INDAHNYA ISLAM

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).


Jumat, 21 Oktober 2011

Definisi Dakwah Bilhal

Diposting oleh Yusuf shadiq


dakwah dengan contoh perbuatan yang nyata
‘Dakwah Bilhal’. Dakwah inilah yang sangat sukar kita laksanakan, sedangkan dalam sirah Rasulullah dakwah inilah yang begitu banyak menundukkan musuh hingga mereka jatuh cinta kepada Islam. Cubalah kita hayati dan contohi.

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,
“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia orang gila, dia pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan
makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sehinggalah beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan
makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abu bakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain merupakan isteri Rasulullah SAW lalu beliau bertanya kepada anaknya itu:
“Anakku, apakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab,”Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan
hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
“Apakah Itu?” tanya Abu bakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan
makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abu bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu bakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikannya makanan itu kepadanya.
Ketika Abu bakar RA mulai menyuapinya, si pengemis Yahudi pun marah sambil mengherdik, “Siapakah kamu?”
Abu Bakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).”
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si
pengemis buta itu.
“Apabila lelaki itu datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, malah terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,
setelah itu ia berikan padaku.” Pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang daripada sahabatnya. Sesungguhnya Nabi yang mulia itu telah tiada, iaitu Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar
RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku sedikitpun,
dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia begitu mulia.
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadah di hadapan Abu Bakar RA. Saat itu juga dan sejak hari itu si Yahudi menjadi seorang Muslim.
Read More - Definisi Dakwah Bilhal

=ukhuwah daLam al-Quran=

Diposting oleh Yusuf shadiq



UKHUWAH DALAM AL-QURAN

Dalam Al-Quran, kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal
ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti.

1. Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat
yang berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini
orang-orang tertentu, misalnya,

Diharamkan kepada kamu (mengawini) ibu-ibumu,
anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu,
saudara-saudara perempuan bapakmu, saudara-saudara
perempuan ibumu, (dan) anak-anak perempuan dari
saudara-saudaramu yang laki-laki ... (QS Al-Nisa [4]:
23)

2. Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, seperti bunyi
doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan Al-Quran,

Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari
keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku (QS Thaha [20]:
29-30).

3. Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama seperti
dalam firman-Nya,

Dan kepada suku 'Ad, (kami utus) saudara mereka Hud
(QS Al-A'raf [7]: 65).

Seperti telah diketahui kaum 'Ad membangkang terhadap ajaran
yang dibawa oleh Nabi Hud, sehingga Allah memusnahkan mereka
(baca antara lain QS Al-Haqqah [69]: 6-7).


4. Saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham.

Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing
betina, dan aku mempunyai seekor saja, maka dia
berkata kepadaku, "Serahkan kambingmu itu kepadaku";
dan dia mengalahkan aku di dalam perdebatan (QS Shad
[38]: 23).

Dalam sebuah hadis, Nabi Saw. bersabda.

Belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya, maupun
teraniaya.

Ketika beliau ditanya seseorang, bagaimana cara membantu orang
yang menganiaya, beliau menjawab,

Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya. Yang
demikian itulah pembelaan baginya. (HR Bukhari melalui
Anas bin Malik)

5. Persaudaraan seagama.

Ini ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat
10

Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.

Di atas telah dikemukakan bahwa dari segi bahasa, kata ukhuwah
dapat mencakup berbagai persamaan. Dari sini 1ahir lagi dua
macam persaudaraan, yang walaupun secara tegas tidak disebut
oleh Al-Quran sebagai "persaudaraan", namun substansinya
adalah persaudaraan. Kedua hal tersebut adalah:

1. Saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniah).

Al-Quran menyatakan bahwa semua manusia diciptakan oleh Allah
dari seorang lelaki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa) (QS
Al-Hujurat [49]: 13). Ini berarti bahwa semua manusia adalah
seketurunan dan dengan demikian bersaudara.

2. Saudara semakhluk dan seketundukan kepada Allah.

Di atas telah dijelaskan bahwa dari segi bahasa kata akh
(saudara) digunakan pada berbagai bentuk persamaan. Dari sini
1ahir persaudaraan kesemakhlukan. Al-Quran secara tegas
menyatakan bahwa:

Dan tidaklah (jenis binatang yang ada di bumi dan
burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya)
kecuali umat-umat juga seperti kamu (QS Al-An'am [6):

badati
Read More - =ukhuwah daLam al-Quran=

Kamis, 20 Oktober 2011

Benci menjadi cinta

Diposting oleh Yusuf shadiq
Berteman dengan siapapun adalah sesuatu yang menggembirakan. Banyak mutiara hikmah yang berserakan dimanapun justru yang muncul dari orang-orang yang sederhana. Salah satunya penjual sate ayam. Awalnya mengenalnya dibulan suci ramadhan beberapa tahun yang lalu. Orang Madura ini baik dan ramah. Itulah yang membuat dagangan satenya menjadi ramai.
Pada suatu hari dia bertutur bahwa pada saat bulan tertentu seperti bulan ramadhan dirinya bisa kewalahan melayani pembeli. Sampai dia mengajak sanak saudaranya ikut membantunya berjualan, termasuk bapaknya sendiri. Katanya, pada satu sore para sudah banyak pembeli yang mengantri. Bapak dan saudara-saudara sibuk melayani sementara dirinya pulang untuk mengambil lontong dan sate ayam dirumah.

Sekembali ke warung dan pembeli sudah mulai berkurang. Adzan maghrib berkumandang. Sang bapak menghampiri dirinya dan mengatakan kalau kotak uang penjualan hari ini telah hilang diambil orang. Sebagai gantinya bapaknya bersedia bekerja selama ramadhan tidak usah digaji.
Hari telah berlalu, seminggu kemudian. Abis jelang adzan maghrib ada seorang pemuda pesan sate ayam beserta lontong. Bapaknya langsung melayaninya. Orang itu dilayani dengan istimewa, membuat anaknya menjadi heran, kenapa bapak memperlakukan dia sangat istimewa. Mulai dari membakarkan sate, menyiapkan lontongnya, teh hangatnya dengan sangat ramahnya.
“Bapak, siapakah dia? Kenapa bapak melayani dengan sangat istimewa?’
Apa dia pejabat kelurahan?” Katanya penuh keheranan.
“Bukan. Dia adalah yang mengambil kotak uangmu tempo hari.” Jawab bapaknya.
‘Mendengar jawaban bapak seperti itu rasanya darah saya mendidih. Pengen rasanya saya luapkan amarah saya pada orang itu.’ tutur Sang Penjual sate.
‘Tapi bapak saya mencegahnya dengan mengatakan. ‘Jangan kamu luapkan amarahmu. Dia adalah guru sejatimu sebab dari dialah, dirimu bisa belajar mengubah bencimu menjadi Cinta.’ lanjutnyanya, matanya nampak berkaca-kaca, bebarapa kali tangannya mengusap air mata yang yang jatuh dipipinya untuk memahami makna hidup yang diajarkan oleh ayahnya tentang mengubah benci menjadi cinta. Subhanallah..
—
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui’ QS. Al Baqarah : 216

Fadilah
Read More - Benci menjadi cinta

Rabu, 19 Oktober 2011

Lafadz - Lafadz Yang Ringan Di Lidah

Diposting oleh Yusuf shadiq
Dalam sehari, banyak kata yang keluar dari lisan kita. Tetapi berapa banyak kata walau sepatah dua patah kata yang menambah bekal pahala di akhirat kelak? Ya hanya sepatah dua patah kata yang ringan di ucapkan, mudah di hafalkan dan jelas menambah keimanan kita. Bukankah iman itu bertambah dan berkurang? Semoga kita tidak lupa untuk mengamalkan sunnah ini dan bersemangat untuk menghafalkan dan mengamalkan do’a dan dzikir lainnya ( yang membutuhkan waktu untuk menghafalkan dan mengamalkannya ) yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Bismillah

Untuk lafadz yang satu ini, mungkin kita sendiri lupa entah kapan mulai mempelajarinya. Ternyata banyak saat - saat yang kita disunnahkan untuk mengluarkan lafadz ini. Yang pertama adalah saat hendak mulai makan. Hei…mungkin langsung ada yang bertanya-tanya, bukankah saat hendak makan doa yang dibaca “Allahumma bariklana…?”

