INDAHNYA ISLAM

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).


Senin, 07 November 2011

(◕‿◕✿) Tabassum (◕‿◕✿)

Diposting oleh Yusuf shadiq

(◕‿◕✿) TERSENYUMLAH (◕‿◕✿)
Karena senyum membawa kita kepada keyakinan kepada ALLAH ada yang jauh lebih baik daripada itu,
Bangkitlah dengan melakukan hal-hal yang baik !

(◕‿◕✿) TERSENYUMLAH (◕‿◕✿)
Karena sangat banyak orang-orang yang lebih menderita .
Beryukurlah .
Betapa ALLAH sudah memberi banyak kenikmatan untuk kita dibandingkan yang lain .
Bersyukur dengan apa yang didepan mata !

(◕‿◕✿) TERSENYUMLAH (◕‿◕✿)
Jangan gantungkan dirimu kepada orang lain .
Karena itu adalah sebab dari kehancuran diri !
Berpeganglah pada tangan ALLAH .
Pada saat orang-orang pergi entah kemana, satu persatu tiada yang peduli !

(◕‿◕✿) TERSENYUMLAH (◕‿◕✿)
Untuk sebuah kenyataan yang harus dihadapi .
Apapun yang terjadi adalah suratan TAKDIR ILAHI .
Kita hanya butuh kesabaran untuk menjalaninya !
Dan tiada lain ALLAH cipta kan semua itu untuk kebaik kan kita semata !

(◕‿◕✿) TERSENYUMLAH (◕‿◕✿)
Untuk sebuah perjalanan dimuka bumi .
Nikmatilah kesenduan ini .
Karena barangkali disanalah adanya ketenangan didalamnya !

(◕‿◕✿) TERSENYUMLAH (◕‿◕✿)
karena saat itulah kita akan menyadari ..
Innallaaha ma`ana .. La tahzan,

DON'T BE SAD !


*untuk orang-orang yang hanya bisa menjudge
Untuk orang-orang hanya bisa melihat derita orang lain
Untuk orang-orang yang bisa berkata dan menuduh,,
Untuk orang-orang yang selalu mengurusi hidup orang lain...
Wahai saudaraku,,ada kekuatan yang Maha Dahsyat di sini..
Ia tidak tidur. He knows and you don't ! 
Jadi berusahalah berbaik sangka pada saudaramu sendiri ^_^


Madinah,,after Magrib Prayer
Read More - (◕‿◕✿) Tabassum (◕‿◕✿)

Sabtu, 05 November 2011

KISAH SEORANG TUKANG BECAK

Diposting oleh Yusuf shadiq



Siang itu teramat teriknya. Matahari seakan-akan membakar sepanjang jalanan beraspal ini. Bolongnya lapisan ozon di atas sana, membuat panas luar biasa rasanya di badan. Kadang justru terasa menggigil seperti demam karena amat panas. Meskipun pengendara motor sudah berjaket dan asesories lengkap, tapi tetap tembus, seperti diopen dalam microwave.

Tiba-tiba di depan sana. "Diiiinnnn......diiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnn..." suara klakson panjang melengking. Disambung lagi mobil di belakangnya. "Teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet......tet...teeeeeeeeeeeeeeeeeeetttttttttttttt" panjang tak kalah geramnya. Di baris ketiga tak ketinggalan..."Diiin....din...diiiinnnn....", "Diiin...dinn...diiinn..., diiiiiiiiinnn....." membunyikan klakson mobilnya sesuka hatinya.

Bunyi-bunyian itu tak henti-hentinya, hingga memekakkan telinga. Suaranya berasal dari tiga buah mobil mewah edisi mutakhir. Mereka terhenti karena terjebak macet, dan rupanya ada sesuatu yang membuat macet di depan sana. Sesekali orang di dalamnya melongok-longok mengumpat-umpat mengomel.

Ternyata di depan ada tukang becak yang overload kelebihan beban. Setelah dimuati beberapa zak semen, dan material-material lainnya. Beberapa lonjor besi beton cor bertengger memanjang di atas becaknya. Tak terbayangkan betapa beratnya. Lagi pula di titik itu jalan sedikit menanjak.

