Minggu, 22 Januari 2012

Dakwah Ilallah, Jalan Cinta Kita

Diposting oleh Yusuf Shadiq
“Kelak, pada gilirannya nanti, kita juga akan dipanggil menghadap-Nya. Dan Dia Yang Maha Kuasa akan menanyakan nikmat yang telah diberikan-Nya, untuk apa kita gunakan? Adakah untuk jalan cinta di jalan-Nya? Setelah ini, jangan lagi ada gersang di jalan cinta kita.”
Itulah yang dilakukan Abu Dzar, keimannya yang tulus kepada Allah dan Rasulullah telah membuatnya berani mengumumkan keislamannya. Dan keroyokan kaum musyrikin Quraisy pun tidak membuatnya takut. Esoknya, ia ulangi lagi hal itu, dan dikeroyok lagi.
Umar bin Khattab adalah sosok yang garang. Preman diatas preman. Tapi ketika hidayah menghampirinya, ia pun lansung beriman dan bergabung di jalan cintanya para pejuang Islam. Dan apa yang terjadi setelah itu? Kita dapat melihat perubahan dratis dalam diri Umar yang keras menjadi sosok yang tegas, lembut, penuh tanggung jawab.
Begitu juga Bilal dengan satu kata cintanya “ahad”. Dan Ummu Sulaim yang menjadikan Islam sebagai maharnya. Begitu indah apa yang mereka lakukan. Seindahnya cinta
Beriman kepada Allah swt adalah jalan cinta..
Ketika kita mampu berbuat baik kepada orang tua, berkata lembut kepadanya, santun dalam berpilaku, tidak pernah berkata “ah”, bahkan mengumpat, maka itu adalah jalan cinta.
Ketika kita dengan kakak-kakak kita, adik-adik kita, sanak family beserta tetangga saling akur, dan keakuran itu tercipta karena sikap kita yang baik, maka itulah jalan cinta.
Berusaha menjalin persahabatan dengan baik. Menjadi teladan bagi banyak orang dalam sikap dan perilaku maka itu juga jalan cinta
Berpayah-payah dan tertatih-tatih di jalan dakwah,  juga merupakan jalan cinta yang agung
Namun itu semua akan benar-benar berharga ketika kita menapaki jalan cinta itu karena-Nya. Karena perintah-Nya, karena takut kepada-Nya, karena mengharap ridho-Nya. Maka orang yang paling baik di atas jalan cinta adalah mereka yang menjalankannya karena Allah, bukan karena orang lain atau mengharap imbalan.
“Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semessta alam” (Al-An’am:162)
Ada yang mengeluhkan kepada saya mengenai kegersangan ruhiyah  dan ukhuwah para aktivis dakwah. Ia merasa tidak merasakan jalan cinta seperti yang dirintis oleh Rasulullah. Aktivis dakwah hari ini terkesan egois dan mementingkan diri sendiri. Itu terlihat dengan kurangnya saling kepedulian antar sesama aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah pernah meminum air kran karena tidak kebagian air minum dari saudaranya. Sangat miris ukhuwah kita, memang.
Masih ada banyak lagi cerita miris para pejuang jalan cinta yang saya dapatkan. Aneh sekali jika kita yang berjuang di jalan cinta tidak berjalan selayaknya seorang pecinta. Ya wajar-wajar saja ada cerita demikian.
Jalan cinta kali ini bukan berarti tidak ada indahnya, bukan berarti tidak ada yang menjalankannya dengan cinta. Begitu banyak kisah indah itu, seperti kisah indahnya almarhumah Ibunda Yoyoh Yusroh, yang seluruh dunia mengucapkan tazkiyah kepadanya.
Realita miris yang terjadi seperti di atas adalah bagian fenomena jalan cinta. Tentu untuk menjadi para pecinta sejati di jalan cinta-Nya, Allah memberikan ujian, sebagai bukti dan seleksi, sebenarnya kita berada di jalan cinta ini karena siapa? Karena Allah-kah? Atau masih karena orang lain yang senantiasa mengajak kita? Namun, bagaimana pun, itu semua tidak boleh lagi terjadi. Masing-masing kita haruslah mempunyai kemauan yang tinggi dalam memperbaiki diri. Insya Allah perjalanan panjang jalan cinta ini akan mengajarkan kita dan mentarbiyah kita dengan sebenar-benarnya tarbiyah.
Lalu yang terpenting adalah kita memahami jalan cinta ilallah adalah jalan keindahan, seperti indahnya cinta
Kenikmatan, seperti kenikmatan cinta.
Kesejukan, seperti kesejukkan udara yang menyejukkan
Dan paradigma kita mengenai jalan cinta haruslah seperti itu, tidak boleh bertukar.
Jika kita memahami bahwa jalan cinta adalah keindahan, kenikmatan dan kesejukkan maka saya yakin semua kita akan meletakkan itu semua di dalam diri kita terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada semua orang.
Para pejuang cinta haruslah mampu membuat banyak orang merasakan keindahan Islam melalui dirinya. Merasakan kenikmatan berjuang bersama dengannya. Dan selalu memberikan kesejukkan ke dalam hati banyak orang dikala angin gersang nan panas menimpa mereka. Itulah yang dilakukan Rasulullah saw di jalan dakwahnya kala itu, membuat semua para sahabat merasa paling dicintai dan para musuh pun menaruh hormat dan segan kepadanya.
Maka jalan cinta kita adalah keindahan, kenikmatan, dan kesejukan. Dan itu semua lahir dari kedekatan kepada Allah, pemahaman yang benar terhadap Islam dan akhlakul karimah yang sangat luar biasa.
Terapkanlah itu semua wahai saudaraku di dalam dirimu. Agar banyak manusia merasakan keindahan, kenimatan, dan kesejukan di jalan cinta kita. Setelah ini, jangan lagi ada gersang di jalan cinta kita disebabkan oleh ulah tangan-tangan kita sendiri.

