INDAHNYA ISLAM

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).


Senin, 30 April 2012

Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)

Diposting oleh Yusuf shadiq
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan teladan bagi orang-orang beriman dalam segala hal. Beliau teladan dalam hal dzikrullah (mengingat Allah). Sehingga suatu ketika Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu’anha pernah memberi kesaksian.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Aisyah radhiyallahu’anha berkata: ”Nabi shollallahu ’alaih wa sallam senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.” (HR Bukhary 558)

Lalu dalam hadits yang lain putera Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma bersaksi bahwa beliau benar-benar menghitung dalam satu kali duduk dalam suatu majelis Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidak kurang dari seratus kali memohon ampun dan bertaubat kepada Allah.

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucapkan 100 kali (istighfar dalam majelis): “Ya Rabb, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.” (HR Abu Dawud 1295)

Kebiasaan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan serta memohon ampunan Allah menunjukkan betapa seriusnya beliau dalam upaya menjalin hubungan dengan Allah Rabbul ‘aalamien. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak ingin melewatkan sesaatpun tanpa mengingat Allah dan memohon ampunanNya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin menunjukkan kepada para pengikutnya bahwa seorang yang mengaku beriman sudah sepatutnya memperbanyak mengingat Allah. Sebab semakin sering mengingat Allah berarti akan semakin tenteram hati seseorang.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingai Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’du ayat 28)

Ketenteraman Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan orang-orang beriman muncul ketika sedang mengingat Allah. Dan Allah menyuruh orang-orang beriman untuk mengingat Allah sebanyak mungkin. Tidak seperti orang-orang munafik yang tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. Mereka tidak merasa perlu untuk sering apalagi banyak mengingat Allah. Mereka mengerjakan sholat dengan kemalasan dan dengan niyat untuk dilihat dan dipuji manusia. Pada hakikatnya orang-orang  munafik kalaupun mengingat Allah, maka mereka hanya dzikir dengan jumlah yang sangat sedikit dan tidak berarti.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرً

”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Ahzab ayat 41)

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى
 الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS AN-Nisa ayat 142)


Lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan hamba Allah yang gemar memohon ampunan Allah dan bertaubat kepadaNya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin mendidik ummatnya agar selalu menghayati bahwa manusia selalu dalam keadaan banyak berbuat dosa. Sehingga manusia selalu membutuhkan ampunan Allah. Manusia selalu dalam keadaan cenderung menyimpang dari jalan yang lurus. Sehingga manusia perlu untuk selalu bertaubat (kembali) kepada Allah dan jalan Allah.

Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan suatu lafal doa yang disebut Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar). Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memotivasi orang-orang beriman melalui lafal doa Sayyidul Istighfar. Barangsiapa yang setiap hari membiasakan dirinya membaca doa tersebut  dengan penuh keyakinan, maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin pelakunya sebagai penghuni surga di akhirat kelak.


Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Penghulu Istighfar ialah kamu berkata: “Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani  wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta (Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).”  Barangsiapa yang membaca doa ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang membaca doa ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhary 5831)

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang gemar mengingatMu, gemar memohon ampunanMu dan gemar bertaubat (kembali) ke jalanMu. Amin ya Rabb.-
Read More - Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)

Jumat, 04 November 2011

untaian kataku pada_Mu

Diposting oleh Yusuf shadiq
Ya Rabb………
Begitu hinanya diri ini dihadap_Mu….
Niat dan keinginan hamba dihadapan_Mu
Tak sejalan dengan sikap hamba
Hamba begitu hina dan kotor
Hamba tak kuasa menahan nafsu
Hamba tak kuasa melawan keinginan
Ya Rabb……….
Kenapa hamba jadi begini 
Tolong hamba
Hamba tak kuasa untuk semuanya
Ya Rabb……..
Ditengah sujud hamba 
Hamba selalu memohon ampunan_Mu 
Hamba selalu merendahkan diri
Ya Rabb………
Dido’a hamba
Hamba selalu memuja_Mu
Hamba selalu mengadu pada_Mu
Hamba selalu meminta kepada_Mu
Ya Rabb………
Hanya tetesan air mata yang hamba berikan
Memohon ampunan dan perlindungan_Mu
Memohon kebaikan dan kebesaran_Mu
Ya Rabb………
Semoga tetesan air mata ini 
Berguna untuk hamba
Biarkanlah hamba meneteskannya
Demi kedamaian hati hamba
Hanya ini cara hamba untuk menenangkan hati hamba
Ya Rabb………
Demi kekuasaan_Mu
Demi kebesaran_Mu
 Demi kehendak_Mu
Ampuni hamba
Tolong hamba
Temani hamba
Ya Rabb………
Hanya dengan secuil cintaku
Hanya dengan separuh hati
Hanya dengan setengah jiwaku
Aku datang pada_Mu
Aku datang menghadap_Mu
Aku memohon pada_Mu
Ya Rabb…………
Hanya dengan itu……..  
Aku datang pada-Mu
Aku malu
Pantaskah aku menghadap_Mu!
Pantaskah aku mengharap perlindungan_Mu!
Pantaskah aku menuntut pada_Mu!
Menuntut keinginan yang begitu banyak!

nnn
Read More - untaian kataku pada_Mu

Jumat, 19 Agustus 2011

Hakekat Diri dan dzikirulloh

Diposting oleh Yusuf shadiq
Man arafa nafsahu faqod arafa rabbahu
(Kenali dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu)

Saudaraku 'seperjalanan,
Janganlah menjadikan Allah itu masih dalam angan-angan kita, jadikan Allah itu Nyata dalam diri kita, caranya ?? ini dia yang akan kita bahas.