Bapak tukang becak tampak kepayahan mendorong becaknya yang sarat beban. Tak ada seorang pun tergerak untuk sudi menolongnya. Hati manusia sudah pada tuli tampaknya. Pak becak itu sudah berusia lanjut tapi tubuhnya masih tegap berotot ulet. Kulitnya legam, menandakan secara historis dia sering bergelut dengan panas matahari dalam mencari nafkah.

Didorongnya becak itu sekuat tenaganya. Sepertinya sudah berkilometer dia mengayuh, dan di tanjakan ini adalah sisa-sisa tenanganya. Mukanya menunduk ke bawah agar tidak silau terpampang matahari. Sambil mengerahkan tenaganya menatap aspal di bawahnya yang seperti menggembur kepanasan. Sandal jepitnya seolah meleleh pula lengket dengan aspal.

"Diiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnn....teeeeeett...dooott..dott.....tiiiiiiiinnn" segala tetet towet klakson ditekan semakin kencang dan marah.
"Ya Allah....ya Allah...." gumam pak becak."Demi Tuhan!...ini sangat berat!"
Sambil mendorong, fikirannya berkecamuk."oh ..tidakkah kalian tahu..ini sungguh berat, otot-otot tubuhku serasa hendak putus, mohonlah bersabar sedikit""tolong sabarlah sedikit"

Pak becak tak mungkin menepikan becaknya karena trotoar sangat tinggi, jika nekat bisa-bisa muatannya tumpah bercerai-berai. Sementara kendaraan dari arah berlawanan tak henti-hentinya berlalu lalang.

"Doooeeeeeeeeeettttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt...doeeeeeeeeeeeeeetttt" makhluk-makhluk bermobil bertambah murka.

"Ya Tuhan....kalian manusia atau bukan!, oh..." dalam benaknya Pak Becak berkata-kata."Ada apa dengan kalian ini, tidak taukah rasanya melakukan ini. Tidakkah di dalam mobil begitu dingin dan sejuk. Berjam-jam didalamnya pun kalian bisa pulas. Keburu apa kalian? Hendak kemana? Apakah kalian ingin segera mencebur ke neraka?"

Suara klakson makin menggila bersahut-sahutan."Oh...mohon bersabarlah..berat sekali ini...Oh Tuhanku" "Andai boleh bertukar sebentar saja, kalian coba dorong benda ini, dan jika kalian mengeluh melakukan ini....akan kucambuk kalian dengan besi cor keras ini. Agar kalian mengerti." batinnya geregetan.

Fikiran Pak Becak kesana kemari. Napasnya seakan hampir putus.Setelah ada celah di sisi kanan, mobil-mobil itu menyalip dengan brutalnya."Oooo...Dasar Budheeeg!!!!!" seseorang mengumpatinya. Beberapa lainnya merengut dan memelototkan matanya sambil menggeber-geber gas mobilnya. Seolah-olah Pak Becak adalah pendosa yang amat berat.

Pak Becak terhenyak, dia hendak marah, tapi ditahan perasaannya. Lalu menunduk lagi tetap terus mendorong bebannya. Tak terasa air matanya menetes."Tidak tahukah kalian..demi 15ribu rupiah aku melakukan ini, dan demi menafkahi keluargaku"."Tuhan menghendaki aku seperti ini, dan menghendaki kalian demikian.

Sungguh enak sekali kalian, tidak bersusah payah setiap hari. Tapi kenapa kesejukan di dalam sana, sepertinya membuat otak kalian mendidih" "Rupanya kalian manusia tapi berotak hewan, yang kerjanya hanya menyalak" "Tidak adakah sedikitpun rasa sabar, dan bersyukur" "Andai kalian adalah anak-anakku, pasti sudah kutampar mulut kalian yang tak mengerti sopan santun. Kupukul kepala kalian yang dungu dengan bambu." "Supaya kalian mengerti, bahwa pukulanku adalah jauh lebih baik. Ketimbang kalian disiksa oleh Sang Pemberi Balasan". 
"Tubuhku boleh sangat lelah dan panas, tapi hati dan pikiranku amatlah sejuk"
"Oh Tuhan Terima kasih ....atas semua ini"
Read More - KISAH SEORANG TUKANG BECAK

Maafkan Suamimu, Istriku

Diposting oleh Yusuf shadiq

Malam kian larut, diluar sana hujan gerimis masih membasahi bumi, semilir angin meniup lembut memasuki lorong-lorong jendela, udara yang sejuk memanjakan para insan melelapkan tidur-tidur mereka.

