INDAHNYA ISLAM

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).


Selasa, 01 Mei 2012


 –** Episode Empat **-
Ke Bandara
Ketika aku naik mobil, aku berkata kepada sopirnya dengan menggunakan bahasa Rusia; “ke bandara, Pak supir!”  Aku telah mengenal bahasa Rusia sedikit-sedikit. Tapi istriku berkata: “Tidak, kita tidak pergi ke bandara. Kita akan pergi ke kampung ‘anu’.”
“Kenapa tidak ke bandara? Bukankah kita mau pergi dari negeri ini?” tanyaku heran.
Ia menjawab: “Benar. Tapi, jika keluargaku mengetahui pelarianku ini, mereka akan langsung mencari kita ke bandara. Maka sebaiknya kita pergi ke kampung ‘anu’ dulu.”
Ketika kami sampai di kampung yang ia sebutkan, kami pun turun, lalu naik mobil lagi, kemudian turun, dan naik mobil lagi yang ketiga kalinya, serta naik lagi menuju salah satu kota yang memiliki bandara internasional. Ketika kami sampai di bandara itu, kami tak bisa langsung terbang ke negeri kami. Ada gangguan teknis yang cukup lama, sehingga kami perlu menginap dan menyewa sebuah kamar terlebih dahulu.
Setelah kami berada di kamar dan merasa nyaman, istriku melepas mantelnya. Kulihat ia, ya Allah, tak ada satu pun anggota tubuhnya yang selamat dari noda darah; kulitnya terkelupas, darah di sekujur tubuhnya telah mengering, rambutnya rontok, serta bibirnya membiru….

Cerita Pilu
Kutanyai istriku: “Bagaimana ini bisa terjadi?” Ia menjawab: “Ketika kita masuk ke rumah keluargaku, aku duduk-duduk bersama mereka. Mereka pun bertanya kepadaku; “Pakaian apakah ini?” Aku jawab; “Ini pakaian Islam.” Mereka bertanya lagi; “Sipakah laki-laki itu?” Aku menjawab: “Ia suamiku. Aku telah masuk Islam, dan menikah dengan lelaki itu.” Mereka pun berkata: “Tidak, ini tidak mungkin.”
Kukatakan kepada mereka: “Dengarkan, aku ingin menceritakan awal mula kejadiannya…….” Kuceritakanlah kepada mereka tentang si pengusaha Rusia yang bermaksud mempekerjakanku dalam pekerjaan bejad itu, lalu bagaimana aku bisa lari darinya, dan selanjutnya bertemu denganmu.
Mereka malah mengatakan: “Jika saja kamu melakukan pekerjaan mesum, itu lebih kami sukai dari pada kamu masuk Islam.” Lalu mereka berkata: “Kamu takkan bisa keluar dari rumah ini, kecuali setelah kembali menjadi ortodoks, atau dengan tubuh yang telah hancur!!
Saat itulah, mereka lalu menjambakku dan mengikat kedua tanganku. Dan setelah itu, mereka menuju ke arahmu dan memukulimu. Aku mendengarmu ketika engkau dipukuli itu. Engkau berteriak, sedangkan aku telah diikat. Ketika engkau mampu melarikan diri, saudara-saudaraku itu kembali kepadaku, menghardikku, dan mencelaku lagi. Lalu mereka pergi membeli rantai, dan mengikatku dengannya. Mulailah mereka mencambukku… Maka, aku harus merasakan cambukan demi cambukan yang mengerikan, setiap hari!! Dimulai setelah waktu Ashar, hingga menjelang tidur.
Adapun di pagi hari, ayah dan saudara-saudaraku pergi ke tempat kerjanya, sedang ibuku tinggal di rumah. Tak ada yang menemaniku saat itu, kecuali adik perempuanku yang berusia 15 tahun. Ia selalu datang sambil tersenyum untuk melihat keadaanku. Inilah satu-satunya waktu santai yang bisa kurasakan. Percayakah kamu, mereka mencambukku hingga aku tertidur. Aku tidur, dalam keadaan tak sadarkan diri! Mereka mencambukku hingga aku pingsan dan tertidur. Mereka hanya menuntutku untuk keluar dari agama Islam saja. Namun aku menolak dan tetap bertahan. Suatu saat, adik kecilku bertanya-tanya kepadaku; “kenapa engkau meninggalkan agamamu, agama ibumu, agama ayahmu, dan agama nenek moyangmu…?

Allah Memberi Jalan Keluar
Mulailah aku meyakinkan adikku, menjelaskan perihal agama ini kepadanya, serta menanamkan tauhid ke dalam hatinya. Dan, ia tampak terpengaruh dengan penjelasanku. Kebenaran agama Islam ini mulai tergambar di depannya! Tiba-tiba, ia mengatakan kepadaku; “Engkau berada di jalan benar. Ini agama yang benar. Ini agama yang layak pula aku anut!!” Kemudian ia berkata: “Aku ingin menolongmu.” Kukatakan kepadanya: “Jika kamu hendak membantuku, tolonglah aku agar dapat bertemu suamiku!” Maka, ia pun sering naik ke atas rumah untuk melihat-lihatmu di luar, lalu ia melaporkan hasil pengamatannya kepadaku; “aku melihat seorang lelaki dengan ciri-ciri begini…dan begini.” Aku pun berkata: “Ya, itu suamiku. Jika kamu melihatnya lagi, bukakan pintu, agar aku bisa berbicara dengannya!”
Ia benar-benar membukakan pintu, maka aku keluar dan bercakap-cakap denganmu. Namun aku tak bisa keluar, karena keadaanku terikat oleh dua rantai yang kuncinya dipegang kakakku., serta satu rantai lagi diikatkan ke salah satu tiang rumah ini, sehingga aku tak bisa keluar. Kunci rantai yang ketiga ini, dipegang adik perempuanku, agar ia bisa melepasku jika aku hendak pergi ke wc.
Ketika aku berbicara denganmu dan memintamu untuk tinggal di kamar kontrakan sampai aku datang kepadamu, keadaanku masih terikat oleh rantai-rantai itu. Dan, aku masih meyakinkan adik perempuanku untuk masuk Islam. Hingga, ia pun masuk Islam, dan punya keinginan memberikan pengorbanan yang bisa melebihi pengorbananku ini. Ia pun memutuskan untuk membantuku lari dari rumah. Namun, kunci-kunci rantai itu ada pada saudaraku yang laki-laki. Ia terus menerus berpikir keras bagaimana caranya menyelamatkanku….
Suatu hari, ia menyiapkan arak yang berkadar tinggi untuk saudara-saudaraku. Mereka pun meminumnya, dan terus meminumnya sampai semuanya mabuk berat, dan tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Maka adikkku mengambil kunci-kunci itu dari saku kakakku, dan membuka rantai-rantai ini. Kemudian aku mendatangimu di malam yang pekat itu.
Aku bertanya kepada istriku: “Lalu adik perempuanmu, bagaimana nasibnya?” istriku menjawab: “Tak perlu dirisaukan, aku telah memintanya agar tidak mengumumkan dulu keislamannya, sampai tiba waktu yang tepat.” Lalu kami tidur di malam itu, dan besoknya sudah bisa terbang ke negeri kami….
Setibanya di sana aku langsung membawa istriku ke rumah sakit, ia diharuskan untuk dirawat beberapa hari, untuk memulihkan setiap luka akibat penyiksaan keluarganya. Dan saat ini kami masih mendo’akan adik perempuannya; supaya Allah semakin meneguhkannya untuk tetap berada di atas agama-Nya…
*** TAMAT ***
–**–**–**–**–**–**–**–**–**
Sumber: Kutaib “Innaha Malikah” Penulis: Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-’Arifi. Penerjemah: Abu Haitsam Buldan M.Fattah
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:4}