Selama kita masih menganggap Allah itu gaib.. Allah itu masih diangan2 kita, bahkan lebih ekstrim lagi, Allah itu ada nggak ya ?? maka iman dihati kita masih sekedar biji yang tidak berkembang, bahkan biji iman tersebut bisa mati atau hilang. Segera rawat biji iman tersebut, sirami dia, pupuk dia, agar mengakar kuat dalam hati dan jiwa kita sehingga jiwa kita menjadi kuat dalam menghadapi rintangan-rintangan kehidupan ini dalam 'perjalanan' menuju kepadaNYA.

Jangan mengaku-aku :
1. Aku sholat karena memang aku mau sholat,
2. Aku sedekah karena aku memang ingin sedekah,
3. Aku menolong orang, memang karena aku ingin menolong dia,
4. dst, dst, dst...

Coba kita telurusi pelan-pelan dengan ketafakuran kehinaan dan ketidak berdayaan kita sebagai manusia.
Kita bisa berbuat baik, menjalankan ibadah, beramal, diam, tidur, makan, minum, (pokoknya bergeraklah..), bernafas, dia, berkehendak, bahkan berfikir dll adalah karena JANTUNG KITA MASIH BERDETAK.. iya atau iya ?
Nah, apakah JANTUNG KITA BERDETAK ITU , karena kehendak kita ingin mendetakkan jantung kita ??
Manusia bisa menahan nafas, tetapi jantung tetap saja masih berdetak ..
Manusia bisa saja tidur, tetapi jantung tetap saja berdetak..
Bahkan manusia bisa saja koma (antara hidup dan mati), tetap saja jantung masih berdetak..
Siapa yang mendetakkan jantung kita ???

Dialah Allah SWT.....

Berarti gara-gara jantung kita berdetak timbullah seluruh akibat seperti kehendak ingin ini,itu , pikiran ingin ini dan itu, gerakan fungsi panca indera seperti mendengar, berbicara, merasa, dll, berbuat, menjalankan ibadah dan ANEKA RAGAM seluruh gerak dan diam kita dalam kehidupan sehari-hari...

Seperti saya contohkan, akibat listrik maka :
1. kulkas bisa mendinginkan,
2. kipas angin bisa mengeluarkan angin,
3. Rice Cooker bisa memasak nasi,
4. Water Heater bisa memanaskan air,
5. TV bisa memunculkan gambar dan suara
6. Lampu neon dan bohlam untuk penerangan
7. dll masih banyak lagi.

Coba kita renungi, apa gunanya kulkas,kipas angin, tv, rice cooker dengan seluruh sparepartnya yang mahal TANPA ADANYA LISTRIK.
Listrik bersumber dari sang GENERATOR.. GENERATOR lah yang NYATA dalam keseluruhan alat-alat tersebut. (kita nggak usah berdalih.. kan generator butuh bensin dll. ini hanya perumpamaan agar akal dapat mencerna yang akan saya jelaskan selanjutnya)

Begitu juga diri kita..
ADA yang MAHA NYATA dibalik kenyataan diri kita,
Diri kita nyata tapi semu...
DIA lah Yang Maha NYATA 'dalam' diri kita bahkan 'dalam' seluruh wujud ciptaanNYA.

Lalu yang dimaksud dengan 'perjalanan' menuju kepadaNYA adalah, membangun sebuah kesadaran dalam Hati dan Jiwa kita agar selalu MENYADARI KEBERSAMAlAN ALLAH dalam seluruh gerak dan diamnya diri kita.

Tidak apa-apa kalau yang sementara akal pikiran kita, coba kita menuju kesadaran yang lebih tinggi yaitu kesadaran jiwa kita atau yang disebut MENJIWAI KESADARAN itu sendiri supaya kesadaran ALLAH MAHA NYATA otomatis selalu muncul. caranya.... (sabar ya..jangan terburu..buru, renungin dahulu kalimat2 diatas, kalau hati dan jiwa kita sudah tidak ada konflik maka silahkan baca penjelasan dibawah ini..)

BERDZIKIR...

Ya.. hanya dengan berdzikir kita akan mencapai KESADARAN TERTINGGI itu. Maksud saya bukan hanya berzikir lalu kita tidak bersyariat.. BUKAN !!

Apa sih berdzikir itu ??

Banyak orang salah atau kurang tepat mengartikan dzikir itu. Seluruh proses ibadah kita seperti sholat, membaca wirid setelah dan diluar sholat, berzakat, naik haji, puasa adalah syariat yang Allah turunkan agar si hamba dapat berzikir kepada NYA.