Dinginnya malam mampu membuat tulang rusuk menggigil meskipun tanpa pendingin ruangan sekalipun. Tetapi suhu yang dingin itu tidak mampu membuat mata Rina terpejam, ia masih duduk dipinggiran tempat tidur, disamping suaminya yang sedari tadi telah lama mendengkur.

Malam itu, Rina sulit sekali terpejam, ia merasa bersalah kepada suaminya, karena meminta sesuatu diluar kesanggupan suaminya yang berpenghasilan pas-pasan, tapi karena sindiran para tetangga, akhirnya ia beranikan diri mengutarakan keinginannya dihadapan suaminya, meski ia tahu, suaminya tidak akan mampu mewujudkannya saat ini.

Pikirannya menerawang kembali pada kejadian beberapa hari lalu, siang itu, ia bertemu dengan orangtua wali murid teman sekolah anaknya. Temannya itu mengundang dirinya untuk hadir pada acara syukuran menempati rumah baru, ya rumah baru yg menjadi impian tiap pasangan yg telah menikah. Mendengar undangan itu hatinya tertegun, ia yg sudah menikah hampir limabelas tahun masih menumpang di rumah orangtuanya, bukan tanpa alasan tapi karena ia dan suaminya memang belum mampu mewujudkannya.

Setiap kali ada teman lama yg menanyakan kabarnya pastilah pertanyaannya selalu membuat hatinya gundah, "tinggal dimana sekarang jeng", ia hanya bisa menjawab "masih ditempat yg lama" , begitulah seterusnya. Padahal ingin sekali ia menjawab, "Sekarang kami tinggal di perumahan A atau di kompleks B" tapi tidak bisa dan tidak tahu kapan ia bisa menjawab seperti itu.

Belum lagi sindiran tetangga yg selalu menyakitkan hatinya, betapa tidak, ia bersama suaminya masih tinggal dirumah orangtuanya, padahal kedua adiknya sudah pergi dibawa suaminya tinggal dirumah masing-masing. Memang dirinya tidak persis tinggal dirumah orangtua, tetapi di bekas garasi dan kamar yg dibuat menjadi rumah petakan dan dibatasi dengan tembok dan sedikit pagar untuk menunjukan bahwa rumah itu terpisah tapi tetap saja dalam lingkup halaman yg sama dan satu atap pula.

Padahal pernah ia mendengar rumor dari neneknya almarhum bahwa malaikat mengirim rezeki kepada manusia satu atap-satu atap, bukan satu keluarga-satu keluarga dan rumor inilah yg selalu menggayuti benaknya senantiasa. Apa mungkin rezekinya seret karena masih tinggal satu atap dengan orangtua hingga ia sulit untuk memiliki rumah sendiri. Kadang ketika ia sedang kalut ia sangat mempercayai rumor itu, tapi ketika ia sadar bahwa rezeki allah yg mengatur ia pun hanya bisa menghela nafas dan istighfar dalam-dalam.

Sore itu ia membulatkan tekad untuk meminta haknya kepada suaminya, ia tak lagi menunggu suaminya berganti pakaian sepulang mengajar di sebuah sekolah swasta. Ketika suaminya tiba langsung ia berondong dengan pertanyaan dan komplain tentang kehidupan rumahtangganya yg dirasakan belum layak, ia tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa ia iri dengan kedua adiknya, ia juga membandingkan penghasilan suaminya dengan penghasilan suami adiknya, kehidupan materi dirinya dan kehidupan materi adiknya.

Sang suami yang kaget karena tidak siap dengan pertanyaan bertubi-tubi hanya diam membisu, hanya sudut matanya terlihat bening membulat yg makin lama makin membesar. Jujur dalam hati sang suami memang ia belum mampu memberikan kehidupan yg layak seperti yg diminta istrinya, ia pasrahkan sang istri mengeluarkan emosi dan amarahnya tanpa membantah satu patah kata pun.

Ia hanya bisa menunduk tak mampu menahan tajam mata istrinya, ia sadar bahwa itu memang tanggungjawabnya memberikan nafkah, sandang serta papan merupakan tugas dirinya tapi apa mau dikata, ia belum bisa mewujudkan semua itu. Di helanya nafas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan lagi secara perlahan. Perlahan buliran-buliran di ekormatanya mulai menggumpal, ia menangis bukan karena meratapi nasibnya, tapi karena sedih melihat istrinya menderita karena ketidakberdayaannya.