“Ya Allah, jadikan di dalam hatiku cahaya, pada pandanganku cahaya, pada pendengaranku cahaya, dan dari sisi kananku cahaya, dari sisi kiriku cahaya, dari atasku cahaya, dari bawahku cahaya, dari depanku cahaya, dari belakangku cayaha, dan agungkanlah untukku cahaya.” (Do’a Rasulullah saw. di saat Qiyamul lail, dari Ibnu Abbas ra.)
Read More - Dakwah Ilallah, Jalan Cinta Kita

Sabtu, 21 Januari 2012

Di Jalan Dakwah Aku Menikah

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Di Jalan Dakwah Aku Menikah
Menikah adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. Peristiwa fitrah, sebab pernikahan adalah salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan. Fitrah setiap manusia adalah punya kecenderungan terhadap lawan jenis, dan Allah Ta’ala telah menciptakan rasa keindahan tersebut dalam hati setiap laki-laki dan perempuan.
Persitiwa fiqhiyah, artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas. Islam adalah satu-satunya agama di dunia ini yang memiliki aturan-aturan yang detail tentang keluarga, sejak dari proses pembentukannya, huingga setelah terbentuknya keluarga sampai jalan keluar dari permasalahan. Bukan hanya pernikahannya yang diatur, akan tetapi perceraian juga mendapatkan aturan yang rinci dan jelas.
Persitiwa dakwah, artinya dengan pernikahan telah membuat pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat.  Sejak dari proses pemilihan jodoh, sampai kepada akad nikah, walimah dan akhirnya kehidupan keseharian dalam keluarga. Aplikasi nilai-nilai Islam dalam prosesi pernikahan ini telah memberikan sentuhan dakwah secara langsung kepada masyarakat.
Pernikahan adalah peristiwa tarbiyah, bahwa dengan melaksanakan pernikahan akan menguatkan sisi-sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang bertemu di pelaminan tersebut.  Proses tarbiyah Islamiyah (permbinaan Islami) pada kedua mempelai akan lenbih bisa ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya setelah menikah.
Nikah juga peristiwa sosial, artinya dengan pernikahan terhubungkanlah dua keluarga besar dari pihak laki-laki dan perempuan. Semula mereka adalah pihak yang asing, belum saling mengenal, bahkan mungkin terpisahkan oleh jarak yang jauh. Dengan pernikahan tersebut, bukan saja bermakna mempertemukan dua orang –lelaki dan perempuan– dalam pelaminan, akan tetapi telah mempertemukan dua keluarga besar dalam ikatan persaudaraan dan kekeluargaan.
Nikah juga peristiwa budaya, artinya dengan pernikahan terbaurkanlah dua latar budaya yang tak mesti sama dari kedua belah pihak. Pernikahan telah mempertemukan dua kebudayaan yang tidak mesti sama. Dua tradisi dan dua adat yang berbeda. Dengan pernikahan terbentuklah sebuah peradaban!
Dengan demikian proses pernikahan berarti mempertemukan banyak kepentingan, dan bukan mempertentangkan kepentingan-kepentingan tersebut.  Jika menggunakan pendekatan mempertentangkan kepentingan, akan semakin banyak kepentingan yang tidak terdapatkan, sebaliknya jika mencoba mempertemukan kepentingan semaksimal mungkin kepentingan bisa terakomodir.
Menikah di Jalan Dakwah
Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. Selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya sendiri?
Mari saya beri contoh berikut. Di antara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda ?
Ternyata anda memilih si A, karena ia memenuhi kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, pandai dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda ini salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah ! Anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama; dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah saw bertanya kepada Jabir ra :
“Mengapa tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?”  (HR Bukhari dan Muslim).
Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra, “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut”, kata Jabir. “Benar katamu,” jawab Nabi saw.
Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan apabila menikahi gadis perawan.
Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya di atas 25 tahun, atau di atas 30 tahun, atau bahkan di atas 35 tahun?
Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? Mereka, wanita tadi, adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka?
Ah, mengapa pertanyaannya “harus”? Dan mengapa pertanyaan ini dibebankan hanya kepada seseorang? Kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas itu. Jodoh di tangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian?
Kendatipun Nabi saw menganjurkan Jabir agar menikah dengan gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah saw adalah janda! Kendatipun Nabi saw menyarankan agar Jabir beristeri gadis, pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda!
Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.
Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari, saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurrahman bin Auf, “Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang di antara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nilkahi. Kalau iddahnya sudah selesai, maka nikahilah dia” (HR Bukhari).
Ia tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki isteri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran itu, dan ia sebagai orang baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar.
Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? Ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh ?
Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkah anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan melihat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah dikarenakan desakan usia ? Jika anda adalah seorang wanita muda usia, dan ditanya –dalam konteks pernikahan– oleh seorang laki-laki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “Saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B, sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.
Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena  bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah soal takdir yang tak berada di tangan kita. Masyaallah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut :
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (HR Bukhari dan Muslim).
Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-iris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.
Di sinilah perlunya kita berpikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim.
Bagaimana Menentukan Calon?
Menentukan pilihan pasangan hidup bukan peristiwa yang dampaknya hanya sesaat, melainkan memiliki dampak luas dan panjang sampai seumur-umur hidup, bahkan sampai urusan akhirat kita. Oleh karena itu amat disayangkan apabila memilih calon suami atau isteri hanya semata-mata berlandaskan selera dan kesenangan pribadi, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lain yang lebih luas kemanfaatan dan jangkauannya. Bisa jadi ada pertimbangan tertentu yang anda tidak mengetahui sebelumnya, dan baru diketahui setelah anda bermusyawarah dengan orang-orang shalih di sekitar anda.
Bisa jadi semula wawasan pemikiran anda tidak terlalu luas dalam memilih calon pasangan hidup, maka dengan melakukan musyawarah dengan orang-orang yang amanah dan bisa dipercaya, anda akan mendapatkan keluasan pemikiran dan pandangan. Bahkan mungkin anda merasa diri telah menemukan pilihan yang paling tepat menurut ukuran anda, akan tetapi ternyata setelah anda musyawarahkan ternyata ada hal-hal yang menjadi catatan dan ketidaktepatan pilihan.
Menentukan pilihan suami atau isteri harus dilakukan dengan sepenuh kesadaran dan penerimaan utuh, tanpa keterpaksaan. Sebab pernikahan harus diniatkan untuk selamanya, tak boleh untuk jangka waktu sementara, dengan niatan menceraikan kalau ternyata dianggap tidak cocok. Menerima calon suami atau calon isteri dengan sepenuh hati adalah hak penuh masing-masing pihak. Tak ada seorangpun yang berhak memaksakan terjadinya pernikahan pada diri seseorang. Laki-laki dan perempuan berada dalam posisi merdeka pada konteks penentuan jodoh.
Syariat Islam Berorientasi Pada Kemudahan
Jika ditinjau dari seluruh sisinya, syari’at Islam berprinsip menghilangkan kesulitan dengan mengambil kemudahan dalam setiap pilihan. Allah Ta’ala telah berfirman:
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kamu” (Al Baqarah: 185).
Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (Al Haj: 78).