Dzikirullah.. adalah mengingat ALLAH titik.
Bisa dalam hati maupun akal fikiran.

Bacaan bacaan sesudah sholat adalah wirid untuk menghantarkan si hamba untuk mengingat Allah. Kuantitas dan kualitas zikir sangat bergantung dari kehendak ALLAH itu sendiri. Hakikat berdzikir adalah

"Allah mengingat si hamba maka si hamba dapat mengingat ALLAH"

Jadi tanda-tanda ALLAH lagi 'ngopenin' (akan menurunkan fadhal dan rahmatNYA) tiba-tiba sihamba ingat sama ALLAH. dan biasanya jika si hamba ingat sama Allah dia ingin menjalankan syariatNYA dan menjauhi laranganNYA

UPAYA UNTUK MEMUNCULKAN KESADARAN TERTINGGI

Sebelum kita memulai dalam 'perjalanan' ini, hendaknya munculkan kesadaran bahwa segala keinginan kita berdzikir untuk 'menuju' kepadaNYA adalah semata ATAS PERTOLONGAN DAN ANUGERAHNYA SEMATA.. lain tidak !! Makanya setiap perbuatan kebajikan selalu diawali dengan BISMILLAH... supaya sihamba menyadari bahwa dia melakukan kebajikan adalah semata-mata bisa dilakukan karena BERSAMA DENGAN ALLAH ..

Dari ALLAH... Bersama ALLAH.... hanya untuk ALLAH... 'menuju' kepada ALLAH

itulah hakikat IKHLAS...

Sekarang yo, kita mulai...

Metoda yang paling praktis dalam memunculkan kesadaran dalam hati dan jiwa kita yaitu dengan kalimat Dzikir : ALLAH...ALLAH....ALLAH

Ucapkan ALLAH..ALLAH tsb DIDALAM HATI.. dalam kondisi apapun dan bagaimanapun.

Jika lupa terus ingat.. mulai lagi dzikirNYA. Enggak apa-apa lupa.. Itu tandanya bahwa kita itu lemah, kalau Allah tidak tolong jangankan mau bergerak, ingat kepada Allah saja kita nggak bisa. Sadari ketidakberdayaanmu..

Apalagi Ketika sholat, wirid, puasa, baca quran dll upayakan hati selalu mengingat ALLAH.. karena dzikirullah adalah RUH SEGALA BENTUK IBADAH. Ibarat makhluk hidup kalau tidak ada ruhnya adalah seperti mayat berjalan... Dan secara adab kepada ALLAH seperti kalau kita menghadap RAJA dan berbicara tetapi Kepala kita palingkan ke belakang.. Sopan nggak ??

Kita nggak usah mikir macam2 pada saat berdzikir seperti : nanti gimana rasanya ya ketemu sama Allah..?? atau nanti karomah apa ya yang akan ALLAH kasih..?? WAH, Jangan deh.. sekali lagi jangan...

Insya ALLAH buah dari dzikir adalah :
1. Muroqobah... merasa diawasi dan ditatap Allah terus..
2. Ihsan... itulah yang dimaksud dengan Anta budalllah ka'anaka taroh.. dst ( beribadahlah
kamu seolah-olah (merasa) MELIHAT ALLAH,
3. Inabah... yaitu kalau kita lalai dari mengingat ALLAH kita cepat kembali kepadaNYA
( mengingatNYA).. Inabah ini tingkatnya lebih tinggi dari taubat, karena taubat adalah
mohon ampun atas maksiat kita, sedangkan inabah adalah mohon ampun atas lalainya
dzikir kita.
4. Hati lapang dan jiwa yang tenang.

Tapi itu semua jangan lah menjadi tujuan kita, itu semua kita anggap saja bonus dari ALLAH.
Tujuan kita semata ALLAH itu sendiri.

Ya ALLAH jangan KAU biarkan kami bersama dengan diri kami apalagi bersama selainMU,
sertai kami selalu YA RABB... Kami tidak berdaya, kami hina, kami butuh.. bahkan sangat butuh akan DIRIMU, karena ENGKAU adalah TUHAN sedangkan kami adalah hamba. Kami ibarat bayangan yang sangat bergantung kepada PEMILIK BAYANGAN, karena itu ENGKAU menamai dirimu (salah satunya) AS-SHOMAD...

Jika ada kesalahan mohon maaf, semoga bermanfaat...
Read More - Hakekat Diri dan dzikirulloh

Rabu, 03 Agustus 2011

Sifat 20 Bagi Allah ( Sifat Ketuhanan )