–** Episode Tiga **–
Kunjungan Pedih
Setelah urusan paspor kami selesaikan, kami langsung berangkat untuk mengunjungi keluarganya. Tak lama, kami sampai di rumahnya. Lalu kami mengetuk pintu rumahnya; sebuah rumah sederhana yang sudah tua. Dilihat dari bentuknya, cukuplah menandakan penghuninya termasuk golongan menengah ke bawah. Pintu pun dibuka oleh kakak laki-lakinya, yang nampak berotot kuat. Istriku begitu gembira bertemu dengannya, lalu ia membuka penutup wajahnya, seraya menyunggingkan senyumnya!
Namun kakaknya, sejak pertama kali melihat istriku, terlihat jelas pada mukanya rona bergantian; antara gembira atas kepulangan adiknya, juga perasaan aneh karena melihat pakaian serba hitamnya yang menutupi seluruh tubuhnya. Masuklah istriku sambil tersenyum, dan merangkul kakaknya. Aku pun turut masuk di belakangnya, kemudian duduk sendirian di ruang depan rumah itu.
Istriku masuk ke ruang tengah. Kudengar mereka bercakap-cakap dengan bahasa Rusia, yang tetap tak kumengerti. Namun, kuperhatikan tekanan suaranya mulai terdengar mengencang!! Nadanya pun berubah!! Terdengar teriakan!! Semuanya meneriaki istriku!! Sedang istriku membela diri, dan menjawab teriakan mereka. Aku merasa keadaannya kian memburuk! Namun, aku tak bisa bertindak apapun, karena tak bisa mengikuti percakapan mereka sama sekali…
Tiba-tiba, terdengar beberapa suara mendekat ke ruangan tempat aku duduk. Ternyata tiga orang pemuda kekar menghampiriku, yang dipimpin oleh seorang lelaki yang telah berumur. Awalnya, aku menduga mereka bermaksud menyambutku sebagai suami dari anak wanita mereka! Ternyata, mereka langsung menyerangku bagaikan binatang buas!! Ya, sambutan mereka adalah kepalan tangan, bogem mentah, dan terjangan yang membabi buta!! Aku pun berusaha membela diri. Aku berteriak meminta tolong. Hingga, kekuatanku semakin melemah, dan aku merasa hidupku akan berakhir di rumah ini. Pukulan dan terjangan mereka semakin menjadi-jadi. Sontak aku memutar pandangan ke sekelilingku, mencari-cari celah untuk lari. Ketika kulihat pintu, segera aku menujunya, membukanya, dan lari. Mereka berusaha mengejar di belakangku. Aku pun masuk ke dalam keramaian manusia, hingga selamat dari kejaran mereka. Segeralah aku menuju ke kamarku yang tak begitu jauh dari rumah keluarga istriku itu.
Aku mencuci darah di wajah dan mulutku. Kudapati dalam diriku bekas pukulan dan terjangan pada kening, pipi, dan hidungku, sedangkan darah mengalir dari mulutku. Begitu pula pakaianku koyak. Aku bersyukur kepada Allah, yang masih menyelamatkanku dari terkaman binatang-binatang itu. Namun, bagaimana dengan istriku?! Mulailah bayangan istriku melambai-lambai di depan mataku. Apakah ia pun menghadapi penyiksaan seperti ini? Aku laki-laki, tapi hampir saja tak bisa menahan serangan mereka. Istriku seorang wanita, bagaimana ia bisa melawan mereka?!! Aku khawatir ia telah roboh….
Inikah Saatnya Berpisah…?
Mulailah syaitan melaksanakan tugasnya; mereka membisiki pikiranku; “istriku akan murtad dari agama Islam, ia akan kembali menjadi Nashrani. Dan kamu akan pulang ke negerimu sendirian.” Aku terdiam gelisah.. Apa yang harus kulakukan di negeri ini? Kemana aku harus pergi? Bagaimana tindakanku selanjutnya? “Jiwa begitu murah di negeri ini. Anda bisa menyewa seseorang untuk membunuh orang lain dengan bayaran hanya 10 dollar!” Uhh…, “bagaimana jika mereka menyiksa istriku, hingga ia tega menunjukkan tempatku ini? Mereka tinggal mengutus seseorang untuk membunuhku di kegelapan malam.” Segeralah kukunci kamarku, dan tinggallah diriku di dalamnya dengan resah dan penuh rasa takut.
Paginya, aku segera mengganti baju dan pergi untuk mencari kabar istriku. Kuamati rumahnya dari kejauhan. Tiba-tiba, rumahnya terbuka, dan tiga orang pemuda keluar dari sana, juga seorang lelaki yang telah berumur itu. Ya, merekalah yang memukuliku tempo hari!
Melihat penampilannya, tampaknya mereka hendak pergi ke tempat kerja mereka. Lalu mereka menutup pintu dan menguncinya! Aku masih mengamati, mengintai, dan mengawasi rumah itu. Aku berharap dapat melihat wajah istriku. Namun tak ada hasilnya. Aku pun terus menerus dalam keadaan ini sekian lama, hingga para lelaki itu kembali dari tempat kerja mereka dan memasuki rumahnya.
Aku merasa kecapekan, kemudian pulang ke kamarku. Di hari kedua, aku pergi lagi mengawasi rumah itu, namun masih tak bisa melihat istriku. Begitu pula di hari ketiga, hingga aku putus harapan membayangkan keadaan istriku. Terpikirlah dalam diriku, bahwa ia telah meninggal karena dahsyatnya siksaan, atau memang sengaja dibunuh! Namun, jika ia mati setidaknya harus terlihat tanda-tandanya di rumah itu; akan datang orang-orang yang berbela sungkawa, atau yang melayatnya. Namun, tak kulihat sesuatu yang aneh di sana. Maka kuyakinkan diriku bahwa ia masih hidup, dan pertemuan akan segera terjadi….
Perjumpaan
Di hari keempat, aku tak sabar untuk berdiam diri di kamar. Maka aku pun berangkat lagi mengawasi rumah itu dari kejauhan. Ketika para lelaki itu berangkat bersama ayah mereka ke tempat kerjanya, seperti biasanya, aku tetap menanti penuh harap. Tiba-tiba pintu terbuka, dan wajah istriku menyembul di belakangnya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Dan aku melihat wajahnya penuh tetesan darah dan membiru bekas pukulan, yang nampaknya dilakukan bertubi-tubi. Begitu pula pakaiannya dilumuri darah. Aku begitu ngeri melihatnya, serta merasakan iba kepadanya. Segera aku mendekat, dan melihatnya lekat-lekat. Darah mengucur dari sekujur badannya; di mukanya, di kedua tangannya, juga di kedua kakinya…. Bajunya terkoyak, ia hanya tertutupi sesobek kain yang seret. Dan, kulihat kedua kakinya terikat dengan rantai. Juga kedua tangannya dirantai di belakang punggungnya. Melihat keadaan itu, aku menangis. Aku benar-benar tak mampu mengendalikan diri. Kupanggil istriku dari kejauhan….
Nasihat Peneguh Jiwa
Istriku berkata kepadaku, seraya menahan derai air mata, dan mengerang karena dahsyatnya rasa sakit: “Dengarlah wahai Khalid… Jangan kau cemaskan diriku. Aku akan teguh di atas janjiku. Demi Allah, apa yang kuhadapi saat ini, tidaklah sebanding seujung rambut pun, dengan siksaan-siksaan yang dialami para sahabat dan tabiin, apalagi para nabi dan rasul. Kuharapkan engkau tidak terlibat dalam urusanku dengan keluargaku. Cepatlah pergi sekarang juga, tunggulah aku di kamar kontrakan, sampai aku menemuimu, insya Allah. Namun begitu, perbanyaklah do’a, perbanyaklah qiyamullail, dan perbanyaklah shalat…!”
Aku pun pergi darinya, dengan segunduk rasa sakit dan penyesalan di hati. Aku berdiam diri di kamar sepanjang hari, sambil menantikan kedatangannya. Begitu pula di hari selanjutnya. Dan, di hari ketiga dalam penantian itu, ketika malam telah begitu larut, terdengar pintu kamarku diketuk! Aku terkejut. Siapakah yang ada di balik pintu? Siapa yang mengetuk? Sungguh aku jadi merasakan ketakutan yang luar biasa; Siapakah yang datang ke rumahku, di tengah malam begini?! Jangan-jangan, keluarga istriku mengetahui tempatku. Jangan-jangan istriku menyerah dan menunjukkan tempat ini kepada mereka. Lalu mereka pun datang untuk membunuhku. Rasa takutku semakin menjadi-jadi membayangkan kematian. Tidak lagi tersisa antaraku dan antara maut, kecuali seujung rambut. Kuberanikan diri untuk bicara; “Siapakah di luar sana?”
Ternyata, suara istriku yang menjawabku dengan sangat lirih: “Bukakan pintu. Aku Fulanah.” Maka, segeralah kunyalakan lampu kamar, dan kubuka pintunya. Istriku masuk sambil gemetaran, kondisi badannya begitu lemah, serta dipenuhi luka di sekujur tubuhnya.
Istriku berkata: “Mari kita segera pergi dari sini!”
“Dalam kondisimu seperti ini?” tanyaku.
“Ya, cepatlah.!” jawabnya.
Mulailah ia membereskan pakaiannya, lalu mengambil tas, dan mengganti pakaiannya. Ia mengenakan hijabnya juga mantel sebagai pengaman. Kemudian kami bawa semua barang kami. Kami pun pergi, dan naik ke mobil angkutan. Istriku yang malang itu menjatuhkan tubuhnya yang lusuh, lapar, dan kesakitan itu di atas kursi mobil….
Insya Allah Bersambung…
–**–**–**–**–**–**–**–**–**
Sumber: Kutaib “Innaha Malikah” Penulis: Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-’Arifi. Penerjemah: Abu Haitsam Buldan
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:3}