Nabi saw memberikan ketetapan yang amat kuat dalam melihat kebaikan agama, sebagaimana tercermin dalam sabda beliau :
“Sebaik-baik (urusan) agamamu ialah yang termudah(HR Thabrani).
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tiada seseorang yang mencoba mempersukar dalam agama, melainkan ia akan kalah. Oleh karena itu tepatlah, dekat-dekatlah dan bukalah harapan, pergunakanlah waktu pagi dan sore dan sedikit di waktu malam” (HR Bukhari).
Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw telah bersabda dengan mengulang hingga tiga kali kalimat ini:
“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam agama” HR Muslim).
Sangat terasa orientasi Islam yang menghendaki kemudahan dalam berbagai urusan. Bahkan tatkala beliau saw dihadapkan pada pilihan-pilihan, maka amat tegas apa yang beliau tunjukkan kepada kita lewat perkataan A’isyah ra berikut:
“Tidaklah Rasulullah saw dihadapkan pada pilihan antara dua hal, kecuali beliau mengambil yang lebih mudah, asalkan bukan dosa” (HR Bukhari dan Muslim).
Kita coba melihat betapa Islam menghendaki kemudahan dalam proses pernikahan. Proses pemilihan jodoh dibuat sedemikian rupa oleh Islam sehingga memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk melakukannya. Mereka boleh memilih sendiri calon pasangan hidupnya, atau dicarikan orang tua, kerabat, dan orang-orang shalih, atau dicarikan oleh pemimpin. Wanita boleh memilih laki-laki untuk menjadi calon suami, demikian pula laki-laki boleh memilih perempuan untuk menjadi calon isterinya.
Dalam peminangan, boleh dilakukan sendiri oleh pihak laki-laki, boleh pula mewakilkan kepada orang yang dipercaya. Wanita juga boleh meminang laki-laki untuk dirinya sendiri, atau untuk wanita lainnya. Untuk janda bahkan boleh dilakukan hanya dengan sindiran, dan boleh dipinang langsung kepada diri si janda.
Dalam urusan mahar, Islam tidak mempersulitnya. Bagi yang memiliki harta banyak, ia boleh memberikan mahar sesuai kesanggupannya, akan tetapi Islam menghendaki kemudahan di dalam pemberian mahar:
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah” (HR Al Hakim).
Dalam melaksanakan akad nikah, tidak dituntut hal-hal yang merepotkan. Tidak dituntut kemewahan atau keramaian tertentu. Keberadaan wali dari pihak perempuan dan dua orang saksi telah memenuhi persyaratan dilaksanakannya pernikahan:
“Tidak ada nikah kecuali dengan (dihadiri) wali dan dua orang saksi yang adil” (HR Baihaqi).
Dalam melaksanakan walimah, tidak mesti dengan upacara dan resepsi yang besar dan mewah. Seandainya hanya memiliki seekor kambing, cukuplah itu untuk melaksanakan walimah:
“Adakanlah walimah, meskipun hanya dengan (menyembelih) seekor kambing” (HR Bukhari dan Muslim).
Bahkan seandainya tidak memiliki seekor kambing, walimah tetap diadakan dengan hidangan apapun yang dimiliki, seperti ketika Nabi saw melaksanakan walimah dalam pernikahan beliau dengan Shafiyah. Oleh karena itulah dalam masalah pernikahan ini, A’isyah menjelaskan:
“Sesungguhnya di antara keberkahan wanita ialah kemudahan peminangannya dan kemudahan maharnya” (riwayat Ahmad).
Uqbah bin Amir ra menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah” (HR Abu Dawud).
Dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Islam ini, diharapkan setiap orang bisa melaksanakan syari’at dalam pernikahan tanpa ada kesulitan. Tidaklah Islam datang membawa misi untuk memberatkan manusia, atau membuat kesulitan-kesulitan. Yang diinginkan hanyalah perbaikan di seluruh sisi kehidupan, yang dengan aturan ini kebaikan hidup akan terjaga.
Orang tua tidak boleh mempersulit anak laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakan pernikahan Islami. Negara tidak diperkenankan membuat aturan yang menyulitkan terjadinya pernikahan. Organisasi atau jama’ah tidak diberi hak untuk membuat aturan-aturan yang merepotkan dan menyulitkan para anggota dalam melaksanakan pernikahan syar’i.  Yang harus mereka lakukan adalah memberikan vasilitas kemudahan dalam mengururs pernikahan.
Hal inilah yang sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. Mempersulit urusan, termasuk pernikahan, bukanlah watak dasar syari’at Islam. Wallahu a’lam.
Read More - Di Jalan Dakwah Aku Menikah