Diposting oleh Yusuf shadiq
SIFAT-SIFAT KETUHANAN
Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:
1. Sifat Nafsiyah, iaitu Wujud
2. Sifat Salbiyah iaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat
3. Sifat Ma’ani, iaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam
4. Sifat Ma’nawiyah, iaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttakalimuun.
Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)
1. Sifat Istighna’ iaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil hawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttakallimun
2. Sifat Iftikor ilaihi, iaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah
~~~~~~~ oOo ~~~~~~~
Bahagian I: Sifat Nafsiyyah
Wujud, ertinya ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, ertinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada kerana jikalau Allah Ta’ala itu tiada nescaya tiadalah perubahan pada alam ini. Alam ini jadilah statik (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika semua itu (perubahan) terjadi dengan sendirinya.
Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya nescaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerima lah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya iaitu firmanNya dalam Al Qur’an:
Allahu kholiqu kullu syai’in
ertinya, “Allah Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.”
Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruku, ertinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna
Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, ertinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada dikeranakan dengan suatu kerana yakni adanya iaitu tiada kerana jadi oleh sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.
Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah kerana wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti sifat yang lain-lain.
Adapun Wujud itu tiga bahagian:
1. Wujud Haqiqi, iaitu dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan maka wujud itu bersifat Qadim dan Baqa’, inilah wujud sebenarnya
2. Wujud Mujazi, iaitu dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi kerana wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala
3. Wujud ‘Ardy, iaitu dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain
Adapun yang Maujud selain Allah Ta’ala dua bahagian
1. Maujud dalam ‘alam syahadah, iaitu yang di dapat dilihat dengan pancaindera yang lima seperti langit, bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain
2. Maujud di dalam ‘alam ghaib yang tiada didapat dengan pancaindera yang lima tetapi didapat dengan nur iman dan Kasyaf kepada siapa-siapa yang dikurniakan Allah Ta’ala seperti Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain.
Adapun segala yang Maujud itu lima bahagian:
1. Maujud pada Zihin iaitu ada pada ‘aqal
2. Maujud pada Kharij iaitu ada kenyataan bekas
3. Maujud pada Khayal iaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang di dalam mimpi
4. Maujud pada Dalil iaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api
5. Maujud pada Ma’rifat iaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia Ma’rifat kepada Allah Ta’ala
Membicarakan Wujud-Nya dengan jalan dalil:
1. Dalil yang didapat dari Khawas (pancaindera) yang lima tiada dapat didustakan
2. Dalil yang didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan
3. Dalil yang didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan
4. Dalil yang didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan
5. Dalil yang didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan
.
Bahagian II: Sifat Salbiyyah
Adapun hakikat sifat Salbiyyah itu: wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla, ertinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala iaitu lima sifat:
1. QIDAM, ertinya Sedia
2. BAQA’ ertinya Kekal,
3. MUKHALAFATUHU LIL HAWADITS ertinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.
4. QIYAMUHU BINAFSIHI, ertinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya.
5. WAHDANIAH, ertinya Esa
~~~~~~~ oOo ~~~~~~~
1. QIDAM, ertinya Sedia ada
Adapun hakikat Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan, lawannya Huduth ertinya baharu iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia baharu kerana jikalau Ia baharu nescaya jadilah Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Ia wajibal wujud maka sekarang telah terdahulu wajibal wujud baginya maka menerimalah aqal kita wajib baginya bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: huwal awwalu, ertinya Ia juga yang awal.
Adapun Qadim nisbah pada nama empat perkara:
a. Qadim Haqiqi, iaitu dzat Allah Ta’ala
b. Qadim Sifati, iaitu sifat Allat Ta’ala
c. Qadim Idhofi, iaitu Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak
d. Qadim Zamani, iaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun
2. BAQA’ ertinya Kekal
Adapun hakikat Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya, yakni tiada kesudahan, lawannya Fana’ ertinya binasa iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia binasa, jikalau Ia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud yang baharu, apabila Ia baharu tiadalah Ia bersifat Qadim maka sekarang telah terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, ertinya kekal dzat Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.
Adapun yang Kekal itu dua bahagian:
a. Kekal Haqiqi, iaitu dzat dan sifat Allah Ta’ala
b. Kekal Ardy, iaitu kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, kerana ia sebahagian daripada mumkinun, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardy, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, syurga, neraka, bidadari dan telaga nabi.
