Sabtu, 27 Agustus 2011

MEMBEDAKAN ANTARA KEKUFURAN, KEMUSYRIKAN, DAN KEMUNAFIQAN YANG BESAR DAN YANG KECIL

Diposting oleh Yusuf Shadiq

 
SATU hal yang sangat penting di  sini  ialah  kemampuan  untuk
membedakan  tingkat  kekufuran,  kemusyrikan, dan kemunafiqan.
Setiap bentuk kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan  ini  ada
tingkat-tingkatnya.
 
Akan    tetapi,   nash-nash   agama   menyebutkan   kekufuran,
kemusyrikan, dan kemunafiqan hanya dalam satu  istilah,  yakni
kemaksiatan;   apalagi   untuk  dosa-dosa  besar.  Kita  mesti
mengetahui penggunaan istilah-istilah ini sehingga kita  tidak
mencampur  adukkan  antara berbagai istilah tersebut, sehingga
kita menuduh sebagian orang telah melakukan kemaksiatan berupa
kekufuran  yang  paling  besar  (yakni ke luar dari agama ini)
padahal  mereka  sebenarnya  masih  Muslim.  Dengan  menguasai
penggunaan  istilah  itu, kita tidak menganggap suatu kelompok
orang sebagai musuh kita, lalu kita menyatakan perang terhadap
mereka,  padahal  mereka termasuk kelompok kita, dan kita juga
termasuk dalam kelompok mereka; walaupun mereka termasuk orang
yang  melakukan  kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk
menangani masalah ini sebaiknya kita mengaca  pada  peribahasa
Arab: "Hidungmu adalah bagianmu, walaupun hidung itu pesek."
 
KEKUFURAN BESAR DAN KEKUFURAN KECIL
 
Sebagaimana diketahui bahwasanya kekufuran yang  paling  besar
ialah  kekufuran terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana
yang telah kami sebutkan di muka sehubungan  dengan  kekufuran
orang-orang atheis; atau kekufuran terhadap kerasulan Muhammad
saw sebagaimana kekufuran yang dilakukan oleh orang Yahudi dan
Nasrani.   Mereka   dikategorikan  sebagai  orang-orang  kafir
terhadap kerasulan Muhammad  dalam  hukum-hukum  dunia  Adapun
balasan  yang  akan  diterima  oleh  mereka, tergantung kepada
sejauh mana rintangan  yang  pernah  mereka  lakukan  terhadap
Rasulullah   saw   setelah   dijelaskan  bahwa  beliau  adalah
Rasulullah saw; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
 
   "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas
   kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan
   orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap
   kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan
   ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
   tempat kembali." (an-Nisa': 115)
 
Adapun bagi orang yang belum jelas kebenaran  baginya,  karena
dakwah  Islam  belum  sampai  kepada mereka, atau telah sampai
tetapi tidak begitu jelas sehingga dia tidak  dapat  memandang
dan   mempelajarinya,   maka  dia  termasuk  orang-orang  yang
dimaafkan. Allah SWT berfirman:
 
   "... dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus
   seorang rasul." (al-Isra,: 15)
 
Diyakini bahwasanya kaum Muslimin bertanggung  jawab  --sampai
kepada   batas   yang   sangat   besar--   terhadap  kesesatan
bangsa-bangsa di muka  bumi;  kebodohan  mereka  akan  hakikat
Islam;  dan  keterjerumusan  mereka  kepada  kebathilan  musuh
Islam.  Kaum  Muslimin  harus  berusaha   dengan   keras   dan
sungguh-sungguh  untuk menyampaikan risalah Islam, menyebarkan
dakwah mereka  kepada  setiap  bangsa  dengan  bahasa  mereka,
sehingga  mereka  mendapatkan penjelasan mengenai Islam dengan
sejelasjelasnya, dan panji risalah Muhammad dapat ditegakkan.
 
Sedangkan kekufuran yang kecil ialah kekufuran yang  berbentuk
kemaksiatan terhadap agama ini, bagaimanapun kecilnya.
 
Misalnya  orang yang sengaja meninggalkan shalat karena malas,
dengan tidak mengingkari dan tidak mencelanya.  Orang  seperti
ini,  menurut  jumhur ulama adalah orang yang berbuat maksiat,
atau fasiq, dan tidak kafir; walaupun  dalam  beberapa  hadits
dikatakan  sebagai  kafir.  Sebagaimana  hadits: "Batas antara
kami   dan   mereka   adalah   shalat."   "Barangsiapa    yang
meninggalkannya,  maka  dia  termasuk  kafir."3  "Batas antara
seseorang dengan kekufuran ialah meninggalkan shalat."4
 
Ibn Hazm --dengan Zhahiriyahnya-- tidak mengatakan bahwa orang
yang  meninggalkan  shalat  termasuk  kafir... Selain itu, ada
riwayat yang berasal dari Imam Ahmad  tidak  mengatakan  bahwa
orang  yang  meninggalkan  shalat itu adalah kafir. Tetapi dia
dihukumi sebagai orang kafir,  kalau  imam  atau  qadhi  telah
memanggilnya  dan  memintanya  untuk  bertobat,  kemudian  dia
enggan menuruti permintaan itu.
 
Imam Ibn Qudamah mendukung pendapat  tersebut  dan  mengatakan
bahwa  orang  yang  meninggalkan shalat itu tidak kafir --asal
orang itu tidak mengingkarinya dan tidak mengabaikannya.  Jika
dia  dibunuh  karena  meninggalkan shalat, maka hal itu adalah
sebagai pelaksanaan hudud dan bukan karena kafir. Ada  riwayat
lain  yang  juga  berasal  dari  Ahmad,  yang dipilih oleh Abu
Abdillah bin Battah, yang tidak setuju dengan  pendapat  bahwa
orang  yang  meninggalkan  shalat  adalah  kafir. Abu Abdillah
mengatakan, "Inilah pendapat mazhab, dan  tidak  ada  pendapat
yang bertentangan dengannya dalam mazhab ini."
 
Ibn  Qudamah  mengatakan,  "Ini  merupakan pendapat kebanyakan
fuqaha, dan juga pendapat Abu Hanifah, Malik  dan  Syafi'i..."
seraya  mengutip hadits-hadits yang disepakati ke-shahih-annya
5 yang mengharamkan api neraka  atas  orang  yang  mengatakan:
"Tiada  tuhan selain Allah," dan orang yang mengatakannya akan
dikeluarkan darinya; karena di dalam hati orang ini masih  ada
kebaikan  sebesar  biji  gandum.  Selain itu, Ibn Qudamah juga
berargumentasi dengan qaul para  sahabat  dan  konsensus  kaum
Muslimin  yang  mengatakan,  "Sesungguhnya  kami  belum pernah
mengetahui pada suatu zaman yang telah berlalu  ada  seseorang
yang  meninggalkan  shalat  kemudian  dia tidak dimandikan dan
dishalatkan ketika meninggal dunia, kemudian tidak dikubur  di
kuburan  kaum  Muslimin;  atau  yang ahli warisnya tidak boleh
mewarisi dirinya, atau dia  mewarisi  keluarganya  yang  telah
meninggal   dunia;   atau  ada  dua  orang  suami  istri  yang
dipisahkan   karena   salah   seorang   di   antara   keduanya
meninggalkan  shalat,  padahal  orang yang meninggalkan shalat
sangat banyak. Kalau orang yang meninggalkan  shalat  dianggap
sebagai  kafir,  maka  akan  jelaslah  hukum yang berlaku atas
mereka."
 
Ibn  Qudamah  menambahkan,  "Kami  belum   pernah   mengetahui
pertentangan   yang   terjadi  antara  kaum  Muslimin  tentang
orang-orang  yang  meninggalkan  shalat  bahwa  mereka   wajib
mengqadhanya.   Sampai  kalau  dia  murtad,  dia  tidak  wajib
mengqadha shalat dan puasanya. Adapun hadits-hadits  terdahulu
(yang   menyebutkan   bahwa  orang  yang  meninggalkan  shalat
dianggap  kafir),  maka  sesungguhnya  hadits  tersebut  ingin
memberikan  tekanan  yang lebih berat dan menyamakannya dengan
kekufuran, dan bukan  ungkapan  yang  sebenarnya.  Sebagaimana
sabda  Rasulullah s aw, "Mencela orang Muslim adalah kefasikan
dan membunuhnya adalah kekufuran."6
 
   "Barangsiapa berkata kepada saudaranya, 'Hai kafir,
   maka sesungguhnya kalimat ini akan kembali kepada salah
   seorang di antara mereka."7
 
Ungkapan-ungkapan seperti  itu  sebetulnya  dimaksudkan  untuk
memberikan  tekanan  dan ancaman, dan pendapat terakhir inilah
yang paling tepat di  antara  dua  pendapat  di  atas.  Wallah
a'lam.8
 
PENJELASAN IMAM IBN AL-QAYYIM
 
Dalam buku al-Madarij, imam Ibn al-Qayyim berkata,  "Kekufuran
itu adalah dua macam: kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar
adalah penyebab kekalnya seseorang di  api  nereka,  sedangkan
kufur  kecil  hanya  menyebabkan  ancaman  Allah SWT dan tidak
kekal di api neraka." Sebagaimana dijelaskan oleh  sabda  Nabi
saw,
 
   "Ada dua hal yang menyebabkan kekafiran dalam umatku:
   yaitu orang yang menyesali nasabnya dan orang yang
   berkhianat."9
 
Dalam as-Sunan, Nabi saw bersabda,
 
   "Barangsiapa mendatangi istrinya dari duburnya, maka
   dia telah ingkar dengan apa yang diturunkan kepada
   Muhammad." 10
 
Dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda,
 
   "Barangsiapa datang kepada dukun atau peramal, kemudian
   dia mempercayai apa yang dia katakan, maka dia telah
   kufur terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah
   kepada Muhammad." 11
   
   "Janganlah kamu menjadi kafir lagi sesudahku, kemudian
   sebagian dari kamu memukul leher sebagian yang lain."12
 
Berikut ini ada baiknya kami kemukakan tentang penakwilan  Ibn
Abbas dan para sahabat yang lainnya terhadap firman Allah SWT:
 
   "Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa
   yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah
   orang-orang kafir." (al-Ma'idah: 44)
 
Ibn Abbas berkata, "Bukan kafir yang  mengakibatkan  pindahnya
agama,  tetapi kalau dia melalukannya maka dia dianggap kafir,
dan tidak seperti orang yang kafir  terhadap  Allah  dan  hari
akhir." Begitu pula pendapat Thawus.
 
Atha'  berkata,  "Yang  serupa  itu  adalah kekufuran di bawah
kekufuran kezaliman di bawah kezaliman, dan kefasiqan di bawah
kefasiqan."
 
Sebagian  dari  mereka ada yang mentakwilkan ayat meninggalkan
hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai  orang
yang   ingkar   kepada-Nya.   Ini   adalah  pendapat  Ikrimah.
Penakwilan ini tidak dapat diterima karena sesungguhnya ingkar
kepada-Nya adalah kufur.
 
Diantara  mereka ada yang menakwilkan bahwa meninggalkan hukum
yang dimaksudkan oleh ayat di atas  ialah  meninggalkan  hukum
dengan  seluruh  ayat  yang  diturunkan  oleh  Allah  SWT. Dia
menambahkan: "Termasuk di dalamnya ialah hukum yang  berkaitan
dengan  tauhid  dan  Islam." Ini adalah penakwilan Abd al-Aziz
al-Kinani, yang merupakan penakwilan yang  jauh  juga.  Karena
sesungguhnya  ancamannya diberikan kepada orang yang menafikan
hukum yang telah diturunkan olehnya,  yang  mencakup  penafian
dalam kadar yang banyak (semuanya) atau hanya sebagian saja.
 
Ada   juga   orang   yang  menakwilkan  ayat  tersebut  dengan
mengatakan bahwa yang dimaksudkan ialah menetapkan hukum  yang
bertentangan  dengan  nash, dengan sengaja, bukan karena tidak
mengetahui atau karena salah takwil. Begitulah yang dikisahkan
oleh al-Baghawi dari para ulama pada umumnya.
 
