INDAHNYA ISLAM

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).


Selasa, 10 April 2012

AKHIR PERJALANAN PERGERAKAN DAKWAH

Diposting oleh Yusuf shadiq

Mukadimah

Setiap umat ada ajalnya. Al Quran yang mulia telah menceritakan umat-umat terdahulu yang dibinasakan Allah Azza wa Jalla , lantaran sikap mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, melakukan penyimpangan, menghalalkan segala cara, dan perlawanan terhadap da’wah para Rasul yang mulia. Jika ada yang mengatakan, tidak sepantasnya kaum para pembangkang dianalogikan dengan kaum pergerakan Islam. Jawabannya adalah sunatullah kehidupan berlaku bagi siapa saja. Sunatullah tidak pernah memilih kepada siapa dirinya diberlakukan. Ia akan terjadi jika syarat-syaratnya terpenuhi. Ia akan terjadi dan akan lebih cepat terjadi, jika manusia itu sendiri yang mengoleksi dan mengumpulkan segala sebab-sebabnya. Tak ada jaminan dari siapa pun, bahwa sebuah pergerakan Islam akan abadi.

(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas, ketika bangkit orang ya paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), da Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (QS.AsySyams:11-15)

Kesalahan, pembangkangan, penyimpangan, dan sikap mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla, bukan hanya monopoli kaum Tsamud, atau ’Ad, atau kaum yang telah Allah binasakan lainnya. Selaku manusia, para aktifis Islam yang sejatinya erat dengan nilai Islam, pemikiran Islam, dan solusi Islami, justru di tangan merekalah da’wah itu roboh. Karena mereka melakukan penyimpangan yang pernah dilakukan oleh umat-umat yang dibinasakan, yang beda hanya penamaan dan pembahasa-an, adapun bentuk, dampak, dan tujuannya sama. (Mukhtalifah al Asma wal lughah Muttahidah al Asykal wal Aghrad)


Beberapa oontoh dalam scoup individu, contoh pribadi-pribadi yang telah berakhir di jalan da’wah telah banyak. Mulai dari tokoh besar, hingga kawan kita sendiri. Mulai zaman dulu sampai saat ini, bahkan akan datang. Washil bin ’Atha dan Amr bin ’Ubaid, dahulu mereka adalah Ahlus Sunnah, namun lenyap dari barisan Ahlus Sunnah lantaran penyimpangan pemikirannya.
Abad ini, ada Jamal Abdul Nashir yang lenyap dari jalan da’wah, lantaran syahwat kekuasaannya. Bahkan ia berbalik memusuhi da’wah dengan serangan yang melebihi perbuatan orang kafir. Masih banyak contoh lainnnya. Mereka telah ”berakhir” sebelum ajal biologisnya tiba.
Dalam scoup komunitas, kita memiliki contoh yang tidak jauh dari perjalanan sejarah bangsa ini, Masyumi. Berakhirnya kisah Masyumi, bukan hanya karena dibubarkan oleh Soekarno. Tetapi, ada sebab rasional lainnya yang menunjukkan bahwa sunatullah tetap berlaku bagi siapa saja, walau ia gerakan da’wah.
Masyumi telah melupakan nukbawiyah (pengkaderan) dengan arti sesungguhnya. Kader yang mampu melanjutkan perjuangan pendahulu dan ideolognya. Walau orang-orangnya ada, namun ia telah hampa. Bahkan ketika Masyumi dibubarkan, tokoh besarnya yakni Muhammad Natsir Allahu Yarham masih hidup hingga beberapa dekade pasca pembubaran Masyumi. Selain itu Masyumi juga gagal dalam meredam konflik internal, antara kaum tradisionalis dan modernis. Hingga akhirnya Nahdhatul Ulama memutuskan keluar dari Masyumi, yang diakui cukup melemahkan langkah perjuangan mereka.

Saat ini, kebesaran Masyumi mirip kegagahan Dinosaurus yang punah, yang kerap kita kisahkan ke anak-anak kita. Mereka penasaran dengan Dinosaurus, ingin melihat dekat, tetapi yang ada hanya fosilnya saja, itu pun tidak utuh, atau di museum. Ada pula kelompok umat Islam yang ingin mengembalikan romantisme kejayaan Masyumi, tapi mereka sudah gagal sebelum berjalan. Masing-masing kelompok mengaku pewaris sah Masyumi. Akhirnya, kita benar-benar melihat bahwa Masyumi telah menjadi fi’il madhi yang tidak mungkin menjadi fi’il mudhari.
Inilah sebab-sebab itu ada beberapa sebab dari sekian banyak sebab berakhirnya perjalanan da’wah sebuah pergerakan Islam. Sebab-sebab ini, jika memang ada pada komunitas da’wah, maka sudah sepantasnya dicari solusi yang tepat, jitu, dan cepat, bahkan harus lebih cepat dari menjalarnya sebab-sebab tersebut.
Kadang harus tegas, kalau memang itu diperlukan, ini jika memang kita lebih memilih kelanggengan jamaah dibanding berbasa-basi dengan masalah dan problem maker -nya. Kita tidak meragukan keshalihan dan kealimannya, tetapi jamaah punya fatsun (tata krama) aturan main yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun.
Dihadapan itu, semua anggota jamaah dan pimpinannya adalah sama, tak ada orang kuat, anak emas, atau putra mahkota. Sebab, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam sendiri yang akan memotong tangan Fathimah, jika puterinya itu mencuri.