Jawabnya, " Bukan sahabatku." Bahkan do’a tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena hanya disebutkan dalam hadits yang lemah riwayat dari Ibnu Sunni. Cukup dengan bismillah. Maka setan tidak akan dapat ikut makan bersama kita.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, " Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

" Apabila seseorang masuk rumahnya dia menyebut Allah Ta’ala pada waktu masuknya dan pada waktu makannya, maka setan berkata kepada teman-temannya, ‘Kalian tidak punya tempat bermalam dan tidak punya makan malam.’ Apabila ia masuk tidak menyebut nama Allah pada waktu masuknya itu, maka setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’, dan apabila ia tidak menyebut nama Allah pada waktu makan, maka setan berkata, " Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam." (HR. Muslim)

Adapun jika kita terlupa membaca ‘bismillah’ di awal waktu kita makan, maka kita cukup membaca ‘bismillah awwalahu wa aakhirohu’ di saat kita ingat.

Dari Aisyah radhiallahu anhuma, ia berkata, " Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, Apabila salah seorang kamu makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala ( bismillah ). Jika ia lupa menyebut nama Allah di awal makannya, maka hendaklah ia mengucapkan :

بِسْمِ اللهِ أوَّلَهُ وَ اخِرَهُ
( Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan pada akhirnya ). ( HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata, Hadits hasan shahih )

Kita juga disunnahkan membaca bismillah ketika kendaraan yang kita kendarai mogok. ( HR. Abu Daud, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud III/941 ).

Subhanallah

Alhamdulillah, dzikir yang satu ini pun sudah kita hafal sejak lama. Dzikir ini dapat kita amalkan setelah sholat sebanyak 33 kali ( HR. Bukhari dan Muslim ) atau kita dzikirkan pula sebelum tidur sebanyak 33 kali ( HR. Bukhari dan Muslim ). Dalam satu riwayat lain, dibaca sebanyak 34 kali sebelum tidur. Lafadz ini juga disunnahkan untuk diucapkan ketika kita dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menurun ( HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135 ). Dapat pula kita ucapkan ketika kita sedang takjub dengan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala ( HR. Bukhari )

Adapula lafadz tasbih lainnya yang telah diajarkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai berikut:

Rasulullah saw bersabda, Dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai Allah Yang Maha Pengasih, ( yaitu ),

سُبْحَانَ الله وَ بِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الغَظِيْمِ
ّ
" Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, maha suci Allah Yang Maha Agung." ( HR. Bukhari dan Muslim )

Pada hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah

سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِ هِ

( HR. Muslim ).

Alhamdulillah

Lafadz ini adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabbnya dengan memberikan pujian kepada-Nya. Lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat sebanyak 33 kali dan juga sebelum tidur 33 kali.

Setelah bersin, kita juga disunnahkan mengucapkan alhamdulillah atau alhamdulillah ‘ala kulli haal ( HR. Bukhari ). Nah, bagi yang mendengar lafadz alhamdulillah dari orang yang bersin, maka berikanlah do’a kepadanya, yaitu

يَر حَمُكَ اللّه

Yarhamukallah
" Semoga Allah merahmatimu."

Kalau sudah mendapat do’a ini, maka orang yang bersin tadi membaca

يَهْدِ يكُمُ اللّهُ و يُصلح بَالَ كُمْ


yahdikumullah wa yuslih baalakum’
" Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki keadaanmu."

Keutamaan dzikir alhamdulillah dan dzikir subhanallah juga terdapat dalam hadits berikut,

“Dari Abu Malik al-Asy’ary dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

" Bersuci adalah setengah iman, الحَمْدُ لِلَّهِ memenuhi timbangan, dan سُبْجَانَ اللّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ( Maha suci Allah dan segala puji bagi - Nya ) memenuhi antara tujuh langit dan bumi." ( HR. Muslim ).

Allahu Akbar

Sama seperti dua lafadz sebelumnya, lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat dan sebelum tidur. Setelah shalat sebanyak 33 kali dan sebelum tidur sebanyak 33 kali ( dalam riwayat lain 34 kali ).

Lafadz Allahu Akbar juga sunnah diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari ciptaan Allah ( HR. Bukhari dalam al-Fath ). Dan tahukah saudariku, ternyata lafadz ini juga termasuk dzikir yang sunnah diucapkan ketika dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menanjak. ( HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135 )

Laa ilaha illallah

Alhamdulillah, kita semua tentu telah melafadzkan ini karena inilah salah satu pembeda antara muslim dengan kafir. Tentu saja pelafalan lafadz laa ilaha illallah harus disertai dengan keyakinan hati dan pemaknaan yang benar, bahwa tidak ada ilah atau sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang lafadz ini dalam haditsnya,

" Sebaik-baik dzikir adalah ada laa ilaha illallah ( tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah ).” ( HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.” )

Dan sungguh manis ganjaran orang yang yang melafadzkan dzikir ini, sebagaimana dijelaskan oleh Rasululllah saw,

" Barangsiapa mengucapkan laa ilaah illallah, maka ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di Surga." ( HR. Tirmidzi dan dia berkata, Hadits hasan. )

Sahabat semua tentu juga mengetahui, pernah menjadi tren latah yang menyebar di berbagai kalangan. Salah satu ciri latah ini adalah jika seseorang dikagetkan atau terkejut, maka akan keluar kata-kata yang tidak dia sadari. Atau bahkan ia bisa dikontrol oleh orang yang mengejutkannya sehingga berkata-kata atau bertingkah laku yang tidak-tidak. Padahal untuk urusan yang terlihat kecil ini, ternyata telah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang terkejut disunnahkan untuk mengucapkan lafadz laa ilah illallah. ( HR. Bukhari dalam Fathul Baari VI/181 dan Muslim IV/22208 )


Masya Allah

Yang satu ini, seringkali kita dengar dilafalkan bukan pada tempatnya. Masya Allah memiliki makna " Atas kehendak Allah ". Lafadz ini diucapkan ketika kita takjub melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, baik berupa harta, kondisi fisik atau yang lainnya. Dalam surat Al Kahfi, terdapat tambahan,

" Masya Allah laa quwwata illa billah "

" Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah."

Lafadz ini juga berkaitan dengan penyakit ‘ain. Dengan melafadzkan “ Masya Allah ” ketika kita mengagumi kelebihan yang dimiliki orang lain, diharapkan orang tersebut tidak terkena penyakit ‘ain disebabkan pandangan kita. Karena penyakit ‘ain ini dapat terjadi baik kita sengaja ataupun tidak.

Nah…yang sering menarik pandangan seseorang adalah tingkah dan fisik anak kecil yang menggoda. Pipinya yang lucu, matanya yang nakal dan lain sebagainya. Lalu datanglah pujian dari sanak, saudara atau teman sekitar kita. Namun kita mungkin lupa, bahwa anak juga merupakan anugerah yang dapat terkena ‘ain. Maka, ingatkanlah orang-orang sekitar untuk mengucapkan masya Allah ketika memberikan pujian kepada anak kita. Begitupula dengan kita sendiri ketika memuji anak atau benda milik seseorang, maka ucapkanlah masya Allah  ini.