Ada  yang  mentakwilkan  bahwa  yang dimaksudkan oleh ayat itu
ialah para ahli kitab. Yaitu pendapat Qatadah, al-Dhahhak, dan
lain-lain.  Dan  ini  dianggap  sebagai  penakwilan yang cukup
jauh,  karena  bertentangan  dengan  bentuk   lahiriah   lafal
tersebut sehingga ia tidak dapat ditakwilkan seperti itu.13
 
Ada  pula  yang  berpendapat: "Hal itu adalah kufur yang dapat
mengeluarkan seseorang dari agama ini."
 
Yang benar ialah bahwa sesungguhnya  memutuskan  hukum  dengan
sesuatu  yang  tidak  diturunkan oleh Allah SWT mengandung dua
kekufuran, kecil dan besar, melihat  keadaan  hakimnya.  Kalau
dia  berkeyakinan  bahwa  wajib baginya untuk menetapkan hukum
dengan apa yang diturunkan oleh  Allah  dalam  suatu  masalah,
kemudian  dia  mengetahui  bahwa  menyimpang  darinya dianggap
sebagai suatu kemaksiatan, dan dia juga mengakui bahwa hal itu
akan  mendapatkan  siksa,  maka  tindakan  ini  termasuk kufur
kecil.  Jika  dia  berkeyakinan  bahwa  tidak  wajib   baginya
menetapkan  hukum  dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam
suatu masalah, kemudian  dia  merasa  bebas  untuk  menetapkan
hukum  tersebut --padahal dia yakin bahwasanya ada hukum Allah
dalam masalah tersebut-- maka tindakan  ini  dianggap  sebagai
kekufuran  besar.  Jika  dia  tidak  tahu  dan  dia  melakukan
kesalahan, maka dia  dianggap  bersalah  dan  dihukum  sebagai
orang yang memiliki dua kesalahan.
 
Maksudnya,   sesungguhnya  semua  kemaksiatan  merupakan  satu
bentuk  kekufuran   kecil.   Ia   bertolak   belakang   dengan
kesyukuran,  yakni  bekerja  untuk  melakukan  ketaatan. Upaya
untuk menetapkan hukum itu sendiri boleh jadi  merupakan  satu
bentuk kesyukuran, atau kekufuran, atau yang lain, yaitu tidak
syukur atau tidak kufur.... Wallah a'lam.14
 
KEMUSYRIKAN BESAR DAN KEMUSYRIKAN KECIL
 
Sebagaimana adanya pembagian kategori besar  dan  kecil  dalam
kekufuran,  begitu  pula dalam kemusyrikan. Ada yang besar dan
ada pula yang kecil.
 
Kemusyrikan yang besar telah  diketahui  bersama,  sebagaimana
dikatakan  oleh  Ibn al-Qayyim: "Yaitu mempersekutukan sesuatu
dengan Allah SWT. Mencintai sesuatu sebagaimana dia  mencintai
Allah.  Inilah  kemusyrikan  yang  setara  dengan  kemusyrikan
karena menyamakan tuhan-tuhan orang musyrik dengan Tuhan  alam
semesta.   Dan   oleh   karena   itu,  mereka  berkata  kepada
tuhan-tuhan  mereka  ketika  di  neraka  kelak,  'Demi  Allah,
sungguh  kita  dahulu  di  dunia  dalam  kesesatan yang nyata,
karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan alam semesta.'"l5
 
Kemusyrikan seperti ini tidak dapat  diampuni  kecuali  dengan
tobat kepada-Nya, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
 
   "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,
   dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik
   itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya..."
   (an-Nisa': 48)
 
Dapat diampuni kalau seseorang tidak mengetahui  bahwa  amalan
itu  adalah  amalan  jahiliyah dan musyrik, yang sangat dicela
oleh al-Qur'an, sehingga dia terjerumus ke dalamnya,  mengakui
kebenarannya,   dan   menganjurkan   orang   kepadanya,  serta
menganggapnya sebagai sesuatu yang baik. Dia tidak tahu  bahwa
apa  yang sedang dia lakukan adalah pekerjaan orang jahiliyah,
atau orang yang serupa dengannya, atau orang yang lebih  jahat
daripada mereka atau di bawah mereka. Karena ketidaktahuannya,
hatinya   menentang   Islam,   menganggap   kebaikan   sebagai
kemungkaran,  dan  menganggap  kemungkaran  sebagai  kebaikan;
menganggap sesuatu yang bid'ah sebagai Sunnah, dan  menganggap
sunnah  sebagai  bid'ah;  mengkafirkan orang lain yang beriman
dan  bertauhid,  serta  menganggap  bid'ah  orang-orang   yang
mengikuti R3Sulullah saw, orang-orang yang menjauhi hawa nafsu
dan segala bentuk bid'ah. Oleh  sebab  itu,  barangsiapa  yang
memiliki mata hati yang hidup, maka dia akan melihat kebenaran
itu dengan mata kepalanya sendiri.
 
Ibn al-Qayyim berkata,  "Sedangkan  kemusyrikan  kecil  adalah
seperti riya', memamerkan diri kepada makhluk Allah, bersumpah
dengan selain Allah, sebagaimana ditetapkan oleh  hadits  Nabi
saw yang bersabda,
 
   "Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka dia
   telah musyrik." 16
 
Dan  ucapan  seseorang  kepada  orang   lain:   'Kalau   Allah
menghendaki  dan  engkau menghendaki'; 'Ini berasal dari Allah
dan dari engkau'; 'Aku  bersama  Allah  dan  engkau';  'Kepada
siapa  lagi  aku  bergantung kecuali kepada Allah dan engkau';
'Aku bertawakkal kepada Allah dan kepadamu'; 'Jika  tidak  ada
kamu,   maka  tidak  akan  terjadi  begini  dan  begitu';  dan
ucapan-ucapan  seperti   ini   dapat   dikategorikan   sebagai
kemusyrikan  besar,  terpulang kepada orang yang mengatakannya
dan tujuannya. Nabi saw bersabda kepada  seorang  lelaki  yang
berkata    kepadanya:    "Kalau    Allah    SWT   dan   engkau
menghendakinya." Maka Nabi saw bersabda, "Apakah engkau hendak
menjadikan diriku, sebagai sekutu Allah? Katakan: "Kalau Allah
sendiri menghendaki."" Ucapan seperti ini adalah  yang  paling
ringan dibandingkan dengan ucapan yang lainnya.
 
Di  antara  bentuk  kemusyrikan lainnya ialah sujudnya seorang
murid kepada syaikhnya. Orang yang bersujud,  dan  orang  yang
disujudi dianggap sama-sama melakukan kemusyrikan.
 
Bentuk  yang  lainnya  yaitu  mencukur rambut untuk syaikhnya,
karena  sesungguhnya  hal  ini  dianggap  sebagai  penyembahan
terhadap  selain  Allah, dan tidak ada yang berhak mendapatkan
penyembahan dengan cara mencukur rambut kecuali  dalam  ibadah
kepada Allah SWT saja.
 
Bentuk  kemusyrikan yang lainnya ialah bertobat kepada syaikh.
Ini adalah suatu kemusyrikan yang besar.  Karena  sesungguhnya
tobat  tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah SWT. Seperti
shalat, puasa, dan haji. Ibadah-ibadah ini hanya khusus  untuk
Allah SWT saja.
 
Dalam   al-Musnad   disebutkan  bahwa  kepada  Rasulullah  saw
didatangkan seorang tawanan, kemudian dia berkata, "Ya  Allah,
sesunggguhnya aku bertobat kepada-Mu dan tidak bertobat kepada
Muhammad." Maka Rasulullah saw bersabda, "Dia telah mengetahui
hak untuk yang berhak memilikinya."
 
Tobat  adalah  ibadah  yang  hanya  ditujukan kepada Allah SWT
sebagaimana sujud dan puasa.
 
Bentuk kemusyrikan lainnya ialah bernazar kepada selain Allah,
karena  sesungguhnya  hal ini termasuk kemusyrikan dan dosanya
lebih besar daripada dosa bersumpah atas nama selain Allah .
 
Kalau ada orang yang bersumpah dengan  selain  Allah  dianggap
musyrik,  maka  bagaimana  halnya  dengan  orang yang bernazar
untuk selain Allah? Dalam as-sunan  ada  hadits  yang  berasal
dari Uqbah bin 'Amir dari Rasulullah saw yang bersabda, "Nazar
adalah sumpah."
 
Di antara bentuk kemusyrikan yang lainnya ialah  takut  kepada
selain  Allah,  bertawakkal  kepada  selain Allah, dan beramal
karena selain Allah, tunduk dan merendahkan diri kepada selain
Allah,  meminta  rizki  kepada selain Allah, dan memuji kepada
selain Allah karena memberikan  sesuatu  kepadanya  dan  tidak
memuji kepada Allah SWT, mencela dan marah kepada Allah karena
belum   mendapat   rizki,   dan   belum   ditakdirkan    untuk
mendapatkannya,  menisbatkan  nikmat-nikmat-Nya  kepada selain
Allah, dan berkeyakinan bahwa di alam semesta ini ada  sesuatu
yang tidak dijangkau oleh kehendak-Nya." 17
 
KEMUNAFIQAN BESAR DAN KEMUNAFIQAN KECIL
 
Kalau  di  dalam  kekufuran dan kemusyrikan ada yang besar dan
ada  juga  yang  kecil,  maka  begitu   pula   halnya   dengan
kemunafiqan. Ia juga ada yang besar dan ada pula yang kecil.
 
Kemunafiqan  besar  adalah  kemunafiqan  yang berkaitan dengan
aqidah,   yang   mengharuskan    pelakunya    tetap    tinggal
selama-lamanya di dalam neraka. Bentuknya ialah menyembunyikan
kekufuran dan menampakkan Islam. Beginilah bentuk  kemunafiqan
pada  zaman  Nabi  saw,  yang ciri-cirinya disebutkan di dalam
al-Qur'an dan di jelaskan  kepada  hamba-hamba  yang  beriman,
agar   mereka   berhati-hati   terhadap  orang-orang  munafiq,
sehingga mereka sedapat mungkin menjauhi perilaku mereka.
 
Sedangkan  kemunafiqan  kecil  ialah  kemunafiqan  dalam  amal
perbuatan  dan  perilaku, yaitu orang yang berperilaku seperti
perilaku orang-orang munafiq, meniti jalan yang  dilalui  oleh
mereka,  walaupun  orang-orang  ini sebenarnya memiliki aqidah
yang benar. Inilah sebenarnya yang  diingatkan  oleh  beberapa
hadits yang shahih.
 
   "Ada empat hal yang apabila kamu berada di dalamnya,
   maka kamu dianggap sebagai orang munafiq murni. Dan
   barangsiapa yang mempunyai salah satu sifat tersebut,
   maka dia dianggap sebagai orang munafiq hingga ia
   meninggalkan sifat tersebut. Yaitu apabila dia
   dipercaya dia berkhianat, apabila berbicara dia
   berbohong, dan apabila membuat janji dia mengingkari,
   apabila bertengkar dia melakukan kecurangan." 18
 
Hadits yang lain menyebutkan, "Tanda-tanda orang  munafiq  itu
ada  tiga: Apabila bicara, dia berbohong; apabila berjanji dia
mengingkarinya; dan apabila dipercaya, dia berkhianat."19
 
Dalam  riwayat  Muslim  disebutkan:  "Walaupun  dia  berpuasa,
shalat, dan mengaku bahwa dia Muslim." 20
 
Hadits-hadits  ini  dan  hadits-hadits  yang  serupa dengannya
menjadikan para  sahabat  mengkhawatirkan  bahwa  diri  mereka
termasuk  golongan  munafiq. Sehingga al-Hasan berkata, "Tidak
ada yang takut kecuali omng mu'min dan tidak ada  yang  merasa
aman darinya kecuali orang munafiq."
 
Bahkan,  Umar  berkata  kepada  Hudzaifah  yang  pernah diberi
penjelasan oleh Nabi saw  mengenai  ciri-ciri  orang  munafiq:
"Apakah diriku termasuk golongan mereka?"
 
Umar  r.a.  pernah  memperingatkan  adanya  orang munafiq yang
cerdik pandai, sehingga ada orang  yang  bertanya,  "Bagaimana
mungkin  ada orang munafiq yang pandai?" Dia menjawab: "Pandai
lidahnya, tetapi bodoh hatinya."
 