Dahulu, Ustadz Hasan al Hudaibi Rahimahullah mengusulkan kepada Hai’ahTa’sisiyah untuk memecat lima anggotanya dan mengeluarkan keputusan tersebut. Lalu, Syaikh Hasan al Hudaibi berkata: Sesungguhnya mereka dipecat bukan karena cacatnya pemahaman agama mereka. Bisa jadi mereka lebih baik dari kita. Tetapi jamaah punya aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Mereka menentang keputusan ini, tetapi barisan akhirnya kembali stabil.
Syaikh Ahmad Hasan al Baquri menerima jabatan menteri dari Jamal Abdul Nashir tanpa izin Ustadz Al Hudaibi, lalu Ustadz Al Hudaibi bertanya :
Mursyid : Apa tindakan Anda?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Maktab al Irsyad.
Mursyid : Lalu apa lagi?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Hai’ah Ta’sisiyah.
Mursyid : Lalu apa lagi?
Al Baquri : Saya mengundurkan diri dari Ikhwanul Muslimin.
Mursyid : itulah solusinya.
Kemudian Ustadz Hasan al Hudaibi mengunjunginya dikementrian waqaf dan mengucapkan selamat kepadanya.
Benarlah Abu Tamam ketika dia berkata: Pedang lebih pandai membawa berita daripada buku-buku Ketajamannya membedakan kesungguhan dan main-main.
1. Timbulnya Perselisihan dan Perpecahan Pada Jajaran Pimpinan
Inilah sebab pertama dan paling membahayakan. Potensi berselisih dan bahaya laten berpecah pasti ada pada setiap perkumpulan manusia. Sebab, mereka adalah kumpulan dari berbagai suku, latar belakang hidup, budaya, pemikiran, keinginan, bahkan motivasi, ditambah lagi emosi dan hawa nafsu. Tak ada satu pun yang selamat dari bahaya laten ini, dan sejarah umat ini telah berkali-kali melewatinya, begitu pula dalam perjalanan dan pasang surut gerakan Islam. Padahal mereka tahu, persaudaraan adalah saudara bagi keimanan, dan perpecahan adalah saudara bagi kekufuran.
Bahaya lebih besar, jika yang mengalami perpecahan adalah jajaran pimpinannya. Pasca wafatnya H.O.S Cokro Aminoto, SDI (Syarikat Dagang Islam) yang pada masa beliau dua kali ganti nama menjadi SI (Syarikat Islam) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) tak ada lagi tokoh bisa menyatukan PSII. Tak ada yang mampu meredam konflik, tak ada yang se-berwibawa H.O.S Cokro Aminoto, karena tak ada kaderisasi. Akhirnya, terpecahlah menjadi SI putih dan SI merah, yang belakangan menjadi bibit lahirnya PKI (Partai Komunis Indonesia ).
Sungguh, tidak sama dahsyatnya goncangan perpecahan tingkat elit, dibanding perpecahan tingkat akar umput. Maka, hendaknya kita menghilangkan rasa dengki, dendam, iri, hasad, cari muka dan menjilat, dan sifat buruk lainnya yang biasa menjadi penyakit yang menyerang sebagian pimpinan organisasi apapun.
Imam Hasan al Banna Rahimahullah berkata: Ukhuwah adalah saudara keimanan, dan perpecahan adalah saudara kekufuran; kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan, tak ada persatuan tanpa rasa cinta, dan sekecil-kecilnya cinta adalah lapang dada, dan yang paling tinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudara).
Barangsiapa yang menjaga serta memelihara dirinya daripada dipengaruhi oleh tabiat bakhilnya, maka merekalah orang-orang yang berjaya. (QS. Al Hasyr: 9)
Al Akh yang benar akan melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, karena ia jika tidak bersama mereka, tidak akan dapat bersama yang lain. Sementara mereka jika tidak bersama dirinya, akan bisa bersama orang lain. Dan sesungguhnya srigala hanya akan memangsa kambing yang sendirian. Seorang muslim dengan muslim lainnya laksana satu bangunan, saling menguatkan satu sama lain. Dan orang-orang beriman baik laki-laki dan perempuan, satu sama lain saling tolong menolong diantara mereka . Begitulah seharus kita. (Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah  ar Rasail , hal. 313. Al Maktabah At Taufiqiyah )
Bagaimana mungkin pemimpin mendapatkan rasa cinta dan ketaatan dari prajuritnya, jika sesama mereka sendiri tidak saling mencintai dan melanggar aturan jamaah. Ketiadaan rasa cinta dan taat dari jundiyah terhadap qiyadahnya, merupakan min asyratis sa’ah (di antara tanda-tanda kebinasaan) bagi gerakan tersebut Seharusnya kita mengingat: Aku mencintaimu, jangan kau tanya mengapa Aku mencintaimu, itu adalah iman dan agama.
2. Gerakan Pengacau Jamaah
Ini penyebab selanjutnya yang tidak kalah bahayanya. Gerakan ini bisa saja terlahir dari permasalahan kecil, yakni tidak terakomodasinya sebuah ide, pendapat, atau pemikiran. Sayangnya sang shahibul fikrah, tidak menerima kenyataan itu dan dia pun fanatik dengan pendapatnya. Dia merasa diremehkan dan tidak dihargai, lalu dia telan sendiri perasaan itu, tanpa melakukan komunikasi dengan ikhwah lain. Di tambah lagi, adanya kran komunikasi yang mampet diatasnya, Sehingga ia tidak memiliki saluran, maka meledaklah menjadi sebuah kekesalan dan pembangkangan, baik terselubung atau terang-terangan. Kemungkinan paling buruk adalah ia keluar dari jamaah dan menciptakan komunitas sendiri yang menjadi rival. Contoh seperti ini tidak sedikit.