Astaghfirullah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,  " Pujian yang paling tinggi adalah la ilaha illallah, sedangkan doa yang paling tinggi adalah perkataan astaghfirullah. Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesakan Allah dan memohon ampunan bagi diri sendiri dan bagi orang-orang mukmin."

Memohon ampunan dengan lafadz ini sunnah diucapkan sebanyak 3 kali setelah selesai salam dari sholat wajib. Kita juga dapat memohon ampunan sebanyak-banyaknya, sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan hal ini. Begitu pula dari contoh perbuatan Rasululllah saw ( padahal beliau sudah diampuni dosanya yang telalu lalu dan akan datang ). Rasulullah saw bersabda :

" Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari." ( HR. Bukhari )

Dan sebagai wanita juga diperintah untuk memperbanyak istighfar, sebagaimana dalam hadits berikut,

" Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka! "

Seorang wanita dari mereka bertanya, " Wahai Rasululllah, mengapa kami menjadi kebanyakan penghuni neraka? "

Beliau menjawab, " Kalian terlalu banyak melaknat dan ingkar ( tidak bersyukur ) terhadap ( kebaikan ) suami, aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya bisa mengalahkan lelaki yang berakal kecuali kalian.”

Ia bertanya, " Apa maksudnya kurang akal dan agama? "

Beliau menjawab, " Persaksian dua orang wanita sama dengan seorang laki-laki dan wanita berdiam diri beberapa hari tanpa shalat."
( HR. Muslim )

Ini adalah lafadz - lafadz dzikir yang ringan di lidah dan mudah untuk dihafal dan diamalkan, Insya Allah. Semoga yang ringan ini juga menjadi pemicu untuk menghafal dan mempraktekkan do’a dan dzikir-dzikir lain yang lebih panjang.

Semoga pula kita di mudahkan oleh Allah Ta'alla dalam segala tindakan yang baik. Artikel ini sebagai perenungan saya dan juga anda semua agar tak lupa pada kuasa Allah Swt di bumi ini. Ada sebagian yang aku ambil dari berbagai sumber, seperti panduan tulisan arab dan pengertian - pengertian dalam yang lain. Tak merubah pola semoga, dan ambillah manfaatnya. Barakallahufikunna.
Read More - Lafadz - Lafadz Yang Ringan Di Lidah

Selasa, 18 Oktober 2011

•♥• Seindah Cinta Ketika Berlabuh •♥•

Diposting oleh Yusuf shadiq

Bismillahirrahmanirrahim … Awalnya, aku bertemu dengannya di sebuah acara yang diselenggarakan di rumahku sendiri. Gadis itu sangat berbeda dengan cewek-cewek lain yang sibuk berbicara dengan laki-laki dan berpasang-pasangan. Sedangkan dia dengan pakaian muslimah rapi yang dikenakannya membantu mamaku menyiapkan hidangan dan segala kebutuhan dalam acara tersebut. Sesekali gadis itu bermain di taman bersama anak-anak kecil yang lucu, kulihat betapa lembutnya dia dengan senyuman manis kepada anak-anak. Dari sikapnya itu aku tertarik untuk mengenalnya. Akhirnya dengan pede-nya keberanikan diri untuk mendekatinya dan hendak berkenalan dengannya. Namun, kenyataannya dia menolak bersalaman dengannku, dan cuma mengatakan, “Maaf…” dan berlalu begitu saja meninggalkanku. Betapa malunya aku terhadap teman-teman yang berada di sekitarku.“Ini cewek kok jual mahal banget !” Padahal begitu banyak cewek yang justru berlomba-lomba mau jadi pacarku. Dia, mau kenalan saja tidak mau !” ujarku. Dari kejadian itu aku menjadi penasaran dengan gadis tersebut. Lalu aku mencari tahu tentangnya. Ternyata dia adalah anak tunggal sahabat rekan bisnis papa. Setiap ada acara pertemuan di rumah gadis itu, aku selalu ikut bersama papa. Gadis itu bernama Nina, kuliah di Fakultas Kedokteran dan dia anak yang tidak suka berpesta, berfoya-foya, dan keluyuran seperti cewek kebanyakan di kalangan kami. Aku pun jarang melihatnya jika aku pergi ke rumahnya; dengan berbagai alasan yang kudengar dari pembantunya: sakitlah, lagi mengerjakan tugas, atau kecapaian. Pokoknya, dia tidak pernah mau keluar. Hingga suatu hari aku dan papa sedang bertamu ke rumahnya. Pada saat itu, Nina baru saja pulang dengan busana muslimahnya yang rapi, terlihat turun dari mobil. Namun belum jauh melangkah dia pun terjatuh pingsan dan mukanya terlihat sangat pucat. Kami yang berada di ruang tamu bergegas keluar dan papanya pun menggendong ke kamar serta meminta tolong kami untuk menghubungi dokter. Dari hasil pemeriksaan dokter, Nina harus dirawat di rumah sakit. Keesokan harinya, aku datang ke rumah sakit bermaksud untuk menjenguknya. Betapa kagetnya aku ketika kutahu Nina terkena leukimia (kanker darah). Aku bertanya, “Kenapa gadis selembut dan sesopan dia harus mengalami hal itu ?”. Perasaan kesalku padanya kini berubah menjadi kasihan dan khawatir. Setiap usai kuliah, kusempatkan untuk datang menjenguknya. Aku mendapatinya sering menangis sendirian. Entah itu karena tidak ada yang menjaganya atau karena penyakit yang diderita. Beberapa hari di rumah sakit, Nina memintaku keluar setiap kali aku masuk. Aku pun mendatanginya di rumah, tapi dia tidak pernah mau keluar menemuiku dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Aku tidak menyerah begitu saja, kucoba menelpon Nina dan berharap dia mau bicara denganku. Namun, dia tetap tidak mau mengangkat telpon dariku, lalu kukirimkan SMS padanya agar dia mau menjadi pacarku, tetapi tidak ada balasan malah HP-nya dinonaktifkan semalaman. Keesokan harinya aku nekat datang ke rumahnya untuk meminta maaf atas kelancanganku. Ternyata ia akan berangkat ke Makasar, ke kampung orang tuanya. Karena orang tuanya tak dapat mengantarnya, aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi Nina lebih memilih naik taksi dengan alasan tidak mau merepotkan orang lain. Sebelum naik ke mobil, dia menitipkan kertas untukku kepada mamanya. Alangkah hancur hatiku ketika membaca sebait kalimat yang berbunyi, “Maaf saat ini aku hanya ingin berkonsentrasi kuliah.” Hatiku remuk dan aku pulang dengan perasaan kesal sekali. Ini pertama kalinya aku ingin pacaran, tapi ditolak. Sebenarnya, aku tidak begitu suka dengan hubungan seperti pacaran itu karena begitu banyak dampak negatifnya, sampai ada yang rela bunuh diri karena ditinggalkan kekasihnya –na’udzubillahi min dzalik. Namun entah mengapa ketika aku melihat Nina hatiku pun tergoda untuk menjalin hubungan itu. Sejak perpisahan itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sampai gelar sarjana aku raih. Lalu aku pun bekerja di perusahaan milik keluargaku sebagai satu-satunya ahli waris. Melihat ketekunanku dalam bekerja, papa Nina ,menyukaiku hingga hubungan kami menjadi akrab dan kuutarakanlah maksudku bahwa aku menyukai Nina, anaknya, dan ternyata papa Nina setuju untuk menjadikanku sebagai menantunya. 24 Oktober 2006, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, aku dan orang tuaku bersilaturahmi ke rumah keluarga Nina dengan maksud untuk membicarakan perjodohan antara aku dan Nina. Tapi pada saat itu Nina baru dirawat di rumah sakit sejak bulan Ramadhan. Saat kutemui, Nina terlihat sangat pucat, lemah, dan senyumannya seakan menghilang dari bibirnya. Hari itu orang tua kami resmi menjodohkan kami. Bahkan aku diminta untuk menjaganya karena orang tuanya akan berangkat ke luar negeri. Tetapi Nina tidak pernah mau meladeniku. Suatu hari aku mendapati Nina terlihat kesakitan, terlihat darah keluar dari hidung dan mulutnya. Aku bermaksud untuk membantu mengusap darah dan keringat yang ada di wajahnya, tetapi secara spontan dia menamparku pada saat aku menyentuh wajahnya. Betapa kaget diriku dibuatnya, aku tidak menyangka sama sekali Nina akan manamparku. Sungguh betapa istiqomahnya dia dalam menjaga kehormatan untuk tidak disentuh laki-laki yang bukan muhrimnya. Saat itu aku belum mengetahui tentang masalah ini dalam agama.
 