Sebagian sahabat berkata, "Ya Allah aku  berlindung  kepada-Mu
dan  kekhusyu'an  orang  munafiq?" Lalu ada orang yang berkata
kepada  mereka,  "Bagaimanakah  bentuknya  kekhusyu'an   orang
munafiq itu?" Dia menjawab, "Badannya kelihatan khusyu' tetapi
hatinya tidak khusyu'." 21
 
DOSA-DOSA BESAR
 
Setelah kekufuran dan berbagai tingkatannya, maka di  bawahnya
ada  kemaksiatan,  yang  terbagi  menjadi dosa-dosa besar, dan
dosa-dosa kecil. Dosa besar ialah dosa yang sangat  berbahaya,
yang  dapat  menimbulkan  kemurkaan,  laknat Allah, dan neraka
Jahanam. Orang yang melakukannya kadang-kadang  harus  dikenai
hukum had di dunia ini.
 
Para   ulama  berselisih  pendapat  dalam  memberikan  batasan
terhadap dosa besar ini. Barangkali yang  paling  dekat  ialah
kemaksiatan  yang  pelakunya dapat dikenakan had di dunia, dan
diancam dengan ancaman yang berat di  akhirat  kelak,  seperti
masuk  neraka,  tidak  boleh  memasuki surga, atau mendapatkan
kemurkaan  dan  laknat  Allah   SWT.   Itulah   hal-hal   yang
menunjukkan besarnya dosa itu.
 
Ada  pula  nash-nash  agama yang menyebutkan batasannya secara
pasti dan mengatakannya ada tujuh 22 macam dosa besar  setelah
kemusyrikan;  yaitu: Membunuh orang yang diharamkan oleh Allah
untuk membunuhnya kecuali dengan  alasan  yang  benar;  sihir;
memakan  riba;  memakan  harta  anak  yatim; menuduh perempuan
mukmin melakukan zina;  melakukan  desersi  dalam  peperangan.
Sedangkan  hadits-hadits shahih lainnya menyebutkan: Menyakiti
kedua hati orang tua, memutuskan tali silaturahim,  menyatakan
kesaksian   yang  palsu,  bersumpah  bohong,  meminum  khamar,
berzina,  melakukan   homoseksual,   bunuh   diri,   merampok,
mempergunakan   barang   orang   lain   secara   tidak  benar,
mengeksploitasi orang lain, menyogok, dan meramal.
 
Termasuk dalam kategori  dosa  besar  ini  ialah  meninggalkan
perkara-perkara  fardu  yang  mendasar,  seperti: meninggalkan
shalat, tidak membayar zakat, berbuka tanpa  alasan  di  bulan
Ramadhan,  dan  tidak  mau melaksanakan ibadah haji bagi orang
yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tanah suci.
 
Dosa-dosa besar yang disebutkan oleh  pelbagai  hadits  banyak
sekali  macamnya. Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan
oleh hadits, "Tidakkah  telah  saya  beritahukan  kepada  kamu
semua mengenai dosa-dosa besar?"23 Kemudian beliau menyebutkan
berbagai dosa besar setelah kemusyrikan: menyakiti hati  kedua
orangtua, dan mengucapkan persaksian yang palsu.
 
Dalam sebuah hadits shahih dikatakan bahwa Nabi saw bersabda.
 
   "Sesungguhnya, yang termasuk salah satu dosa besar
   ialah orang yang melaknat kedua orang tuanya." Kemudian
   ada seorang sahabat yang bertanya: "Bagaimana mungkin
   seseorang dapat melaknat kedua orang tuanya?" Nabi saw
   menjawab, "Seorang lelaki, mencela ayah seorang lelaki,
   yang lainnya, kemudian lelaki yang ayahnya dicela itu
   mencela ayah orang yang mencelanya, dan mencela
   ibunya."24
 
Yakni orang yang  ayahnya  dicela  itu,  kemudian  membalasnya
dengan mencela ayah dan ibunya.
 
Hadits  Nabi  saw  menganggap  bahwa  pencelaan terhadap kedua
orangtua secara tidak langsung termasuk salah satu jenis  dosa
besar,  dan bukan hanya termasuk sesuatu yang diharamkan; lalu
bagaimana  halnya  dengan  orang  yang  langsung  mencela  dan
menyakiti  hati  kedua  orangtuanya?  Bagaimana  halnya dengan
orang yang langsung menyiksa dan memukul kedua orang tuanya?
 
Bagaimana pula dengan  orang  yang  membuat  kehidupan  mereka
bagaikan  neraka  jahim  karena  kekerasan  dan perbuatan yang
menyakitkan hati?
 
Syariah agama ini telah  membedakan  antara  kemaksiatan  yang
didorong  oleh  suatu  kelemahan dan kemaksiatan yang didorong
oleh kezaliman. yang pertama ialah  bagaikan  zina,  dan  yang
kedua  ialah  bagaikan riba. Dari riba adalah dosa yang paling
berat di sisi  Allah  SWT,  sehingga  al-Qur'an  tidak  pernah
mengatakan sesuatu maksiat sebagaimana yang dikatakannya dalam
hal riba:
 
   "... dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut)
   jika kamu orang- orang yang beriman. Maka jika kamu
   tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka
   ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu
   ..." (al-Baqarah: 278-279)
 
Rasulullah saw yang mulia melaknat orang  yang  memakan  riba,
orang  yang  menyuruh orang lain memakan riba, penulisnya, dan
kedua saksi atas perbuatan riba itu, sambil bersabda,
 
   "Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang lelaki dan
   dia mengetahui, maka hal itu lebih berat daripada tiga
   puluh enam kali berzina."25
 
Dan beliau  membagi  riba  menjadi  tujuh  puluh  macam,  atau
tujuhpuluh dua atau tujuh puluh tiga macam. Yang paling rendah
dari berbagai macam  bentuk  itu  ialah  seorang  lelaki  yang
menikahi ibunya.26
 
Catatan Kaki:
 
 3 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Hibban, dan
   Hakim dari Buraidah, sebagaimana disebutkan dalam Shahih
   al-Jami' as-Shaghir (4143)
   
 4 Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah
   dari Jabir, ibid., (2848)
   
 5 Lihatlah hadits~hadits ini dalam al-Mughni, 3:356; yang
   ditahqiq oleh Dr. Taraki dan Dr. Halwa.
   
 6 Muttafaq 'Alaih dari Ibn Mas'ud, al-Lu'lu' wa al-Marjan (43)
   
 7 Muttafaq 'Alaih dari Ibn Umar, ibid., 39
   
 8 Lihat al-Mughni, 3:351-359
   
 9 Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.
   (Shahih al-Jami' as-Shaghir: 138).
   
10 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3904); Tirmidzi (135); dan Ibn
   Majah (939).
   
11 Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dari Abu Hurairah r.a.
   (Shahih al-Jami' as-Shaghir).
   
12 Muttafaq 'Alaih dari Jarir dan Ibn Umar, sebagaimana
   disebutkan dalam al-Lu'lu'wal-Marjan (44) dan (45).
   
13 Lihat rincian yang berkaitan dengan masalah ini dalam
   fatwa- fatwa yang terperinci dalam buku kami yang berjudul,
   Fatawa Mu'ashirah, juz 2, bagian Fatwa: al-Hukm bi ghair ma
   Anzala Allah.
   
14 Lihat Madarij as-Salikin, 1: 335-337
   
15 Surat as-Syu'ara', 97-98
   
16 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim dari Ibn Umar
   (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 8462)
   
17 Lihat Madarij as-Salikin, 1:344-346.
   
18 Muttafaq 'Alaih, dari Abdullah bin Umar; al-Lu'lu'
   wal-Marjan (37).
   
19 Muttafaq 'Alaih, dari Abu Hurairah r.a., ibid., (38).
   
20 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab
   al-Iman, 109, 110.
   
21 Madarij al-Salikin, 1: 358
   
22 Lihat makalah kami yang membahas tentang kemurtadan dan
   cara mengatasinya dalam masyarakat Islam; di dalam buku kami
   yang berjudul Malaamih al-Majtama' al-Muslim al-ladzi,
   Nansyuduh, bagian al-'Aqidah wa al-Iman, penerbit Maktabah
   Wahbah, Kairo.
   
23 Ada riwayat dari Abu Hurairah r.a. dalam as-Shahihain dan
   lain-lain, yang mengisyaratkan tentang 41 dosa besar ini,
   yaitu hadits: "Jauhilah tujuh macam dosa besar (atau hal-hal
   yang dapat membinasakan)." Al-Lu'lu' wa al-Marjan (56).
   
24 Hadits Abu Bakar, yang diriwayatkan oleh Muttafaq 'Alaih;
   al-Lu'lu' wa al-Marjan (54).
   
25 Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani dari Abdullah bin
   Hanzhalah, sebagaimane disebutkan dalam Shahih al-Jami'
   as-Shaghir.
   
26 Diriwayatkan oleh Thabrani dari al-Barra'; al-Hakim dari
   Ibn Mas'ud; Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a. sebagaimana
   disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (3537) (3539) dan
   (3541)
 
------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M
Read More - MEMBEDAKAN ANTARA KEKUFURAN, KEMUSYRIKAN, DAN KEMUNAFIQAN YANG BESAR DAN YANG KECIL

Hukum ZINA menurut islam

Diposting oleh Yusuf Shadiq

Zaman yang semakin maju dengan berbagaimacam tehnologi yang semakin canggih ternyata justru banyak dampak negatifnya.Banyak beredarnya VCD porno, ponsel berkamera yang bisa merekam adengan mesum, situs situs porno di internet, facebook yang bisa mencari selingkuhan, suami - istri berselingkuh, tente tente girang..gigolo gigolo, om - om kesepian, dan free seks anak anak sekolahan adalah dampak dari majunya tehnologi kita saat ini. ada juga premium call yang mengkhususkan untuk esek- esek...

Astagfirullah.. marilah sama sama kita sadari bahwa Zina adalah perbuatan dosa besar yang tidak akan diampuni ALLAH selama kita tidak bertaubat.
..astagfirullah...bagi mereka yang pernah berzina mari segera bertaubat.. ..agar kita bisa kembali berada dijalaNYa mendapat keridhoanNYA untuk kidup kita.Amin

Perzinahan merupakan perbuatan yang sangat buruk dan pelakunya diancam dosa besar oleh Allah swt, firman-Nya,”Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa : 32) Hal itu dikarenakan terlalu banyaknya efek yang ditimbulkan dari perzinahan, baik efek psikologi, sosial maupun moral.

Untuk itu Islam menetapkan suatu hukuman yang berat bagi seorang pezina dengan cambukan seratus kali dan diasingkan bagi mereka yang belum menikah serta dirajam bagi mereka yang telah menikah, sebagaimana beberapa dalil berikut ini :

1. “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nuur : 2)
2. Dari Abu Hurairoh ra bahwasanya Rasulullah saw pernah memberikan hukuman kepada orang yang berzina (belum menikah) dengan hukuman dibuang (diasingkan) satu tahun dan pukulan seratus kali.” (HR. Bukhori)

3. Rasulullah saw menanyakan kepada seorang laki-laki yang mengaku berzina,”Apakah engkau seorang muhshon (sudah menikah)? Orang itu menjawab,’Ya’. Kemudian Nabi bersabda lagi,’Bawalah orang ini dan rajamlah.” (HR Bukhori Muslim)

Namun Allah swt adalah Maha Penerima taubat dari setiap hamba-Nya yang mau bertaubat dari segala perbuatan maksiatnya. Untuk itu yang harus dilakukan oleh mereka yang telah jatuh kedalam perbuatan zina ini dan menginginkan kembali ke jalan Allah swt, adalah :

1. Taubat Nashuha

Tidak ada hal terbaik yang harus dilakukan bagi seorang yang melakukan dosa kepada Allah swt kecuali taubat yang sebenar-benarnya. Taubat yang dibarengi dengan penyesalan dan tekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Firman Allah swt,”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim : 8)

Disebutkan didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa ada seorang wanita hamil dari Juhainah mengaku telah berzina dihadapan Rasulullah saw maka ia dirajam setelah melahirkan bayinya itu. Pada saat itu Umar ra mengatakan,”Apakah engkau menshalati jenazahnya ya Rasulullah saw padahal ia telah berzina?’ beliau saw menjawab,’Dia telah bertaubat dengan suatu taubat yang andaikan taubatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh penduduk Madinah, tentu akan mencukupi mereka semua. Apakah engkau mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari kerelaannya untuk menyerahkan dirinya kepada Allah.”

Jadi tidak ada kata terlambat dan putus asa bagi seorang yang masih mengimani Allah swt sebagai Tuhannya untuk kembali kejalan-Nya, memperbaiki segala kesalahannya dan menggantinya dengan berbagai perbuatan yang baik.