Kisah Pemuda Yang Menikahi Wanita “Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh”

Diposting oleh Yusuf Shadiq


Seorang lelaki yang soleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lazat itu, akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahawa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.
Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar meninta dihalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebunnya”.
Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah ku makan ini.”Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”.
Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku kerana tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah s.a.w. sudah memperingatkan kita melalui sabdanya: “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Kerana itu mahukah tuan menghalalkan apa yang sudah ku makan itu?”
Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak boleh menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu kerana takut ia tidak dapat memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah kerana hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu?”
Tetapi pemilik kebun itu tidak mempedulikan pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”
Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berfikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak boleh menghalalkan apa yang telah kau makan !”
Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkahwinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya kerana aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”.
Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkahwinan selesai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berfikir akan tetap mengucapkan salam walaupun isterinya tuli dan bisu, kerana bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu”alaikum…”
Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut kerana wanita yang kini menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya.
Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahawa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berfikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ?
Setelah Tsabit duduk di samping isterinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahawa engkau buta. Mengapa?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahawa engkau tuli, mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, kerana aku tidak pernah mahu mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah.
Ayahku juga mengatakan kepadamu bahawa aku bisu dan lumpuh, bukan?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan isterinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu kerana dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh kerana kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang boleh menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.
Tsabit amat bahagia mendapatkan isteri yang ternyata amat soleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang isterinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.
Tsabit dan isterinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikurniakan seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia, Beliau adalah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit. [ahmadriyadhmz.]
Read More - Kisah Pemuda Yang Menikahi Wanita “Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh”

Kisah Sabar yang Paling Mengagumkan

Diposting oleh Yusuf Shadiq


(ilustrasi : bayi)  Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
Sang dokter berkata:
Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat.
Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta`ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala .
Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”
Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!”Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata:“Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.
Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta`ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.
Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya:“Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata:“Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”
Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta`ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.
Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata:“Alhamdilillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta`ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.
Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu:“Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan:“Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”
Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menagis histeris seraya berkata:“Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.” Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran:“Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut:“Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”
Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu `alaihi wa sallam yang indah lagi agung:(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء)“Beruntunglah orang-orang yang asing.” Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.
Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu:“Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:“Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.
Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..
Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu:“Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata:“Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.
Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.
Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?
Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala ?
Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?
Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta`ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat.
Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:
Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya:“Siapakah mereka?” Dia menjawab,“Tidak mengenal mereka.”
Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan.
Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata:“Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”
Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya:“Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta`ala.”
Tahukah anda apa yang dia katakan?
Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.
Sang suami berkata:“Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”
Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata:
“Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.
Kukatakan:
Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta`ala .
Allah Subhanaahu wa Ta`ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ` bersabda:
مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍ وَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta`ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))
Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta`ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.
Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta`ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.
Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta`ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦)
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126) .
(Sumber: Majalah Qiblati )
Read More - Kisah Sabar yang Paling Mengagumkan

Senin, 09 Januari 2012

..**Untaian Azzam Sepasang Manusia**..

Diposting oleh Yusuf Shadiq

Melintas waktu, melibas segala perintang dan halangan,
dalam bingkai perjuangan di jalan Allah. .


Melanjutkan Kehidupan Islam.
Mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia
Membangkitkan umat dengan Kebangkitan yang benar. .


Keikhlasan yang harus senantiasa terazzamkan, semangat jihad dan ketaqwaan yang harus senantiasa membara,
dakwah senantiasa sebagai poros hidup pun berbuah amal yang nyata. .


Dunia Islam adalah dunia kita
Tiap jengkal tanahnya terlantun adzan, terurai tilawah Qur'an., terdengar jiwa-jiwa suci bertasbih, bertahmid, dan bertakbir. .
Tiap butir keringat dan tiap tetes darah adalah penyuburnya. .
Pembebasan kemerdekaan baginya menjadi kemestian. .


Langkah yang dibuat akan tak berujung. Dinaungi cahaya Allah yang tak akan pernah lindam.
Langkah ini akan terus berderap menuju keabadian. Memanggil tiap jiwa mujahid sejati untuk menghentak seirama
bersatunya pemikiran, perasaan dan aturan. .
Menuju sebuah perubahan total,
Khilafah Rasyidah 'ala Minhajjin Nubuwwah. .
ALLOHU AKBAR!!!


Kami hidup tuk Islam apa adanya,
Kami berjumpa tuk tajasudkan visi perjuangan,
Kami bersua tuk rapatkan barisan,
Kami bersatu tuk satukan kekuatan,
Kami menikah tuk lahirkan generasi Ideologis,


Kami berpisah tuk mengejar Syahadah. .


Keridloan Allah senantiasa jadi tujuan tertinggi kami. .


Allahumma Atina Syahadah..

Fitri Fatimah Zahra
Read More - ..**Untaian Azzam Sepasang Manusia**..