Kejadian tersebut secara tak sengaja terlihat mama Nina maka Nina pun dimarahi habis-habisan hingga sebuah tamparan mendarat di pipinya. Kulihat Nina segera melepas infusnya dan berlari menuju kamar mandi. Nina pun mengurung diri di kamar mandi tersebut. Dengan terpaksa kami mendobrak pintu kamar mandi dan kami dapati Nina tergeletak di lantai tak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang keluar. Setelah sadar, aku berusaha bicara dan meminta maaf kepadanya atas kejadian tadi, namun Nina terus-terusan menangis. Aku pun bertambah bingung apa yang mesti aku lakukan untuk menenangkannya. Tanpa pikir panjang aku memeluknya, tapi Nina malah mendorongku dengan keras dan berlari keluar dari kamar menuju taman. Ketika kudekati Nina berteriak hingga menjadikan orang-orang memukulku karena menyangka aku mengganggu Nina. Karena itulah, Nina semalaman tidur di taman dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah waktu subuh menjelang kulihat Nina beranjak untuk melaksanakan shalat shubuh di masjid, aku pun turut shalat. Namun setelah shalat, tiba-tiba Nina menghilang entah kemana. Aku mencarinya berkeliling rumah sakit tersebut. Dan lama berselang kulihat banyak kerumunan orang dan ternyata Nina sudah tak sadarkan diri tergeletak dengan HP berada di sampingnya, sepertinya dia bosan telah berbicara dengan seseorang. Keadaan Nina saat itu sangat kritis sehingga pernafasannya harus dibantu dengan oksigen. Kata dokter, paru-paru Nina basah yang mungkin diakibatkan semalaman tidur di taman. Nina tak kunjung juga sadar. Dengan perasaan khawatir dan bingung aku berdoa dengan menatap wajahnya yang pucat pasi… Tiba-tiba ada sebuah SMS yang masuk ke HP Nina, tanpa sadar aku pun membaca dan membalas SMS tersebut. Aku juga membuka beberapa SMS yang masuk ke HP-nya dan aku sangat terharu dengan isinya, tenyata banyak sekali orang yang menyayanginya. Di antaranya adalah orang yang bernama Ukhti. Dulu sebelum aku mengetahui Ukhti adalah panggilan untuk saudari perempuan, aku sempat cemburu dibuatnya. Aku mengira Ukhti itu adalah pacar Nina yang menjadi alasan dia menolakku. Setelah Nina tersadar dari pingsannya, aku menunjukkan SMS yang dikirimkan saudari-saudarinya dan dia sangat marah ketika tahu aku sudah membaca dan membalas SMS dari saudari-saudarinya. Dia pun akhirnya melarangku untuk memegang HP-nya apalagi mengangkat atau menghubungi saudari-saudarinya. Namun, tetap saja aku sering ber-SMS-an dengan saudari-saudarinya untuk mengetahui kenapa sikap Nina begini dan begitu. Dari sinilah aku mendapat sebuah jawaban bahwa Nina tidak mau bersentuhan apalagi berduaan denganku karena aku bukan mahramnya dan Nina menolak untuk berpacaran serta bertunangan denganku karena di dalam Islam tidak ada hal-hal seperti itu dan hal itu merupakan kebiasaan orang-orang non Muslim. Aku tahu juga Nina mencari seorang ikhwan yang mencintai karena Alloh bukan atss dasar hawa nafsu. Akhirnya aku tahu kan sikap Nina selama ini semata-mata dia hanya ingin menjalankan syariat Islam secara benar. Hari berlalu dan aku terus belajar sedikit demi sedikit tentang Islam dari Nina dan saudari-saudarinya, terutama dalam melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Saat itu aku merasakan ketenangan dan ketentraman selama menjalankannya dan menimbulkan perasaan rindu kepada Alloh untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Niatku pun muncul untuk segera menikahi Nina agar tidak terjadi fitnah, namun kondisi Nina semakin memburuk. Dia selalu mengigau memanggil saudari-saudarinya yang dicintainya karena Alloh….. Melihat hal itu, aku membawanya ke kota Makassar, kampung mama kandung Nina untuk mempertemukannya dengan saudari-saudarinya, Qadarulloh (atas kehendak Alloh), aku tidak berhasil mempertemukan mereka. Yang ada kondisi Nina semakin parah dan penyakitku juga tiba-tiba kambuh sehingga aku pun haus dirawat di rumah sakit. Orang tua Nina datang dan membawanya kembali ke kota Makassar tanpa sepengetahuanku karena pada saat itu aku juga diopname. Di kota Makassar, Nina diawasi dengan ketat oleh papanya, karena papa Nina kurang suka dengan akhwat, apalagi yang bercadar. Rumah sakit dan rumah yang ditempati Nina dirahasiakan. Dan Nina pun tak tahu di manakah ia berada. Karena kondisinya masih lemah, diapun tak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia kadang dibius, apalagi ketika akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yag satunya agar tidak tahu di mana keberadaaannya, karena papanya tidak ingin ada akhwat yang menjenguk Nina. Sampai HPnya pun diambil dari Nina. Namun, karena Nina masih mempunyai HP yang ia sembunyian dari papanya, sehingga beberapa kali Nina berusaha kabur untuk menemui saudari-saudarinya, akhirnya Nina dikurung di dalam kamar. Mendengar hal itu, aku langsung menyusul Nina ke Makassar dan aku sempat bicara dengannya dari balik pintu. Nina menyuruhku untuk menemui seorang ustadz di sebuah masjid di kota itu. Dari pertemuanku dengan ustadz tersebut aku pun diajak ta’lim beberapa hari dan aku menginap di sana. Papa Nina menyangka Nina telah mengusirku sehingga ia pun dimarahi. Setibanya di rumah, aku jelaskan duduk perkaranya kepada papa Nina, bahwa ia tidak bersalah dan aku mengatakan agar pernikahan kami dipercepat. Hari Kamis, 24 November 2006. Kami melangsungkan pernikahan dengan sangat sederhana. Acara tersebut Cuma dihadiri oleh orangtua kami beserta dua orang rekanan papa. Setelah akad nikah aku langsung mengantar ustadz sekalian shalat dhuhur. 
Betapa senangnya hatiku, akkhirnya aku bisa merasakan cinta yang tulus karena Alloh. Semoga kami bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah, wa rahmah dan senantiasa dalam ketaatan kepada Alloh…..Itulah doaku saat itu. Sepulang dari mengantar ustadz, perasaan bahagia itu seakan buyar mendapati Nina yang baru saja menjadi istriku tergeletak di lantai, dari hidung dan mulutnya kembali berlumuran darah. Dan tangannya terlihat ada goresan. Kami langsung membawanya ke rumah sakit, diperjalanan, kondisi Nina terlihat sangat lemah. Terdengar suaranya memanggilku dan berkata agar aku harus tetap di jalan yang diridhai-Nya sambil memegang erat tanganku dengan tulus, air mataku tak tertahankan melihat keadaan Nina yang terus berdzikir sambil menangis…..Dia juga selalu menanyakan saudari-saudarinya dimana ? Setibanya di rumah sakit, aku bertanya-tanya kenapa tangan Nina tergores. Aku pun menulis SMS kepada saudari-saudari Nina. Ternyata, tangan Nina tergores ketika hendak menemui saudari-saudainya dengan keluar dari kamar. Karena pintu kamar terkunci, Nina ingin keluar melalui jendela sehingga menyebabkan tangannya tergores. Nina tak kunjung sadar hingga larut malam, aku pun tertidur dan tidak menyadari kalau Nina bangkit dari tempat tidurnya. Dia ingin sekali menemui saudari-saudarinya dan dia tidak menyadari kalau hari telah larut malam. Dia Cuma berkata, “Pengin ketemu saudariku karena sudah tak ada waktu lagi.” Berhubung Nina masih lemah, dia pun jatuh pingsan setelah bebrapa saat melangkah. Aku benar-benar kaget dan bingung mau memanggil dokter tapi tidak ada yang menemani Nina. Akhirnya, aku menghubungi salah seorang saudarinya untuk menemani. Setelah aku dan dokter tiba, Nina sudah tidak bernafas dan bergerak lagi. Pertahananku runtuh dan hancurlah harapanku melihat Nina tidak lagi berdaya…. Dokter menyuruhku keluar. Pada saat itu kukira Nina telah tiada, makanya aku segera menulis SMS kepada saudari Nina untuk memberitahu bahwa Nina telah tiada. Namun begitu dokter keluar, masya Alloh ! Denyut jantung Nina kembali beredetak dan ia dinyatakan koma. Aku hendak memberi kabar kepada saudari Nina tapi baterai HP-ku habis dan tiba-tiba penyakitku pun kambuh lagi sehingga aku harus diinfus juga….. Jam 11.30, perasaanku mengatakan Nina memangilku, maka aku segera bangkit dari tempat tidur dan melepas infus dari tanganku menuju kamar Nina. Kutatap wajah Nina bersamaan dengan kumandang adzan shalat Jum’at. Sembari menjawab adzan, aku terus menatap wajah Nina berharap dia akan membuka matanya. Begitu lafadz laa ilaaha illallah, suara mesin pendeteksi jantung berbunyi, menandakan bahwa Nina telah tiada. Aku berteriak memanggil dokter, tapi qadarulloh istriku sayang telah pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini. Nina langsung dimandikan dan dishalatkan selepas shalat Jum’at, lalu diterbangkan ke rumah papanya di Malaysia. Untuk terakhir kalinya kubuka kain putih yang menutupi wajah Nina. Wajahnya terlihat berseri….. Aku harus merelakan semua ini, aku harus kuat dan menerima takdir-Nya. Teringat kata-kata Nina, “Berdoalah jika memang Alloh memangilku lebih awal dengan doa, “Ya Alloh, berilah kesabaran dan pahala dari musibah yang menimpaku dan berilah ganti yang lebih baik.” Setelah pemakaman, aku langsung balik ke Jakarta karena kondisiku yang kurang stabil…Astaghfirullah !!! aku lupa memberitahu saudari-saudari Nina. Mungkin karena aku terlalu larut dalam kesedihan, hingga secara spontanitas aku menghubungi mereka dan menyampaikan bahwa Nina benar-benar talah tiada. Aku tahu pasti, mereka pasti sedih dengan kepergian saudari mereka yang mereka cintai karena Alloh. Dari ketiga saudari Nina, ada seorang yang tidak percaya dan sepertinya dia sangat membenciku. Entah, mengapa sikapnya seperti itu ? Sekiranya mereka tahu, bahwa sebelum kepergiannya, Nina selalu memanggil nama mereka, tentulah mereka semakin sedih. Dalam HP Nina terlihat banyak SMS yang menunjukkan betapa indahnya ukhuwah dengan saudari-saudarinya. Semoga saudari-saudari Nina memaafkan kesalahannya dan kesalahan diriku pribadi. “Salam sayang dari Nina tu kakak Rini, Sakinah, dan Aisyah serta akhwat di Makassar. Teruslah berjuang menegakkan dakwah ilallah. Syukran atas perhatian kalian….”
 