*-* Episode Dua *-*
Di Rusia
Khalid bercerita: “Ketika kami turun di bandara, aku menyangka kami akan pergi ke rumah keluarganya, dan tinggal bersama mereka. Kemudian setelah selesai urusan, barulah kami pulang kampung. Namun, pemikiran istriku ternyata jauh dari dugaan. Ia malah berkata: ‘Keluargaku adalah kaum Ortodoks yang fanatik terhadap agamanya. Aku tak akan pergi untuk menemui mereka sekarang! Untuk sementara kita menyewa kamar sebagai tempat tinggal, lalu kita menyelesaikan pengurusan paspor. Menjelang pulang, baru kita mengunjungi keluargaku.’
Kurasa pikirannya benar juga; maka kami menyewa sebuah kamar dan tinggal di sana. Besoknya, kami pergi ke kantor imigrasi. Kami menemui seorang pegawai. Dan pegawai itu meminta paspor lama disertai photo istriku. Istriku lalu mengeluarkan photo hitam putih, yang hanya menampakkan wilayah muka saja.
Pegawai itu berkata: “Photo ini berbeda dengan photo yang ada di paspor lama. Kami minta photo berwarna, yang menampakkan wajah, rambut, dan leher Anda!!…
Istriku menolak untuk memberikan photo selain photo tersebut. Kami pun mencoba menemui pegawai yang lainnya, lalu pegawai yang lainnya lagi. Namun mereka semua tetap meminta photo yang terbuka. Istriku pun berkata: “Aku tak akan memberikan photo yang menampakkan auratku, sampai kapan pun!” Para pegawai pun tak ada yang memproses permohonannya. Maka kami mencoba menghadap kepada kepala kantornya.
Istriku berupaya menjelaskan kepadanya, agar menerima photo yang ia bawa. Namun kepala kantornya pun menolak. Istriku terus menerus mendesaknya seraya berkata: “Tidakkah kamu memperhatikan photoku ini, lalu bandingkan dengan photo yang ada di paspor. Yang penting wajahku kelihatan. Sebab rambutku boleh jadi telah berubah. Photo ini telah mencukupi!”
Sang kepala kantor tetap bersikukuh bahwa peraturan tak mungkin menerima photonya. Istriku berkata: “Aku tak akan memberikan photo selain photo ini. Lalu bagaimana penyelesaiannya?”
Kepala Kantor itu menjawab: “Permasalahan ini tak akan bisa diselesaikan, kecuali melalui kepala imigrasi tertinggi di Moskow.”
Kemudian, kami pun segera keluar dari kantor itu. Istriku menoleh kepadaku dan berkata: “Wahai Khalid, kita mesti pergi ke Moskow.”
Aku mengatakan kepadanya: “Berikanlah photo seperti yang mereka inginkan. Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya. Bertaqwalah kepada Allah semampunya. Ini kondisi darurat. Dan paspor itu hanya dilihat oleh beberapa orang saja. Selanjutnya engkau bisa menyembunyikannya di rumah, sampai habis masa berlakunya. Selesailah urusan, dan kita tak perlu lagi pergi ke Moskow.”
Istriku menjawab: “Tidak, tak mungkin aku memberikan photo yang memperlihatkan aurat, setelah aku mengenal agama Allah!”
Di Moskow
Istriku terus mendesakku. Maka berangkatlah kami ke Moskow, kemudian menyewa sebuah kamar untuk beristirahat. Besoknya, kami pergi ke kantor imigrasi. Kami menemui seorang pegawai, kemudian beralih ke pegawai yang lain, dan beralih lagi ke pegawai yang lainnya, hingga kami pun diharuskan menghadap langsung kepada kepala kantor yang asli. Kami menemuinya, dan sungguh ia adalah manusia yang paling buruk sikapnya! Ketika ia melihat paspor istriku, ia membolak-baliknya, kemudian mengangkat kepalanya untuk memandang istriku, lalu ia berkata:
“Bagaimana aku bisa yakin, bahwa Anda adalah pemilik paspor ini?” Ia berkata demikian, dengan maksud agar istriku membuka penutup wajahnya, hingga bisa dilihatnya.
Istriku berkata: “Suruhlah salah seorang pegawai Anda yang wanita, untuk aku bukakan wajahku di depan mereka, sehingga mereka dapat mencocokkannya dengan wajah yang ada di photo itu. Adapun Anda, selamanya tak bisa mencocokkan photo ini, dan selamanya aku tak akan membukakan wajahku kepada Anda.”
Sontak kepala kantor imigrasi itu marah, lalu ia mengambil parpor lama istriku, beserta photo dan berkas-berkas lainnya, kemudian ia gabungkan dan ia masukkan ke dalam laci khusus. Kemudian ia pun berkata kepada istriku: “Anda tak memegang paspor lama; dan Anda tidak dapat memperoleh paspor yang baru, kecuali setelah Anda membawa photo sesuai prosedur, yang akan kami cocokkan dengan wajah Anda sendiri.”
Istriku masih berbicara dengannya, ia bersikeras memohon perpanjangan paspornya. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Rusia. Sedangkan aku hanya melihat mereka, tak mengerti sedikit pun. Aku marah, namun tak bisa berkata apa-apa.
Jawaban sang kepala imigrasi itu ternyata tetap: “Anda harus membawa photo yang sesuai syarat kami.”
Istriku terus mendesaknya, namun tak ada faedahnya. Ia pun terdiam dan tetap berdiri mematung di depannya. Kepala Imigrasi itu memandangnya sinis. Maka, kukatakan kembali kepada istriku: “Istriku yang tercinta! Allah tidaklah membebani seseorang, kecuali sebatas kemampuannya. Sekarang kita dalam kondisi terpaksa. Sampai kapankah kita akan berkelana di kantor-kantor imigrasi?”
Istriku menjawab: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar, serta memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.”
Adu argumen di antara kami semakin seru saja. Hingga kepala imigrasi itu marah dan menyuruh kami keluar dari kantornya. Kami pun keluar dari sana. Sungguh, saat itu aku berada di antara rasa sayang bercampur rasa kesal terhadapnya.
Kami pulang ke kamar sewaan kami, dan membicarakan kembali permasalahan itu di kamar. Aku berusaha meluluhkannya, namun ia pun bersikukuh dengan prinsipnya. Hingga, malam semakin larut. Kami pun shalat Isya, dan pikiranku sungguh masygul dengan musibah ini. Kemudian kami mencicipi sedikit makanan, lalu kurebahkan kepalaku untuk tidur.
Bagaimana Kau Bisa Tidur…?
Ketika ia melihatku hendak tidur, berubahlah rona wajahnya. Kemudian ia berkata kepadaku:
“Wahai Khalid, engkau mau tidur?!”
Aku menjawab: “Ya, tidakkah engkau merasa capek?!”
Istriku menjawab: “Subhanallah… dalam kondisi kritis ini, engkau mau tidur? Saat ini kita berada dalam keadaan butuh akan pertolongan Allah. Dan inilah saat yang tepat untuk meminta kepada-Nya.”
Aku pun bangun, dan shalat sekedar yang kuinginkan, lalu aku tidur. Sedangkan istriku terus menerus shalat sendirian. Setiapkali aku terbangun, aku pun melirik kepadanya yang sedang larut dalam qiyamullail. Terkadang kulihat ia sedang ruku’, sedang sujud, sedang berdiri, sedang berdo’a, atau sedang menangis. Ia terus-terusan melakukannya, hingga terbit waktu fajar. Kemudian, ia membangunkanku;
“Waktu fajar telah tiba. Mari kita shalat bersama-sama!” ujarnya kepadaku.
Aku pun bangun, berwudhu, dan kemudian shalat berjama’ah bersamanya. Setelah itu, istriku tertidur sebentar…
Ketika matahari telah terbit, ia pun terbangun, lalu berkata: “Mari kita pergi ke kantor imigrasi!!”
Aku mengatakan kepadanya: “Untuk apa kita pergi? Mana photonya?? Bukankah kita tidak memiliki photonya!!”
Ia menjawab: “Kita akan pergi untuk berupaya lagi. Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah.”
Kami pun pergi, dan demi Allah, tidaklah kami memasuki ruang-ruang di dalam kantor imigrasi itu, kecuali para pegawainya sungguh telah mengenali kami karena hijab yang dipakai istriku. Dan tiba-tiba, salah seorang di antara pegawai itu memanggil istriku;
“Engkau Fulanah?” tanyanya.
Istriku menjawab: “Ya.”
Pegawai itu berkata lagi: “Ambillah paspormu!”
Ternyata paspor itu telah selesai dengan sempurna, terpampang photo istriku lengkap dengan hijabnya yang hanya membuka wilayah muka. Istriku tampak begitu gembira, lalu menoleh kepadaku;
“Bukankah telah kukatakan kepadamu; Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar,” serunya.
Ketika kami bermaksud keluar, pegawai itu berkata kepada kami: “Kalian mesti kembali ke kota kalian yang menerbitkan paspor ini pertama kali; dan mintalah kepada mereka untuk melegalisirnya!”
Kemudian, kembalilah kami ke kota yang pertama; terlintas dalam hatiku: “Inilah kesempatan yang tepat untuk mengunjungi keluarga istriku di sana, sebelum kami pergi dari Rusia.”
Ketika sampai di kota tujuan, kami pun menyewa kamar lagi, dan segera memproses legalitas paspor istriku ke kantor imigrasi……
Insya Allah Bersambung…
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Sumber: Kitab “Innaha Malikah” Penulis: Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-’Arifi. Penerjemah: Abu Haitsam Buldan
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:2}
PROLOG
Penuturan kisah ini bukanlah untuk membangkitkan rasa sentimentil kalian, tidak pula untuk melemahkan kekuatan kalian, atau mengaduk-aduk emosi kalian. Sekali-kali tidak! Namun, penuturan kisah ini agar kalian mengerti bahwa Islam membutuhkan para pemberani yang siap menjaganya, mau berkorban untuknya, rela meremukkan tempurung kepala mereka demi kejayaannya, serta siap menumpahkan darah dan berpisah dengan raga mereka.
*-* Episode Satu *-*
Seorang pemudi Rusia (sebut saja namanya Fulanah), ia berasal dari keluarga Kristen Ortodoks yang sangat fanatik terhadap agama Nashrani. Suatu hari, seorang pengusaha Rusia mengajak serta pemudi tersebut bersama beberapa wanita muda lainnya untuk berangkat ke negara teluk, dalam rangka berbelanja barang-barang elektronik, yang kelak akan dijual kembali di Rusia. Itulah penawaran resmi si pengusaha yang disepakati pula oleh para wanita itu…
Ketika mereka telah sampai di tempat tujuan, tiba-tiba pengusaha itu menyeringai menunjukkan gigi taringnya, dan mulailah menawarkan kepada mereka sebuah pekerjaan mesum, disertai berbagai rayuan yang mempesona; seperti harta yang melimpah, relasi yang luas, serta iming-iming menggoda lainnya. Hingga, banyaklah di antara para wanita itu yang terjerat rayuannya. Namun, tidak demikian dengan wanita Ortodoks yang sangat fanatik kepada agamanya itu; Ia menolaknya mentah-mentah.
Pengusaha itu hanya tertawa menanggapi penolakannya, dan ia berkata kepadanya: “Kamu wanita yang terlantar di negeri ini, serta tidak memiliki apa-apa kecuali baju yang kamu pakai. Dan aku takkan memberikan apapun kepadamu.”
Mulailah laki-laki itu mengisolasinya bersama beberapa wanita yang belum terbujuk, dengan menempatkan mereka di sebuah apartemen, serta menahan paspor mereka untuk mem-pressure. Lama kelamaan para wanita itu banyak yang menyerah dan hanyut ke dalam bujukan lelaki yang angkuh itu, sedangkan Fulanah tetap kukuh mempertahankan kesucian dirinya. Setiap hari, Fulanah mendesak lelaki itu untuk memberikan paspornya, atau memulangkannya ke negeri asalnya. Namun ia selalu menolak.
Maka, pada suatu kesempatan, Fulanah mencari sendiri paspornya di dalam apartemen itu, hingga ia pun mendapatkannya dan langsung menyambarnya. Kemudian, ia segera kabur dari sana, keluar ke arah jalan raya. Ia pergi dengan membawa pakaian yang menempel di badannya saja. Entah kemana arah tujuannya. Di sana ia tak punya keluarga, tak punya kenalan, tak ada harta, tak ada makanan, dan tak ada tempat tinggal. Mulailah ia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri karena kebingungan…
Tiba-tiba, ia melihat seorang pemuda berjalan bersama tiga orang wanita, yang dari penampilannya cukup menenangkan dirinya. Ia pun menuju ke arahnya, dan mulailah berbicara kepada mereka dengan menggunakan bahasa Rusia. Namun, pemuda itu tampak mengemukakan permakluman bahwa dirinya tak mengerti bahasa Rusia.
“Apakah kalian bisa berbahasa Inggris?” tanya Fulanah selanjutnya.
Mereka pun menjawab: “Ya.”
Fulanah terlihat senang, namun kemudian ia menangis seraya berkata; “Aku berasal dari Rusia……,” Lalu mengalirlah dari mulutnya cerita tentang kejadian buruk yang baru menimpanya, “sedangkan aku tak punya bekal, juga tak memiliki tempat tinggal di sini,” lanjutnya.
Di akhir ceritanya, Fulanah pun berkata; “Aku hanya menginginkan bantuan kalian untuk menjaminku barang dua atau tiga hari, sampai aku bisa mengurus permasalahanku bersama keluargaku.”
Khalid, nama pemuda itu, tercenung mendengarkan penuturannya; terlintaslah di pikirannya, “jangan-jangan ini penipuan! Jangan-jangan wanita ini sedang memperdayanya!”
Fulanah menunggu jawaban Khalid sambil menangis. Sedang Khalid nampak bermusyawarah dengan ibunya serta dua saudara perempuan yang turut bersamanya.
Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk membawa Fulanah ke rumah mereka… Mulailah Fulanah berusaha menelpon keluarganya di Rusia. Namun tak pernah tersambung. Di negeri itu, jaringan telpon sering mengalami gangguan…! Maka, ia terus-terusan berusaha menelpon lagi pada setiap kesempatan, namun selalu gagal.
Khalid dan keluarga telah mengetahui Fulanah seorang Nashrani. Dan mereka tetap berlaku ramah kepadanya, serta selalu berlemah lembut terhadapnya. Hingga Fulanah pun menyenangi mereka. Suatu waktu, mereka mengajaknya masuk Islam. Namun Fulanah menolak, bahkan ia tak mau berdiskusi tentang masalah agama bersama mereka. Ya, karena ia berasal dari keluarga Ortodoks yang fanatik, serta sangat membenci Islam dan kaum Muslimin!
Khalid pun berkonsultasi ke pusat-pusat dakwah Islam. Lalu, mereka memberikan buku-buku keislaman yang berbahasa Rusia, untuk dibaca Fulanah. Fulanah pun membacanya, dan mulailah ia terpengaruh. Selang beberapa hari, setelah berbagai upaya yang dilakukan Khalid, dengan bantuan para aktivis dakwah itu, Fulanah pun masuk Islam, bahkan dengan keislaman yang sangat baik. Mulailah ia memperhatikan aneka pengajaran agama Islam, serta mengikuti berbagai majelis ilmu. Sampai-sampai ia mempunyai kekhawatiran jika pulang ke negeri asalnya, maka ia akan kembali menjadi seorang Nashrani.
Pernikahan
Khalid menikahi si Fulanah. Dan keteguhan wanita itu terhadap ajaran agama tampak semakin mengokoh, bahkan melebihi kaum Muslimah kebanyakan. Suatu hari, ia pergi ke pasar bersama suaminya. Di sana, ia melihat ada seorang perempuan yang berhijab, hingga menutupi bagian mukanya. Baginya, inilah kali pertama melihat seorang wanita berhijab dengan sempurna seperti itu. Ia benar-benar heran melihatnya!!
“Wahai Khalid, kenapakah wanita itu memakai pakaian yang demikian? Apakah karena ia memiliki penyakit yang membuat wajahnya memburuk, hingga ia pun harus menutupinya!?” tanyanya kepada Khalid.
Khalid menjawab: “Tidak, perempuan itu memakai hijab seperti yang dikehendaki Allah dan diperintahkan oleh Rasul-Nya.”
Istrinya terdiam sejenak, kemudian berkata: “Oh, inilah rupanya hijab Islami yang Allah kehendaki.”
Khalid bertanya: “Apa yang hendak kau lakukan?”
Istrinya menjawab: “Sekarang, jika aku masuk ke tempat-tempat perbelanjaan, maka semua mata para pemilik toko itu tak boleh melihat mukaku! Boleh jadi mereka ‘melahap’ mukaku ini sedikit demi sedikit!! Karena itu, aku tak akan keluar dari pasar ini, kecuali setelah menggunakan hijab seperti itu. Di manakah kita bisa membelinya?”
Khalid berkata: “Teruslah engkau dengan hijabmu yang sekarang; seperti ibuku dan saudari-saudariku.”
Istrinya menjawab: “Tidak… Aku ingin memakai hijab seperti yang dikehendaki Allah.”
*****
Tak terasa, hari-hari pun bergulir begitu cepat. Tak ada yang bertambah pada wanita itu, kecuali keimanan yang semakin teguh. Ia dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Begitu pula pesonanya semakin memikat hati sang suami.
Suatu hari, ia melihat paspornya ternyata telah hampir habis masa berlakunya. Hingga, ia pun mesti memperbaharuinya. Namun masalahnya, proses perpanjangan paspornya harus dilakukan di kota tempat ia berasal. Maka, tidak bisa tidak, ia harus pergi ke Rusia. Jika tidak, maka mukimnya di negeri teluk itu akan terhitung illegal. Khalid pun memutuskan untuk pergi bersamanya ke Rusia, dan istrinya memang tak ingin pergi tanpa disertai mahram.
Berangkatlah mereka menggunakan pesawat Rusia. Sang istri berangkat lengkap dengan hijabnya yang sempurna!! Ia duduk di samping suaminya dengan penuh rasa percaya diri. Khalid berkata kepadanya; “Aku khawatir kita akan menemui berbagai kesulitan karena hijabmu itu.” Istrinya menjawab: “Subhanallah! Engkau menginginkan aku mengikuti kehendak orang-orang kafir itu, dan menentang kehendak Allah? Tidak… Demi Allah! Biarkan mereka berkata semau mereka….”
Orang-orang pun mulai memperhatikannya. Para pramugari membagikan makanan kepada para penumpang, juga minuman keras sebagai penyertanya. Sebagian besar penumpang langsung meminumnya. Ketika minuman itu mulai bereaksi di kepala-kepala mereka, keluarlah dari mereka ucapan-ucapan meracau. Istri Khalid pun menjadi sasaran kecaman para penumpang yang mabuk itu dari beberapa penjuru pesawat. Sebagian membentak-bentaknya, sebagian lagi menertawakan, sebagian lagi mencelanya, sebagian lagi berdiri di sampingnya dan menunjuk-nunjuk mukanya.
Khalid melihat mereka, tak mengerti. Sedangkan istrinya hanya tersenyum atas kejadian itu, lalu ia menerjemahkan kepada suaminya apa-apa yang mereka lontarkan. Kontan saja Khalid marah.
Namun istrinya berkata: “Tidak, engkau jangan bersedih… Hatimu tak perlu merasa sumpek. Ini masalah kecil dibanding kecaman dan celaan yang dihadapi para sahabat, juga cobaan-cobaan yang dialami oleh para shahabiyyat.” Maka, Fulanah dan suaminya berusaha menahan diri, hingga sampailah mereka di bandara Rusia.

