Minggu, 15 April 2012

AR _ RAHMAN

Diposting oleh Yusuf Shadiq


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Inilah salah satu petikan ayat yang menyentuh saya malam ini. Tiba-tiba saja Neni yang lagi pingin tidur bareng di kamar, menyetel murottal ayat-ayat Qur'an, dan kebetulan surat Ar-Rahman ini yang disetelnya.
Ayat-ayat Ar-Rahman memang selalu sukses membuat saya tergetar, apalagi dengan penekanan kalimat "Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani" yang dikumandangkan 31 kali dalam surat Ar-Rahman. Dan saya merasa lebih dari 31 kali tergetar merasakan betapa luar biasa karunia-Nya untuk seluruh umat manusia. 

BERSYUKUR!!!!!!
Bagaimanapun selalu ada nikmat Allah yang kita rasakan meskipun secara 'angkuh', manusia seringkali mengabaikannya dan menganggap apa yang ada pada dirinya selalu kurang.
Tentang topik ini, saya jadi ingat pernah menulis di note...Ini dia.....





#Target VS Syukur#


"Sejak awal menyadari filosofi ini,semakin penasaran untuk menggali lebih dalam maknanya,

Memang tak ada manusia yg sempurna,tp ada,bahkan banyak manusia 'perfeksionis' berkelìaran di muka bumi ini,,Tak apa,itu suatu hal yg wajar,,

Ada 2 hal mengenai perfeksionis,positif dan negatif.
Yg pertama,dia adalah orang yang tak pernah lelah dan punya motivasi yg besar untuk terus lebih baik dan nyaris sempurna,
Yang kedua,
Orang ini,tak pernah bersyukur dgn yg telah didapatkannya,
Tapi,ada perbedaan signifikan antara keduanya,
Mungkin saya trmsuk orang yg perfeksionis,tapi tak tau masuk dalam kelompok yg mana?
Tapi pada intinya,ada yg bisa dijelaskan dan dinetralisir dari sini,yaitu filosofi 'target dan syukur'.
Ketika menyoroti 'target' kita ada di bawah dan memandanglah ke atas,karena 'target' itu setinggi-tingginya.
Sedangkan ketika menyoroti 'syukur',kita ada di atas,dan memandang ke bawah,karena kita harus menyadari bahwa banyak orang yang tak lebih beruntung dari kita.

"Memang benar...bahwa menjadi sempurna itu sangaaat melelahkan,, Apalagi jika kesempurnaan yg sudah ada tak pernah kita sadari dan syukuri..."

Yah, kita 'sadari'.... cukup menyadari saja,tapi jangan salah,,,kadang 'menyadari' bisa jadi hal yang sangat sulit untuk dipahami, dalam artian memang sulit untuk menjadi orang yang realistis dan menerima kenyataan yang ada. hmm, satu lagi berarti poin penting dari sini, keseimbangan antara kenyataan dan target juga patut diperhitungkan,,,,
jangan lupa bahwa manusia itu diciptakan dengan varian yang cukup besar dalam tanda kutip 'dengan kemampuan yang berbeda-beda'. tapi yang lebih penting lagi adalah 'kesadaran', kesadaran untuk menerima kenyataan yang ada diseimbangkan dengan target yang telah dibuat. istilah 'kita' mungkin -buatlah proporsi target yang pas-

Dan lagi-lagi,,,memang benar bahwa,,,, menerima kenyataan itu jauhhhhh lebih sulit daripada menjelaskan betapa 'baik' atau 'buruk' kenyataan,,,,,(karena menerima kenyataan itu berarti melewati proses yang panjang bernama 'kesadaran')

Ok lah kalau begitu....
Semangat kawan.....yang penting <positive thinking-sabar-totalitas=""> ^_^</positive>"

0 komentar:

Posting Komentar