•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥•-•♥• 
 
Tak beberapa lama setelah kisah ini dimuat di Media Muslim Muda Elfata, redaksi Elfata menerima SMS dari seorang ukhti, saudari Nina. Isi SMS tersebut adalah, “Afwan , mungkin perlu Elfata sampaikan kepada pembaca mengenai kisah ‘Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Alloh’ di mana Kak Nina telah meninggal dan kini Kak Adhit pun telah tiada. Kurang lebih 2 pekan (Kak Adhit –red) dirawat di rumah sakit karena penyakit pada paru-parunya. Sebelum sempat dioperasi, maut telah menjemputnya. Ana menyampaikan hal ini karena masih banyak yang mengirim salam, memberi dukungan ke Kak Adhit yang kubaca di Elfata dan beberapa orang yang kutemui di jalan juga selalu bertanya, Kak Adhit bagaimana ? Ana salah satu ukhti dalam cerita tersebut…Syukran.” PERCIK RENUNGAN Subhanalloh ! Kisah Adhit dan Nina di atas dapat kita jadikan sebuah cermin untuk berkaca. Renungkanlah keteguhan Nina untuk tak meladeni tawaran cinta asmara yang tak terselimuti indahnya syariat. Padahal Nina adalah seorang yang sedang membutuhkan dukungan, pertolongan, dan sandaran bahu tempat menangis. Nina berprinsip, meski dalam situasi sesulit apapun, kemurnian syariat tetap harus dijaga dan diamalkan. Gelombang kesulitan tak harus menjadikan kita surut dalam berkonsisten dengan syariat ini. Bahkan bisa jadi kesulitan demi kesulitan yang kita alami menjadi parameter seberapa jauh kita telah mengamalkan ajaran agama ini. Di lain sisi, ketidaktahuan seseorang akan syariat ini seringkali menjadikan pelakunya bertindak tanpa adanya rambu-rambu yang telah dicanangkan agama. Namun, bisa jadi ketidaktahuan akan syariat ini menjadi titik awal seseorang merasakan indahnya agama dan manisnya iman sebagaimana yang terjadi pada Adhit, ikhwan yang menceritakan kisahnya ini. Semoga Alloh merahmati mereka, menerima ruh mereka berdua dan menjadikan mereka berdua termasuk hamba-hamba-Nya yang shalih yang dijanjikan surga-Nya. Aamiin. 
 