Fitri F.Z
Insya Allah Bersambung…
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:1}

Senin, 19 Desember 2011

[KISAH POHON APEL] Untuk kedua OrangTuaku: Maafkan Aku

Diposting oleh Yusuf shadiq
Dahulu kala, ada sebuah pohon apel besar. Seorang anak kecil suka datang dan bermain-main setiap hari. Dia senang naik ke atas pohon, makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel … Ia mencintai pohon apel iu dan pohon itu senang bermain dengan dia. Waktu berlalu …….

Anak kecil itu sudah dewasa dan dia berhari-hari tidak lagi bermain di sekitar pohon. Suatu hari anak itu datang kembali ke pohon dan ia tampak sedih. “Ayo bermain dengan saya,” pinta pohon apel itu. Aku bukan lagi seorang anak, saya tidak ‘bermain di sekitar pohon lagi. “Anak itu menjawab,” Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya. “” Maaf, tapi saya tidak punya uang ….. tapi Anda bisa mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka Anda akan punya uang. “Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil buah apel. Pohon itu sedih.

Suatu hari anak itu kembali dan pohon itu sangat senang. “Ayo bermain-main dengan saya” kata pohon apel. Saya tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah Anda membantu saya? “Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi Anda dapat memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu.” Lalu, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah kembali sejak saat itu.

Pohon itu kesepian dan sedih. Suatu hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. “Ayo bermain-main dengan saya!” kata pohon. “Saya sangat sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri. Dapatkah kau memberiku perahu?” … “Gunakan batang pohonku untuk membangun perahu. Anda dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia.” Lalu anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tak pernah muncul untuk waktu yang sangat panjang.

Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun. “Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untuk Anda lagi. Tidak ada lagi apel untuk ananda. …” kata pohon “…..
” Saya tidak punya gigi untuk menggigit “jawab anak itu.”
” Tidak ada lagi batang bagi Anda untuk memanjat” .
“Saya terlalu tua untuk itu sekarang” kata anak itu.”
“Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa ….. satu-satunya yang tersisa adalah akar sekarat” kata pohon apel dengan air mata.
“Aku tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun.” Anak itu menjawab.
“Bagus! Akar Pohon Tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat di situ.” “Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahat”
Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira dan tersenyum dengan air mata.

……………………..

