Minggu, 12 Februari 2012

~ Buat WANITA yang Luar Biasa. Yang membuat Para BIDADARI CEMBURU pada-nya ~

Diposting oleh Yusuf Shadiq



WANITA sholehah adalah Bidadari cantik yang memiliki kemuliaan melebihi keagungan BIdadarI. Di balik kesuksesan seorang PRIA terdapat WANITA yang luar biasa hebatnya. Karena seorang WANITA mampu menjadi inspirator, motivator, serta menjadi penyemangat sejati bagi seorang PRIA yang mampu membangkitkan semangat juang bagi seorang PRIA.
Selalu mewasiatkan kebaikan kepada para wanita
Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas.
Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah.
Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok.
Karena itu, wasitakanlah kebaikan kepada para wanita. (HR.Al Bukhari)
Wasiat dan nasehat selalu tertuju pada kaum wanita
Bukan berarti ia tidak pernah bermakna
Bukan berarti ia senantiasa penuh dengan kekurangan
Sehingga selalu perlu diwasiatkan dengan kebaikan
Hak setiap orang untuk mendapatkan wasiat kebaikan
ALLAH telah meletak sumpah bagi manusia:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian.
Kecualii orang – orang yang beriman dan beramal sholeh.
Dan mereka yang saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3)
Islam mengangkat kaum wanita dari peminggiran peran, fungsi, dan posisi.
Dengan adanya Islam, mereka dituntun menuju perpustakaan alam semesta yang penuh ayat – ayat keagunganNya.
Dengan adanya Islam, Ia sapa mereka yang dulu hanya bisa membisu dan diam menuli disudut kelambu kegelapan.
Dengan adanya Isalm, Ia ajak mereka memfungsikan telinga, penglihatan, dan akalnya
untuk mewawas diri dalam berbagai wacana kesholehan
Dengan adanya Islam, Ia dudukkan mereka sejajar dengan pria untuk berdiskusi, saling mengingatkan,
saling memberi wasiat tentang kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang.
(Al ‘Ashr: 1-3)
Begitu indahnya Islam memandang dan memuliakan kaum wanita,
seperti isi syair berikut yang sangat indah isi dan maknanya:
“Bukan dari tulang UBUN ia diciptakan.
Sebab berbahaya membiarkannya dalam SANJUNGAN dan PUJA.
Tak juga dari TULANG KAKI.
Karena NISTA menjadikannya diINJAK dan diperBUDAK.
Tetapi dari TULANG RUSUK KIRI.
Dekat ke HATI untuk diCINTAI.
Dekat ke TANGAN untuk diLINDUNGI”
Begtulah Nabi mendidik para WANITA mulia itu dengan pemahaman yang lurus, tengah- tengah, dan lagi mudah
Dengan karunia berbagai potensi dari ALLAH, kita siap menggunakan untuk setiap aktifitas yang diridhaiNya.
Siap berjihad, siap seperti Hijjaz, Dengan KeizinanMu:
InsyaALLAH dengan keizinanMu Tuhan
Aku akan jejaki, jalan yang Kau ridhai
Suka dan duka kuterima, dengan penuh taqwa
Aku bersyukur menerima rahmatNya
InsyaALLAH, dengan keizinanMu Tuhan
Aku akan mencapai cita – cita yang murni
Aku abdikan hidupku dan nantinya matiku
UntukMu Tuhan, KarenaMu Tuhan (Hijjaz: KeizinanMu)
WANITA adalah tali penghubung antar keluarga, persendian anggota bangsa, serta tempat mengalirnya darah umat yang dapat membangkitkan semangat hidup, dan gairah kerja. Wanita adalah tempat ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala menitipkan segala arti keindahan yang memukau. Dengan kecantikan, keindahan dan kemanjaannya yang menawan, wanita menjadi tuan penguasa dan penakluk hati. ALLAH memberikan perasaan peka dan kasih sayang kepada seorang perempuan, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.
Dia adalah teman yang jujur serta pendamping hidup pria dalam suka dan duka. Ketika seorang suami pulang menemui isterinya, setelah selesai melaksanakan tugas, pikirannya masih sarat dengan beban hidup dan pahit getirnya.
Seorang isteri akan datang menyambutnya dengan belaian kasih sayang, serta menghadiahinya senyuman manisnya sebagai obat penawar yang mengiringi pandangan memikat, yang masuk menembus relung-relung hati suami, sehingga ia melupakan pahit getirnya yang dialami. Siapa yang mampu menghibur pria pada saat dirundung duka, selain wanita?