2. Tidak membuka aibnya kepada orang lain

Dengan tidak memungkin bagi setiap pelaku zina untuk dicambuk atau dirajam pada saat ini dikarenakan tidak diterapkannya hukum islam maka sudah seharusnya semua menutupi aibnya itu dan tidak menceritakannya kepada siapa pun. Dengan ini mudah-mudahan Allah swt juga menutupi aib dan kesalahannya ini.

Bahwasanya Nabi saw bersabda,”Setiap umatku mendapat pemaafan kecuali orang yang menceritakan (aibnya sendiri). Sesungguhnya diantara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah swt kemudian dipagi harinya dia sendiri membuka apa yang ditutupi Allah itu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

3. Beribadah dan beramal dengan sungguh-sungguh

Firman Allah swt,”Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqon : 68 – 70)

Amal sholeh yang dilakukan haruslah sungguh-sunguh dan tidak asal-asalan agar bisa menutupi dosa besar yang telah dilakukannya. Amal sholeh tersebut juga sebagai bukti masih adanya iman didalam dirinya. Keimanan yang menggerakkannya untuk beramal sholeh ini yang kemudian menjadikan Allah swt menutupi dosa dan keburukannya. Bahkan tidak hanya itu, Allah swt menutup ayat itu dengan menyebutkan ‘dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’


( copy from http://khabariislam.com )
Read More - Hukum ZINA menurut islam

Jumat, 26 Agustus 2011

UKHUWAH ISLAMIYAH ^_^ MEMAHAMI BAHWA PERBEDAAN ADALAH RAHMAT

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ada baiknya kita mencoba lagi untuk memahami bagaimanakah yang dimaksud dengan Ukhuwah Islamiyah yang selama ini mungkin sudah kita pahami secara tertentu atau secara umum.

Umumnya dipahami bahwa Ukhuwah Islamiyah adalah Persaudaraan diantara umat Islam, yang tidak terpecah belah, yang seperti badan sekujur, satu sakit yang lain juga merasakan sakit juga.

Saya memahami yang dimaksud ukhuwah Islamiyah adalah Persaudaraan menurut cara Islam.

Dan ini kemudian menjadi beberapa macam Persaudaraan:

1. Persaudaraan antara umat Islam dengan Umat non Islam.
Ini sudah diatur oleh al Quran di dalam surat al Kafirun.
"Lakum dinukum waliyadin" "Agama kamu untuk kamu agama saya untuk saya". Jelas terpisah dan tidak ada campur aduk diantara agama-agama tersebut.

2. Persaudaraan diantara umat Islam yang ini juga sudah diatur oleh al quran dan oleh hadits."Fastabiqul khoirot" "berlomba-lomba menuju kebaikan" dan "Fastabiqul Maghfiroh" "berlomba-lomba menuju ampunan Allah". Jadi bagi sesama umat Islam, fokusnya adalah berlomba-lomba di dalam urusan kebaikan dan berlomba-lomba di dalam menuju ampunan Allah.

Di hadits disebutkan bahwa "Persaudaraan itu seperti badan sekujur". satu sakit yang lain juga merasakan sakit. Persaudaraan sesama umat Islam sebagaimana badan sekujur. Kaki yang terantuk duri, maka mulut otomatis mengaduh dan tangan otomatis mengusap2 ke yang sakit. tanpa diperintahpun otak akan berpikir bagaimana supaya yang kena duri tidak sakit lagi dan bisa sembuh.

Nah di dalam urusan perbedaan, Nabi juga bersabda,"Perbedaan adalah rohmat". Artinya di Islam dihargai adanya perbedaan. Hal yang lumrah adanya perbedaan. Baikpun perbedaan di dalam memahami ayat-ayat al Quran maupun hadits dan juga perbedaan di dalam mempraktekkan agama Islam.

Perbedaan itu adalah hal yang wajar. Perbedaan tidaklah perlu dipahami sebagai sebuah pertentangan yang harus disatukan, apalagi dianggap sebagai sebuah perselisihan yang akan membawa kepada perpecahan.

Sudah sejak masa Rosulullah saw pun, perbedaan itu ada dan ada.

Untuk mensikapi adanya perbedaan sebaiknya kita mengatakan "lanaa a'maaluna walakum a'maalukum". "apa yang aku kerjakan ya untuk aku, dan apa yang kamu kerjakan adalah untuk kamu". Inilah yang banyak diceritakan di hadits-hadits bahwa tanggung jawab dihadapan Allah tiap-tiap orang adalah tanggung jawab masing-masingnya.

Yang penting kita saling hormat menghormati pendapat yang berbeda dan perbedaan itu janganlah kemudian ditungganggi hawa nafsu merasa benar sendiri.

Akar dari konflik adalah ketika perbedaan yang ada itu ditunggangi oleh hawa nafsu, maka pastilah timbul konflik yang bisa berakibat fatal. Tergantung kemampuan masing-masing di dalam pengendalian hawa nafsunya.

3. Persaudaraan dengan seluruh umat manusia (kadang ada yang nyebut ukhuwah insaniyah), yang dirangkum oleh ayat al Quran dengan satu istilah saja "Rohmatan lil 'alamin" Umat Islam dididik untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka kita tahu petunjuk Rosulullah seperti "Khoirunnassi anfa'uhum linnas" "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain". Tidak peduli siapa saja, lintas suku, lintas agama lintas bangsa, yang paling bermanfaat bagi manusia lain adalah sebaik2 manusia.

Juga hadits Rosul yang menyampaikan bahwa "Jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah pada tetanggamu" Tidak peduli tetangga kita itu beragama hindu, budha, kristen, apapun juga, wajib kita berbuat baik kepada tetangga kita.

"Memuliakan tamu", tidak peduli agama apa saja, suku apa saja, wajiblah kita memuliakan tamu.

"Santuni anak yatim dan fakir miskin", tidak peduli agama apa saja, asalkan seseorang itu yatim atau fakir miskin, maka wajiblah kita memberikan santunan dan perlindungan.

Dan masih banyak lagi wujud-wujud dari Rohmatan lil 'alamin ini.

Dan juga di dalam al Quran sudah diatur di QS Al hujurot 13, "..sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal..."

Alangkah indahnya seandainya Ukhuwah Islamiyah ini, seandainya Persaudaraan yang telah diajarkan Islam ini kita praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari...

Saling tolong menolong, hormat menghormati, lindung melindungi sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosulullah saw di Madinah. Yang Kristen hidup tenang dan tentram, yang yahudi juga hak-haknya di jaga.

Alangkah indahnya seandainya perbedaan diantara sesama umat islam tidak ditunggangi oleh hawa nafsu yang mengakibatkan perpecahan, pertengkaran dan perselisihan. Yang ada adalah saling menghormati perbedaan pemahaman dan keyakinan masing-masing faham.

Alangkah indahnya apabila kehidupan ini diatur dengan dasar pengertian, dengan dasar tolong menolong dalam kebaikan dengan cara berkomunikasi yang lebih dewasa secara sopan dan secara santun.

Alangkah indahnya jika jiwa besar ada di dalam dada kita masing-masing....
Perbedaan pendapat dipahami sebagai sebuah kewajaran.
Yang mengkritik memang berniat untuk memperbaiki tanpa memaksakan kehendaknya, yang dikritik menerima dengan lapang dada dan berintrospeksi.
Tak ada lagi hinaan dan cacian
Tak ada lagi celaan dan makian
Yang ada adalah dunia ideal...
damai..
tenang..
tentram...^_^

Semoga......

walhamdulillaahirobbil'aalamiin
Read More - UKHUWAH ISLAMIYAH ^_^ MEMAHAMI BAHWA PERBEDAAN ADALAH RAHMAT

Jangan Melakukan Zina Mata

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Mata yang merupakan anugerah Allah Azza Wa Jalla, bisa mendatangkan kemuliaan, tetapi juga bisa mendatangkan laknat yang membinasakan. Mata yang selalu melihat fenomena kehidupan alam dan seisinya, dan kemudian menimbulkan rasa syukur kepada sang Pencipta, selanjutnya akan mendatangkan kemuliaan dan kebahagiaan di sisi-Nya. Sebaliknya, mata yang merupakan anugerah yang paling berharga itu, bisa mendatangkan laknat yang membinasakan bagi manusia, bila ia menggunakan matanya untuk berbuat khianat terhadap Rabbnya.
Di dalam Islam ada jenis maksiat yang disebut dengan ‘zina mata’ (lahadhat). Lahadhat itu, pandangan kepada hal-hal, yang menuju kemaksiatan. Lahadhat bukan hanya sekadar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan mata adalah sumber itijah (orientasi) kemuliaan, juga sekaligus duta nafsu syahwat. Seseorang yang menjaga pandangan berarti ia menjaga kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka manusia itu akan masuk kepada hal-hal yang membinasakannya.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, pernah menasihati Ali :
Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Milik kamu adalah pandangan yang pertama, tapi yang kedua bukan”.
Dalam musnad Ahmad, disebutkan, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda :
Pandangan adalah panah beracun dari panah-pandah Iblis. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari keelokkan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya manisnya iman sampai hari kiamat”.
Sarah hadist itu, tak lain, seperti di jelaskan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam:
Tundukkan pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian”. Juga Sabda Beliau : “Jauhilah oleh kalian duduk di pinggir jalan”. Para Shahabat berkata : “Pinggir jalan itu adalah tempat duduk kami, kami tidak bisa meninggalkan”. Beliau bersabda : “Jika kalian harus duduk di jalan, maka berikanlah haknya”. Mereka berkata : “Menundukkan pandangan, dan menahan diri untuk tak menganggu, baik dengan perkataan atau perbuatan, dan menjawab salam”.
Melihat adalah sumber dari segala bencana yang menimpa diri manusia. Melihat melahirkan lamunan atau khayalan, dan khayalan melahirkan pemikiran, pikiran melahirkan syahwat, dan syahwat melahirkan kemauan, kemauan itu lantas menguat, kemudian menjadi tekat kuat dan terjadi apa yang selagi tidak ada yang menghalanginya. Dalam hal ini ada hikmah yang mengatakan :
Menahan pandangan lebih ringan dari pada bersabar atas kesakitan (siksa) setelah itu”.
Seorang penyair Arab bertutur,
"Semua bencana itu bersumber dari pandangan,
Seperti api besar itu bersumber dari percikan bunga api,
Betapa banyak pandangan yang menancap dalam hati seseorang,
Seperti panah yang terlepas dari busurnya,
Berasal dari sumber matalah semua marabahaya,
Mudah beban melakukannya, dilihat pun tak berbahaya,
Tapi, jangan ucapkan selamat datang kepada kesenangan sesaat yang kembali dengan membawa bencana".

Bahaya memandang yang haram adalah timbulnya penderitaan dalam diri seseorang. Karena tak mampu menahan gejolak jiwanya yang diterpa nafsu. Akibat selanjutnya adalah seorang hamba akan melihat sesuatu yang tidak akan tahan dilihatnya. Ini adalah sesuatu yang menyiksa, yang paling pedih, jangankan melihat semuanya, melihat sebagian saja tak akan mampu menahan gejolak jiwanya.
Seorang penyair berkata,
"Kapan saja engkau melemparkan pandanganmu dari hatimu,
Suatu hari engkau akan merasakan penderitaan, karena melihat akibat-akibatnya,
Kamu akan melihat siksa yang kamu tidak mampu melihat keseluruhannya,
Dan kamu tiak akan bersabar melihat sebagiannya saja".

Penyair lainnya berkata,
"Wahai manusia yang melihat yang haram, tidakkah pandangannya dilepaskan,
Sehingga ia jatuh mati menjadi korban".

Pandangan seseorang adalah panah yang berbisa. Namun, yang sangat mengherankan, belum sampai panah itu mengenai apa yang ia lihat, panah itu telah mengenai hati orang yang melihat.
Seorang penyair berkata,
"Wahai orang yang melemparkan panah pandangan dengan serius, kamu sudah terbunuh, karena yang kau panah, padahal panahmu tidak mengenai sasarannya".
Tentu, yang lebih mengherankan lagi, bahwa dengan sekali pandangan, hati akan terluka dan akan menimbulkan luka demi luka lagi dalam hati. Sakit itu tidak akan hilang selamanya, dan ada keinginan mengulang kembali pandangannya. Ini pesan yang disampaikan dalam bait-bait syair ini,
"Terus menerus kamu melihat dan melihat,
Setiap yang cantik-cantik,
Kamu mengira bahwa itu adalah obat bagi lukamu,
Padahal sebenarnya itu melukai luka yang sudah ada".