Ini adalah cerita untuk semua orang. Pohon adalah orang tua kita. Ketika kita masih muda, kita senang bermain dengan Ibu dan Ayah … Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka … hanya datang kepada mereka ketika kita memerlukan sesuatu atau ketika kita berada dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun, orang tua akan selalu berada di sana dan memberikan segala sesuatu yang mereka bisa untuk membuat Anda bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu kejam kepada pohon tapi itu adalah bagaimana kita semua memperlakukan orang tua kita.
Read More - [KISAH POHON APEL] Untuk kedua OrangTuaku: Maafkan Aku

Senin, 14 November 2011

Ku Trima Pinanganmu Karna Agamamu

Diposting oleh Yusuf shadiq

Bismillahirrahmanirrahim..

” Gimana Mei ? ” Kataku

” Apanya yang gimana ? ” Kata sahabatku Mei.

” Apa harus aku menerima pinangannya demi orang tuaku ?? ” Kataku.

” Kamu udah ketemu orangnya ? ”

” Belum Mei, tapi orang tuaku menjamin dia anak yang sholeh ”

“Subhanallah..keren tuh, kamu udah istikharah ? ” katanya lagi.

” Udah, tapi belum dapat petunjuk. Sedangkan orang tuaku udah ngebet ”

” Kalo orang tuamu udah bilang dia sholeh berarti yaa begitu adanya, kan yang pasti orang tuamu ingin yang terbaik untukmu Wulan ”

Aku masih berpikir. Hingga hari untuk Ta’aruf pun tak terelakkan lagi. Aku hanya bisa menatapnya sepintas, sedangkan dia menatapku terus. Aku sudah tidak merasa nyaman, namun aku tetap husnudzon bahwa dia ingin memperhatikan ku lebih jauh.

Akhirnya keputusan itu terukir sudah, aku telah bertunangan dengannya. Dalam waktu satu bulan.. Insyaallah..akad akan lebih indah. Itu harapanku.

Suara SMS bedenting di kamarku. Aku mengeluh dalam hati, siapa malam-malam gini SMS. Aku kan capek seharian setelah acara khitbah.

” Sayang, Udah tidur belum ? ”

Hah !! ku baca sekali lagi SMS itu. Ku lihat pengirimnya. Andika.

Kenapa dia menulis kata ” sayang ” seolah-olah dia sudah memilikiku. Ini enggak bener. Tapi aku tetap berpikir positif padanya. Aku jawab sekenanya saja.

Hanya kata ” belum “, SMS itu terkirim dengan cepat. Denting SMS HP ku kembali berbunyi.

” Aku sudah tidak sabar sayang untuk segera bersamamu..”

Ku matikan HP ku tanpa ku baca lebih lanjutan SMS darinya. Aku meneteskan air mata. Segera aku mengambil air wudhu. Ku segarkan pikiranku. Dan aku segera mengadu pada-Nya. Kembali larut dalam sujud pada Nya.

” Yaa Rabb, jika dia benar jodohku, Segera dekatkan dia dengan hidayahMu. Namun jika dia bukan jodohku, segera jauhkan dia dari ku agar jodoh yang Engkau berikan padaku segera mendekat. Karna aku menginginkan agamanya dari pada semua yang dia punya di dunia ”

Aku terus meminta petunjuk Nya. Tetesan air mata ini tak pernah pudar untuk terus berharap padaNya.

” Bunda, aku tak sanggup kalo aku harus menikah dengannya ” kataku pada Bunda.

” Lho kenapa Nak, kamu baru bertunangan dengannya seminggu. Kamu belum mengenalnya ” kata Bunda.

” Maaf bunda, aku sudah cukup mengenalnya dari SMS-SMS yang dia kirimkan untukku ” Aku memperlihatkan SMS yang sering dikirimkan Andika padaku.

Bunda membaca seluruh SMS dari Andika yang jumlahnya hampir mencapai 100 dengan rayuan-rayuan yang memuakkanku.

” Ini kan wajar Nak , dia cuma ingin membuatmu senang, tak ada yang aneh dengan SMS-SMS ini ” kata Bunda tanpa memalingkan wajahnya dari HP milikku.

Aku terkejut dengan perkataan Bunda. Kenapa Bunda berpikiran seperti itu. Aku menatapnya lekat.

” Bunda, islam tidak pernah mengajarkan hal mengumbar nafsu seperti ini. Dia belum halal bagiku. SMS seperti ini layaknya Suami Istri, sedangkan aku masih belum di milikinya. Aku cuma ingin menjaga iffah ku sebelum aku di halalkan oleh seorang laki-laki yang kelak menjadi suamiku ” aku menghapus air mataku yang sedari tadi mengalir dengan deras.

” Bunda , aku sudah berjuang keras menjaga kehormatan dan harga diriku untuk suamiku kelak. Apakah aku salah jika aku mengharapkan orang yang bisa menjaga dirinya demi istrinya kelak ?? Maaf kan aku Bunda, aku ingin memutuskan khitbah dengannya ”

Bunda memelukku. Mungkin Bunda baru menyadari sebuah kekeliruannya. Sebuah kekeliruan bahwa shaleh menurut manusia belum tentu shaleh di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karna manusia hanya memandang apa yang tampak padanya, sedangkan Allah melihat secara keseluruhan.

Sidang pun segera di gelar. Sidang yang begitu mendadak dan terkesan menakutkan, karna aku ingin memnutuskan khitbah.

” Lamaran tak mungkin di batalkan, apa kata orang nanti ” Kata Bundanya Andika.

Aku baru menyadari bahwa keluarga Andika merupakan keluarga terpandang, sehingga orang tuaku tak mampu berkata apa-apa. Tapi aku harus kuat, demi tegaknya kebenaran yang aku perjuangkan.

” Maaf Tante, Lamaran bukanlah pernikahan yang sudah di ukir dalam akad yang sah. Lamaran hanyalah penanda dari langkah awal menuju sebuah pernikahan dan  bahwa saya tidak boleh di lamar orang lain lagi. Maka lamaran masih bisa di batalkan karna Ulama yang mayoritas paham agama pun menghukuminya hanya dengan boleh bukan wajib ” aku mencoba tersenyum menghadapi kedua orang tua Andika dan Andika.

” Lantas kamu kenapa ingin memutuskan tali pertunanganmu denga Andika, nak Wulan ” kata Ayahnya Andika yang bersikap lebih lunak kepadaku. Aku masih tetap tersenyum menghadapi setiap pertanyaan mereka.

” Ini SMS dari Andika Om Tante, silahkan di baca keseluruhannya ” Mereka membaca SMS dari Andika. Sedangkan aku terus menjelaskan apa yang aku jelaskan kemarin pada Bundaku tentang kehormatanku yang ingin ku jaga.

” Tak bisa, aku tetap ingin menikahimu Wulan ” kata Andika tiba-tiba.

Aku pun tetap tersenyum menghadapinya, aku mencoba untuk tegar.

” Maafkan aku Andika, aku menerima pinanganmu karna agama yang kamu miliki. Namun jika agamamu telah hilang dari drimu, maka hilang jua lah keinginanku untuk tetap menikah denganmu ” kataku.

Tak ada lagi suara, hanya hening yang kini menyelimuti pikiran kami masing-masing.

Wallahua’lam bi Shawwab,

Fitri Fatimah Zahra

Read More - Ku Trima Pinanganmu Karna Agamamu

Jumat, 30 September 2011

Ah..Seandainya Mereka Mau Jujur...

Diposting oleh Yusuf shadiq
By : Sri Lestari, Ssi., Apt
* Cerita ini adalah kisah nyata dan semoga kita mengambil pelajaran darinya

Beberapa hari yang lalu di suatu siang yang gerah karena awan yang bergelayut menjelang hujan, ada seorang laki-laki tua dan istrinya yang mendatangi tempat kerjaku. Dari penampilannya jelas tergambar mereka bukan orang berada. Ternyata mereka mau menawarkan madu yang mereka bawa didalam botol-botol yang dimasukkan ke dalam karung. Aku sempat berpikir, pasti berat membawanya berjalan kaki.
Si kakek menawarkan madunya dengan sikap yang menurutku sedikit agak kasar dan memaksa. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja karena mungkin begitulah adanya kesederhanaan yang mereka miliki. Aku sempat bertanya, dimana mereka tinggal dan mereka mengatakan tinggal di kampung yang dekat dengan hutan berbatasan dengan wilayah kabupaten lain.Wah, pasti jauh sekali. Terbayang olehku daerah kering di tepi hutan dengan rumah kecil-kecil mirip gubuk seperti yang sering aku lihat ketika aku naik kereta api pulang pergi ke Bandung.