Dapatkah kaum pria menemukan benteng tempat melindungi dirinya dari kecamuk perang, yang dipagarnya hancur berkeping-keping karang-karang bencana, serta dihadapannya wajah malam terlihat indah dan menawan, seperti yang dapat mereka temukan pada wanita-wanita sholehah ketika mereka kembali untuk menikmati kedamaian hati disisinya dan mendengarkan tutur bahasanya yang menawan?
Dan akhirnya, perjalanan indah bersama nilai – nilai Islam itu berlabuh di tiupan nafas tarakhir yang lembut,
husnul khotimah yang mengantar mereka ke kebun – kebun surga, memetik buahnya,
tanpa merasa teraniaya sedikitpun.
“. . . .Maka mereka itu memasuki kebun – kebun surga, dan mereka tiada dianiaya walaupun sedikit pun!” (An Nisa’: 124)
Karena karunia ALLAH, sapaan lembutNya, mata air – mata air surga, sungainya, naungan pepohonannya,
buahnya yang dekatnya sedekatnya, suteranya yang hijau dan tebal, dipan kenca, permadani, mahligai – mahligai,
mimbar cahaya, bujang – bujang dengan piala layanan, semuanya. . . .
Semuanya dikaruniakan ALLAH tanpa perhitungan. . . .
“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran) kekuasaan-Nya ialah DIA menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kebesaran Alloh) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S Ar-Rum:21)
Namun pernikahan begitu indah ku dengar
Membuat ku ingin segera melaksanakannya
Namun bila ku lihat aral melintang pulang
Hati ku selalu maju mundur di buatnya (Suara Persudaraan: Hasrat Hatiku)
“Dan hendaklah menjaga kesuciannya orang – orang yang belum menemukan nikah,
hingga ALLAH mengkayakan mereka dari karuniaNya. . .” (An Nur: 33)
Akhirnya aku segera tersadar
Hanya pada
Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
InsyaALLAH azzamku akan terwujud lancar (Suara Persaudaraan: Hasrat Hatiku)
Nikah adalah separuh agama, begitu Rasulullah mendeklarasikan.
“Sehebat apapuun seorang ‘ulama…”, kata Ustadz Nashir Harist,
“Kalau belum menikah, ya Diin-nya belum genap.
“Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurna setengah agamanya.
Maka hendaklah ia bertaqwa kepada ALLAH pada setengah yang lainnya.”
(HR. Al Hakim dan At Thabrani dari Anas ibn Malik )
Barang siapa yang mengamati dengan baik susunan tubuh wanita beserta perangkat-perangkat yang ada pada dirinya, yang pertama kali sekali dia lihat adalah Inayah Ilahi yang bekalinya dengan perangkat yang dibutuhkan agar dia bisa menjalankan fungsinya dalam kehidupan seperti perangkat jasmaniah, persiapan kejiwaan, dan naluri alamiah.
Hal itu merupakan saksi hidup yang bisa bertutur bahwa panorama yang susunan yang menakjubkan tidak mungkin ditemukan tandingannya pada pria, tidak diciptakan kecuali untuk membantu wanita agar dia bisa menunaikan tugasnya dalam kehidupan, yaitu sebagai seorang ibu. Wanita sesuai dengan unsur susunan tubuh dan kesiapan jiwanya untuk diciptakan menjadi seorang atau seorang ibu. Hal itu merupakan sebuah fakta yang sudah mutlak dan tidak mungkin bisa diubah lagi. Fakta ini akan terus berlanjut menyampaikan dengan yang amat jelas bahwa kesempurnaan dan keagungannya hanya dengan menjadi seorang ibu.
Profesi sebagai seorang ibu tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan fungsi para panglima dimedan laga. Kalau panglima bertanggung jawab mengangkat bendera kemenangan Negaranya dari serangan musuh, maka ditangan seorang ibulah masa depan anak-anak sangat bergantung pada pendidikan mereka yang baik dan akhlaq mereka yang baik dan akhlaq mereka yang mulia. ALLAH menciptakan wanita menjadi sangat utama.
ALLAH telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.
Dan tiap – tiap diri adalah “Pemimpin”, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.
Pada kemampuan dan kesanggupan yanh sesuai, ALLAH membebankan tangggungjawab atas hambaNya.
Pada keterbatasan kita, kita serahkan pengaturan yang indah ini padaNya, karena ia,
Maha Mengetahui, Maha Mengerti, Maha Teliti. . . . .
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya apa yang dipimpinya. . . .
Seorang Wanita adalah pemimpin bagi rumah tangga suaminya, dan ia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya.”
(HR. Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan An Nasa’i)