Sebuah hikmah yang mengatakan, “Sesungguhnya menahan pandangan-pandangan kepada yang haram lebih ringan daripada menahan penderitaan yang akan ditimbulkan terus menerus”.
Jagalah matamu, dan jangan engkau kotori setitik debu dosa, yang akan mengantarkan dirimu kepada kebinasaan, karena pengkhianatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Matamu adalah anugerah agar mengenal-Nya, dan kemudian beribadah kepada-Nya, menggapai ridho-Nya. Jangan dengan matamu itu, engkau campakkan dirimu ke dalam nafsu durhaka, yang membinasakan.
Betapa banyak manusia yang mulia, berakhir dengan nestapa dan hina, karena tidak dapat mengedalikan matanya. Matanya tidak dapat lagi menyebabkan seseorang menjadi bersyukur atas anugerah nikmat, yang tak terbatas, yang tak terhingga, bagaikan sinar matahari, yang selalu menerangi alam kehidupannya.
Tetapi, karena matanya yang sudah penuh dengan hamparan nafsu itu, hidup menjadi penuh dengan gulita,yang mengarahkan seluruh kehidupannya hanya diisi dengan segala pengkhianatan terhadap Rabbnya. Wallahu’alam.
Read More - Jangan Melakukan Zina Mata

Kamis, 25 Agustus 2011

Wasiat Emas Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa salam

Diposting oleh Yusuf Shadiq



عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون , فقلنا يل رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا , قال - أوصيكم بتقوى الله عزوجل , والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد , فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً . فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ , وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة

Dari Abu Najih, Al 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup sepeninggalku niscaya kalian akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaa-ur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu muhdats (perkara baru) karena sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat." 
[Hadits riwayat Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud nomor 4607 dan at-Tirmidzi nomor 2676, ad-Darimy (I/44), al-Baghawy (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455) 

Didalam hadist ini Rasulullah berwasiat kepada kita dengan empat masalah yang jika kita berpegang dengannya akan selamat didunia dan akhirat. Empat wasiat itu adalah:

1. Bertakwa kepada Allah 

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla." 

Pada hadits ini, pertama disebutkan agar kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Takwa kepada Allah adalah seorang hamba membuat penjagaan dari apa yang ia takutkan yakni murka dan adzab Allah, yaitu dengan cara melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Dan takwa juga merupakan wasiat Allah kepada umat sebelumnya. Allah berfirman,
"Aku telah wasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan kalian takwa kepada Allah." (QS. An-Nisa':131)

 Dan juga banyak nash yang menerangkan keutamaan takwa, diantaranya :
"Surga adalah warisan bagi orang yang bertakwa : "Itulah surga yang Kami wariskan kepada hamba-hamba yang bertakwa." (QS.Maryam:63)

Allah akan memudahkan urusan orang yang bertakwa di dunia dan di akhirat :
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan menjadikan urusannya mudah."(QS.At-Thalaq:4)

Takwa adalah bekal yang terbaik bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat :
"Berbekallah kalian, sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa."
(QS.Al-Baqaroh:197)

2. Wasiat untuk mentaati Wulatul Umur / Pemerintah

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak)"

Hadist ini menunjukkan bahwa mentaati wulatul umur adalah wajib, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta'ala :
"Taatlah kalian kepada Allah dan kepada RasulNya serta ulil Amri (pemimpin) kalian." (QS.An-Nisa : 59) 

Mentaati wulatul umur hanya dalam perkara yang ma'ruf, Rasulullah bersabda," 
"Tidak ada ketaatan dalam berbuat maksiat kepada Allah, sesungguhnya taat itu hanya dalam perkara yang ma'ruf." (HR. Bukhari Muslim) 

Hadist ini menunjukkan diharamkannya tunduk/mengikuti kepada wulatul umur dalam maksiat kepada Allah, tapi taat kepada mereka hanya dalam hal yang ma'ruf, baik mereka itu pemerintah, ulama ataupun orang tua. 

3. Wasiat berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah

Rosul bersabda pada hadits diatas, 
"Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup sepeninggalku niscaya kalian akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaa-ur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian."

Hadist ini menunjukkan akan terjadinya perselisihan yang menjadikan perpecahan. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah, 

"Ketahuilah ahlul kitab terpecah menjadi 72 firqah dan umat ini akan terpecah 73 golongan, seluruhnya masuk neraka kecuali satu Al Jama'ah." (shahihul Jami')

Dalam riwayat lain menegaskan siapa itu Al Jama'ah'
"Yaitu orang-orang yang menjalani jalanku dan jalan shahabatku." (HR. Abu Daud)

 Yang dapat menjaga kita dari perselisihan dan perpecahan itu adalah dengan berpegang Sunnah Rasulullah serta memahami dengan pemahaman para sahabat rosul. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala  berfirman di dalam Al-qur'an:
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS.At-Taubah:100)"

Adapun bila ada seseorang menafsirkan al-qur'an dan assunnah tanpa pemahaman para sahabat, maka penafsiran yang demikian adalah penafsiran yang bathil. Karena penafsiran yang demikian akan ngawur bahkan naudzubillah min dzalik banyak orang-orang yang berhujjah dengan alquran dan assunnah tanpa pemahaman sahabat rosul untuk pembelaan mereka, untuk mengikuti hawa nafsu mereka sehingga muncul kesesatan penafsiran di tengah-tengah nasyarakat.

Telah benar Abdullah bin Umar yang berkata : "Barangsiapa yang mau mengambil tauladan hendaklah bertauladan kepada para sahabat Muhammad yang mana mereka adalah umat terbaik, yang paling baik hatinya dan lebih dalam ilmunya, orang-orang yang telah Allah pilih untuk mendampingi nabinya, mereka diatas petunjuk wallahi warabbil ka'bah."

 Oleh karena itu dalam hadist diatas kita diperintahkan untuk berpegang dengan sunnah Rasulullah dengan pemahaman para sahabat rosul.

4. Wasiat untuk menjauhi perbuatan bid'ah 

Rosul bersabda pada hadits diatas,
"Dan jauhilah olehmu muhdats (perkara baru) karena sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat."

Hadits ini menjelaskan kewajiban agar kita menjauh dari perkara yang diada-adakan  dalam syariat (bid'ah). Perkara yang diada-adakan dalam syariat (bid'ah) adalah yang tidak ada asalnya dari Al-Qur'an dan Sunnah. Bid'ah merupakan salah satu sebab kesesatan yang mengantarkan pengikutnya kepada kebinasaan dan kehancuran. Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya sebab binasa orang-orang sebelum kamu adalah karena banyak tanya dan banyaknya seringnya mereka menyelisihi nabi-nabi mereka." (Bukhari Muslim)

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang berpegang teguh pada al-quran dan assunnah, meninggal dunia diatas kalimat syahadat La ilaha illallah.



Selesai ditulis di Jimbaran, pada 24 Mei 2011 
oleh Rendy Satriani
Mengutip dari sarah hadits Arba'in An-nawawi
Read More - Wasiat Emas Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa salam