Sumber: Kumpulan KISAH NYATA UNGGULAN Majalah ELFATA ‘Seindah Cinta ketika Berlabuh’, 2008, FAtaMeDia
Read More - •♥• Seindah Cinta Ketika Berlabuh •♥•

MAS IKHWANKU – kisah nyata dari rubrik pintu^taubat majalah SAKINAH

Diposting oleh Yusuf shadiq
-Kisah Na di S-
Kami tiga bersaudara, aku bungsu dan satu-satunya yang paling cantik di rumah. Begitu papa selalu menggodaku, tapi kakak nomor duaku bilang, bunda lebih cantik. Begitulah hari-hari kulalui bersama mas Agung kakak nomor duaku. Kami akrab, apalagi praktis sejak Mas Galang jadi PNS di luar kota. Kami jadi lebih dekat.
Saat pertama mas Galang pertama keluar kota, sedih banget rasanya. Aku kehilangan bukan main. Sering aku ke kamarnya, menangis disana. Rumah sepi tanpa candanya. Dan kini kami juga kehilangan mas Agung. Dia jadi pendiam, jarang bercanda, sering lebih asyik tenggelam di kamar dengan buku-buku “bacaan barunya”. Kubilang buku bacaan baru karena yang ia baca adalah buku-buku bacaan Islam!! Rasanya aneh saja, sebab ia biasa baca novel-novel atau buku-buku roman picisan. Tapi kini raknya penuh dengan buku-buku islam yang sangat asing bagiku. Dari tatacara shalat, kumpulan hadits Bukhari-Muslim dan seabrek buku dengan judul-judul yang sulit kueja bacaannya. Aduh, pusiiiing…
Tak cuma itu, poster artis-artis hollywood dan mandarin F4, sampai kesayangannya Gun’s & Roses, Air Supply, Slank, poster & kaset CDnya bersih semua tanpa sisa. Di kamarnya ada tulisan besar “No Smoking”, padahal yang kutahu mas Agung itu perokok berat. Hebat, dia bisa berhenti dari rokok secara tiba-tiba!
Belum lagi kini ia cuek dengan teman-teman wanitaku yang datang ke rumah. Padahal dulu dia akan segera nimbrung tanpa diminta sambil nenteng gitarnya. Nyanyi dan ketawa bareng. Aku jadi tak enak sendiri pada teman-teman yang bertanya tentang perubahannya. Lewat pakai nunduk-nunduk segala! Kalau aku protes ia bilang, katanya justru sikapnya itu justru menghargai wanita, ngga’ jelalatan, menghormati perempuan. Tuturnya sambil senyum-senyum.
Bajunya?! Amit-amit sekarang gak ada keren-kerennya. Celana cutbray plus jeans belel dan kaos Metalica-nya entah kabur kemana. Berganti dengan hem sederhana atau baju koko dengan celana cingkrang gombrang bak kurang bahan. Menurutku penampilannya selevel dengan pak Jarwo tukang kebun di rumah. Dan satu lagi kebiasaan barunya ia rajin taklim dan pernah menyeretku “bersamanya”.
“Yuk, ikut mas Agung ngaji…” Meski awalnya sering kutolak mati-matian, akhirnya ia selalu sukses mengajakku. Belum lagi ia meninggalkanku sendirian bersama wanita-wanita di ruangan sisi masjid, dan ia entah dimana. Ia membiarkanku salah tingkah tampil beda tanpa kerudung, berkaos pendek, dan bercelana jeans. Awas ya, batinku merutuk. Tapi salah siapa? Tadi ia sudah memintaku berkerudung dan berpakaian lebih pantas tapi kutolak. Di parkiran ia cengar-cengir menantiku usai taklim “Gimana?”, “Bodo ah”, jawabku ketus. Lalu kami beli es buah sesuai janjinya untuk menghilangkan sewotku
*****
Besok mas Galang pulang cuti. Aku senang bukan main. Aku bakal mengadu habis padanya soal perubahan mas Agung. Biasanya aku Cuma mengadu lewat telphon. Besok kalau mas Galang pulang dia bisa melihat sendiri seperti apa mas Agung sekarang. Dijamin pasti ia ikut tak senang sepertiku. Biasanya sih mas Galang bilang di telpon, “Kalau berubah ke arah yang lebih baik kan tak masalah”. Nasehatnya setengah bertanya. “Uh, baik apanya?, jadi kuper, gak trendy, gak modis lagi, malah miara jenggot juga tuh”.
Tapi yang kulihat hari ini…., hampir membuatku pingsan. Saat turun dari taksi, masyaallah… penampilannya persis kayak mas Agung sekarang. Mas Agung tersenyum.
“Assalamu’alaikum akhi (saudaraku-red)?” mereka berangkulan hangat. Aku diam melongo. Sejak kapan mas galang ganti nama jadi akhi. Kubiarkan tubuhku dipeluknya. Aku bahagia tapi tetap merasa aneh.
Sungguh dua abangku jadi lebih santun dan pendiam. Diam-diam kuakui mereka tetap saja ganteng dengan penampilan mereka kini. Padahal dulu mereka urakan, jago nongkrong, dan ngrokok. Apalagi kalau sudah main billiyard atau ngeband, bisa lupa waktu. Mama sering dibuat pusing kalau pagi. Mereka susah di bangunin untuk sekedar sholat shubuh, papa sampai sering ikut marah. Tapi kini, mereka rajin sholat tanpa disuruh dan berhenti dari membuang waktu sia-sia. Makan juga seadanya. Padahal dulu mereka akan mogok makan kalau tak ada ikan dimeja. Papa dan mama respek pada perubahan dua abangku. Hingga papa tiba-tiba bicara saat makan malam.
“Kapan ya papa punya akhwat di rumah?, alhamdulillah papa sudah punya 2 ikhwan. Sudah gedhe lho kamu Na, kapan mau tutup aurat?”
Sebel deh, papa bilang begitu. Tapi ada yang lain dihatiku.
*****
4 bulan berikutnya aku mulai PD berkerudung meski kecil dan merasa aneh pada awalnya, lama-lama aku mulai merasa nyaman memakainya. Sedikit demi sedikit kerudung kuperbesar. Mas Agung senang bukan main. Ia rajin menghadiahkan untukku buku-buku salaf. Bila pulang mas Galang sering memberiku oleh-oleh jubah panjang.
Belum setahun aku “berhijrah”, tapi dukungan dari papa dan mama juga 2 mas “ikhwanku” membuatku bersemangat. Aku bersyukur punya 2 abang yang menjadi jalan taubatku atas ijin Allah ta’ala. Mama juga mulai berkerudung bila keluar rumah. Alhamdulillah kusyukuri semua atas hidayah ini, dan satu lagi, setiap orang di rumah kini tengah bersemangat dalam berbenah untuk memperbaiki diri. Semoga kami semua istiqomah.
 
