakan Sebab Untuk Meraih Kesempurnaan
Kesempurnaan iman hanya akan dapat diraih dengan kemauan keras dan keteguhan. Oleh karena itu, dalam sebuah riwayat disebutkan doa berikut, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dari setiap urusan dan kemauan keras dalam meraih petunjuk.” Keteguhan dan kemauan yang keras tidak akan dapat berdiri dengan tegak, tanpa adanya pondasi kesabaran.
13. Kesabaran Merupakan Sarana Melatih Diri
Seorang da’i harus melatih diri untuk menjauhi perkara-perkara yang tidak selayaknya dilakukan olehnya seperti berkeluh kesah, bosan, patah semangat, terburu-buru, marah, takut, rakus, mendahulukan hawa nafsu dan lain-lain. Hanya dengan membiasakan bersikap sabar, ia akan mampu menjauhi semua itu, sehingga ia dapat bersikap proporsional dan adil dalam berbagai permasalahan, mempertimbangkan sesuatu dengan matang dan dengan pemikiran yang jernih. Akhirnya dakwah yang disampaikan menjadi lebih mengena, karena ia dapat mencari waktu yang tepat, metode yang sesuai dan penuh dengan hikmah.
14. Sabar Mempunyai Kedudukan yang Tinggi.
Di dalam beberapa firman Allah, sabar selalu bergandengan dengan sifat-sifat mulia yang lain, seperti yakin, syukur, tawakkal, shalat, tasbih dan istighfar, jihad, taqwa, al-haq, belas kasih dan sebagainya.
15. Kebaikan Dunia Akhirat Bagi Orang yang Sabar
Kebaikan bagi orang sabar: Allah beserta orang yang sabar; Allah mencintai orang yang sabar; Mendapatkan kesejahteraan dan rahmat dari Allah; Mendapatkan pertolongan; Dijaga dari tipu daya musuh dan yang paling penting adalah ia berhak mendapatkan surga, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , Artinya, “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”, (QS. 25:75)
Diringkas dari buku, “Anwa’u ash-Shabr wa Majalatihi fi Dlau’ al-Kitab wa as-Sunnah,” hal 7-27 Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani.  

Di dalam ayat yang lain disebut-kan,“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.(Qs. Al-Ahqaaf: 35) J
uga firman-Nya yang lain, artinya, “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka.” (QS. 6: 34)
Jika Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saja, yang beliau adalah manusia paling mulia, penghulu Bani Adam masih diperintahkan untuk bersabar, maka bagaimana lagi dengan kita?
Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menjelaskan kepada kita semua, bahwa kehidupan ini penuh dengan ujian dan cobaan. Salah satu hikmah diturunkannya cobaan dan ujian adalah agar diketahuai mana orang yang jujur dan yang dusta, mana yang benar-benar mukmin dan yang munafik, mana yang bersabar dan mana yang tidak. Seorang da’i membutuhkan kesabaran yang ekstra kuat, hal ini karena keberadaan seorang da’i lain dengan masyarakat pada umumnya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah memberitahukan, bahwa semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin berat ujian yang dihadapi, beliau bersabda, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka. Seseorang diberi ujian berdasarkan tingkatnya dalam beragama.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim. Dihasankan oleh al-Albani) Maka kesabaran bagi seorang da’i amatlah penting, di antara pentingnya kesabaran di dalam berdakwah adalah sebagai berikut:
1. Sabar di dalam Berdakwah Ibarat Kepala bagi Badan
Dapat dikatakan, bahwa tidak ada dakwah yang tanpa kesabaran, sebagai-mana tidak ada badan yang tanpa kepala. Jika kepala lepas dari badan, maka itu artinya kematian. Oleh karena itu, Iman Ibnu Qayim mengatakan, ”Kedudukan sabar terhadap iman, ibarat kedudukan kepala terhadap badan. Maka tidak ada iman bagi orang yang tidak punya kesabaran, sebagaimana jasad juga tak berarti tanpa adanya kepala.” Jika dalam keimanan yang sifatnya masih individual dibutuhkan kesabar-an, maka dalam dakwah yang skupnya lebih luas dan kompleks sudah barang tentu sangat lebih dibutuhkan lagi.

2. Sabar Merupakan Salah Satu Empat Rukun Kebahagiaan.
Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103:1-3)

3. Sabar Termasuk Akhlak Paling Agung.
Kesabaran merupakan akhlak yang dibutuhkan oleh setiap muslim secara umum dan lebih khusus para da’i.

Para ulama telah banyak menying-gung masalah pentingnya sabar dalam banyak risalah dan karya mereka.
 4. Sabar Termasuk Perkara Paling Penting.
5. Sabar Merupakan Pendekatan Diri kepada Allah yang Utama
Di dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa hanya kesabaranlah yang akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang tidak terhitung. Hal ini menunjukkan, bahwa ia merupakan amal yang sangat utama dan tinggi kedudukannya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas.” (QS. 39:10

6. Kesabaran Meringankan Penderitaan
Setiap muslim dan terutama para da’i pasti menghadapi tantangan dalam hidupnya, karena seorang da’i menga-jak manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwat yang dibenci oleh Allah, tunduk terhadap perintah-Nya, berhati-hati terhadap batasan-batasan-Nya serta menjalankan apa yang disyariatkan oleh-Nya. Maka orang-orang yang berseberangan dengan dakwahnya, pasti akan memusuhi dengan segenap tenaga bahkan bila perlu dengan angkat senjata. Menghadapi rintangan semacam ini seorang da’i mau tidak mau harus me-megang kayakinan dengan teguh dan bersabar, karena sabar merupakan pedang yang tak pernah tumpul dan sinar yang tak kenal redup.