Ketahuilah dan sadarilah, gerakan pengacau tidak selalu dalam bentuk oposan, bisa jadi justru wal ’iyadzubillah – mereka berada di dalam lingkaran jajaran para pimpinan dan pemegang ke bijakan. Ini lebih bahaya, sebab biasanya akan menjadi untouchable man dan kuat pengaruhnya terhadap arah angin kebijakan. Ada di antara mereka yang menggunakan kepintarannya untuk memanfatkan keluguan kawan-kawannya dan atasannya sendiri. Ditambah lagi, mereka benar-benar menikmati doktrin ”tha’ah wa tsiqah bil qiyadah” dari para kadernya, sementara al fahmu, al ikhlas, al amal, al jihad, al tadh-hiyah yang seharusnya didahulukan, tidak mendapatkan porsi yang adil. Sungguh tsiqah bil qiyadah adalah wajib, namun dengan ilmu, sebab Allah Ta’ala berfirman:
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra : 36)
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah. (QS Muhammad: 19)
Allah Ta’ala memerintahkan faham terlebih dahulu, fa’lam (maka ketahuilah), sebelum Dia memerintahkan keimanan kepadaNya, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah. Inilah yang menyebabkan Imamuna, Syahidul Islam Hasan al Banna Rahimahullah menjadikan al fahmu (pemahaman) sebagai rukun pertama dari arkanul bai’ah . Namun anehnya banyak di antara kita yang mendengarkan dengan setia, mengikuti mereka (pengacau jamaah), bahkan terkagum-kagum dengan permainan kata mereka. Lalu menganggap mereka di atas kita dalam hal al fahmu. Sungguh, kita seperti seorang anak SD yang memandang mahasiswa setinggi langit, padahal seorang Profesor akan memandang mahasiswa sebagai anak SD.
Kelompok ini mirip dengan apa yang Allah Ta’ala firmankan tentang gerakan pengacau dalam Perang Tabuk: ”Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. At Taubah: 47)
Mereka hakikatnya pengacau dan perusak barisan jamaah, tetapi di antara kita ada yang menjadi pendengar setia mereka, menjadi muqallidin dan muta’ashibin. Karena mereka ”pengacau” ini- adalah saudara, kawan, dan guru kita sendiri Allahul Musta’an Allah Ta’ala memberikan peringatan: ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.” (QS. An Nur: 11)
Dan janganlah Engkau mematuhi orang Yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di Dalam Al-Quran, serta ia menurut hawa nafsunya, dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran. (QS. Al Kahfi: 28)
Semoga Allah Ta’ala melindungi da’wah ini dari tiga golongan manusia, pertama, ifrath –nya kaum oposan internal (kader) yang mengkritik karena kebencian (skeptis) dan apriori, di dalam mengkritik, di luar membongkar aib jamaah. Persis pengamat sepak bola. Kedua, semoga Allah juga melindungi da’wah ini dari tipu daya para oportunis dan petualang politik yang tidak manhaji.. ketiga, semoga Allah Ta’ala juga menjaganya dari orang-orang yang diam dan apatis.
Berkata Ali ad Daqaq, Sakit anil haq, syaithanul akhras (Diam saja tidak menyampaikan kebenaran, adalah setan bisu. Sungguh jundiyah muthi’ah (prajurit yang taat) hanya akan lahir di tangan qiyadah muhklishah (pemimpin yang ikhlas).
3. Ambisi Pribadi Atau Kelompok Terselubung dan Kuat
Komitmen da’wahnya bukan karena Allah Ta’ala tetapi ar ri’asah wa syuhrah (Kedudukan dan ketenaran). Ia semangat da’wah karena itu. Manusia bisa saja, dikelabuhinya, kita tertipu dari segala sepak terjangnya selama ini.Tetapi Allah Ta’ala tidak pernah tertipu, cepat atau lambat ambisinya ini akan terbongkar di hadapan manusia, seiring dengan perilakunya yang semakin menjadi-jadi. ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)
Ada pula yang memiliki ambisi secara vulgar, ia lebih gentle , masih bisa di antisipasi dan di ’ilaj . Tetapi yang terselubung, mereka lebih sulit diraba sebab kita tidak tahu isi dada manusia. Da’wah ini tidak butuh manusia yang ambisinya dunia, baik terselubung atau terang-terangan.
Dari Abu Musa al Asy’ari Radhiallahu ’Anhu, dia berkata: Aku bersama anak pamanku mendatangi Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Salah seorang berkata: ”Wahai Rasulullah, angkatlah aku sebagai pemimpin atas sebagian tanggung jawab yang telah Allah berikan kepada Anda, dan yang lain juga minta demikian. Lalu Rasulullah bersabda: Demi Allah seseunguhnya kami tidak akan menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Hasan al Banna berkata, Begitulah yang pernah terjadi ketika sekelompok orang enggan berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam , kecuali jika mereka nanti mendapatkan kekuasaan dari beliau jika kelak Islam menang. Pada waktu itu Rasulullah hanya menyatakan bahwa bumi ini adalah milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hambaNya. Sesungguhnya kemenangan akhir selalu menjadi milik orang-orang bertaqwa. ( Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah ar Rasail , hal. 13. Risalah Da’watuna. Al Maktabah at Taufiqiyah )