Diketik ulang dari majalah SAKINAH vol 10 no 3
Read More - MAS IKHWANKU – kisah nyata dari rubrik pintu^taubat majalah SAKINAH

Sabtu, 15 Oktober 2011

Juwaibar dengan Zulfa

Diposting oleh Yusuf shadiq

Seorang lelaki dari Yamamah datang ke Madinah, lantas masuk Islam dan menjadi Muslim yang baik. Dia mengkaji ilmu-ilmu Islam, dan terdidik dengan pengajaran-pengajaran Islam. Namanya Juwaibar. Bentuk tubuhnya tidak tampan, kulitnya hitam, miskin, dan tidak memiliki apa-apa. Dia sebatang kara di Madinah. Setiap malam beliau tidur di masjid. Pada suatu hari para fuqara (gologan fakir) kaum Muslimin berkumpul. Nabi SAW menyuruh mereka tidur di masjid yang sama.
Jumlah mereka semakin bertambah. Maka datanglah perintah Allah agar masjid dipelihara kebersihannya dan tidak digunakan sebagai tempat tidur. Juga telah turun perintah untuk menutup pintu-pintu rumah orang-orang yang mengarah ke masjid dengan kekecualian pintu rumah Ali al-Murtadhaa dan Fatimah al-Zahra AS. Tertutuplah pintu-pintu itu dan tertutuplah jalan lalu lalang di masjid itu kecuali pintu-pintu untuk orang ramai demi kemuliaan masjid. Bagi para fuqara itu Nabi SAW menyuruh membangunkan balai di sudut-sudut kota Madinah untuk tempat tinggal mereka. Balai itu dikenal sebagai “al-sufah” dan mereka yang tinggal di dalamnya dikenal sebagai “Ahl al-Suffah.
Juwaibar juga termasuk di antara Ahl al-Suffah. Rasulullah SAW yang mulia dan seluruh kaum Muslimin mengasihi dan menjamin kehidupan mereka. Pada suatu hari Rasulullah SAW menemui mereka, dan berkatalah Rasulullah SAW kepada Juwaibar:” Hai Juwaibar, betapa baiknya apabila engkau menikah, agar engkau dapat memenuhi hajatmu, dan menolongmu untuk kepentingan dunia dan akhiratmu.” Juwaibar menjawab:” Ya Rasulullah, tetapi siapakah yang mahu menikah denganku. Aku ini tidak bernasab mulia, tidak mempunyai apa-apa, tidak berharta juga tidak mempunyai paras yang elok. Siapakah yang tuan pandang sesuai untuk lelaki seperti diriku ini?” Rasulullah SAW menjawab:” Sesugguhnya, dengan Islam Allah telah menghinakan siapa yang mulia dalam jahiliyyah dan dengan Islam pula Dia memuliakan orang yang hina di masa jahiliyyah. Semua manusia yang putih, hitam, Quraisy, Arab, dan Ajam (bukan Arab) berasal dari Adam, dan Adam Allah ciptakan dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian itu adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.” Kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya:” Tidak satu orang pun dari kaum Muslimin yang berhijrah, dan dari kalangan Ansar, yang tinggal di rumah-rumah mereka itu lebih mulia daripadamu kecuali kerana taqwa.” Kemudian Jawaibar disuruh pergi ke rumah Ziyad bin Labid al-Ansari -seorang penduduk Madinah, yang terhormat supaya berkata kepadanya:” Sesungguhnya Rasulullah mengutusku kepadamu supaya meminang putrimu, Zulfa untuk diriku.”
Maka Juwaibar pun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasul dan segera pergi ke rumah Ziyad. Dia dapati Ziyad sedang bersama sebahagian keluarga dan kerabatnya. Maka dia pun meminta izin untuk duduk. Katanya kepada Ziyad:” Aku membawa pesan dari Rasulullah. Apakah engkau mau aku mengatakannya secara berterus-terang?” Ziyad menjawab:” Sesungguhnya pesan Rasulullah itu mengundang kebanggaan, maka katakanlah secara terus-terang.” Berkatalah Juwaibar:” Sungguh, Rasulullah telah mengutusku untuk meminang putrimu Zulfa untuk diriku. Maka bagaimana pendapat engkau? Katakanlah agar aku sampaikan jawapannya kepada Rasulullah.”
Ziyad berasa hairan dan bertanya kepadanya:” Rasulullah mengutusmu untuk hal ini?” Benar, Rasulullah mengutusku, dan sesungguhnya aku tidak berdusta atas nama Rasulullah,” jawab Jawaibar. Ziyad pun berkata:” Bukanlah kebiasaan kami ini mengahwinkan putri-putri kami dengan orang-orang Ansar yang tidak sedarjat dengan kami. Pulanglah engkau, dan aku akan menemui Rasulullah.”
Keluarlah Juwaibar. Fikirannya kacau. Sesekali dia teringat ucapan Rasulullah tentang Islam yang menghapuskan kebanggaan kerana gelaran dan keturunan, dan sesekali dia berfikir tentang apa yang didengarinya dari Ziyad bahawa mereka tidak mengahwinkan putri-putri mereka kecuali dengan mereka yang sedarjat. Maka Juwaibar pun berkata kepada dirinya:” Sungguh apa yang dikatakan lelaki itu bertentangan dengan ajaran-ajaran al-Qur’an. Demi Allah, al-Qur’an tidak turun dengan ajaran demikian, dan tidak demikian tujuan pengutusan Muhammad.” Sementara itu Zulfa ternyata mendengar segalanya. Bertanyalah ia kepada ayahnya tentang hal tersebut. Ayahnya memberitahu kepadanya kisah tersebut. Berkatalah Zulfa:” Demi Allah, sesungguhnya Juwaibar itu jujur. Jangan biarkan Juwaibar pulang menemui Rasulullah dengan hampa. Utuslah seseorang untuk memanggilnya agar kembali kepadamu.” Ziyad pun melakukan permintaan putrinya. Juwaibar pun diterima di rumah itu.
Akhirnya Ziyad pergi sendiri menemui Rasulullah yang mulia, dan berkata:” Demi ayah dan ibuku, sesugguhnya wahai Rasulullah, Juwaibar telah datang menemuiku dengan membawa pesan dari Tuan. Padahal kami tidak dapat mengahwinkan putri-putri kami dengan orang-orang yang tidak sedarjat dengan kami.” Berkatalah Rasulullah :” Wahai Ziyad, Juwaibar adalah seorang Mukmin, dan orang Mukmin itu sedarjat dengan seorang Mukminah dan orang Muslim itu sedarjat dengan seorang Muslimah.” Ziyad pun kembali, dan kemudian menyatakan apa yang didengarnya dari Rasul. Zulfa pun menjawab:” Bagaimana aku tidak rela, padahala Rasulullahlah yang mengutusnya, dan sesungguhnya aku rela untuk dikahwininya.” Maka Ziyad pun menarik tangan Juwaibar, lantas membawanya ke tengah kumpulan kaumnya, dan mengahwinkan putrinya dengan Juwaibar, si Hitam yang faqir, sesuai dengan Sunnah Allah dan RasulNya.
Disebabkan Juwaibar tidak memiliki rumah, maka Ziyad menyediakan rumah yang sesuai untuknya. Ia pun mempersiapkan putrinya dengan persiapan yang sempurna. Kemudian ia mengirimkannya ke rumah pernikahan dengan dua bungkus pakaian untuk Juwaibar. Maka ketika Juwaibar memasuki kamar pengantin dan melihat semua itu, bersyukurlah ia atas nikmat dan kurniaNya. Islam telah memuliakan. Perasaan syukur kepada Allah menjadikannya semakin tenggelam hingga ia melewati malam itu dengan kesyukuran di satu sudut rumah tersebut hingga subuh. Dia bersyukur kepada Allah, bermunajat dan beribadah kepadaNya. Ketika menoleh, dia sedar bahawa subuh telah tiba, dan iapun berniat untuk berpuasa pada hari itu. Keadaan seperti itu dilewati selama tiga hari berturut-turut. Dia lakukan ibadah kepada Allah SWT, hingga keraguan timbul pada keluarga wanita tersebut: Apakah lelaki itu memang perlu seorang isteri.
Berita Juwaibar ini sampai kepada Rasulullah, maka beliau memanggilnya dan bertanyakan hal tersebut. Juwaibar menjawab:” Wahai Rasulullah ketika aku masuk, aku lihat rumah itu begitu luas, di dalamnya terdapat peralatan rumah dan tilam, juga wanita cantik. Dan semua itu untukku. Maka aku seperti diingatkan bahawa diriku sebenarnya manusia faqir dan orang asing yang tinggal di kota ini. Allah telah mengurniakan kepadaku dengan semua ini kerana Islam, maka aku wajib bersyukur kepadaNya pada malam itu. Akupun berpuasa untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Aku lewati siang hari dengan berpuasa dan malamnya untuk bersyukur kepada Allah, dan sungguh sekarang aku akan kembali ke rumah dan keluargaku.”
( Sufyan bin Uyainah bin Maimun Abi Imran. Beliau lahir pada pertengahan Sya’ban tahun 107 H dan meninggal dunia pada hari sabtu tanggal 1 Rajab tahun 198 H. Dalam nasehat beliau di atas bagaimanakah wujud nyata dari menerapkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pilihlah yang baik Diennya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. )