Betapa tidak, ia sangat mencintai istrinya yg dinikahinya limabelas tahun lalu, dan selama itu istrinya tetap sabar atas kekurangan dirinya, tetap tersenyum meski lapar dan dahaga kerap menerpa keluarga mereka. Kadang ia malu ketika ibu mertuanya membawa lauk pauk untuk dirinya, istrinya dan anak-anaknya.

Semasa ayah mertuanya masih hidup, ia masih bisa menahan malu, karena ayah mertuanya mempunyai penghasilan dari pensiunan tentara, dengan uang pensiun itu sang kakek kerap mengajak cucunya pergi jalan-jalan ke minimarket di ujungjalan dan pulang dengan membawa sekantong makanan kesukaan anaknya. Tapi kini, sang ibu mertua hanya mengandalkan sisa pensiun almarhum suaminya dan ia tidak tega jika ibu mertuanya itu memberi makanan kepada keluarganya.

Ia menangis karena tidak tega melihat istrinya menderita secara batin akibat sindiran para tetangga yg kerap datang menyinggungnya. Ia merasa bersalah tak mampu memberikan kebahagiaan yg sudah patut diterima istrinya. Kekuatan cinta istrinya kepada dirinya selama bertahun-tahun itulah yg membuat hatinya semakin miris, betapa begitu tega dirinya membiarkan sang istri menderita, padahal pengorbanan yg telah dilakukan kepadanya sangat begitu besar.

Dulu ketika ia hendak melamar istrinya, sebenarnya ada pemuda kaya yg akan melamar istrinya, tapi sang istri menolak. Istrinya memilih dirinya karena pemahaman agamanya lebih bagus dari pada pemahaman agama pemuda kaya itu. Dan itulah yang membuat istrinya bangga menikah dengannya, karena ia yakin cinta dan kesalehan akan membawa kepada kebahagiaan abadi.

Mengingat hal itu hati sang suami bagai diiris-iris sembilu, ia yg dibanggakan istrinya ternyata tidak mampu membahagiakan balik istrinya. Ia hanya bisa berharap kepada rabb pencipta semesta, untuk memberikan kekuatan kepada dirinya dan diri istrinya untuk tetap tegar menghadapi kehidupan ini. Tapi sebagai manusia, kesabaran menjadi terbatas ketika waktu yg berlalu ternyata melewati batas toleransi.

Apalagi ditambah hasutan syetan yg senantiasa memanas-manasi keadaan. Ketika orang lain bisa, mengapa dirinya tidak bisa, itulah perkataan terakhir Rina kepada suaminya saat sebelum meninggalkan dirinya dan pergi masuk kamar untuk menangis tersedu-sedu. Tinggal sang suami duduk lesu tak mengerti harus berkata apa, dalam rasa bersalah yg mendalam, dalam rasa iba kepada istrinya yg merasuk kedalam buluh-buluh nadi lalu mencengkrap kuat ototjantungnya. Saat itu kehidupan dirasakannya seperti berhenti berdetak, sementara azan maghrib sayup-sayup mengalun, mengabarkan dunia akan waktu sholat telah tiba.
-o0o-
Malam pun kian larut, Rina masih memandang wajah lelah suaminya yg telah bekerja seharian, ia tahu suaminya pasti belum makan karena marahnya sore tadi. Sang suami pasti enggan meminta disediakan makan malam untuknya melihat ia dalan keadaan marah seperti itu. Setelah sholat isya, sang suami lebih memilih tidur untuk menenangkan fikiran.

Ia tidak perduli perutnya bergejolak karena lapar. Dalam keheningan, Rina memandangi guratan-guratan diwajah suaminya, guratan yg membuat wajahnya terlihat lebih tua dari usia seharusnya. Rina merasa bersalah, mengapa ia menyakiti suami yg tidak pernah menyakiti dirinya sedikitpun selama perkawinan mereka. Ia seakan lupa bahwa dulu ia memilih suaminya bukan karena hartanya, tapi karena kekayaan hati suaminya.