Ya, selalu ada manusia di setiap masa, yang bergabung dengan barisan da’wah dengan tujuan dunia, karena ghanimah, popularitas, dan lainnya, tetapi jika tidak ada tawaran dunia, mereka akan mengundurkan diri dengan berbagai alasan yang dibuat-buat bahkan sampai bersumpah-sumpah. Mirip dengan yang Allah Ta’ala gambarkan dalam Al Quran : ”Kalau apa yang engkau serukan kepada mereka (Wahai Muhammad) sesuatu yang berfaedah yang mudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), niscaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat yang hendak dituju itu jauh dan berat bagi mereka. dan mereka akan bersumpah Dengan nama Allah Dengan berkata: “Kalau Kami sanggup, tentulah Kami akan perg bersama kamu”. (dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu).” (QS. At Taubah: 42)
4. Hilangnya Budaya Munashahah (Saling Menasihati)
Orang yang matang kepribadiannya tidak bergembira karena pujian Dan tidak goncang karena nasihat-nasihat. Nasihat adalah obat, umumnya obat adalah pahit. Tak ada manusia yang menyukainya, namun ia berfungsi menyembuhkan penyakit, jika tepat sasaran dan takarannya. Pujian adalah manis bagaikan sirup. Manusia sangat menyukai yang manis-manis, tetapi beragam penyakit dikemudian hari tengah menanti: sariawan, kencing manis, dan lain-lain, jika berlebihan mengkonsumsinya. Maka, jadilah pertengahan. Pilihlah yang pertengahan, pilihlah yang pertengahan, kalian akan berhasil dalam menyampaikan. (HR. Bukhari no. 6316)
Nasihat yang baik yang dilakukan dengan cara baik, akan mampu menyadarkan yang bingung, mengingatkan yang lupa, dan membangunkan yang tertidur. Tetapi, terlalu banyak nasihat, ia akan menyangka dirinya ”tertuduh”, sesak nafas, dan sempit hati. Walau ia menyadari bahwa nasihat ada karena perilakunya sendiri. (celakanya, jika ada yang tidak merasa bersalah). Akhirnya, ia melakukan pembelaan dan serangan balik, bahkan sangat sengit. Baginya nasihat adalah serangan, hinaan, dan pembunuhan karakter. Apalagi, ia manusia bertipe banyak bicara. Oleh karena itu, perlu kiranya nasihat diberikan sesuai kebutuhan, kadar, dan cara yang bijak dan hujjah yang mendalam. Selain juga memperhatikan posisinya dalam sebuah komunitas. Jika ini tidak diperhatikan, maka ia menjadi bukan apa-apa.
Tidaklah engkau perhatikan pedang akan turun derajatnya Jika dikatakan ia berasal dari kayu. Pujian yang pas, yang layak kepada penerimanya, akan mampu memotivasi untuk beramal, memompa semangat untuk bekerja, dan itu merupakan balasan kebaikan yang Allah Ta’ala segerakan untuknya didunia. Tetapi kebanyakan pujian, akan membuatnya terlena, terpedaya, dan sombong, seakan tak ada cela dalam dirinya, sebab hanya pujian dan sanjungan yang selalu ia dapatkan. Selain itu, ia menjadi pribadi yang tidak siap dikritik (nasihat), dan tidak sensitif terhadap kesalahan yang dibuatnya.
Bukan karena ia tidak punya salah, melainkan tak ada manusia berani ”menyentuh” wilayah kesalahannya, di tambah lagi ia adalah tokoh dan punya banyak pendukung fanatiknya. Rasulullah pernah mendengar seseorang memuji langsung di depan orang yang dipuji tersebut. Maka beliau bersabda, ”Celakalah engkau, karena engkau sama dengan menebas pundak sahabatmu. (HR. Bukhari no. 2610, 5922. Muslim no. 7450, 7451)
Wal hasil, manusia membutuhkan nasihat dan pujian. Keduanya mampu mematangkan dan mendewasakan perilaku. Manusia tidak selamanya sehat, sehingga ia butuh obat. Manusia juga tidak selamanya sakit, sehingga ia layak menikmati yang enak-enak. Maka, jika datang nasihat untuk kita, pandanglah itu sebagai obat, walaupun pahit, mungkin dia mengetahui penyakit dalam diri kita, yang kita tidak ketahui. Jangan tergesa-gesa kita menganggapnya musuh, atau anggapan dia sudah berubah, tidak lagi bersama jamaah, belum paham kejamaahan, tidak tsiqah dan taat dengan qiyadah, dan istilah lainnya yang menunjukkan ketidakmampuan kita sendiri dalam menunjukkan kebenaran. Memang, ini agak sulit untuk menerimanya, apalagi bagi kita yang terbiasa mendapat pujian. Jika datang pujian, maka katakanlah hadza min fadhlli rabbi (ini adalah karunia dari Tuhanku), lalu berdoalah, Allahummaj ’alni khairan mimma ya’lamun, wa ’afini mimma la ya’lamun. (Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa-apa yang mereka ketahui, dan maafkanlah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui tentang diriku).
Kau mengharapkan pendidik yang tidak memiliki cela sedikit pun Padahal tidak ada bakhur (bakaran) yang semerbak wanginya, melainkan ia juga berasap Kita tidak pungkiri, bahwa manusia umumnya tidak menyukai nasihat, namun menyukai sanjungan. Barang kali itu sudah dari ”sononya” Namun, yang pasti, bagi yang berpikir positif, nasihat dari siapapun kepada kita adalah baik. Jangan mengira ”musuh” bagi orang yang menasihati kita. Justru saudara yang baik adalah yang mau meluruskan kita, manakala salah.