Ta’kid Tarbawi Untuk Para Murabbi

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Naib Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
Saya sangat senang bertemu dengan ikhwah di negara yang bagus ini untuk pertama kalinya. Dengan izin Allah hari ini di sini saya bersama kalian. Allah menjadikan pertemuan ini kebahagiaan bagi saya karena kalian adalah penerus dakwah yang penuh berkah ini dari sisi alamiyahnya dan dengan kesatuan pemahaman yang utuh.
Ada titipan dari Mursyid Am untuk kalian. Beliau menyampaikan salam dengan penuh dengan kebahagiaan dan kebanggaan terhadap kalian. Walaupun kami tidak mengerti bahasa kalian, namun hati punya bahasa lain saat bertemu. Tangan berjabat dan segenap perasaan cinta memenuhi hati saat bertemu. Saya memohon kepada Allah swt. agar melanggengkan rasa cinta ini dan menyatukan kita dalam cinta kepadaNya.
Pemahaman Yang Jelas
Saya sangat menjaga dan menta’kid kebersamaan ikhwah dalam satu fikrah dan harakah. Kita semua bertemu dalam cinta kepada Allah, bersatu dalam dakwah. Di sini pemahaman perlu mendapat perhatian, perlu kita perdalam, dan agar jelas bagi kita bagai terangnya matahari di siang bolong.
Al-Fahmu sebagaimana yang kalian ketahui –dan sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Banna sebanyak 20 dasar (ushul isyrin)– bisa bertambah, tapi tidak berkurang. Jika jelas persepsinya, benarlah gerakannya.
Al-Banna berkata, dakwah ini perlu pemahaman yang detail. Beliau adalah pribadi berpengaruh dan pembangun. Saya bersama kalian dalam persepsi pertama, sebagaimana dijelaskan oleh Roghib Asfahani bahwa tugas kita adalah memakmurkan alam, menjadi khalifah di muka bumi, dan beribadah kepada Allah dengan manhaj dan syariahNya.
Tiga perkara itu harus jelas, karena itu merupakan tujuan pencintaan manusia. Agar jalannya jelas, dan amal kalian adalah untuk merealisasikan tiga hal itu. Tugas ini dinamakan Al-Qur’an sebagai amanah.
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (Al-Ahzab:72)
Dari ayat ini kita tahu bahwa mihwar pertama seorang hamba adalah merealisasikan ketakwaan dalam dirinya. Hal ini harus menjadi perhatian setiap murabbi. Jika benar di sini, benar pula akhirnya. Jika salah, maka akan salah dan tersesat.
Setelah takwa, husnul khuluq. Bai’at antar kalian dan Allah dibangun di atas akhlak, hubungan antara kalian dengan Allah.
 إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah:111)
 Maka berbahagialah dengan bai’at kalian. Siapakah mereka yang mendapat kemenangan ini?
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang berpuasa, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah; dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”. (At-Taubah:112)
Mereka yang memiliki delapan sifat di ayat itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Dan, itulah jatidiri kita.
Perang Identitas
Ayat itu membawa berita gembira ini bagi kita bahwa masa depan adalah milik manusia yang membawa risalah. Sebab, tarbiyah dengan metode dan sarana-sarananya adalah solusi perubahan. Tarbiyah adalah asas perubahan. Apalagi kita tahu betul bahwa hakikat pertikaian antara kita dan musuh kita sebenarnya bukan perang antar negara. Tapi, perang jatidiri dan identitas.
Musuh-musuh kita tahu benar jika jatidiri kita mucul, maka kita akan menang. Dan itu yang kita lakukan: mentarbiyah dan memperbaiki umat. Oleh karena itu, musuh-musuh kita berusaha agar jatidiri kita itu tidak muncul. Saya tegaskan tentang hal ini agar murabbi tahu tugas pentingnya. Umat akan bangkit bersama kalian ketika kalian mampu mengendalikan kenikmatan dunia dengan akhlak. Akhlak jika hilang, umat akan hilang.
Al-Qur’an bercerita tentang kisah para nabi, mulai dari Nabi Nuh a.s. hingga Nabi Muhammad saw. Telah banyak umat dibinasakan oleh Allah swt. Lihat surat At-Thalaq dan hadits Nabi tentang “ghutsa’”. Umat bagaikan buih ketika terkena wahan.
Tahukah kalian arti hubud dunya dan karahiyatul maut di hadits itu? Meninggalkan jihad!
Jika kita cinta dunia, kita akan tinggalkan jihad, lalu kita jadi buih lautan: umat tanpa kepribadian, tanpa jatidiri, tanpa akhlak. Jadi, hakikat perang antara al-haq dan al-bathil –bagi orang yang berpikir– adalah perang identitas, perang jatidiri. Musuh-musuh kalian tidak menginginkan ada sekelompok orang yang memiliki jatidiri seperti dalam Surat Al-Ahzab ayat 23.
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)”. (Al-Ahzab:23)
Saya sampaikan ini agar murabbi tahu tugas dan perannya bagi alam semesta. Jadi, tugasnya bukan sekadar mennyelenggarakan liqa’ usrah lalu selesai. Tugas dan peran kalian ini perkara yang lebih agung dari itu semua.
Itulah tugas kita dalam tarbiyah. Lihat tiga ayat di awal surah Al-Ahzab. Di situ Allah berbicara kepada kalian tentang manhaj gerakan kalian.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (١)وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (٢)وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا (٣)
“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara”. (Al-Ahzab:1-3)
 Allah menegaskan tentang jatidiri kalian: kepribadian takwa, istiqamah, jangan mengikuti hawa nafsu. Itulah kepribadian unggul, kepribadian yang mengikuti apa yang diturunkan Allah. Konsep yang jelas tentang kepribadian unggul, harakah yang penuh indhibath, dan tawakal. Itulah langkah pertama seorang murabbi dalam berdakwah. Sebab, semua itu akan memberi pengaruh, bahkan terhadap perang itu sendiri.
Perhatikan ketegaran Gaza. Penduduknya tidak punya senjata sebagaimana musuh. Tapi, apa yg terjadi? Kota ini tegar. Para murabbi di sana melakukan pembauran kepibadian rabbani yang mereka miliki kepada penduduk.
Ada pertemuan di Kongres Amerika Serikat. Mereka membicarakan Ikhwan di Mesir dan Arab. Mereka mewaspadai naiknya Ikhwan dan warna kepribadiannya di pentas nasional dan internasional. Mereka katakan, harus ada upaya memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam (stigma) kekerasan. Maka, mereka membuat makar dengan menggunakan istilah dengan makna tertentu untuk mempengaruhi masyarakat (stigmatisasi). Misalnya, menyebut orang taat dengan istilah mutasaddid (ekstremis). Mereka tidak menghendaki agama ini teguh di muka bumi.
Ketahuilah oleh kalian, risalah Islam adalah risalah tarbiyah sebelum tasyri; sebelum tanzhim. Ash-shilaah qabla al-Ishlaah, al-qudwah qabla al-da’wah, at-ta’liif qabla al-takliif. Agar risalah ini terealisasi, kalian harus berinteraksi kepada umat dengan hati dan jiwa. Bukan jasad. Agar hati umat ini bergantung hanya kepada Allah. Hati yang jika diberi nikmat, bersyukur. Jika diuji, sabar. Jika berdosa, istighfar.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Allah lah mereka bertawakkal”. (Al-Anfal:2)
 Mereka itulah orang-orang yang benar dalam takwa. Mereka berinterakasi dengan manusia dengan jiwanya yang sempurna. Tentu mereka akan berjaya. Kalau kalian mengikuti hawa nafsu, pasti hancur. Wa qad khaaba man dassaahaa. Maka merugilah orang-orang yang mengotori jiwanya. Kalian harus mengerahkan upaya agar sampai kepada hati yang taat kepada Allah. Kalian gerakkan. Jika hati bersih, tidak mengenal dunia dan tidak bergantung kepada dunia. Jika hati tersambung kepada Allah, kalian akan mengatakan bahwa kehidupan ini begitu panjang. Sebab, hati kalian bergantung hanya kepada ridha Allah dan ingin segera bertemu denganNya.
Ada seorang sahabat diberi ghanimah oleh Rasulullah saw.. Ia berkata, “Aku tidak membai’at engkau untuk ini, ya Rasulullah.” Padahal, ghanimah itu adalah haknya.
Lalu untuk apa ia berjihad? Agar terkena anak panah dari sini ke sini. Sahabat ini menunjuk beberapa bagian tubuhnya. Kata Rasulullah saw., “Kalau kamu jujur kepada Allah, Dia akan membenarkanmu.” Setelah itu, sahabat itu meninggal dengan kondisi seperti yang diinginkannya. Saat jasadnya diperlihatkan, Rasulullah bertanya, “Diakah itu?” “Ya, Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Ia jujur kepada Allah, maka Allah membenarkannya.” Hati seperti yang dimiliki sahabat itu, tidak akan merasakan beratnya beban. Bahkan, selalu bersegera menuju kebaikan.
Risalah Islam adalah risalah tarbiyah yang berinteraksi dengan jiwa dan hati. Hati yang seperti itulah yang nanti akan berbicara saat seorang murabbi berinteraksi dengan binaanya. Kalian harus banyak sujud. Mata kalian berair, menangis di hadapan Allah. Jika hati kalian dekat dengan Allah, semua yang sulit menjadi mudah. Pikiran kalian akan dibimbing Allah. Jika kalian duduk di hadapan Allah, Allah akan beri cahaya dan menunjukkan jalan kalian.
Ini saya sampaikan agar murabbi menyadari kedudukannya. Saat Ibrahim berdoa,
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Baqarah:129)
 Ayat ini berbeda susunannya dengan pengabulan doa itu sendiri.
 هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah:2)
Allah swt. menunjukkan bahwa susunan tersebut adalah sesuatu yang rabbani dan penting. Allah swt. menginginkan Rasulullah saw. merasakan urutan itu: membacakan ayat (tilawah), membersihkan hati (tazkiyah), lalu mengajarkan kitab dan hikmah.
Jika suatu jamaah melaksanakan manhaj tarbiyah ala Nabi Muhammad saw. itu, maka akan kuat. Renungkan oleh kalian! Al-Qur’an turun pertama kali dengan lafaz tabriyyah.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al-Alaq:1-5)
 Suatu bacaan yang membangun dan mentarbiyah; yang menambah keimanan, mengajarkan rambu-rambuNya agar kalian berjalan dengan petunjuk dan kejelasan. Lalu turun perintah di surah Al-Muzzammil agar kalian menjalin kedekatan dengan Allah. Setelah kalian melakukan persiapan yang bersifat manusiawi dan kedekatan dengan Allah, yang tadinya kalian berhadapan dengan musuh, kini musuh-musuh kalian akan menghadapi dengan Allah langsung. Kalian tidak membunuh mereka, tapi Allah yang membunuh mereka.
 فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
 “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Anfal:17)
 Setelah kepribadian rabbani terbentuk, mulailah bergerak. Allah menurunkan surat Al-Mudatstsir.
Imam Al-Banna berkata,
كُوْنُوْا عُبَّادًا قَبْلَ أَنْ تَكُوْنُوْا قَوَّادًا تَصِلُوْا بِالْعِبَادَةِ إِلَى أَحْسَنِ قِيَادَة
“Jadilah kalian ahli ibadah sebelum memimpin. Niscaya dengan ibadah, kalian akan sampai pada kepemimpinan terbaik.”
Kata-kata beliau berasal dari cahaya Allah. Dalam Risalah Ila Ayyi Syain Nad’un-nas bagian “Min Aina Nabda’”, beliau menulis, “Kekuatan jiwa untuk membangun umat: keinginan kuat, komitmen, pengorbanan, pemahaman….” Seperti itulah saya belajar di madrasah Al-Banna sejak kecil. Dan dengan izin Allah, saya menjadi ahli ibadah, lalu saya bisa tsabat walaupun ditangkap dan dipenjara. Saya bertahan.
Kata-kata Imam Al-Banna jangan dibaca, tapi dipelajari. Karena dalam risalah-risalahnya, beliau menjelaskan pemahaman (al-fahmu) dan pandangan (at-tashawur). Beliau berbicara tentang rukun bai’at yang penting. Walaupun itu bernuansa personal, tapi ada sifat jama’ah, sebab jama’ah ada karena ada pribadi-pribadi. Ini saya sampaikan agar kalian, para murabbi, memahami tugas yang harus kalian laksanakan.
Jamaah mengumpulkan orang-orang yang beribadah kepada Allah dan yang memiliki alkhlak. Jama’ah mengantarkan mereka kepada surga. Kita harus bangga bergabung dalam jama’ah ini, yang mengantarkan kita kepada keridhaan Allah dan kemenangan yang lain yang kita sukai.
Tarbiyah Agenda Prioritas
Alhamdulillah, ketika kami keluar dari penjara, yang kami jadikan agenda prioritas (aulawiyat) adalah tarbiyah. Karena tarbiyahlah yang mampu membangun kesadaran tukang sihir Fir’aun dari kekafiran menjadi beriman, lalu mau dan mampu melakukan pengorbanan untuk kebenaran. Itulah kesuksesan seorang murabbi: ketika dia dan madh’unya bisa berkomitmen terhadap dakwah dan jama’ah.
Karena itu, penting bagi kalian agar merasakan pentingnya tarbiyah. Sebab, sebuah jama’ah yang tidak menjadikan tarbiyah di depan matanya, bisa jadi akan berubah menjadi partai politik yang penuh intrik, dan berorientasi pada kekuasaan saja. Agar baik, ulama membuat ukuran jamaah yang lengkap, baik pemahaman dan harakahnya (penerapannya), yaitu nilai-nilai aqidah dan fikrah harus diperhatikan.
Dalam hal Al-Fahmu, kalian harus punya pemahaman atas empat hal ini: 1) Konsepsi tentang adalah (adil dan objektif), tidak melenceng atau condong pada sesuatu yang bathil; 2) Konsepsi tentang syumul tashawwur dan tidak juz’i; 3) Konsepsi tentang asas fikrah dan aqidah, serta dari mana titik tolaknya: apakah hasil pemikiran manusia atau wahyu rabbani; 4) Konsepsi tentang cara pandangan terhadap manusia dan alam semesta.
Sementara dalam hal keanggota jamaah, kalian harus melihat a’dha (anggota) secara keseluruhan. Bukan individu tertentu. Sejauh mana akhlak mereka? Apakah takwin akalnya beres? Dalam diskusi dan dialog, sejauh mana aplikasi dari apa yang mereka dakwahkan? Bisa jadi, ada qiyadah lalu kelakuannya tidak benar, maka ini bisa merusak citra dakwah. Bagaimana sikap jama’ah atau anggotanya terhadap orang lain, atau bagaimana pandangan orang lain terhadap mereka? Apakah mereka dikenal baik dan jujur? Ingatlah, Rasulullah saw. diberi gelar Al-Amin selama 40 tahun oleh masyarakat jahiliyah Quraisy sebelum Rasulullah menyampaikan kepada mereka bahwa beliau ditugaskan oleh Allah swt. sebagai nabi dan rasul. Maka, mustahil setelah diangkat menjadi nabi dan rasul tidak amin lagi. Kejujuran, konsistensi, dan hubungan baik dengan masyarakat, semua itu menegaskan kebaikan sebuah jamaah.
Kalian juga harus bisa menjawab apakah dakwah ini dakwah yang tsabit, tidak hanya terbatas di waktu tertentu saja? Apakah nilai-nilai dakwah kalian abadi, tidak mati seiring wafatnya kalian?
Apakah dalam dakwah kalian mengedepankan hujjah dan tidak memaksa? Apakah setelah menjelaskan lalu memberi kebebasan?
Itulah poin-poin penting. Seorang murabbi wajib mengecek apakah manhaj yang diikuti adalah manhaj yang baik, tidak mengikuti hawa nafsu, tapi mengikuti syariat? Juga harus dimastikan tidak ada kelemahan fatal pada dirinya dan diri mutarabbinya yang bisa merusak shaf atau jama’ah secara umum. Kalau ada, segera didiskusikan dengan pihak yang berwenang sehingga dapat segera diselesaikan.
Cek juga struktur tanzhim, apakah shafnya rabbani dan mengorbit di sekitar qiyadah secara solid dan tidak banyak debat dalam masalah cabang? Dengan begitu perpecahan dapat dihindari. Alhamdulillah, jama’ah kita masih terjaga. Sementara jamaah lain tidak mampu mengatasi masalaah ini, karena tidak memperhatikan apa yang telah saya sebutkan tadi.
Para murabbi harus punya visi yang jelas, di atas apa dan untuk apa ia mentarbiyah. Kalian sebagai murabbi harus yakin dengan kejelasan visi. Perhatikan ikatan ukhuwah. Karena, syariah tidak akan tegak tanpa ukhuwwah –karena itu, ikatan ukhuwah saya namakan rukun syariah dalam buku saya–. Masyarakat Islam yang tidak merealiasikan ukhuwaah tidak akan bisa menerapkan syariah dengan benar. Ukhuwah menenangkan hati dan mengkokohkan kedudukan. Abdullah bin Umar berkata, “Jika saya lakukan semua bentuk ibadah tanpa henti, tapi tidak mencintai saudara seiman, tak ada manfaat dari ibadah saya itu.”
Ibnu Taimiyah menyebut ukhuwah sebagai bagian dari akad dalam Islam. Bahkan, dalam hadits tujuh golongan yang dinaungi Allah di Padang Mahsyar salah satunya adalah “dua orang bersaudara karena Allah”.
Dan, usrah dibuat untuk merealisasikan rukun ukhuwah. Dimana di dalam usrah masing-masing ikhwah menjadi cermin bagi yang lain. Karena, sebaik-baik orang adalah ketika kalian melihatnya ia meningatkan kalian kepada Allah. Usrah bukan untuk mencapai ilmu. Karena, kalau kita baca buku di rumah berjam-jam, ilmu yang kita peroleh lebih banyak daripada yang kita dapat di tatsqif usrah. Imam Al-Banna menjelaskan tujuan jama’ah di dalam Risalah Muktamar Khamis.
إن غاية الإخوان تنحصر في تكوين جيل جديد من المؤمنين بتعاليم الإسلام الصحيح يعمل علي صبغ الأمة بالصبغة الإسلامية الكاملة في كل مظاهر حياتها: صبغة الله ومن أحسن من الله صبغة
Kita ingin mentarbiyah generasi rabbani dengan shibghah Allah, lalu dengan shibghah Allah itu mereka memberi pengaruh positif kepada masyarakat. Mengubah perilaku-perilaku rusak masyarakat dan membentuk mereka menjadi para penolong-penolong (anshar) dakwah. Ada orang yang di dalam pikirannya hanya politik praktis saja, tanpa memperhatikan ukhuwah. Tentu bukan untuk itu kita berdakwah. Sebab, dengan menerapkan ukhuwahlah, kita bisa melewati rintangan dan merealisasikan tujuan. Bagi kita, pemerintahan hanyalah sarana, hanya tujuan antara saja. Sebab, tamkin dari Allah tujuannya adalah untuk ibadah.
 الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ
“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (Al-Hajj: 41)
Saya selalu menegaskan bahwa betapa beratnya tugas murabbi itu. Tapi, akan ringan jika ikhlas. Seorang murabbi harus punya merasakan masuliyyah seolah-olah hanya dialah satu-satunya penanggung jawab tugas itu. Perasaan itu seperti yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Kahfi.
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
 “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an)”. (Al-Kahfi:6)
Murabbi harus selalu berpikir bagaimana mewujudkan apa-apa yang telah saya sebutkan di atas. Tapi ingatlah, Imam Banna pernah berkata, “Allah tidak akan menghisab hasil kerja kalian. Tapi, Dia menghisab usaha dan cara kalian beramal.”
Ketahuilah bahwa setelah semua usaha optimal, Allah lah yang tahu di mana Dia meletakkan risalah-Nya.”
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
 Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (As-Syura:13)
Iqamatuddin tidak melalui revolusi. Tapi, melalui pembentukan jil (generasi) Islami, lalu pembentukan opini umum. Kami tidak pernah menentang kekuasaan, tapi kami tidak menyetujui cara pencapaiannya yang tidak benar, sebab kita punya manhaj dan tarbiyah.
Evaluasi Kadar Keimanan Kader