Dan ia sangat bahagia akan hal itu. Tapi kini mengapa ia harus menggugat, meskipun gugatannya itu adalah gugatan wajar, ketika seorang istri menuntut hak kepada suaminya untuk mendapatkan tempat tinggal yg layak. Tapi bagi dirinya, hal itu sudah mencederai janji tulus kepada suaminya. Ia yang selama ini tetap tegar dan sabar ternyata bisa lepas kendali hanya karena sindiran tetangganya.

Seorang suami yg paling baik, yg tidak pernah memarahinya, yg tidak pernah menuntutnya, yg tidak pernah menyakitinya seujung kukupun kini terluka oleh lidahnya. Ia yg sangat sabar dan telaten, penyayang dan santun, yg selalu mengajarkan tentang kebaikan dan keutamaan wanita solehah kepada dirinya kini harus tersudut oleh ucapan kerasnya. Rina begitu sangat menyesal sekali.

Dipandangnya wajah lelap suaminya berkali-kali, diusapnya keringat yg mengalir dikening suaminya. Melihat pemandangan yg menyentuh pada raut muka suaminya,membuat mata Rina berkaca-kaca, nafasnyapun mulai sesenggukan, perlahan airmatanya menetes, butiran demi butiran mengalir dan jatuh menimpa kelopak mata sang suami. Sang suami kaget, ia terbangun dan perlahan membuka matanya lantas berkata.

"Ada apa sayang, mengapa engkau bangunkan aku dengan airmatamu, biasanya engkau membangunkan aku dengan kecupan didahiku". Bukannya menjawab, tangisan Rina malah semakin pecah, ia menangis tersedu-sedu dibahu suaminya. Suaminya yg merasa tidak enak karena merasa Rina belum puas atas amarahnya tadi sore kini memberanikan diri untuk berkata.

"Istriku sayang, kali ini aku mohon maaf kepadamu lagi, dan aku tidak tahu, sudah berapa kali aku meminta maaf kepadamu atas kelemahan diriku ini, akupun sudah malu karena seringnya aku meminta maaf kepadamu, jika engkau tidak puas kepadaku. Aku pasrahkab diriku atas keputusan yg engkau berikan, apapun keputusanmu itu."

Sayangku, izinkan aku membela diri atas kelemahanku sebelum engkau memvonis aku, izinkan aku berbicara tentang hakikat rezeki sebelum engkau pergi dari ku, izinkan aku bicara atas nama cinta dan kasih sayang keluarga kita. Sayangku, aku tahu engkau menikahiku bukan karena melihat latarbelakang diriku yg papa, engkau memilih aku atas dasar keimanan yg aku punya, dan memang hanya itu harta yg aku punya ketika aku melamarmu.

Itupula yang membuat aku bangga kepadamu melebihi kebanggaan apapun didunia ini. Aku tahu sebagai istri, kamu ingin seperti adik-adikmu atau seperti wanita lain, memiliki rumah sendiri meskipun kecil, memiliki "rumahku syurgaku" seperti idaman para remaja putri ketika hendak menikah. Memiliki taman kecil dihalaman depan, atau kolam ikan dihalaman belakang, memiliki hiasan kaligrapi diruang tamu, atau pancuran shower dikamar mandi. Bisa berksperimen membuat kue untuk anak-anak kita didapur yg mungil, atau sekedar berteduh di gazebo kecil di depan rumah.

Semua itu adalah wajar bagi seorang istri. Semua itu adalah kesempurnaan dalam hidup dan kesenangan dalam rumah tangga. Tapi istriku, aku ingin engkau melihatnya dari sisi lain. Ketika adik-adikmu mempunyai kebahagiaan dan kebanggaan karena memiliki rumah sendiri, kamu pun memiliki kebanggaan dan kebahagiaan juga.

Karena Tuhan menakdirkan kita masih tetap disini, disamping orangtua kita saat mereka memasuki usia senja, ketika orang lain sulit untuk berbakti kepada orangtua, kita justru menerima anugerah itu, bakti kita kepada mereka, merawatnya ketika sakit, menemaninya ketika sepi, menghiburnya ketika sedih dan membantunya dalam segenap aktifitas sehingga ia bisa melewati masa tuanya dengan tenang tanpa beban bukankah menjadi rezeki tersendiri bagi kita, rezeki berupa pahala yang akan diberikan allah kelak karena bakti kita kepada orangtua.