Mereka juga membawa ember yang ditutup plastik yang berisi sarang lebah. Si kakek mengatakan bahwa dia membawa madu asli dan kalau mau bisa langsung diperas. Harga sebotolnya dia tawarkan 20 ribu, tapi karena dia mau segera pulang dia mau dibayar 100 ribu saja untuk 10 botol yang tersisa dengan wanti-wanti agar aku menjual ke orang lain dengan harga 20 ribu. Dia juga meyakinkan aku bahwa madu yang dia bawa itu asli dengan menuangkannya ke dalam air dan katanya madu itu tidak akan bercampur dengan air. Dia juga berani sumpah akan tertabrak motor kalau dia sampai berbohong.
Aku sedang sibuk berpikir, kasihan kakek ini datang dari jauh bersama istrinya untuk menjual madu yang mungkin uangnya untuk hidup beberapa hari. Aku langsung saja mengiyakan untuk membeli madu-madu itu. Bahkan aku tidak keberatan ketika si kakek meminta tambahan uang 5 ribu lagi. Dan aku tidak pernah berpikir untuk menjual kembali sepuluh botol madu itu. Aku teringat beberapa orang temanku yang sedang hamil dan sehari sebelumnya ada teman suamiku yang diopname di rumah sakit karena sariawan yang lumayan parah dan sempat pesan untuk dibawakan madu. Beberapa botol madu aku hadiahkan kepada teman kerjaku yang kebetulan ada di kantor pada saat itu. Beberapa aku simpan dan akan kuantar esok hari. Aku sempat membawa sebotol madu untuk suamiku yang kadang-kadang suka minta dibikinkan teh madu.
Ketika dalam perjalanan pulang dan sedang menunggu bis di halte aku ditanya oleh tukang becak yang memang sering ngobrol denganku. Dia menanyakan beli madu dimana, aku jawab ada orang yang jualan ke kantor. Kemudian dia menceritakan tentang kisahnya yang ditipu orang ketika membeli madu, yang ternyata bukan madu asli malah dia sendiri tidak berani mengkonsumsinya karena tidak tahu apa isi dari madu palsu itu.
Sesampainya di rumah, aku penasaran juga dengan madu yang aku beli. Aku mencicipinya sedikit ternyata rasanya tidak begitu manis. Aneh, pikirku. Kemudian aku tuang madu itu ketanganku, tidak lengket tapi lebih mirip larutan kanji yang sangat encer dan baunya juga aneh.Astaghfirullah, apakah .....aku ditipu? Aku masih tidak percaya ada kakek-kakek yang usianya mungkin sudah lebih dari 70 tahun bersama istrinya berbuat hal yang tercela seperti itu.
Sesaat aku sempat dongkol, aku rasanya sulit untuk mengikhlaskan apa yang telah mereka perbuat terhadapku. Aku segera menghubungi orang-orang yang telah aku beri hadiah madu itu agar tidak dikonsumsi karena aku sendiri juga tidak tahu apa isi sebenarnya botol-botol itu. Aku ceritakan kekesalanku pada suamiku. Dan suamiku menasehati bahwa walaupun aku tidak ikhlas tidak akan mengubah apapun. Sebenarnya aku bukan tidak ikhlas karena uang yang aku keluarkan, tapi yang aku sesalkan kenapa mereka yang sudah setua itu melakukan penipuan. Apakah tidak ada rasa takut dengan ajal yang semakin membayang di depan mata. Kenapa mereka tidak bilang saja jika mereka membutuhkan sejumlah uang, aku tidak akan keberatan membantu. Aku menyesalkan dosa yang telah mereka perbuat di penghujung usia disaat seharusnya kehidupan diisi dengan taubat dan kebaikan. Ini salah siapa? Mungkin juga salah kita yang sering mengabaikan orang-orang yang meminta pertolongan kepada kita. Ah...seandainya mereka mau jujur mengatakan mereka membutuhkan bantuan, betapa indahnya akhir dari cerita ini.
Read More - Ah..Seandainya Mereka Mau Jujur...

Senin, 26 September 2011

Catatan kerinduan

Diposting oleh Yusuf shadiq

premio20poeseda20y20amor1-291x300Diary aisha shalihah,entah kenapa airmataku tak tertahan…rindunya aku kerumahMu lagi ya Allah.semoga Engkau izinkan lagi aku umrah di bulan ramadhan nanti sebelum aku meninggalkan negri para nabi ini.Banyak sekali kekuranganku ry,kesabaran masih perlu ditata,ibadah masih sangat tidak sempurna,keikhlasan harus senantiasa kuperbaharaui..tapi dear aisha aku ingin masuk surga Kekasih,apakah Dia akan menerima akhwatfillah yang dhoif ini sebagai bagian dari penduduk syurga.Allahku,dalam setiap liku kehidupan dan ujian-ujian yang kuhadapai aku ingin kehadiranMu senantiasa memberi selaksa makna keramaian jiwa dalam kesunyian,ramai dalam sunyi,karena sesungguhnya hati inilah taman-taman kedamaian itu ya Robbku.

Ry,jadi teringat aku kisah seorang sahabat yang dengan bangganya mengatakan ia masuk syurga karena amal-amalnya yang banyak,diriwayatkan dalam sebuah hadist qudsi akhirnya Allah menimbang amal-amalnya ternyata tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan nikmat Allah yang di nikmatinya ketika di dunia,ternyata dia masuk syurga karena rahmat Allah semata.

Dear diary,kuharap airmata ini akan menjadi saksi akan kerinduanku padaNya rindu selalu dalam naungannya.Singguh aku tak ingin sedikitpun keuntungan dunia ini menjadi bagianku seandainya itu akan melalaikan hatiku dari mencintaiNya,aku takut Dia cemburu ry..cemburu denganku yang kadang menomorduakanNya.Allahku tuntun aku selalu dalam nanungan kasih sayangMu,jadikanlah semua langkah-langkah dan amal-amalku karena cintaMu semata.Izinkan aku kembali bermunajat di RumahMu,di raudhah makan kekasihMu..aku sangat rindu ya Allah….

Muhasabah cinta menjelang tidur…asmaul husnaNya membuat airmata ini semakin deras…Allahu akbar…Allahu akbar wahai yang maha lembut lembutkan hatiku..agar selaludalam cintaMu amin

My Bed,12 mn
Dalam keheningan malam yang sunyi
Read More - Catatan kerinduan

Minggu, 21 Agustus 2011

Kisah Nyata atau Dongeng?

Diposting oleh Yusuf shadiq

 
Saya akan menceritakan beberapa kisah nyata dan saya jamin Anda akan merasakannnya sebagai sekedar dongeng. Bukan karena Anda tidak mempercayai saya atau sumber-sumber dari mana saya memperoleh kisah-kisah nyata itu; namun terutama karena kita hidup di zaman yang jauh lebih absurd dari dongeng. Atau karena kehidupan kita sudah sedemikian jauh meninggalkan norma-norma nyata dalam kehidupan kemanusiaan.
Baiklah saya mulai saja. Anda sudah siap mengikuti kisah-kisah saya? Inilah:
1. Suatu hari ada seorang tua miskin datang kepada Syeikh –kalau sekarang mungkin dipanggil kiai– Sa’id bin Salim, hendak menyampaikan sesuatu keperluan meminta tolong kepada tokoh masyarakat yang disegani itu. Seperti layaknya orang yang sudah tua renta, selama berbicara mengutarakan hajatnya, si orang tua miskin itu bersandarkan pada tongkat penopang ketuaannya. Dan tanpa disadari, ujung tongkatnya itu menghujam pada kaki syeikh Sa’id hingga berdarah-darah. Seperti tidak merasakan apa-apa, Syiekh Sa’id terus mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan wong cilik itu.
Demikianlah; ketika orang tua itu sudah mendapatkan dari Syeikh apa yang ia perlukan dan pergi meninggalkan majlis, orang-orang yang dari tadi memendam keheranan pun serta-merta bertanya kepada Syeikh Sa’id: “Kenapa Syeikh diam saja, tidak menegur, ketika orang tua tadi menghujamkan tongkatnya di kaki Syeikh?”
“Kalian kan tahu sendiri, dia datang kepadaku untuk menyampaikan keperluannya;” jawab Syeikh Sa’id sambil tersenyum, “Kalau aku mengadu atau apalagi menegurnya, aku khawatir dia akan merasa bersalah dan tidak jadi menyampaikan hajatnya.”
Lihatlah. Bukankah kisah di atas bagaikan dongeng saja?! Mana ada pemimpin atau tokoh masyarakat yang begitu tinggi menempatkan keperluan orang yang memerlukan bantuan dalam perhatiannya? Kalau pun ada, mungkin untuk menemukannya bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami sekarang ini.
2. Syeikh Hasan Al-Bashari, siapa yang tak mengenal tokoh ulama dan sufi di penghujung abad pertama ini? Beliau tinggal bertetangga dengan seorang Nasrani. Apartemen si Nasrani di atas dan beliau di bawah. Bertahun-tahun mereka bertetangga, belum pernah si Nasrani datang bertandang ke apartemen Syeikh Hasan. Baru ketika Syeikh Hasan jatuh sakit, si Nasrani datang menjenguk.
Ketika menjenguk itulah, si Nasrani baru tahu betapa sederhana kehidupan Syeikh Hasan yang sangat terkenal kebesarannya itu. Tapi yang lebih menarik perhatian si Nasrani adalah adanya sebuah baskom berisi air keruh yang terletak di dekat bale-bale tempat tidur Syeikh Hasan. Apalagi ketika ada tetesan air jatuh tepat dari atas baskom. Spontan si Nasrani teringat kamar mandinya di atas. Dengan ragu-ragu si Nasrani pun bertanya: “Syeikh, ini baskom apa?’
“Ah baskom itu, sekedar penampung tetesan air;” jawab Syeikh wajar-wajar saja, “Setiap kali penuh baru saya buang.”
“Sudah berapa lama Syeikh melakukan ini?” tanya si Nasrani lagi dengan suara gemetar, “maksud saya menampung tetesan air dari atas ini?”
“Ya, kurang-lebih sudah dua puluh tahun;” jawab Syeikh kalem, “jadi sudah terbiasa.”
Mendengar itu, si Nasrani langsung menyatakan syahadat. Mengakui Tuhan dan Rasul-nya Syeikh Hasan Al-Bashari, Allah swt dan Nabi Muhammad saw.
Seperti dongeng bukan? Dimana kini Anda bisa menjumpai orang yang menjunjung tinggi ajaran menghormati tetangga seperti Hasan Al-Bashari itu?
3. Datang seseorang melarat kepada sang pemimpin mengeluhkan kondisinya yang sangat lapar. Sang pemimpin pun bertanya kepada isterinya kalau-kalau ada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tamunya. Ternyata di rumah sang pemimpin yang ada hanya air. Sang pemimpin pun bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini?”
“Saya;” kata seseorang. Lalu orang ini pun segera pulang ke rumahnya sendiri membawa tamunya.
“Saya membawa tamunya pemimpin kita, tolong sediakan makanan untuk menjamunya!” katanya kepada isterinya.
“Wah, sudah tidak ada makanan lagi, kecuali persediaan untuk anak-anak kita;” bisik sang isteri.
“Sibukkan mereka;” kata suaminya lirih, “kalau datang waktunya makan, usahakan mereka tidur. Nanti kalau si tamu akan masuk untuk makan, padamkan lampu dan kita pura-pura ikut makan, ya!”
Demikianlah keluarga itu menjalankan skenario kepala rumah tangganya. Dan mereka menahan lapar mereka sendiri hingga pagi.
Esok harinya sebelum laporan, sang pemimpin yang tidak lain adalah Rasulullah saw, sudah menyambut kepala rumah tangga –seorang shahabat Anshor– itu dengan tersenyum, sabdanya: “Allah takjub menyaksikan perlakuan kalian berdua terhadap tamu kalian semalan.”
Anda tahu kisah ini bukan dongeng, karena ini hadis muttafaq ‘alaih yang bersumber dari shahabat Abu Hurairah r.a. Tapi tetap saja kedengarannya seperti dongeng, bukan ?!
Tiga kisah itu hanyalah sekedar contoh, yang lainnya masih banyak lagi. Anda bisa dengan mudah menjumpainya di kitab-kitab Anda, di kitab suci Al-Quran, di kitab-kitab Hadis, dan kitab-kitab salaf pegangan kita yang lain. Hampir semuanya, bila Anda baca, Anda akan merasa seperti membaca contoh-contoh di atas. Merasa seperti membaca dongeng. Kalau benar demikian, bukankah ini pertanda bahwa kondisi kehidupan kita –masya Allah!—sudah semakin jauh saja dengan kondisi ideal seperti yang dicontohkan oleh Salafunaas Shaalihuun, para pemimpin dan pendahulu kita yang saleh-saleh.
Wallahu a’lam.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari membaca notes ini
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat.
____________________
Source from mailist huttaqi, get from gusmus.net
Read More - Kisah Nyata atau Dongeng?