Bisa jadi, musuh tersembunyi kita adalah orang yang menjerumuskan kita dengan segala macam pujiannya, sehingga membuat kita lupa. Sampai-sampai, kesalahan kita yang fatal pun, tetap dipujinya, minimal dia mendiamkannya. Janganlah kita seperti pepatah Arab jahiliyah, ” Bela-lah saudaramu, yang benar atau yang salah.” Lalu, oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dirubah menjadi ”Tolonglah saudaramu, baik yang menzalimi atau yang dizalimi. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzariyat (51): 55)
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (QS.AlGhasyiah(88):21-22)
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad Dary Radhiallahu ’Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: ’Agama adalah nasihat’, Kami berkata: Untuk Siapa ya Rasulullah? Beliau bersabda: ”Untuk Allah, untuk KitabNya, untuk RasulNya, untuk para imam kaum muslimin, dan orang-orang umum dari mereka.” (HR. Muslim. Lihat Imam an Nawawi, Riyadhus Shalihin , Bab Fi An Nashihah , hal. 72, hadits no. 181. Maktabatul Iman, Manshurah, Tanpa tahun. Lihat Juga Arbain an Nawawiyah , hadits no. 7, Lihat juga Imam Ibnu Hajar al Asqalany, Bulughul Maram, Bab At targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287, hadits. No. 1339. Darul Kutub al Islamiyah.1425H/2004M)
Semoga Allah Ta’ala merahmati Sayyidina Umar Radhiallahu ‘Anhu ketika ia berkata, Semoga Allah merahmati orang yang mau menunjuki aibku kepadaku. Imam Abu Hanifah pernah menegur seorang anak kecil yang sedang bermain-main di jalan yang tergenang air, “Wahai ghulam, hati-hati terjatuh, nanti pakaianmu kotor,” Anak kecil itu balas menegur Imam Abu Hanifah, “Wahai Imam, Anda juga hati-hati, jangan sampai terjatuh. Sebab jatuhnya seorang ulama, maka jatuhlah langit dunia.” Mendengar itu Imam Abu Hanifah jatuh pingsan.
Budaya saling menasihati ( munashahah ) pada masa sahabat dan para Imam, begitu hidup. Satu sama lain bisa saling menjaga jika ada yang lalai, dan saling mengingatkan jika ada yang lupa. Sehingga kehidupan berjamaah mereka sangat dinamis dan hidup. Tak ada satu pun yang tidak butuh nasihat. Bagi mereka, munashahah merupakan sarana kontrol yang efektif setelah muraqabatullah. Namun ketika budaya ini telah hilang, nasihat dianggap ancaman, tidak tsiqah, tidak taat, dan bentuk kecurigaan lainnya, maka hilanglah rahmat pada komunitas tersebut.
Budaya munashahah menjadi hilang lantaran dua jenis manusia, yakni manusia keras kepala yang selalu merasa benar, dan manusia apatis yang tidak peduli terhadap saudaranya (sikap elu-elu, gue-gue). Jenis manusia pertama ibarat cermin yang ditimpa air, tak ada bekas sama sekali nasihat yang ia peroleh. Bahkan, ia telah memiliki jawaban jika ada orang yang hendak menasihatinya. Baginya nasihat adalah ancaman dan celaan. Sedangkan jenis manusia kedua, ibarat patung yang sama sekali tidak merasa terganggu dengan keadaan dan kerusakan sekitarnya, betapa pun besarbahaya yang mengancam dirinya. Ia tetap diam! Nah, ketika nasihat tidak hidup, maka kezaliman, penyelewengan, pelanggaran, maksiat, akan bebas bergerak dan terus melaju tanpa ada yang membendungnya. Halal haram tidak dipedulikan. Bahkan bisa menjadi budaya baru yang kelak dianggap benar, karena tak ada satu pun yang berani menyentuhnya, apalagi menegurnya. Ketika ini sudah terjadi dalam sebuah pergerakan Islam, gerakan apa pun, maka hakikatnya ia telah mati, ia telah mati sebelum ajal biologisnya tiba.
Sebab, akal sebagai sarana berfikir dan nurani sebagai sumber al furqan tidak lagi mereka miliki, atau minimal -tidak digunakan. Akhirnya, komunitas tersebut tetap ada nama dan anggotanya, tetapi tidak ada pengaruh baiknya, tidak ada dampak keshalihan bagi pengikutnya “apalagi masyarakatnya?. Sebab, ia memiliki masalah besar lantaran perilakunya sendiri, kekalutan internal yang tidak mampu diredam. Hingga, perlahan namun pasti, masyarakat mencibir dan melupakan eksistensi mereka. Lalu menghapus mereka dari ingatan dan perjalanan sejarah kehidupan bangsa mereka mungkin masih ada, tetapi dalam buku kisah kaum-kaum terdahulu yang telah Allah Ta’ala lenyapkan, semoga menjadi renungan bersama.
Ya Allah Ya Rabb lindungilah kami sebagaimana Engkau telah lindungi para pejuang sebelum ini jadikanlah perkumpulan ini perkumpulan yang Kau rahmati dan Kau berkahi Tiada Daya dan Kekuatan melainkan dariMu, cukuplah Kau tempat kami bertawakkal dan meminta pertolongan dari segala ancaman yang nampak atau tersembunyi, Engkaulah sebaik-baiknya pemimpin dan penolong, dan tempat mengadu, ketika tidak tersisa lagi tempat mengadu ..Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah dan para sahabatnya, wa akhiru da’wana ’anil hamdulillahi rabbil ’alamin.
Wallahu ’Alam wa Lilahil ’Izzah
Read More - AKHIR PERJALANAN PERGERAKAN DAKWAH