Pada kepemimpinan masing – masing ALLAH letakkan keindahan
Pria dan wanita bukan musuh yang saling merendahkan posisi dan menghinakan tugas.
Hubungan mereka bukan hubungan konflik.
Bahkan keduanya adalah beLAHAN yang TAK TERPISAHKAN dalam kemuliaan tiupan ruhNya.
“Sesungguhnya WANITA adalah belahan tak terpisahkan dari PRIA.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi)
Dalam surat An Nisaa’ ditegaskan hakikat diri yang satu, dan
mereka diseru untuk membuktikan eksistensi kemuliaan mereka dihadapan ALLAH yaitu: TAkWA
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi ALLAH adalah yang paling berTakWA. . . .Hai sekalian manusia. .
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada ALLAH yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu,
dan daripadanya Ia ciptakan isterinya. . . . ^_^”


KESETARAAN TERIndah:
“Sesungghunya WANITA adalah belahan tak terpisahkan dari PRIA.”
(HR. Ahmad dan Al Baihaqi)
ALLAH memberi wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
ALLAH memberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai isterinya.
Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi. Kemudian ALLAH memberikan wanita air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus diberikan ALLAH kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan.
ALLAH menciptakan bahu wanita agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
ALLAH memberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
ALLAH memberikan perasaan peka dan kasih sayang kepada seorang wanita, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Namun sekarang bagaimana tugas kita dalam menjaga amanah sebagai wanita, agar kita tergolong wanita yang sholeh, menjadi wanita calon penghuni syurga, yang sangat dirindukan surga, menjadi wanita yang melahirkan anak-anak yang sholeh, yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan dan wanita yang membawa kepada keimanan terhadap orang disekelilingnya. Seorang Wanita yang mampu menjadi inspirator, motivator serta penyemangat sejati bagi anak, suami, keluarganya serta orang lain disekitarnya. Yang mampu membangkitkan semangat juang orang – orang yang ada di sekitarnya.
Bidadari saja yang penuh kesempurnaan penciptaannya oleh ALLAH
Cemburu atas keshalihah demi keshalihah yang kita gapai
Itulah yang menjadi resiko menempuh jalan kebenaran, kesucian
dan kemuliaan yang telah kita azzamkan ini.
Seperti ibarat:
Petani yang mendapati padinya diselai rumput,
lalu menjadikannya makanan ternak.
Tumbuh rumput itu resiko.

Demikian juga dengan kecemburuan bidadari.
Biarkanlah bidadari cemburu pada kita, toh kita tak tahu apa yang sedang dilakukannya di sana.
Kalau sebenarnya kita sebagai perempuan bumi lebih baik atau lebih unggul dan lebih mulia, seperti kata Rasulullah:
Ada dalam sholat, ruku’, sujud, dan segala aktifitas ‘ibadah kita,
maka kemudian kita akan berikrar seperti yang diperintahkan ALLAH:
“Katakanlah, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk ALLAH,
Rabb Semesta Alam. Tiada sekutu bagiNya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku,
dan aku adalah orang yang pertama – tama menjadi muslim” (Al An’am: 162 – 163)
Demikianlah yang diperintahkan kepadaku.
Hidupku untukMu, apalagi matiku. . . . .
Karena aku rindu pada ridhaMu.
“ALLAH ridhaMu kepada mereka, dan merekapun padaNya.” (Al Bayyinah ayat 8 )
Kerinduan, ya. . . . .kerinduan.
Kerinduan menjadi nikmat yang menyambung asa harapan orang – orang beriman.
Cita – cita besar para mujahid selalu berangkat dari terminal kerinduan.
Dan unik, terminal rindu itu selalu dibawa serta selama perjalanan.
Rindu, anugerah ALLAH untuk sumbu potensi dan pemantik api kesholehan, agar segera bertemu dalam perbaikan diri.
Lalu akhirnya, ia bermuara pada satu lagi kerinduan.
Kerinduan akan sebuah sambutan:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabbmu dengan hati puas lagi diridhai,
maka masuklah ke dalam golongan hamba – hambaKu dan masuklah ke dalam jannahku.” (Al Fajr: 27 – 30)
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Fitri Fatimah Zahra

0 komentar:

Posting Komentar