7. Sabar Adalah Sifat
Para Nabi
Para nabi dan rasul alaihimussalam mendapatkan keselamatan, kesukses-an dan kekuatan dikarenakan sikap sabar mereka. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Maka bersabarlah Kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. 30: 60) Lukman al-Hakim, seorang yang telah diberikan hikmah oleh Allah, telah mewasiatkan kesabaran kepada anaknya, sebagaimana yang telah difirmankan Allah Subhannahu wa Ta’ala , “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari per-buatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. 31:17)

8. Dengan Kesabaran Seorang Da’i Menjadi Teladan
Seorang dai hendaknya menjadi teladan bagi masyarakatnya, sebagai-mana ini merupakan salah satu sifat hamba yang ideal (Ibadur Rahman). Keteladanan dalam beragama tidak akan didapat, kecuali dengan bersabar, karena Allah telah menetapkan, bahwa imamah (keteladanan) hanya didapati oleh mereka yang sabar dan yakin ter-hadap ayat-ayat Allah. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. 32:24)

9. Sabar Menghantarkan Kepada Pertolongan Allah.
Hal ini tentunya bukan berarti dengan meninggalkan usaha, karena pertolongan dari Allah tidak mungkin tercapai dengan sendirinya tanpa melakukan sebab- sebab yang mengan-tarkan kepadanya. “Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah menge-tahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. 3:120) “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang- orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS. 3:186) Allah Subhannahu wa Ta’ala menceritakan perihal Nabi Yusuf, bahwasanya dia mendapatkan pertolongan dikarenakan kesabaran-nya. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguh-nya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (QS. 12:90)

10. Sabar Merupakan Kumpulan Berbagai Akhlak Luhur
Di dalam sabar termuat berbagai macam akhlak yang mulia, di antaranya adalah santun, lembut, ramah, pemaaf, toleran, lapang dada, adil, menyembunyikan aib orang dan lain sebagainya. Seorang da’i akan menghadapai orang yang memiliki berbagai macam karak-ter.

Ada yang banyak bertanya, sering membuat jengkel, malas, pembuat onar, menghadapi pertengkaran dan lain-lain, maka menghadapi masyara-kat yang bermacam-macam dibutuhkan kesabaran yang tinggi.
 11. Sabar adalah Separuh Iman
Sabar dan Syukur adalah inti keimanan, Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS. 14:5) Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah menyifati seorang mukmin dengan sifat yang menakjub-kan, sifat itu tidak akan didapati, kecuali pada seorang mukmin, yaitu, “Kalau mendapatkan kelapangan, maka ia bersyukur, yang demikian adalah baik baginya. Dan apabila ditimpa kesempitan, maka ia bersabar dan itu pun baik baginya juga.” (HR. Muslim)

12. Sabar Merupakan Sebab Untuk Meraih Kesempurnaan
Kesempurnaan iman hanya akan dapat diraih dengan kemauan keras dan keteguhan. Oleh karena itu, dalam sebuah riwayat disebutkan doa berikut, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dari setiap urusan dan kemauan keras dalam meraih petunjuk.” Keteguhan dan kemauan yang keras tidak akan dapat berdiri dengan tegak, tanpa adanya pondasi kesabaran.

13. Kesabaran Merupakan Sarana Melatih Diri
Seorang da’i harus melatih diri untuk menjauhi perkara-perkara yang tidak selayaknya dilakukan olehnya seperti berkeluh kesah, bosan, patah semangat, terburu-buru, marah, takut, rakus, mendahulukan hawa nafsu dan lain-lain. Hanya dengan membiasakan bersikap sabar, ia akan mampu menjauhi semua itu, sehingga ia dapat bersikap proporsional dan adil dalam berbagai permasalahan, mempertimbangkan sesuatu dengan matang dan dengan pemikiran yang jernih. Akhirnya dakwah yang disampaikan menjadi lebih mengena, karena ia dapat mencari waktu yang tepat, metode yang sesuai dan penuh dengan hikmah.

14. Sabar Mempunyai Kedudukan yang Tinggi.
Di dalam beberapa firman Allah, sabar selalu bergandengan dengan sifat-sifat mulia yang lain, seperti yakin, syukur, tawakkal, shalat, tasbih dan istighfar, jihad, taqwa, al-haq, belas kasih dan sebagainya.

15. Kebaikan Dunia Akhirat Bagi Orang yang Sabar
Kebaikan bagi orang sabar: Allah beserta orang yang sabar; Allah mencintai orang yang sabar; Mendapatkan kesejahteraan dan rahmat dari Allah; Mendapatkan pertolongan; Dijaga dari tipu daya musuh dan yang paling penting adalah ia berhak mendapatkan surga, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , Artinya, “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”, (QS. 25:75)
Diringkas dari buku, “Anwa’u ash-Shabr wa Majalatihi fi Dlau’ al-Kitab wa as-Sunnah,” hal 7-27 Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani.
Read More - Pentingnya Sabar di Dalam Berdakwah