Murabbi selalu berusaha mengokohkan iman yang ada di dalam jamaah. Seperti itulah yang dilakukan Abu Bakar. Ia selalu memeriksa pasukan dengan mengecek keimanan mereka. Sejauh mana ketaatan mereka kepada Allah. Karena, saat kalian dan musuh sama-sama maksiat, maka kemenangan bagi yang lebih kuat persenjataannya dan lebih banyak jumlahnya. Karena itu, Umar bin Khaththab berkata, “Yang paling aku takuti adalah dosa kalian daripada musuh kalian.” Begitu juga Abdullah bin Rawahah. Ia berkata, “Amal shalih lah yang akan mengalahkan musuh kalian.” Dengan mental seperti inilah mereka tsabat dan menang. Karena itu, hal ini harus menjadi perhatian setiap murabbi. Ikhlas adalah kata kunci mewujudkan keberhasilan. Kalau Allah sudah cinta, semua menjadi gampang.
Perhatikan juga kekuatan ikatan tanzhim (قوة الرباط التنظيمي) setelah kekuatan iman قوة الرباط الإيماني. Urutan ini penting. Kekuatan tanzhim asasnya bukan manjemen dan aturan, tetapi ukhuwah, tsiqah kepada qiyadah, dan tha’ah.
Murabbi harus merasa sebagai penjaga dakwah (حارس للدعوة), menghargai semua lawaih (aturan, AD/ART) jamaah. Istilah mursyid, naib, masul, qism dan lain-lain, itu hanyalah untuk pembagian kerja. Bukan kemuliaan. Semua orang sama bagaikan gerigi sisir. Bisa jadi ada orang yang kusut masai jika ia bersumpah dengan nama Allah, Allah swt. mengabulkan sumpahnya. Semua kita akan dihisab dan mendapat catatan amal masing-masing. Baik atau buruknya kubur kita, kita lah yang menyiapkannya.
Pesan Kepada Murabbi
Dewasa ini kita hidup di masyarakat materialisitis. Tentu ini tantangan yang tidak mudah untuk tetap menjaga orientasi dakwah kita. Dan itulah tugas murabbi. Mereka penjaga dakwah. Yang menjaga fikrah jama’ah ini agar tidak salah, keliru, dan menyimpang. Kalian para murabbi harus menjaga uslub dakwah dengan hikmah dan mauizah hasanah. Kalian menjaga jama’ah agar tidak lemah. Kalian mewarisi semangat “sampaikan dariku, walau satu ayat” yang diwasiatkan Rasulullah saw.
Jadi, tugas kalian, para murabbi, adalah mewariskan dakwah ini dengan segala tsabatnya kepada generasi sesudah kalian. Dan ingatlah, nasihat wajib bagi yang menasihati dan tidak wajib bagi yang dinasihati. Jangan sampai kalian merahasiakan nasihat yang kalian berikan kepada orang lain.
Titik tolak kita dalam tarbiyah adalah ibadah. Bukan budaya. Pemahaman terhadap la ilaha illallah hadharah kita adalah hadharah hari akhir. Hadharah kita adalah ketika kalian bertemu dengan Tuhan kalian. Semua gerakan kita harus untuk beribadah kepada Allah. Harus kalian bedakan antara tajammu’ (kerumunan) dan jama’ah (perkumpulan). Jama’ah adalah salah satu tsawabit kita. Kita tidak bisa mentarbiyah dengan baik tanpa usrah. Ini adalah tsawabit. kelemahan naqib tidak membuat kita melemahkan jama’ah. Kita harus kuatkan naqib.
Tarbiyah imaniyah adalah wahana dimana kita mentarbiyah kita. Ada banyak tarbiyah, model, kegiatan: ada siyasiyyah, ijtimaiyah, istishadiyah. Tapi, yang utama adalah tarbiyah imaniyah. Inilah titik tolak kita.
Rasulullah saw. bersabda, atas diri kalian, isteri kalian punya hak, jasad kalian punya hak. Masing-masing punya hak. Hendaknya kalian memenuhi hak-hak tersebut secara  proposional. Tidak berlebihan dan tidak mengurangi. Harus tawazun. Tidak hanya fokus pada sisi tertentu saja. Bahkan, tidak boleh berkutat pada diri sendiri. Harus bergaul dengan orang lain. Itu tugas kalian: bergaul dengan masyarakat dengan akhlak mulia kalian. Jangan berkumpul hanya dengan sesama ikhwah saja. Saat pemilu di Mesir, semua kader mengetuk pintu rumah masyarakat. Sehingga disebut “tahun ketuk pintu”.
Berdakwah juga bukan hanya kepada sesama muslim, bahkan ashalah dakwah adalah kepada non-muslimin. Rasulullah saw. pun bergaul dengan orang-orang musyrik. Ikhwah punya program kursus bahasa Arab untuk orang asing non-muslim. Kita berdakwah kepada non-muslim agar syubuhat tentang Islam dapat kita hilangkan. Kami katakan kepada mereka, “Dengarlah dari kami, jangan dengar tentang kami (dari orang lain).” Itulah keterbukaan yang kami lakukan kepada semua komponen masyarakat. Hasilnya, Rafiq Habid, seorang Kristen Koptik membela dan membantu ikhwah di Mesir. Karena jasanya, ia kini diangkat jadi Ketua Dua di Partai Kebebasan dan Keadilan yang kami dirikan.
Landasan kita dalam keterbukaan dan kebebasan adalah perkataan Imam Al-Banna, kam minnaa wa laisuu fiinaa wa kam fiinaa wa laisuu minna, berapa banyak orang bersama kita tapi mereka bukan bagian dari kita, dan berapa banyak orang bagian dari kita tapi mereka tidak bersama kita.
Saya katakan bahwa definisi tarbiyah adalah menyampaikan sesuatu menuju pada kesempurnaan, dan memindahkan generasi lama menuju generasi selanjutnya. Dengan demikian ada kesinambungan dalam tarbiyah.
Dan ingatlah, tarbiyah dengan kekuatan dan kekerasan tidak memberikan pengaruh. Kita melakukan dengan kelembutan. Seorang murabbi harus mampu menggerakkan akal dan jasadnya untuk dapat mengubah dirinya secara akhlaqi. Ingat, dalam tarbiyah kalian menyampaikan ajaran akhlaq dan adab.
Tapi, para murabbi juga harus menyampaikan tabiyah secara gamblang, bahwa ada tanggung jawab individual. Oleh karena itu sebagai murabbi, kalian harus dapat menumbuhkan tanggung jawab kepada setiap madh’u kalian dengan wasail wijdaniyah dan memberi arahan pelaksanaan kewajiban menuju kecintaan menunaikan kewajiban.
Yang terakhir, manfaatkan waktu semaksimal mungkin karena waktu merupakan kesempatan yang sangat berharga. Kami ingin seorang murabbi memiliki perasaan izzah bahwa ia sedang melaksanaan sunnah nabi. Itulah yang membedakan antara tabriyah menurut Ikhwanul Muslimin dan jamaah lainnya. Tarbiyah pada jamaah lainnya hanya mengedepankan tranformasi ilmu, sementara jamaah Ikhwanul Muslimin memperhatikan perbaikan individu, baik secara perilaku, akhlak, dan ruhi.
Jadi, point penting yang harus kalian garis bawahi adalah tarbiyah menurut jama’ah kita adalah membentuk orang, tidak hanya menjadi sosok yang shalih, namun juga menjadi sosok yang muslih.
Read More - Ta’kid Tarbawi Untuk Para Murabbi

Rabu, 24 Agustus 2011

AL HUBB

Diposting oleh Yusuf Shadiq

Mereka tahu aku ini pemuda yang dilanda cinta
tapi kusembunyikan segala rahasia rasa tentang cinta
selain diriku tak ada yang tahu rasa yang sedang kuderita
kalaulah ada, itu hanya Tuhan, Sang pemilik Yang Mulia
bagi mereka yang tak tahu diriku sebenarnya
cukuplah mereka tahu aku sedang mencinta
seumpama garis yang terlihat nyata
namun mereka tak perlu tahu hakekat guratanya
atau seumpama suara burung yang indah suaranya
tapi tak bisa pahami hakekat maknanya
Duhai penghuni mayapada,
jangan kau pinta diriku untuk menjelaskannya
karna akupun bingung adanya
dan nalarpun tak kuasa menerangkannya
Mereka berkata,
Demi Allah, cintamu bukanlah racun binasa
ia adalah hajat mulia
Duhai, cinta itu bukan perangai orang gila
melainkan mutiara yang bikin orang tergila-gila
selamanya, mereka tergetar dalam syakwa
syakwa yang terputus atau terputusnya syakwa
=====0o000o0=====
rasa itu kini semakin hebat melanda….
judul diatas terinspirasi dari sebuah judul buku
syairnya diambil dari syair-syair yang ada dalam thouqul hamamah ibnu hazm al andalusy.
*thouqul hamamah = sebuah buku (kitab) karangan Ulama ternama ibnu Hazm al andalusy, bercerita/berisi sebagaimana Raudhotul muhibbin…nya ibnul qoyyim al jauziyah atau al mahabbah nya imam al ghazali
Wahai Rabb yang membolakbalikkan hati, tetapkan hatiku diatas agamaMu, wahai Rabb yang memalingkan hati, palingkan hatiku untuk menuju taat kepadaMu dan taat RosulMu.
yaa Rabbi, berilah kekuatan kepada hamba agar hamba senantiasa dapat membingkai rasa ini dengan bingkai SyariatMu, memagarinya dengan Ma’rifatullah, dan memancangnya dengan Quwatusshilah Billah, sehingga tunasnya, mekarnya, tumbuhnya dan berakar pada waktu yang tepat dan pada orang yang tepat.
(ditulis saat dalam masa ikhtiar pencarian…)
Read More - AL HUBB

Rahasia اللام dan على dalam Doa Pernikahan

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Bismillahirrohmanirrohiim...
Syukur Alhamdulillah saya bisa berjodoh kembali dengan artikel luar biasa. Saya posting untuk dokumen pribadi dan semoga sahabat-sahabat yang membacanya juga dapat ilmu darinya...
Jazakallah untuk —Abu Muhammad Al-Ashri— atas artikelnya...


oleh: —Abu Muhammad Al-Ashri—

Pembaca mulia, sebagai seorang muslim, kita tentu sering mendengar –bahkan sejak kita kecil- bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling jelas dan paling indah sehingga dipilih sebagai bahasa Al-Qur’an, bahasa umat Islam.
Namun, barangkali kebanyakan di antara kita sering timbul pertanyaan, “Di mana letak keindahan bahasa Arab?” atau “saya membaca terjemahan Al-Qur’an kok biasa-biasa saja, tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia lagi atau jika disesuaikan, malah kaku jadinya” atau pertanyaan-pertanyaan semisal.