Bunda, Umar Sayang Bunda

Diposting oleh Yusuf shadiq

“Bunda, kenapa Allah gak kasih kita hidup enak yah?” tanya seorang anak pada ibunya.
“Mungkin karena Allah amat sayang sama kita,” jawab bundanya dengan santun.
“Begitu ya, bunda?” Anaknya berujar.
“Iya, nak. Allah amat sayang sama kita, Allah gak mau kita terlena sama nikmat dunia,” sambil meneteskan air mata Bundanya berujar pelan.
Sore pun menjelang, bersiaplah Umar kecil untuk pergi ke masjid dekat rumahnya. Mengenakan peci kesayangannya dan kain sarung yang agak kumal. Langkahnya berpacu dengan suara iqamah petang itu.Dari sudut jendela, bundanya tertegun melihat anaknya amat riang mendengar panggilan Allah itu.
“Ayo, nak, bergegas. Jangan sampai kau telat shalat maghrib ini!” teriak bundanya dari balik jendela.
“Iya, Bunda. Assalamu’alaikum. ..” jawab Umar.
Bangga rupanya bunda Umar ini, melihat pelita kecilnya rajin ibadah. Matanya berkaca-kaca saat teringat Ramadhan tahun yang lalu.
“Sayang, andai kau lihat anak kita saat ini, dia lucu sekali,” gumam bunda Umar dalam hati.
Melayang pikiran bunda Umar, mencoba mengingat setahun yang lalu di kamar ini. Selepas ia tunaikan shalat maghrib, diraihnya Mushaf kecil agak kusam lalu air matanya menetes perlahan.
“Sayang, aku rindu saat-saat itu,” lirihnya pelan sebelum membaca Ar-Rahman malam itu.
“Andai kau ada di sini sayang, melihat tingkah Umar yang lucu. Memegang pipinya yang tembem, kau elus rambutnya yang lebat. Akhhh… Betapa nikmat, sayang. Andai Allah berikan kesempatan kita berkumpul kembali, menikmati lantunan suaramu saat kau jadi Imam kami, kau bacakan surat kesukaanmu, kau do’akan kami semua agar kami sehat selalu. Kau berikan tanganmu untuk kukecup tanda baktiku untukmu. Kau elus kepala imut Umar, sayang. Andai kesempatan itu kembali terulang.”
“Bunda, kenapa nangis?” dielusnya pipi putih Bunda oleh Umar.
“Bunda gak apa-apa kok, nak. Bunda cuma kangen sama ayah,” sambil dikecupnya kening Umar yang baru pulang dari masjid.
“Bunda, emang ayah ke mana?” tanya polos Umar.
Sambil menitikan air mata, Bunda pun membelai kepala kecil Umar.
“Ayah udah ketemu sama Allah, nak. Ia tersenyum di sana. Ayah titip pesen kalo Umar harus jaga Bunda. Kau mau, nak?” tanya Bunda sambil mengusap air mata.
“Mau, Bunda. Bunda kesayangan Umar. Umar pastiii jagaa bunda,” sambil tersenyum riang Umar menjawab.
Tawa kecil pun meledak di malam sunyi itu.
“Ayo, nak. Mari kita tidur. Besok pagi-pagi kita temui ayah. Umar harus janji sama ayah bakal jaga Bunda ya?” ajak Bunda.
“Iya, Bunda. Umar janji jaga Bunda,” mata Umar pun seraya tertutup.
“Masya Allah…” teriakku terbangun dari tidur. Tak terasa sudah hampir 3 jam aku tertidur amat pulas. Sesaat tersadar kalau malam ini, aku bermimpi bertemu Umar dan suamiku.
“Allahu akbar…” tak terasa aku kembali meneteskan air mata.
Terkenang semua yang pernah terjadi malam ini, kecelakaan yang merengut kedua belahan jiwa membuatku kembali menitikan air mata.
Masih ingat olehku, bagaimana senyum manis Umar sebelum berangkat shalat ke masjid. Masih ingat olehku, bagaimana suamiku mencium keningku sebelum aku pergi tidur.
“Tuhan… Jaga belahan Jiwaku. Berilah mereka tempat yang lapang, ya Rabb. Kumpulkan mereka sebagai umatmu yang bertakwa. Tuhan… Kumpulkan kami kembali di JannahMu. Aku rindu Umar…” do’aku lirih menutup qiyamul lail malam ini.
Bunda sayang kalian… Tunggu bunda yah! Kita pasti akan bertemu kembali, sayang.
Laa ilaaha illaa annta subhaanaka inni kunntu minazhahaalimin. ..Laa haula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyil’ azhim

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari membaca notes ini
Silahkan SHARE ke rekan anda untuk berbagi.
Read More - Bunda, Umar Sayang Bunda

Cinta Tak Bersuara

Diposting oleh Yusuf shadiq

Ada saudagar kaya yang sudah tua usianya. Hartanya sangat banyak. Sementara ia sudah tidak memiliki istri lagi. Ia kini hidup dengan seorang putranya.
Anak lelaki satu-satunya ini memiliki sifat yang berbeda dengan sang ayah. Ayahnya adalah orang yang sangat gigih dalam bekerja. Sedangkan anaknya, hanya bersenang-senang saja. Memang, saking banyaknya harta itu, tidak akan habis dimakan sampai tujuh turunan.
Saudagar kaya ini memiliki perpustakaan besar. Bahkan, terbesar di jamannya. Sewaktu muda, ia giat bekerja sehingga menjadi kaya raya seperti sekarang ini. Kini, ia ingin menikmati masa tuanya dengan tenang. Menikmati jerih payahnya sewaktu muda.
Ada satu sifat yang tidak disukai si anak dari diri ayahnya. Yaitu, ayahnya dinilai seorang yang pelit. Sang ayah sangat selektif dengan permintaan anaknya. sang anak merasa jengkel dengan sifat ayahnya ini.
Karena tidak setiap yang ia inginkan, bisa dipenuhi oleh ayahnya. padahal, apa yang ia inginkan, pasti bisa terjangkau dengan banyaknya harta yang dimiliki ayahnya.
Suatu hari, sang anak datang menghadap ayahnya. Ia berniat meminta sesuatu terhadap ayahnya. Sudah jauh-jauh ia menyusun rencana ini. Berharap ayahnya mau mengabulkan keinginannya.
“Anakku, kau nampak murung. Apa yang kau pikirkan?” tanya sang ayah.
“Ayah, aku sangat beruntung memiliki seorang ayah sepertimu. Nasibku tidak seperti orang kebanyakan yang serba kekurangan. pokoknya aku bangga menjadi anakmu.” ujar sang anak.
“Syukurlah!”
“Begini ayah, kemarin ketika aku jalan-jalan dengan mengendarai sepeda motor, aku terus diperhatikan oleh orang-orang yang kujumpai. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang aku. Mungkin mereka merasa aneh, anak saudagar kaya hanya mengendarai sepeda motor!” si anak mulai menyentil.
“Maksudmu?”
“Beberapa hari yang lalu, aku melihat iring-iringan mobil ke arah kota. Aku berpikir, alangkah nyamannya naik mobil. Tidak kepanasan, seperti naik sepeda motor. Maka akupun berkeinginan untuk memiliki sebuah mobil. Apakah Ayah mau memenuhi keinginanku?”
Sang ayah menarik nafas panjang “Anakkku, Ayah kira dengan sepeda motor sudah cukup untukmu. Kau hanya berkeliling di sekitar sini saja kan?”
“Tetapi, aku sungguh ingin merasakan bagaimana rasanya naik mobil, Ayah!”
“Ayah akan pikirkan dulu. Besok akan Ayah berikan jawabannya.”
*****
Keesokan harinya, sang anak tengah duduk di ruang keluarga. Menunggu jawaban ayahnya. Dalam hati ia berdoa, agar ayahnya mau mengabulkan permintaaanya tersebut.
Tidak lama kemudian, sang ayah muncul dengan membawa sesuatu.
“Ayah, Bagaimana? Apakah Ayah setuju dengan keinginanku?”
“Anakku, Ayah ini sudah tua. Sebentar lagi mungkin Ayah akan mati. Dan tentu saja seluruh harta Ayah akan diwariskan kepadamu, karena hanya engkaulah ahli waris ayah satu-satunya.”
“Ayah setuju tidak dengan keinginanku?” sang anak sudah tidak sabar lagi.
“Anakku, tidak semua yang kita inginkan bisa kita raih, meskipun kita hidup berkecukupan. Tapi, kau sangat beruntung, karena engkau terlahir dari keluarga yang kaya raya. Yang kaubutuhkan, sudah Ayah siapkan. Ini!” sang ayah menyerahkan sesuatu kepada anaknya.
“Apa ini? Buku?”
“Ya”
“Jadi, Ayah tidak mengabulkan permintaanku?”
“Tunggu dulu, maksud Ayah….”
“Ayah memang pelit! Lebih baik aku pergi dari rumah ini!” sang anak beranjak meninggalkan tempat duduknya dan berlari meninggalkan rumah.
Sang ayah tidak dapat mencegah anaknya, bahkan tidak sempat memberikan pengertian dan persoalan yang sebenarnya. Kini ia tinggal sendiri. Sang anak pergi dengan meninggalkan kekecewaan. Sang ayah lebih kecewa, karena sang pewaris satu-satunya telah pergi.
*****
Beberapa tahun kemudian, anak saudagar kaya ini ingin kembali ke rumah. Ia menyesal telah meninggalkan ayahnya yang sudah tua. Ia juga merasa sengsara, hidup dengan usaha sendiri. Makan seadanya, pakaian yang tidak sebagus dulu, dan beragam kesusahan lainnya.
Penyesalannya semakin membuncah, taktala ia mendengar ayahnya telah meninggal. Ia merasa berdosa dan menganggap diri sebagai manusiai yang tak berguna.
Untuk menebus dosa-dosanya, ia berjanji dalam hatinya akan meneruskan apa yang telah diusahakan ayahnya selama ini. Menjaga dan mengelola harta yang ada. Juga akan mengubah tabiat buruknya.
*****
Tibalah anak itu di depan rumahnya. Sungguh ironis, rumah yang dahulu megah, kini nampak kumuh tak terawat. Karena setelah sang ayah meninggal, para pembantu di rumah itupun pergi.
Sebelum ia masuk ke rumah, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi makam ayahnya yang berada tak jauh dari samping rumahnya. Ia tahu itu makam ayahnya, karena disana tertancap sebuah batu nisan atas nama ayahnya. Di depan makam ayahnya, ia menangis dan menyesali semua perbuatannya.
Setelah puas meyiram makam ayahnya dengan air mata. Anak ini kemudian masuk ke dalam rumah. terbayang lagi kenangan dahulu, ketika ia bercanda ria dengan ayah dan ibunya hingga kenangan pertengkarannya dengan sang ayah terakhir kali, sebelum ia meninggalkan rumah.
Matanya kemudian menangkap sebuah buku. Buku yang hendak diberikan ayahnya, sebagai pengganti mobil yang ia minta. Dengan tangan gemetar, diambilnya buku itu. Buku itu telah tertutup penuh dengan debu.
Perlahan-lahan, dibukanya lembaran demi lembaran dari buku itu. Ternyata, buku itu adalah kumpulan nasehat yang ditulis oleh ayahnya sendiri selama ia hidup untuk anaknya. Ketika ia membuka-buka halaman dari buku itu, tiba-tiba sesuatu terjatuh. Sebuah kunci mobil, lengkap dengan surat-suratnya. Di sana juga terselip tulisan: “Ayah menyayangimu!”
Kembali sang anak ini menangis. Kembali penyesalan menyergap dirinya.
“Ayah, maafkan anakmu” lirihnya dalam hati.
****
(disadur dari buku “Beginilah Seharusnya Hidup”)
Read More - Cinta Tak Bersuara