3. MUKHALAFATUHU LIL HAWADITSI ertinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu
Adapun Hakikat Mukhalafatuhu lil hawadits itu diibaratkan menafikan dzat dan sifat dan af’al Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu, yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhu lil hawadits, ertinya bersamaan dengan segala sesuatu yang baharu. Tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu, kerana jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Ia bersifat Qadim dan Baqa’, sebab segala yang baharu menerima hukum binasa, maka sekarang telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat mukhalafatuhu lil hawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lil hawadits, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an:
laisa kamitslihi syai’un wa huwa ssami’ul bashir, ertinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala sesuatu dan Ia mendengar dan melihat.
Adapun bersalahan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu kerana dzat Allah Ta’ala bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau ‘aradh dan tiada dijadikan, tiada bertempat, tiada berjihat, tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau diperanakkan.
Bersalahan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu kerana sifat Allah Ta’ala Qadim dan ‘Aum takluknya, seperti Sami’ Allah Ta’ala takluk pada segala yang maujud.
Adapun sifat yang baharu itu tiada ia Qadim dan tiada ‘Aum takluknya, tetapi takluk pada setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar ia pada yang berhuruf dan bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada ia mendengar atau yang jauh atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala.
Adapun bersalahan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu kerana perbuatan Allah Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia.
Adapun perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong dan mengambil faedah.
4. QIYAMUHU BINAFSIHI, ertinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya
Adapun hakikat Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia, yakni tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan tiada berkehendak kepada yang menjadikannya.
Mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendiriNya, kerana Ia zat bukan sifat, jikalau Ia sifat, maka berkehendak kepada tempat berdiri kerana sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya.
Dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Ia kerana Ia Qadim, jikalau berkehendak Ia kepada yang menjadikan Dia, maka jadilah Ia baharu, apabila ia baharu tiadalah ia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhu lil hawadits.
Maka sekarang menerimalah aqal kita, wajib diterima oleh aqal, bagi Allah Ta’ala itu bersifat Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya An-laayakuunu ko’imambinafsihi, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Innallaha laghniyyun ‘anil ‘alamiin, ertinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam.
Adapun segala yang Maujud menurut berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia itu empat bahagian:
a. Tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri, yaitu zat Allah Ta’ala
b. Berdiri pada zat Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia, iaitu sifat Allah Ta’ala
c. Tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia iaitu segala jirim yang baharu
d. Berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia iaitu segala ‘aradh yang baharu
5. WAHDANIAH, ertinya Esa
Adapun hakikat Wahdaniah itu ibarat menafikan kam muttasil (berbilang-bilang atau bersusun-susun atau berhubung-hubung) dan kam mumfasil (bercerai-cerai banyak yang serupa) pada zat, pada sifat, dan pada af’al.
Lawannya An-yakunu wahidan, ertinya tiada ia esa. Mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan tiada Ia Esa, kerana jikalau tiada Ia Esa tiadalah ada alam ini kerana banyak yang memberi bekas.
Seperti dikatakan ada dua atau tiga tuhan, kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari utara atau selatan, kerana tiga yang memberi bekas. Tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya umpamanya disebelah barat, tentu pula tuhan yang lain meniadakkannya dan mengadakan lagi menurut kehendaknya umpamanya di sebelah timur atau utara atau selatan, kerana tiga-tiga tuhan itu berkuasa mengadakan dan meniadakan maka kesudahannya matahari itu tiada keluar.
Maka sekarang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan di dalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya berbilang-bilang atau bercerai-cerai.
Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Qul huwallahu ahad, ertinya katakanlah oleh mu (Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa zat dan Esa sifat dan Esa Af’al.
Adapun Wahdaniah pada zat menafikan dua perkara:
a. Menafikan Kam muttasil, iaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan zat Allah Ta’ala itu berdarah, berdaging dan bertulang urat, atau dikatakan zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat.
b. Menafikan Kam mumfasil, iaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa, umpama dikatakan ada zat yang lain seperti zat Allah Ta’ala yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kam muttasil dan Kam mumfasil itulah yang hendak kita nafikan pada zat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatuzzat, yakni Esa dzat Allah Ta’ala.
Adapun Wahdaniah pada sifat menafikan dua perkara:
a. Menafikan Kam muttasil, iaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat, seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
b. Menafikan Kam mumfasil, iaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala.

