Selasa, 12 Februari 2002

Teruntuk saudara-saudaraku dalam iman, kitalah umat dengan pertahanan dan penyerangan terkuat!

Diposting oleh Yusuf Shadiq


Medan Perang Kehidupan
Kehidupan ini ibarat medan perang, yang menuntut kesiapan dan kesiagaan bagi siapapun yang menjalaninya. Tiap-tiap jiwa sudah menjadi partisipan sejak lahir, dan akan purna ketika mereka meninggal dunia. Pada rentang waktu yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala ini, berbagai masalah siap menggoncang manusia agar takluk dan tunduk pada dunia yang fana. Masalah membuat manusia mudah berputus asa, lengah terhadap godaan, dan lupa kepada Tuhannya. Jika hal itu terjadi, mereka dianggap gagal mengemban misi yang telah dibebankan, yaitu sebagai khalifah di muka bumi.
“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml [27]:62)
Dalam suasana perang yang berkecamuk, wajib bagi kita untuk membekali diri dengan pelengkapan perang. Jika tidak, tentu akan berisiko besar mengalami kegagalan. Jika sudah begitu, pilihannya hanya ada tiga; pulang dengan tangan hampa, menjadi tawanan, atau mati sia-sia. Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu bertahan hidup dan memenangkan peperangan. Namun untuk mencapai kondisi itu, semuanya harus dipersiapkan dengan matang.
Selain membekali diri dengan peralatan perang, kita juga harus mahir dalam menggunakannya. Percuma kita repot-repot membawa peralatan itu, namun tidak dapat mempergunakannya dengan baik. Oleh karena itu, dalam menghadapi peperangan seperti ini kita harus rajin melatih diri. Agar ketika musuh sudah ada di depan mata, serangannya bisa kita tangkis, dan dengan mudah kita menebasnya hingga terkapar.
Sebenarnya, saya bukan hendak berbicara tentang peperangan, yang saya sendiri belum pernah mengalaminya. Mungkin secara teori garis besarnya seperti itu, tapi secara praktik wallahua’lam. Saya hanya ingin mengatakan (kembali), bahwa kehidupan ibarat medan perang. Lantas, seberapa siap kita menghadapinya?
Secara potensi, insya Allah kita sudah siap. Ada banyak dalil di dalam Al-Qur’an menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan karunia berupa kesempurnaan jasad, akal, dan hati. Salah satunya adalah, “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati..” Namun sayang, banyak di antara kita yang tidak sadar dengan potensi tersebut, hingga Allah berfirman dalam lanjutan ayat di atas, “..Amat sedikitlah kamu bersyukur!” (QS. Al-Mu’minun [23]:78)
Di medan perang, teori dan potensi tak akan berarti kecuali ia bertransformasi menjadi kejelian dalam bertahan, dan ketangkasan dalam menyerang. Begitupun dengan kehidupan ini. Harus ada benteng pertahanan yang kokoh, dan pedang yang tajam pada diri kita. Dan itu sebenarnya sudah ada pada diri kita. Namun, seperti yang sudah dibahas di awal, semua tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Maka inilah saatnya kita mengetahui rahasia sukses berperang di medan laga kehidupan ini. Bahwa perisai yang paling ampuh untuk menangkis semua permasalahan dunia adalah kesabaran. Sedangkan pedang paling tajam untuk membabat habis segala macam peluang adalah keikhlasan. Ya, rahasianya adalah sabar dan ikhlas, yang Umar radhiyallahu ’anhu pun tidak peduli akan mengendarai yang mana apabila keduanya adalah kendaraan.

Teruntuk masyarakat Indonesia, yang kucintai selamanya.
Sabar atas Solusi Konkret
Beberapa orang datang kepada Dr. Amr Khaled, seorang motivator kaliber dunia dari Mesir. Mereka berkata, “Kami mempunyai masalah dan kami menginginkan solusi yang konkret.” Dr. Amr Khaled pun menjawab, “Sabarlah!”. Mereka berkata lagi, “Kami menginginkan solusi yang konkret.” Dengan berkata seperti itu, seolah-olah mereka menganggap bersabar bukanlah sebuah solusi yang konkret. Sang Motivator pun menyesalkan anggapan mereka itu.
Banyak orang yang enggan bersabar ketika mereka tertimpa musibah. Mereka lebih suka tergesa-gesa mencari solusi yang mereka anggap konkret, dan meninggalkan kesabaran. Padahal jika ditelusuri, ada kemungkinan masalah yang mereka hadapi itu akibat dari kekurangsabaran mereka terhadap suatu hal.
Contoh nyata, seorang pengendara motor yang menerobos lampu merah, karena ia tergesa-gesa untuk sampai di tempat kerja. Malangnya, ada polisi yang menanti di seberang jalan. Ia pun terkena tilang dan harus merelakan waktunya lebih lama daripada ketika ia bersabar menunggu lampu hijau menyala. Pada akhirnya, ia terlambat sampai di tempat kerja, karena harus menjalani pemeriksaan oleh polisi. Andai ia mau sedikit bersabar, tentu lain ceritanya.
Contoh lain, saya pernah membantu seorang kawan lama yang berjaga di loket pembagian sertifikat di sebuah acara universitas. Sangat wajar ketika loket memberlakukan antre di pintu masuk bagi pengunjungnya. Namun, entah karena sudah membudaya, atau (maaf) orang Indonesia belum paham tentang etika, masih saja ada yang menunggu di pintu keluar loket sambil menyodorkan tiketnya dengan maksud tidak ikut antrian. Tentu saja saya menolaknya dan berkata, “maaf, antri dulu ya.” Anehnya, pengunjung tersebut masih tetap berdiri di samping pintu keluar loket. Ketika saya tanyai ia hanya menjawab, “antriannya masih panjang.” Padahal jika ia mau antri, mungkin ia sudah keluar dan mendapatkan sertifikat sejak tadi. Dan itu menjadi solusi paling konkret baginya, daripada menunggu terlalu lama di samping pintu keluar loket.
Kesabaran dinilai bukan sebagai solusi konkret karena sifatnya cenderung defensif-antisipatif. Ia tidak akan terlihat sebelum muncul gejala yang membutuhkan tindakan antisipasi. Itulah yang menyebabkan kita lebih cenderung menggunakan sabar sebagai penahan rasa sakit daripada pembuat kenyamanan.

Read More - Teruntuk saudara-saudaraku dalam iman, kitalah umat dengan pertahanan dan penyerangan terkuat!