Sabtu, 20 Agustus 2011

JAMU TOLAK MISKIN

Diposting oleh Yusuf shadiq

“Allah telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu minta (butuhkan dan inginkan). Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat aniaya lagi sangat kufur.” (QS Ibrahim [14]: 13). Kemiskinan senantiasa menjadi isu sentral di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara-negara lain pun, termasuk negara adidaya, tak luput dari kemiskinan.

KEMISKINAN BUKAN TAKDIR ALLAH YANG TIDAK BISA DIRUBAH!!
Pun begitu dengan Indonesia. Negara kita setelah kemerdekaan hingga sekarang memiliki problem kemiskinan. Sebagai salah satu negara dengan jumlah Muslim terbesar, hendaknya kita berpikir untuk menyelesaikan kemiskinan dengan landasan nilai-nilai luhur keislaman. Secara hakikat, seluruh manusia tak berada pada kemiskinan.
Ayat yang dikutip di atas mengindikasikan semiskin dan sefakir apa pun seseorang, ia masih diberikan nikmat tak terhingga oleh Allah. Kendati mendapatkan kesulitan dalam memperoleh keamanan finansial, kita masih diberi nikmat-nikmat dalam bentuk lain. Kenikmatan tersebut dapat berupa kesehatan, umur panjang, dan memperoleh tempat teduh meskipun seadanya.


Istilah ‘miskin’ diambil dari bahasa Arab. Merujuk pada kamus Al-Munawwir (1997: 649), kata ‘miskin’ berasal dari sakana yang berarti diam, tidak bergerak, atau tenang. Faidhullah Al-Hisn menulis, kata ‘miskin’ dalam bentuk mufrad disebutkan Alquran sekitar 12 kali, kemudian dalam bentuk jamak (masaakin) disebut juga sekitar 12 kali. Dari sekian ayat itu, seluruhnya menempatkan posisi si miskin sebagai orang yang perlu dibantu. Dalam bahasa lain, si miskin dan si fakir memiliki ketidakberdayaan akibat berbagai hal. Dua di antaranya ialah akibat penindasan struktural dan kemalasan mental berusaha (kultural). Misalnya, secara struktural kemiskinan diakibatkan rakyat tidak diperhatikan dengan adanya kebijakan prorakyat, yang berdampak pada aspek kultural sehingga mereka putus asa karena kesulitan mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup. Sebetulnya, kemiskinan bukan takdir dari Allah yang tak dapat diubah. Apabila setiap individu memiliki semangat dalam mencari penghasilan, kemiskinan dapat diberantas dari muka bumi.
Kolektivitas dan kepedulian sejatinya dimanifestasikan dalam keseharian saat negeri ini dipenuhi kemiskinan. Allah SWT berfirman, “Apabila telah selesai shalat (Jumat), bertebaranlah di bumi dan carilah fadl (kelebihan) dari Allah.” (QS Al-Jumu’ah [62]: 10). Ayat ini mengindikasikan bahwa kerja keras mencari nafkah sebagai tahap mencari fadhilah-Nya. Tanpa mengabaikan kerja keras orang miskin, tugas individu yang bernasib baik (baca: kaya dan mampu) ialah memberikan sebagian hartanya. Pelaksanaan zakat, infak, dan sedekah menuntut pengelolaan profesional agar kemiskinan dapat diminimalisasi. Wallahua’lam.

SUMBER ; REPUBLIKA.CO.ID

P.S :

Read More - JAMU TOLAK MISKIN

Kamis, 18 Agustus 2011

JIKA KU HARUS MATI MAKA PERTEMUKAN AKU DGN-MU YA ALLAH

Diposting oleh Yusuf shadiq
Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata:” Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad) “. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:” Ini adalah sihir yang nyata “.
QS. ash-Shaff (61) 
 
"Sebenarnyalah, barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka berduka cita"
(QS. Al Baqarah, 2: 112)

Percayalah........
Insha Alloh aku ndak bakalan mati disini.......
meskipun aku harus mati disini.......
semangat  ku tidak akan pernah mati....

jika pun semangat itu padam,Kutitipkan  semua  padamu SaudaraQ


Ya Allah . .

 .

Tetaplah Disisiku Ya Allah… 


Dimanakah ku Harus Berlabuh…


Saat Semua Dermaga Menutup Pintu, Dan Berkata “ Ini Bukan Untukmu…” “Segara Menjauh Karna Disini Bukan Tempatmu….!!!” 


 


Ya Allah… 


Katakan Padaku, Dermaga Untukku Berlabuh…???


Agar ku Segera Menghela Nafas Kehidupan Yang Baru.


Sampai Kapan ku Harus Arungi Waktu,..


Ku Lelah Menunggu Suatu Yang Tak Pasti Walau Hanya Satu,..


 


Ya Allah …



Beri Aku Penerang Jalan-mu Agar Tak Tersesat Saat ku Melaju,..Kuatkan Awak Kapalku, Saat Badai Menghalangi Jalanku Ya Allah … Tetaplah Disisiku, Jangan Engkau Menjauh Dariku… Karna ku Mati Tanpa Hadir-mu. . ALLOHU AKBAR


Read More - JIKA KU HARUS MATI MAKA PERTEMUKAN AKU DGN-MU YA ALLAH

Selasa, 16 Agustus 2011

Hal yang tidak bisa diceritakan oleh Ayah

Diposting oleh Yusuf shadiq
ayah
Siapin tissue dulu gan dan sist sebelum mulai baca :D
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir….
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa….
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa..
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu…..
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik….
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk… .
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….
Papa telah menyelesaikan tugasnya…. .
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.
Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !
Read More - Hal yang tidak bisa diceritakan oleh Ayah

Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga

Diposting oleh Yusuf shadiq
 Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.
Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.
Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.
Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.
Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.
Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.
Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…
Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.
Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.
Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak anugerah Allah yang terindah ini.
Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang back street tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.
Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa diikhtiarkan maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:
Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.
Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.
Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.
Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.
Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.
Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan. Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.
Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada Sang Pemilik Cinta. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.
Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.
Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.
Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.
Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.
Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.
Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:
Kasih…
cinta yang terindah adalah mencintaimu,
sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.
Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu
burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.
Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, Di mana engkau berada?
Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:
Aku berada dalam kenikmatan
dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir
berada dalam syurga abadi yang dijaga
oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa
yang akan menunggu kedatanganmu,
wahai kekasih…
Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu! Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya
Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku  jawab si gadis kekasihnya itu.
Bilakah aku dapat melihatmu kembali? Tanya si pemuda menegaskan
Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari, Jawab kekasihnya.
Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.
Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(QS. Ar-Ruum : 21).
Read More - Sekuntum “Cinta” Pengantin Syurga