Maka Kam muttasil dan Kam mumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada sifat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah dikatakan Ahadiyyatussifat, yakni Esa sifat Allah Ta’ala.
Adapun Wahdaniah pada af’al menafikan dua perkara:
a. Menafikan Kam muttasil, iaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan, seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
b. Menafikan Kam mumfasil, iaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas, seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
Maka Kam muttasil dan Kam mumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada af’al Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull af’al, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.
Bahagian III: Sifat Ma’ani
Adapun hakikat sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu maujudatun qo’imatun bimaujuudatun aujabat lahu hukman, ertinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada yang maujud (wajibalwujud / zat Allah Ta’ala) maka mewajibkan suatu hukum (iaitu Ma’nawiyah)
Sifat Ma’ani ini maujud pada zihin dan maujud pula pada kharij, ada tujuh perkara:
1. QUDRAT ertinya Kuasa, Takluk pada segala mumkinun
2. IRADAT ertinya Menentukan, takluk pada segala mumkinun
3. ILMU ertinya Mengetahui, takluk pada segala yang wajib, mustahil dan ja’iz bagi aqal.
4. HAYAT ertinya Hidup, tiada takluk, tetapi syarat bagi aqal kita menerima adanya sifat-sifat yang lain.
5. SAMA’ ertinya Mendengar, takluk pada segala yang maujud.
6. BAShAR ertinya Melihat, takluk pada segala yang maujud.
7. KALAM ertinya Berkata-kata
~~~~~~~ oOo ~~~~~~~
1. Qudrat ertinya Kuasa
Adapun hakikat Qudrat itu iaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin muafakat dengan Iradat-Nya. Adapun erti mumkin itu barang yang harus adanya atau tiadanya
Adapun mumkin itu empat bahagian:
a. Mumkin Maujuud ba’dal ‘adum, iaitu mumkin yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti: langit, bumi dan kita semuanya.
b. Mumkin Ma’dum ba’dal wujud, iaitu mumkin yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada, seperti: nabi Adam as, dan datok-datok nenek kita yang sudah tiada.
c. Mumkin sayuzad, iaitu mumkin yang akan datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka.
d. Mumkin Ilmu Allah annahu lamyujad, iaitu mumkin yang di dalam Ilmu Allah Ta’ala, tetapi tiada dijadikan seperti hujan emas, Air laut rasanya manis, dan banyak yang lain lagi.
Lawannya ‘Ujdzun ertinya lemah, iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu lemah, kerana jikalau Ia lemah nescaya tiadalah ada alam ini kerana yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan. Maka sekarang alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini, maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal, bagi-Nya bersifat Qudrat dan mustahil lawannya ‘Ujdzun.
Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’in-qodir, ertinya Allah Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.
Tetaplah dalam Hakikat Qudrat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.
*
Qudrat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan lemah.
*
Qudrat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan lemah.
*
Qudrat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
*
Qudrat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
*
Qudrat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kam muttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kam mumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
2. Iradat ertinya Menentukan/berkehendak
Adapun hakikat Iradat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia menentukan sekalian mumkin adanya atau tiadanya, muafakat dengan Ilmu-Nya.
Adapun Iradat Allah Ta’ala menentukan enam perkara:
a. Menentukan mumkin itu Ada atau tiadanya
b. Menentukan Tempat mumkin itu
c. Menentukan Jihat mumkin itu
d. Menentukan Sifat mumkin itu
e. Menentukan Qadar mumkin itu
f. Menentukan Masa mumkin itu

Lawannya Karahat ertinya tiada menentukan atau tiada berkehendak, iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada menentukan atau tiada berkehendak, kerana jikalau tiada Ia menentukan atau tiada Ia berkehendak mengadakan alam ini atau meniadakan alam ini nescaya tiadalah baharu (Berubah) alam ini maka sekarang alam ini telah nyata adanya perubahan, ada siang ada malam, ada yang datang ada yang pergi, seperti yang telah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Iradat dan mustahil lawannya Karahat.
Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: fa’allu limaa yuriy d’, ertinya berbuat Allah Ta’ala dengan barang yang ditentukan-Nya.
Adapun Iradat dengan amar dan nahi itu tiada berlazim kerana:
Ada kalanya disuruh tetapi tiada dikehendaki seperti Abu jahal, Abu lahab dan segala pengikutnya. Ada kalanya disuruh dan dikehendaki seperti Abu Baqa’r dan segala sahabat yang lain. Ada kalanya tiada disuruh dan tiada dikehendaki seperti kafir yang banyak. Adakalanya tiada disuruh tetapi dikehendaki seperti mengerjakan yang haram dan makruh seperti Nabi Adam as dan Hawa.
Tetaplah dalam Hakikat Iradat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.
*
Iradat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan Karahat.
*
Iradat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan Karahat.
*
Iradat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
*
Iradat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
*
Iradat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kam muttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kam mumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
3. Ilmu ertinya Mengetahui
Adapun hakikat Ilmu itu iaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil, dan pada yang harus.
Adapun yang wajib itu zat dan sifatNya, maka mengetahui Ia zatNya dan sifatNya yang Kamalat.
Adapun yang mustahil itu iaitu yang menyekutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya maka mengetahui Ia tiada yang menyekutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan pada-Nya.
Adapun yang harus itu sekalian alam ini maka mengetahui Ia segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun, semuanya diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim
Lawannya Jahil, ertinya bodoh, iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia Jahil atau bodoh kerana jikalau ia Jahil atau bodoh nescaya tiadalah teratur atau tersusun segala pekerjaan di dalam alam ini maka sekarang alam ini telah teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh.
Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, ertinya Allah Ta’ala mengetahui tiap-tiap sesuatu.
Tetaplah dalam Hakikat Ilmu itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.
*
Ilmu Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan jahil.
*
Ilmu Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan jahil.
*
Ilmu Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
*
Ilmu Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
*