Mungkin dari sisi materi, orangtua lebih bangga kepada adik-adikmu, tetapi dari sisi pengabdian dan kasih sayang kepada orangtua, justru kamulah yg dibanggakannya, berapa kali ibu memujimu dihadapanku karena ketelatenanmu merawatnya. Bukankah itu rezeki yg luar biasa istriku?

Ketika adikmu memiliki dua kebahagiaan yakni kebahagiaan karena memiliki rumah sendiri dan kebahagiaan karena kehidupan yang layak, kamupun memiliki dua kebahagiaan pula, kebahagiaan yg belum tentu dimiliki oleh seorang istri sekaligus, yakni kebahagiaan karena keridhaan orangtua atas baktimu, dan kebahagiaan karena ridha suamimu atas pengorbanan dan kesetiaanmu. Bukankah dua keridhaan itu yg bisa mengangkat derajatmu menuju syurga-NYA".

Rina tak bisa bicara, tenggorokannya tercekat, betapa suaminya telah berhasil merobohkan tiang kebodohannya, ia telah berhasil membukakan mata batinnya, keluguannya memahami kebahagiaan seolah lenyap, digantikan pencerahan akan kebahagiaan sesungguhnya. Dalam bisik ia bertanya kepada suaminya, "apakah kau ridha kepadaku sayang?" Sang suami pun tersenyum sambil berkata "Ya, aku ridha kepadamu, atas semua bakti yg kamu lakukan selama ini dan aku pun berharap, engkaupun ridha kepadaku"

Kuharap dengan dua keridhaan yang kau miliki, engkau berdoa kepada Allah untuk memuluskan langkah kita kedepan, mengabulkan semua impian kita dan meneguhkan langkah-langkah kaki kita agar kuat menahan godaan". Rina pun bergumam "amin" seraya berbisik hangat ia berkata" maafkan aku sayang, akupun ridha kepadamu..."

Angin sepoi sejuk bertiup perlahan, memasuki sela-sela pintu dan jendela. Udara dingin yg mengkristal tak mampu membekukan dua hati manusia yang saling mencintai karena Allah, kehangatan yg hadir dari para hati yg saling ridha mendamaikan kehidupan dikamar yg sempit itu, tetapi sempitnya kamar tidak membuat hati mereka ikut sempit, dengan ridha di hati justru meluaskan dan melapangkan kebahagiaan mereka, seluas samudera yang tak bertepi...
 
semoga menjadi sebuah kisah inspiratif buat kita semua…..
Read More - Maafkan Suamimu, Istriku

Jumat, 04 November 2011

untaian kataku pada_Mu

Diposting oleh Yusuf shadiq
Ya Rabb………
Begitu hinanya diri ini dihadap_Mu….
Niat dan keinginan hamba dihadapan_Mu
Tak sejalan dengan sikap hamba
Hamba begitu hina dan kotor
Hamba tak kuasa menahan nafsu
Hamba tak kuasa melawan keinginan
Ya Rabb……….
Kenapa hamba jadi begini 
Tolong hamba
Hamba tak kuasa untuk semuanya
Ya Rabb……..
Ditengah sujud hamba 
Hamba selalu memohon ampunan_Mu 
Hamba selalu merendahkan diri
Ya Rabb………
Dido’a hamba
Hamba selalu memuja_Mu
Hamba selalu mengadu pada_Mu
Hamba selalu meminta kepada_Mu
Ya Rabb………
Hanya tetesan air mata yang hamba berikan
Memohon ampunan dan perlindungan_Mu
Memohon kebaikan dan kebesaran_Mu
Ya Rabb………
Semoga tetesan air mata ini 
Berguna untuk hamba
Biarkanlah hamba meneteskannya
Demi kedamaian hati hamba
Hanya ini cara hamba untuk menenangkan hati hamba
Ya Rabb………
Demi kekuasaan_Mu
Demi kebesaran_Mu
 Demi kehendak_Mu
Ampuni hamba
Tolong hamba
Temani hamba
Ya Rabb………
Hanya dengan secuil cintaku
Hanya dengan separuh hati
Hanya dengan setengah jiwaku
Aku datang pada_Mu
Aku datang menghadap_Mu
Aku memohon pada_Mu
Ya Rabb…………
Hanya dengan itu……..  
Aku datang pada-Mu
Aku malu
Pantaskah aku menghadap_Mu!
Pantaskah aku mengharap perlindungan_Mu!
Pantaskah aku menuntut pada_Mu!
Menuntut keinginan yang begitu banyak!

nnn
Read More - untaian kataku pada_Mu

Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa

Diposting oleh Yusuf shadiq
Hai orang-orang yang beriman..! Apakah anda sering mengeluh dengan apa yang sudah diberikan Allah kepada anda..? Tidak percaya diri dengan tubuh anda, wajah anda, ataupun penampilan anda..!