Minggu, 22 Januari 2012

Dakwah Ilallah, Jalan Cinta Kita

Diposting oleh Yusuf shadiq
“Kelak, pada gilirannya nanti, kita juga akan dipanggil menghadap-Nya. Dan Dia Yang Maha Kuasa akan menanyakan nikmat yang telah diberikan-Nya, untuk apa kita gunakan? Adakah untuk jalan cinta di jalan-Nya? Setelah ini, jangan lagi ada gersang di jalan cinta kita.”
Itulah yang dilakukan Abu Dzar, keimannya yang tulus kepada Allah dan Rasulullah telah membuatnya berani mengumumkan keislamannya. Dan keroyokan kaum musyrikin Quraisy pun tidak membuatnya takut. Esoknya, ia ulangi lagi hal itu, dan dikeroyok lagi.
Umar bin Khattab adalah sosok yang garang. Preman diatas preman. Tapi ketika hidayah menghampirinya, ia pun lansung beriman dan bergabung di jalan cintanya para pejuang Islam. Dan apa yang terjadi setelah itu? Kita dapat melihat perubahan dratis dalam diri Umar yang keras menjadi sosok yang tegas, lembut, penuh tanggung jawab.
Begitu juga Bilal dengan satu kata cintanya “ahad”. Dan Ummu Sulaim yang menjadikan Islam sebagai maharnya. Begitu indah apa yang mereka lakukan. Seindahnya cinta
Beriman kepada Allah swt adalah jalan cinta..
Ketika kita mampu berbuat baik kepada orang tua, berkata lembut kepadanya, santun dalam berpilaku, tidak pernah berkata “ah”, bahkan mengumpat, maka itu adalah jalan cinta.
Ketika kita dengan kakak-kakak kita, adik-adik kita, sanak family beserta tetangga saling akur, dan keakuran itu tercipta karena sikap kita yang baik, maka itulah jalan cinta.
Berusaha menjalin persahabatan dengan baik. Menjadi teladan bagi banyak orang dalam sikap dan perilaku maka itu juga jalan cinta
Berpayah-payah dan tertatih-tatih di jalan dakwah,  juga merupakan jalan cinta yang agung
Namun itu semua akan benar-benar berharga ketika kita menapaki jalan cinta itu karena-Nya. Karena perintah-Nya, karena takut kepada-Nya, karena mengharap ridho-Nya. Maka orang yang paling baik di atas jalan cinta adalah mereka yang menjalankannya karena Allah, bukan karena orang lain atau mengharap imbalan.
“Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semessta alam” (Al-An’am:162)
Ada yang mengeluhkan kepada saya mengenai kegersangan ruhiyah  dan ukhuwah para aktivis dakwah. Ia merasa tidak merasakan jalan cinta seperti yang dirintis oleh Rasulullah. Aktivis dakwah hari ini terkesan egois dan mementingkan diri sendiri. Itu terlihat dengan kurangnya saling kepedulian antar sesama aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah pernah meminum air kran karena tidak kebagian air minum dari saudaranya. Sangat miris ukhuwah kita, memang.
Masih ada banyak lagi cerita miris para pejuang jalan cinta yang saya dapatkan. Aneh sekali jika kita yang berjuang di jalan cinta tidak berjalan selayaknya seorang pecinta. Ya wajar-wajar saja ada cerita demikian.
Jalan cinta kali ini bukan berarti tidak ada indahnya, bukan berarti tidak ada yang menjalankannya dengan cinta. Begitu banyak kisah indah itu, seperti kisah indahnya almarhumah Ibunda Yoyoh Yusroh, yang seluruh dunia mengucapkan tazkiyah kepadanya.
Realita miris yang terjadi seperti di atas adalah bagian fenomena jalan cinta. Tentu untuk menjadi para pecinta sejati di jalan cinta-Nya, Allah memberikan ujian, sebagai bukti dan seleksi, sebenarnya kita berada di jalan cinta ini karena siapa? Karena Allah-kah? Atau masih karena orang lain yang senantiasa mengajak kita? Namun, bagaimana pun, itu semua tidak boleh lagi terjadi. Masing-masing kita haruslah mempunyai kemauan yang tinggi dalam memperbaiki diri. Insya Allah perjalanan panjang jalan cinta ini akan mengajarkan kita dan mentarbiyah kita dengan sebenar-benarnya tarbiyah.
Lalu yang terpenting adalah kita memahami jalan cinta ilallah adalah jalan keindahan, seperti indahnya cinta
Kenikmatan, seperti kenikmatan cinta.
Kesejukan, seperti kesejukkan udara yang menyejukkan
Dan paradigma kita mengenai jalan cinta haruslah seperti itu, tidak boleh bertukar.
Jika kita memahami bahwa jalan cinta adalah keindahan, kenikmatan dan kesejukkan maka saya yakin semua kita akan meletakkan itu semua di dalam diri kita terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada semua orang.
Para pejuang cinta haruslah mampu membuat banyak orang merasakan keindahan Islam melalui dirinya. Merasakan kenikmatan berjuang bersama dengannya. Dan selalu memberikan kesejukkan ke dalam hati banyak orang dikala angin gersang nan panas menimpa mereka. Itulah yang dilakukan Rasulullah saw di jalan dakwahnya kala itu, membuat semua para sahabat merasa paling dicintai dan para musuh pun menaruh hormat dan segan kepadanya.
Maka jalan cinta kita adalah keindahan, kenikmatan, dan kesejukan. Dan itu semua lahir dari kedekatan kepada Allah, pemahaman yang benar terhadap Islam dan akhlakul karimah yang sangat luar biasa.
Terapkanlah itu semua wahai saudaraku di dalam dirimu. Agar banyak manusia merasakan keindahan, kenimatan, dan kesejukan di jalan cinta kita. Setelah ini, jangan lagi ada gersang di jalan cinta kita disebabkan oleh ulah tangan-tangan kita sendiri.