Ilmu Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kam muttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kam mumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
4. Hayat ertinya Hidup
Adapun hakikat Hayat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain.
Lawannya maut ertinya mati, iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia mati kerana jikalau Ia mati nescaya tiadalah ada sifat yang lain seperti Qudrat, Iradat dan Ilmu maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat hayat dan mustahil lawannya maut.
Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyuladzii laa yamuut, ertinya Dia yang Hidup yang tiada mati.
Tetaplah dalam Hakikat Hayat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.
*
Hayat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan maut.
*
Hayat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan maut.
*
Hayat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.
*
Hayat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
*
Hayat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kam muttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kam mumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain)
5. Sami’ ertinya Mendengar
Adapun hakikat Sami’ itu iaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mendengar segala yang maujud sama ada yang maujud itu Qadim atau Muhadas.
Adapun maujud yang Qadim iaitu dzat dan Sifat-Nya, maka mendengar Ia akan Kalam-Nya yang tiada berhuruf dan bersuara, dan yang muhadas iaitu sekalian alam ini maka mendengar Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada terdinding pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi.
Lawannya Sumum, ertinya pekak atau tuli iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia pekak atau tuli kerana jikalau Ia pekak atau tuli nescaya tiadalah dapat Ia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Ia kepada sekalian makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’uunii astajib lakum, ertinya mintalah olehmu kepadaKu nescaya Aku perkenankan.
Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil lawannya Sumum, pekak atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu sami’un ‘alimun, ertinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang mengetahui .
Tetaplah dalam Hakikat Sami’ itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.
*
Sami’ Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan pekak.
*
Sami’ Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan pekak.
*
Sami’ Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
*
Sami’ Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
*
Sami’ Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kam muttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kam mumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
6. Bashir ertinya Melihat
Adapun hakikat Bashir itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia melihat segala yang maujud sama ada yang maujud itu Qadim atau muhadas.
Adapun maujud yang Qadim itu dzat dan sifat-Nya, maka melihat Ia akan dzat-Nya yang tiada berupa dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat.
Adapun maujud yang muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang lagi akan diadakan. Tiada terdinding yang pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau sangat kelamnya.
Lawannya ‘Umyun, ertinya buta, iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia buta kerana jikalau Ia buta maka jadilah Ia kekurangan. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Taa’la itu bersifat Bashir dan mustahil lawannya ‘Umyun atau buta
Adapun dalilnya firman-Nya dalam AlQur’an: wallahu bashirun bimaa ta’maluun, ertinya Allah Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan.
Tetaplah dalam Hakikat Bashir itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.
*
Bashir Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan buta.
*
Bashir Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan buta.
*
Bashir Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
*
Bashir Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
*
Bashir Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kam muttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kam mumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
7. Kalam ertinya Berkata-kata
Adapun hakikat Kalam itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam annahu laailahaillalah, ertinya ketahui oleh mu bahawasanya tiada tuhan melainkan Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana fiyhima aa lihatun illallah lafasadatu, ertinya jikalau ada tuhan yang lain selain daripada Allah maka binasalah segala-galanya. dan berkata pada yang harus dengan firman-Nya: wallahu kholaqokum wamaa ta’maluun, ertinya Allah Ta’ala jua Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.
Lawannya Bukmum, ertinya kelu atau bisu iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia bisu atau kelu kerana jikalau Ia bisu atau Kelu tiadalah dapat Ia menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara seperti hari kiamat, syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan cegah itu ada pada kita seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat ma’siat. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam dan mustahil lawannya bukmum, kelu atau bisu. Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wa kallamallaahu muusa taklimaan, ertinya berkata-kata Allah Ta’ala dengan nabi Musa as dengan sempurna kata.
Adapun Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada Ia berbilang tetapi berbagi-bagi dipandang dari segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Ia menunjukkan kepada suruh maka dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain, jika Ia menunjukkannya kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti cegah berjudi., minum arak dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada cerita dinamakan akhbar, seperti cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. jika Ia menunjukkan pada khabar gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang beriman dan ta’at dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada khabar menakutkan maka dinamakan Wa’id, seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir.
Tetaplah dalam Hakikat Kalam itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.
*
Kalam Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan kelu.
*
Kalam Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan kelu.
*
Kalam Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, tiada terdinding dan tiada berhuruf atau bersuara.
*
Kalam Allah Ta’ala itu Qo’imumbizaatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.
*
Kalam Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kam muttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kam munfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
Bahagian IV: Sifat Ma’nawiyyah