Iqraku / Kata Islam / Kisah
Read More - Juwaibar dengan Zulfa

Wanita Sholehah : Bidadari Syurga Terindah

Diposting oleh Yusuf shadiq
 
Pernahkah saudara-saudara melihat seorang bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan jelita. Saya yakin kita semua belum pernah melihatnya. Kalau begitu mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang sifat-sifat bidadari yang bermata jeli.
—-
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”
Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”
Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
—-
Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.
Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.
Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.
Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.
Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.
Duhai saudariku muslimah, maukah engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas dirimu, agar Allah ridha kepadamu


(Iqraku / Kata Islam/Muslimah)
Read More - Wanita Sholehah : Bidadari Syurga Terindah

Kriteria Jilbab

Diposting oleh Yusuf shadiq
Apakah Ukhti Sudah Memakai Jilbab, Sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah ? Kriteria Jilbab bukanlah berdasarkan kepantasan atau mode yang lagi trend, melainkan berdasarkan Quran dan Sunnah. Jika kedua sumber ini telah memutuskan suatu hukum, maka seorang muslim / muslimah terlarang membantahnya ( Al–Ahzab : 36 )
Para perancang mode boleh saja bilang bahwa hasil rancangannya itu adalah Jilbab, tetapi jika hal itu ternyata tidak memenuhi syarat sebagaimana yang diperintahkan oleh Alloh, maka itu bukanlah Jilbab melainkan Pakaian yang dikategorikan Telanjang.
Kriteria Jilbab sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah adalah :
1. Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan.
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya dan janganlah menampakan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka,atau putra-putra mereka,atau putra-putra suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka,atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ( Annur : 31 )
2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan
….Dan janganlah kaum wanita itu menampakan perhiasan mereka ( Annur : 31 )
Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu yang menyebabkan kaum laki-laki melirikan pandangan kepadannya . Hal ini dikuatkan oleh firman Alloh Surat 33 ayat 33 :
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan Bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu……( 33 :33 )
Pakaian Jilbab sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 berfungsi sebagai pelindung wanita dari godaan laki-laki. Hal ini berarti pakaian muslimah ( Jilbab ) tidak boleh berlebihan / mengikuti trend mode tertentu karena Jilbab Bukan Perhiasan.
3. Kainnya Harus Tebal
Sebagai pelindung wanita, secara otomatis Jilbab harus Tebal / tidak transparan karena jika demikian akan semakin memancing Fitnah ( godaan ) dari pihak laki-laki.
Bahwa Asma Binti Abi Bakar masuk ke rumah Rosul dengan mengenakan pakaian tipis, maka Rosululloh berkata : “Wahai Asma, sesungguhnya wanita yang telah haid ( Baligh ) tidak diperkenankan untuk dilihat dari padanya ini dan ini, dengan mengisyaratkan wajah dan telapak tangan. ( HR . Abu Daud )
Adapun fenomena Krudung Gaul yang kini sedang Trend dikalangan anak-anak muda dengan pakaian yang tipis dan serba ketat, Hal ini jelas merupakan pelanggaran berat terhadap syariat Jilbab yang diharuskan, Ancaman bagi mereka adalah….
Ada 2 Golongan dari ahli neraka yang siksanya belum pernah saya lihat sebelumnya, yaitu :
1. Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan memukul orang ( ialah penguasa dzolim )
2. Wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang untuk berbuat maksiat, rambutnya sebesar punuk unta mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium wanginya, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan yang amat panjang ( HR. Muslim )
4. Harus Longgar, Tidak ketat
Tidak ketat, sehingga tidak menggambarkan seseuatu dari tubuhnya. Diantara maksud diwajibkannya Jilbab adalah agar tidak timbul Fitnah ( Godaan ) dari pihak laki-laki dan itu tidak mungkin terwujud jika pakaian yang dikenakan tidak ketat dan tidak membentuk Lekuk tubuhnya. Untuk itu Jilbab harus longgar / tidak ketat.
Rosululloh Saw. Memberiku baju Qubthiyyah yang tebal ( biasanya Qubthiyyah Itu tipis ) yang merupakan baju yang dihadiahkan Al-kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : “ Mengapa kamu tidak mengenakan baju Qubthiyyah ? Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada istriku “ Nabi Saw Menjawab : “ Perintahkan ia agar mengenakan baju di balik qubthiyyah itu, karena aku khawatir baju itu masih menggambarkan bentuk tulangnya. ( HR. Baehaqie, ahmad, Abu daud, Ad-dhiya )
5. Tidak di Beri Wewangian / Parfum
Syarat ini berdasarkan larangan terhadap kaum wanita untuk memakai Wewangian bila mereka keluar rumah dengan hadist :
“ Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki2 agar ia menghirup wanginya, maka is sudah berzina.” ( HR. An-Nasa’i )
“ Jika salah seorang diantara kalian ( kaum wanita ) keluar menuju mesjid, maka janganlah sekali2 mendekatinya dengan memakai wewangian.” ( HR. Muslim )
6. Tidak Menyerupai Laki-Laki
Dengan Hadist : “ Rosululloh melaknat pria yang menyerupai pakaian wanita dan wanita yang menyerupai pakaian Laki-laki .” ( HR. Abu Dawud )
Hadist Tambahan :
“ Tidak masuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita. ” ( HR. Ahmad )
7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita Kafir
Syarat ini didasarkan pada haramnya kaum muslimin termasuk wanita menyerupai ( Tasyabuh ) orang-orang ( Wanita ) kafir dalam berpakaian yang khas pakaian mereka, adat istiadat apalagi tentang Ibadah.
“ Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk pada kaum yang diserupainya itu. “ ( HR. Ahmad )
“ Dari Abdullah bin Amru bin Ash, Rosululloh melihat saya mengenakan 2 buah kain yang diwarnai dengan USHFAR ( nama tumbuhan ) maka beliau bersabda : “ Sungguh ini merupakan pakaian orang-orang kafir. Maka janganlah engkau memakainya ( HR. Muslim )
8. Bukan Libas Syuhrah ( Pakaian Popularitas )
Berdasarkan hadist Ibnu Umar yang berkata : Rosululloh bersabda : “Barang siapa mengenakan pakaian Syuhrah ( untuk mencari popularitas ) di dunia. Nisacaya Alloh mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat. Kemudian membakarnya dengan api Neraka.” ( HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah )
Libas Syuhrah adalah Setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas ( Gengsi ) ditengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan gaun dan perhiasannya maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai oleh seseorang untuk menampakan kezuhudannya dengan tujuan riya.
Wallohua’lam


(Iqraku / Kata Islam/Muslimah)
Read More - Kriteria Jilbab

Perbekalan Bagi Sang Istri Pejuang

Diposting oleh Yusuf shadiq
 
Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.
Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:
1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).
Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!
2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.
Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.
3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).
Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!
4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).
Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!
5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).
Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.
Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?


(dakwatuna/Iqraku / Kata Islam/Muslimah)
Read More - Perbekalan Bagi Sang Istri Pejuang