“Ya Allah, jadikan di dalam hatiku cahaya, pada pandanganku cahaya, pada pendengaranku cahaya, dan dari sisi kananku cahaya, dari sisi kiriku cahaya, dari atasku cahaya, dari bawahku cahaya, dari depanku cahaya, dari belakangku cayaha, dan agungkanlah untukku cahaya.” (Do’a Rasulullah saw. di saat Qiyamul lail, dari Ibnu Abbas ra.)
Read More - Dakwah Ilallah, Jalan Cinta Kita

Sabtu, 21 Januari 2012

Di Jalan Dakwah Aku Menikah

Diposting oleh Yusuf shadiq
Di Jalan Dakwah Aku Menikah
Menikah adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. Peristiwa fitrah, sebab pernikahan adalah salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan. Fitrah setiap manusia adalah punya kecenderungan terhadap lawan jenis, dan Allah Ta’ala telah menciptakan rasa keindahan tersebut dalam hati setiap laki-laki dan perempuan.
Persitiwa fiqhiyah, artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas. Islam adalah satu-satunya agama di dunia ini yang memiliki aturan-aturan yang detail tentang keluarga, sejak dari proses pembentukannya, huingga setelah terbentuknya keluarga sampai jalan keluar dari permasalahan. Bukan hanya pernikahannya yang diatur, akan tetapi perceraian juga mendapatkan aturan yang rinci dan jelas.
Persitiwa dakwah, artinya dengan pernikahan telah membuat pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat.  Sejak dari proses pemilihan jodoh, sampai kepada akad nikah, walimah dan akhirnya kehidupan keseharian dalam keluarga. Aplikasi nilai-nilai Islam dalam prosesi pernikahan ini telah memberikan sentuhan dakwah secara langsung kepada masyarakat.
Pernikahan adalah peristiwa tarbiyah, bahwa dengan melaksanakan pernikahan akan menguatkan sisi-sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang bertemu di pelaminan tersebut.  Proses tarbiyah Islamiyah (permbinaan Islami) pada kedua mempelai akan lenbih bisa ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya setelah menikah.
Nikah juga peristiwa sosial, artinya dengan pernikahan terhubungkanlah dua keluarga besar dari pihak laki-laki dan perempuan. Semula mereka adalah pihak yang asing, belum saling mengenal, bahkan mungkin terpisahkan oleh jarak yang jauh. Dengan pernikahan tersebut, bukan saja bermakna mempertemukan dua orang –lelaki dan perempuan– dalam pelaminan, akan tetapi telah mempertemukan dua keluarga besar dalam ikatan persaudaraan dan kekeluargaan.
Nikah juga peristiwa budaya, artinya dengan pernikahan terbaurkanlah dua latar budaya yang tak mesti sama dari kedua belah pihak. Pernikahan telah mempertemukan dua kebudayaan yang tidak mesti sama. Dua tradisi dan dua adat yang berbeda. Dengan pernikahan terbentuklah sebuah peradaban!
Dengan demikian proses pernikahan berarti mempertemukan banyak kepentingan, dan bukan mempertentangkan kepentingan-kepentingan tersebut.  Jika menggunakan pendekatan mempertentangkan kepentingan, akan semakin banyak kepentingan yang tidak terdapatkan, sebaliknya jika mencoba mempertemukan kepentingan semaksimal mungkin kepentingan bisa terakomodir.
Menikah di Jalan Dakwah
Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. Selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya sendiri?
Mari saya beri contoh berikut. Di antara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.
Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda ?
Ternyata anda memilih si A, karena ia memenuhi kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, pandai dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda ini salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah ! Anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama; dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah saw bertanya kepada Jabir ra :
“Mengapa tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?”  (HR Bukhari dan Muslim).
Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra, “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut”, kata Jabir. “Benar katamu,” jawab Nabi saw.
Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan apabila menikahi gadis perawan.
Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya di atas 25 tahun, atau di atas 30 tahun, atau bahkan di atas 35 tahun?
Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? Mereka, wanita tadi, adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka?
Ah, mengapa pertanyaannya “harus”? Dan mengapa pertanyaan ini dibebankan hanya kepada seseorang? Kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas itu. Jodoh di tangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian?
Kendatipun Nabi saw menganjurkan Jabir agar menikah dengan gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah saw adalah janda! Kendatipun Nabi saw menyarankan agar Jabir beristeri gadis, pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda!
Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.
Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari, saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurrahman bin Auf, “Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang di antara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nilkahi. Kalau iddahnya sudah selesai, maka nikahilah dia” (HR Bukhari).
Ia tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki isteri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran itu, dan ia sebagai orang baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar.
Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? Ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh ?
Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkah anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan melihat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah dikarenakan desakan usia ? Jika anda adalah seorang wanita muda usia, dan ditanya –dalam konteks pernikahan– oleh seorang laki-laki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “Saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B, sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.
Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena  bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah soal takdir yang tak berada di tangan kita. Masyaallah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut :
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (HR Bukhari dan Muslim).
Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-iris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.
Di sinilah perlunya kita berpikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim.
Bagaimana Menentukan Calon?
Menentukan pilihan pasangan hidup bukan peristiwa yang dampaknya hanya sesaat, melainkan memiliki dampak luas dan panjang sampai seumur-umur hidup, bahkan sampai urusan akhirat kita. Oleh karena itu amat disayangkan apabila memilih calon suami atau isteri hanya semata-mata berlandaskan selera dan kesenangan pribadi, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lain yang lebih luas kemanfaatan dan jangkauannya. Bisa jadi ada pertimbangan tertentu yang anda tidak mengetahui sebelumnya, dan baru diketahui setelah anda bermusyawarah dengan orang-orang shalih di sekitar anda.
Bisa jadi semula wawasan pemikiran anda tidak terlalu luas dalam memilih calon pasangan hidup, maka dengan melakukan musyawarah dengan orang-orang yang amanah dan bisa dipercaya, anda akan mendapatkan keluasan pemikiran dan pandangan. Bahkan mungkin anda merasa diri telah menemukan pilihan yang paling tepat menurut ukuran anda, akan tetapi ternyata setelah anda musyawarahkan ternyata ada hal-hal yang menjadi catatan dan ketidaktepatan pilihan.
Menentukan pilihan suami atau isteri harus dilakukan dengan sepenuh kesadaran dan penerimaan utuh, tanpa keterpaksaan. Sebab pernikahan harus diniatkan untuk selamanya, tak boleh untuk jangka waktu sementara, dengan niatan menceraikan kalau ternyata dianggap tidak cocok. Menerima calon suami atau calon isteri dengan sepenuh hati adalah hak penuh masing-masing pihak. Tak ada seorangpun yang berhak memaksakan terjadinya pernikahan pada diri seseorang. Laki-laki dan perempuan berada dalam posisi merdeka pada konteks penentuan jodoh.
Syariat Islam Berorientasi Pada Kemudahan
Jika ditinjau dari seluruh sisinya, syari’at Islam berprinsip menghilangkan kesulitan dengan mengambil kemudahan dalam setiap pilihan. Allah Ta’ala telah berfirman:
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kamu” (Al Baqarah: 185).
Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (Al Haj: 78).
Nabi saw memberikan ketetapan yang amat kuat dalam melihat kebaikan agama, sebagaimana tercermin dalam sabda beliau :
“Sebaik-baik (urusan) agamamu ialah yang termudah(HR Thabrani).
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tiada seseorang yang mencoba mempersukar dalam agama, melainkan ia akan kalah. Oleh karena itu tepatlah, dekat-dekatlah dan bukalah harapan, pergunakanlah waktu pagi dan sore dan sedikit di waktu malam” (HR Bukhari).
Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw telah bersabda dengan mengulang hingga tiga kali kalimat ini:
“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam agama” HR Muslim).
Sangat terasa orientasi Islam yang menghendaki kemudahan dalam berbagai urusan. Bahkan tatkala beliau saw dihadapkan pada pilihan-pilihan, maka amat tegas apa yang beliau tunjukkan kepada kita lewat perkataan A’isyah ra berikut:
“Tidaklah Rasulullah saw dihadapkan pada pilihan antara dua hal, kecuali beliau mengambil yang lebih mudah, asalkan bukan dosa” (HR Bukhari dan Muslim).
Kita coba melihat betapa Islam menghendaki kemudahan dalam proses pernikahan. Proses pemilihan jodoh dibuat sedemikian rupa oleh Islam sehingga memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk melakukannya. Mereka boleh memilih sendiri calon pasangan hidupnya, atau dicarikan orang tua, kerabat, dan orang-orang shalih, atau dicarikan oleh pemimpin. Wanita boleh memilih laki-laki untuk menjadi calon suami, demikian pula laki-laki boleh memilih perempuan untuk menjadi calon isterinya.
Dalam peminangan, boleh dilakukan sendiri oleh pihak laki-laki, boleh pula mewakilkan kepada orang yang dipercaya. Wanita juga boleh meminang laki-laki untuk dirinya sendiri, atau untuk wanita lainnya. Untuk janda bahkan boleh dilakukan hanya dengan sindiran, dan boleh dipinang langsung kepada diri si janda.
Dalam urusan mahar, Islam tidak mempersulitnya. Bagi yang memiliki harta banyak, ia boleh memberikan mahar sesuai kesanggupannya, akan tetapi Islam menghendaki kemudahan di dalam pemberian mahar:
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah” (HR Al Hakim).
Dalam melaksanakan akad nikah, tidak dituntut hal-hal yang merepotkan. Tidak dituntut kemewahan atau keramaian tertentu. Keberadaan wali dari pihak perempuan dan dua orang saksi telah memenuhi persyaratan dilaksanakannya pernikahan:
“Tidak ada nikah kecuali dengan (dihadiri) wali dan dua orang saksi yang adil” (HR Baihaqi).
Dalam melaksanakan walimah, tidak mesti dengan upacara dan resepsi yang besar dan mewah. Seandainya hanya memiliki seekor kambing, cukuplah itu untuk melaksanakan walimah:
“Adakanlah walimah, meskipun hanya dengan (menyembelih) seekor kambing” (HR Bukhari dan Muslim).
Bahkan seandainya tidak memiliki seekor kambing, walimah tetap diadakan dengan hidangan apapun yang dimiliki, seperti ketika Nabi saw melaksanakan walimah dalam pernikahan beliau dengan Shafiyah. Oleh karena itulah dalam masalah pernikahan ini, A’isyah menjelaskan:
“Sesungguhnya di antara keberkahan wanita ialah kemudahan peminangannya dan kemudahan maharnya” (riwayat Ahmad).
Uqbah bin Amir ra menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah” (HR Abu Dawud).
Dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Islam ini, diharapkan setiap orang bisa melaksanakan syari’at dalam pernikahan tanpa ada kesulitan. Tidaklah Islam datang membawa misi untuk memberatkan manusia, atau membuat kesulitan-kesulitan. Yang diinginkan hanyalah perbaikan di seluruh sisi kehidupan, yang dengan aturan ini kebaikan hidup akan terjaga.
Orang tua tidak boleh mempersulit anak laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakan pernikahan Islami. Negara tidak diperkenankan membuat aturan yang menyulitkan terjadinya pernikahan. Organisasi atau jama’ah tidak diberi hak untuk membuat aturan-aturan yang merepotkan dan menyulitkan para anggota dalam melaksanakan pernikahan syar’i.  Yang harus mereka lakukan adalah memberikan vasilitas kemudahan dalam mengururs pernikahan.
Hal inilah yang sesuai dengan ketentuan syari’at Islam. Mempersulit urusan, termasuk pernikahan, bukanlah watak dasar syari’at Islam. Wallahu a’lam.
Read More - Di Jalan Dakwah Aku Menikah