Adapun hakikat sifat ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati mu’allalati bi’illati, ertinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu dikeranakan suatu kerana iaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat maka baru dinamakan dzat itu Qadirun, ertinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antara sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah, tiada boleh bercerai iaitu tujuh sifat pula:
1. QADIRUN, ertinya Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat
2. MURIIDUN, ertinya Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat
3. ‘ALIMUN, ertinya Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat
4. HAYYUN, ertinya Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat
5. SAMI’UN, ertinya Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat
6. BASIRUN, ertinya Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat
7. MUTTAKALLIMUN, ertinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat
Bahagian V: Sifat Istighna
Ertinya sifat Kaya, Hakikat sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, ertinya Kaya Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lain.
Apabila dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya.
Adapun sifat wajib yang 11 itu ialah:
Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatuhu lil hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttakalim.
Selain sebelas (11) sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus (Jaiz) yang termasuk pada sifat Istighna iaitu
1. Mahasuci dari pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya mengambil faedah, iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali kerana jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya kerana lazim diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya
2. Tiada wajib Ia menjadikan alam ini. Lawannya wajib iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali kerana jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya daripada tiap-tiap yang lainnya, kerana lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada yang menyempurnakan-Nya
3. Tiada memberi bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali kerana jikalau memberi sesuatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya kerana lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh
Bahagian VI: Sifat Iftiqor ilahi
Ertinya sifat berkehendak: hakikat sifat Ifthiqor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu, artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.
Apabila dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,
Adapun sifat wajib yang sembilan (9) itu adalah:
1. Qudrat 2. Iradat 3. Ilmu 4. Hayat 5. Qodirun 6. Muridun 7. ‘Alimun 8. Hayyun 9. Wahdaniah
Selain dari sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada sifat Ifthiqor:
1. Baharu sekalian alam ini. Lawannya Qodim iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali kerana jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya kerana lazim ketika itu bersamaan darjat-Nya
2. Tiada memberi bekas sesuatu daripada kainatnya dengan tobi’at atau dzatnya. Lawannya memberi bekas iaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali kerana jikalau memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya kerana lazim ketika itu terkaya sesuatu daripadaNya.
Maka sekarang telah nyata pada kita bahawa dua puluh delapan (28) sifat Istighna dan dua puluh dua (22) sifat Ifthiqar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) ‘aqaid yang terkandung di dalam kalimah laa ilaha ilallaah, maka jadilah makna hakikat laa ilaha ilallaah itu dua: laa mustaghniyun an kullu maasiwahu, ertinya tiada yang kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu, ertinya dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.
Ini makna yang pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):
1. Wajibal wujud, iaitu yang wajib adanya.
2. Ishiqoqul ibadah, iaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah
3. Kholikul ‘alam, iaitu yang menjadikan sekalian alam
4. Maghbudun bihaqqi, iaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.
Ini makna yang kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) iaitu:
Laa ilaha ilallaah, Laa ma’budun ilallah, ertinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.
Ini makna yang ketiga penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi dan isbat
Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang lain dengan mengatakan: laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah
Laa = nafi, Ilaha = menafi, illa = isbat, Allah = meng-isbat
Yang kedua kalimah laa ilaha ilallaah itu nafi mengandungi isbat dan isbat mengandung nafi seperti sabda nabi : laa yufarriqu bainannafi wal-isbati wamam farroqu bainahumaa fahuwa kaafirun, ertinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa menceraikan kafir. Seperti asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah ertinya nafi mengandungi isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.

Wallahu a’lam
Read More - Sifat 20 Bagi Allah ( Sifat Ketuhanan )

Sabtu, 11 April 2009

''Do'a dI Sela Malam Ku,...!!''

Diposting oleh Yusuf shadiq
maLam Yg sangat Indah,...
malam Yg penUh dengaN niKmat Mu Ya RObb....
maLam Yg tersIrat cahaYa KasIhmu...
maLam yg meMbuatKu menangIs meLepas semua beban,....

air mata Qw,...


dI sini hamBa besImpuh PadaMuu,....
mengHarap RIDHOMU semata............

Ya ALLAH ampunI segaLa dOsa2 Ku,...
dosa2 Kedua Org tuaKu,...
dosa2 Org Yg berIman PadaMu,...

Ya ALLAH berikanLah kesehatan , Umur PanJang ,
dan Keselamatan Dunia Akhirat,.. untuk kamI,...

Ya ALLAH berikanLah KEKUATAN pada kamI,..
untuk menghadapI segaLa cOba'an Mu
dan Org2 KAFIR MUNAFIQ di Luar sana,,...

Ya ALLAH tetapKanLah Hati Kami hanYa padaMu,..
RosuLMu dan AjaranMu semaTa,.....

Ya ALLAH hanya padaMu hamba meminta,memohon dan berDo'a,.......

KareNa aKu tau Hanya Engkau Yg dapat mengabuLkan seGaLa permintaan,
permohonan dan do'a hamba,.......

Ya Allah ada satu dO'a Yg Ingin hamba sampaiKan,..
tapI rasanYa tidak panTas,.....!!!

tapi mau bagaImana Lagi,....
hanya dgn berdo'a PadaMu hatI Ini menJadI TENANG,....

Ya ALLAH,.. mungkIn do'a Ini juga yg banyk di Pinta
oleh hambaMu yg Ingin terbaIk untuK kehIdupan di Masa yg akan datang,...

Hamba memInta PadaMu,.......
pendampIng UntuKku di masa Yg akan datang,.....

pendamping yg terbaIk Untukku,......
pendamping yg MencIntaiKu karena Mu,.......
pendamping yg MenyayangIKu karena Mu,.......
pendamping yg MembimbingKu dgn Ajaran Mu.........
pendamping yg seLalu menuntunKu ke Jalan Mu...........
pendamping yg berWajah Tampan ,...
Tampan Yg di Karenakan Iman dan TaQwa PadaMu.........
pendamping yg seLalu lembut tutur KatanYa,....
pendamping yg memberIkan Ku nafkah Lahir Yg Halal dan baroKah,....
pendamping yg mempunYai tujuan Yg sama denganKu,....
Yaitu meninggiKan kalimah Mu Ya ALLAH,.........



Ya ALLAH , Ya ROBBI,....
tunjukkanLah yg baIk Untukku,.....
dan mnjauhKan yg buruK darIKu,...
BeriKanLah Hikmah darI segaLa cOba'an,...
dan BerikanLah Pahala dr apa Yg aku Lakukan Untuk Mu,....
dan berikan teguran atas apa Yg Ku Lalaikan dariMU,.....

ROBBANA ATINA FIDDUN YA KHASANAH WAFIL AKHIROTI KHASANAH
WAKINA ADZABBANNAR,...........
Read More - ''Do'a dI Sela Malam Ku,...!!''