Pembaca mulia, apakah kita pernah mempelajari bahasa Arab? Jika jawabannya “Belum”, sangat wajar apabila pertanyaan-pertanyaan di atas dapat muncul. Sesunggunya siapa pun yang tidak menguasai bahasa Arab, tidak akan bisa mengetahui, di mana letak keindahannya.
Nah, untuk mengungkap seluruh keindahan bahasa Arab, tentunya tidak akan cukup dalam satu artikel. Dalam kesempatan ini, penulis akan coba ketengahkan salah satu rahasia bahasa Arab dalam hal preposisi (kata depan) semata. Ya, sebatas preposisi pun mempunyai makna yang dalam.
Alasan ditulisnya artikel ini adalah ketika beberapa waktu yang lalu, penulis mendapat undangan pernikahan dari salah seorang ikhwan. Dalam undangan tersebut, teretera doa walimah

بارك الله لك و بارك عليك و جمع بينكما في خير1

/baarakallahu lak, wa baaraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fii khair/
Doa di atas, sering diterjemahkan
Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”
Sekilas, terjemahan di atas sudah tampak benar. Akan tetapi, terjemahan tersebut belumlah mewakili makna yang terkandung dalam doa walimah tersebut.
Setelah melihat undangan tersebut, penulis menjadi teringat penjelasan Al-Ustadz Al-Fadhil Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif tentang perbedaan preposisi اللام dan على dalam doa walimah secara khusus, dan dalam penggunaan bahasa Arab secara umum. Hal ini beliau sampaikan ketika beliau memberi materi dalam daurah bahasa Arab kelas takhossus Angkatan XI pertengahan tahun 2006 di Ma’had Al-Furqon Gresik. Beliau juga memberikan faidah tambahan setelah menjelaskan makna doa walimah tersebut, yang insya Allah akan penulis tuangkan dalam artikel ini.
Rahasia Preposisi اللام dan على
Pembaca mulia, bila dilihat secara leksikal, memang tidak salah apabila kita menemui kalimat

بارك الله لك و بارك عليك و جمع بينكما في خير

Lalu kita terjemahkan,
Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan
Pertanyaannya adalah, “Apakah pembaca dapat membedakan makna padamu dan atasmu dalam terjemah doa walimah di atas? Tentu tidak bisa bukan?
Penjelasan
Pembaca mulia, preposisi اللام /laam/ secara harfiyyah artinya memang bisa diterjemahkan ‘pada’. Adapun على /’alaa/ dapat diterjemahkan ‘di atas’. Akan tetapi, jika kedua preposisi tersebut terdapat dalam satu kalimat secara bersamaan, makna preposisi tersebut tidak bisa lagi diterjemahkan secara harfiyyah’ pada’ atau ‘di atas’ lagi. Namun, makna اللام menunjukkan makna yang baik, sedangkan menunjukkan makna yang buruk. Oleh karena itu, jika memerhatikan hal ini, doa walimah di atas jika diterjemahkan akan menjadi panjang, yaitu:
“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.
Nah, bagaimana arti di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis bisa muncul? Jawabnya adalah karena adanya preposisi اللام yang makna menunjukkan hal-hal yang baik jika disandingkan dengan preposisi على dalam satu kalimat. Konteks kalimat di atas adalah pernikahan, sehingga diketahui secara pasti bahwa hal-hal yang baik dalam pernikahan adalah ketika pasangan hidup dalam keadaan harmonis.
Demikian pula sebaliknya, arti di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara) dapat muncul sebagai terjemahan dari preposisi على . Preposisi ini akan menunjukkan makna yang buruk jika disandingkan dengan preposisi اللام dalam satu kalimat. Konteks kalimat di atas adalah penikahan, sehingga diketahui secara pasti bahwa hal-hal yang buruk dalam penikahan adalah ketika pasangan hidup mengalami kerenggangan atau prahara dalam rumah tangganya.
Hal ini membawa pelajaran penting bagi setiap orang yang akan menikah bahwa Nabi sudah mengisyaratkan dalam rumah tangga yang akan dihadapi tidaklah selamanya dalam keadaan yang bahagia dan harmonis. Setelah menikah nanti, seorang istri akan melihat sisi lain dari sang suami, yang tidak ia ketahui sebelum menikah. Demiakian pula sebaliknya, sang suami akan melihat banyak hal yang tidak diketahuinya dari si istri setelah ia bergaul dengan istri beberapa hari pasca pernikahan. Pertengkaran sangat mungkin terjadi antara suami dengan istri, yang bisa muncul karena adanya kecemburuan, kesalahan dari salah satu pihak, bahkan karena adannya hal-hal sepele sekalipun. Dalam kondisi prahara ini, Nabi mengisyaratkan bahwa Allah bisa akan tetap memberi berkah pada suami istri tersebut. Bagaimana sikap suami ketika mengadapi kesalahan istri, demikian pula bagaimana istri ketika menghadapi kesalahan suami adalah hal-hal yang telah diajarkan dalam syariat Islam.
Anggapan bahwa rumah tangga selamanya 100% akan harmonis, tanpa ada perselisihan dan pertengkaran adalah anggapan yang keliru. Bagi yang sudah menikah, tentu mengetahui hal ini. Nabi kita yang mulia, memberi sifat bagi wanita bahwa mereka adalah kaca-kaca, sebagaimana dalam sabdanya,

ارفق بقوارير

Lembutlah kamu kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)
Dalam kitab Fathul bari, dijelaskan bahwa wanita disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridho menjadi tidak ridho, dan karena tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran), sebagaimana kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan.2
Oleh karena itu, ulama jenius, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, memberikan nasehat kepada kita tentang wanita,
Sebuah kata yang Engkau ucapkan bisa menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata yang Engkau ucapkan, bisa menjadikannya dekat di sisimu.”3
Bahkan, Nabi sendiri juga menjelaskan bahwa sangat memungkinkan suami akan mendapati hal-hal yang tidak ia kehendakai pada istrinya, tetapi hal tersebut Nabi larang dijadikan alasan untuk membenci istrinya tersebut, sebagaimana dalam sabda beliau

لا يفرك مؤمن مؤمنة إن كره منها خلقا رضي منها آخر

Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya). Jika ia membenci sebuah sikap (akhlak) istrinya, maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain)”4
Maka, benarlah apa yang pernah disampaikan Al-Ustadz Firanda bahwa
“Suami yang paling sedikit mendapat taufiq dari Allah dan yang paling jauh dari kebaikan adalah seorang suami yang melupakan seluruh kebaikan-kebaikan istrinya, atau pura-pura melupakan kebaikan istrinya dan menjadikan kesalahan-kesalahan istrinya selalu di depan matanya. Bahkan terkadang kesalahan istrinya yang sepele dibesar-besarkan, apalagi dibumbui dengan prasangka-prasangka buruk yang akhirnya menjadikannnya berkesimpulan bahwa istrinya sama sekali tidak memiliki kebaikan.”
Ustadz Firanda juga menyampaikan bahwa di antara yang dilakukan syaitan kepada suami tatkala marah kepada istrinya ialah dengan berkata,
” Sudahlah ceraikan saja dia, masih banyak wanita yang shalihah, cantik lagi.., ayolah jangn ragu-ragu…” Syaithan juga berkata, “Cobalah renungkan jika Engkau hidup dengan wanita seperti ini.., bisa jadi di kemudian hari ia akan membangkang kepadamu… Atau syaithan berkata, “Tidaklah istrimu itu bersalah kepadamu kecuali karena ia tidak menghormatimu.. atau kurang sayang kepadamu, karena jika ia sayang kepadamu ia tidak akan berbuat demikian.”
—Selesai penjelasan Ustadz Firanda—
Demikianlah, syaithan berusaha memisahkan hubungan antara suami dengan istri. Kesempatan yang tidak disia-siakan syaithan adalah ketika suami melihat satu kesalahan istrinya, maka syaithan akan membisiki sang suami untuk menjauhinya sampai menceraikannya. Namun, ingatlah kembali lafadz بارك عليكSemoga Allah memberi berkah kepadamu ketika kamu ditimpa prahara’ ketika manusia mengucapkannya di saat Anda menikah dulu.
Lalu, bagaimana agar Allah tetap memberi berkah ketika rumah tangga ditimpa prahara dan pertengkaran? Ketika penulis berupaya menyusun risalah untuk menjawab pertanyaan ini, penulis sudah membayangkan berpuluh-puluh halaman untuk menyelesaikannya. Maka, hal tersebut akan penulis sajikan dalam artikel tersendiri. Namun, satu kunci pembuka untuk menjawab pertanyaan di atas adalah sabda Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ألا إن المرأة خلقت من ضلع و أنك إن ترد إقامتها تكسرها فدارها تعش بها

Ketahuilah bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan jika Engkau ingin meluruskannya, maka Engkau akan mematahkannya. Oleh karenanya, berbasa-basilah! Niscaya Engkau bisa menjalani hidup dengannya.”5
Maka, benarlah perkataan Adh-Dhohak,
Jika terjadi pertengkaran antara seorang dengan istrinya, janganlah ia bersegera untuk mencerainya. Hendaknya ia bersabar terhadapnya , mungkin Allah akan menampakkan dari istrinya apa yang disukainya.”6
Bumi Allah,
Ahad, 26 April 2009 pukul. 20.57
Ketika dinginnya malam semakin merasuk ke dalam tubuhku….
____________________________FOOTNOTE________________________________
1] Lihat kitab المستدرك على الصحيحين /al-mustadral ‘ala shahihain/, karya محمد بن عبدالله أبو عبدالله الحاكم النيسابوري /Muhammad bin Abdillah Abu ‘Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi/, cet. I Beirut, tahun 1411 H / 1990 M : Darul Kutub Al-Ilmiyyah, tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, juz II, hal. 199, hadits nomor: 2745. Kitab ini dicetak bersama kitab تعليقات الذهبي في التلخيص /ta’liqat Adz-Dzahabi fi At-Talkhiis/.
2] Periksan dalam Fathul Bari X/545
3] Periksa dalam kitab Syarhul Mumti’, XII/385.
4] Lihat kitab صحيح مسلم /shahihil muslim/, karya مسلم بن الحجاج أبو الحسين القشيري النيسابوري /Muslim bin Al-Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi, cet. Beirut: Daar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi, juz. II, hal. 1091, hadits nomor: 1469. Kitab ini dicetak bersama kitab تعليق محمد فؤاد عبد الباقي /Ta’liq Muhammad Fuad Abdul Baqi/.
5] Lihat Kitab Lihat kitab المستدرك على الصحيحين /al-mustadral ‘ala shahihain/, karya محمد بن عبدالله أبو عبدالله الحاكم النيسابوري /Muhammad bin Abdillah Abu ‘Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi/, cet. I Beirut, tahun 1411 H / 1990 M : Darul Kutub Al-Ilmiyyah, tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, juz 4, hal. 192, hadits nomor: 7334. Kitab ini dicetak bersama kitab تعليقات الذهبي في التلخيص /ta’liqat Adz-Dzahabi fi At-Talkhiis/.
6] Periksa kitab Ad-Dur Al-Mantsur II/465




Read More - Rahasia اللام dan على dalam Doa Pernikahan