Janganlah begitu, anda masih tergolong orang-orang yang beruntung. Masih banyak orang lain yang lebih sulit keadaanya dibanding anda.! please look at the picture below.
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa - Ardiz Tarakan
Bersyukurlah kepada Allah selagi masih bisa bersyukur.
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. Quran Surah. Al baqarah:152)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Quran Surah. Luqman:14)

"...... Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (Quran Surah. Luqman:12)

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (Quran Surah. An Nahl:78)

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir". (Quran Surah. Al Insaan:3)

"Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Quran Surah. Al Qashash:73)

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur , pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Quran Surah. Ibrahim:7)

"............Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyal karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur" . (Quran Surah. Al mu'min:61)

Wassalamualaikum warohmatulloh,
Read More - Bersyukurlah Kepada Allah Selagi Masih Bisa

Kamis, 03 November 2011

Siapa Ayahmu?

Diposting oleh Yusuf shadiq
Siapakah Ayah itu? Ayahmu juga menyayangimu. 

       Siapakah beliau, yang kau panggil Ayah? Mungkin di antara kalian memanggilnya papa(h). Ada pula yang memanggilnya Abi. Beberapa orang memanggilnya Abah. Anak-anak dari lingkungan elite lebih senang memanggil beliau dady/dad. Sedangkan aku sendiri memanggilnya Bapak.
       Aku tahu, kita mungkin sering membicarakan betapa baiknya seorang Ibu. Betapa sayangnya beliau kepada kita, sehingga kitapun menyayanginya. Untuk menunjukkan dan menghargai kasih sayang seorang Ibu, dunia pun telah menetapkan adanya Hari Ibu. Di Indonesia, hari istimewa tersebut dirayakan setiap tanggal 22 Desember. Hari khusus yang dipersembahkan kepada para ibu, untuk memperingati dan berterima kasih atas peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.

       Kali ini, giliran Ayahlah yang kita bicarakan. Aku ingin mengajak kalian mengenal sedikit tentang Ayah kalian. Meski tidak ada Hari Ayah di Indonesia sebagai pengingat betapa pentingnya peran seorang Ayah bagi kita, tetapi tak lantas membuat kita menjadi anak yang lupa berterima kasih kan??? Baik Ibu maupun Ayah, sama pentingnya dalam hidup kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh melupakan jasa-jasa Ayah pada kita, apalagi membencinya.


         Mungkin, beberapa dari kita ada yang berpikiran bahwa Ayah tak sayang pada kita. Tak bersikap baik sebagaimana sikap Ibu kepada kita. Jangan salah paham dengan buru-buru menyalah artikan sikap seorang Ayah yang umumnya berbeda jauh dari sikap seorang Ibu. Ayah bersikap keras, bukan berarti karena tak sayang. Beberapa Ayah memilih cara seperti itu untuk mendidik anaknya agar menjadi manusia yang kuat dan tak gampang menyerah dengan masalah. Karena Ayahmu tahu, untuk bertahan hidup kita tidak sekedar bermodal perasaan tapi juga kekuatan. Ayah akan memberitahumu bahwa hidup adalah perjuangan. Hidup ini keras dan bisa sewaktu-waktu menjadi arena persaingan dan perselisihan. Jadi jangan terlalu berharap kamu akan mendapat perlakuan baik dari semua orang.

        Tahukah kamu, di balik kekerasan sikapnya tersimpan kasih sayang yang begitu besar padamu. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun, namun slalu membutuhkan kehadirannya. Ayah akan merasa sangat berharga jika anak-anaknya membutuhkan dirinya. Seperti yang kita ketahui, tak ada seorangpun yang ingin dilupakan. Tak terkecuali dengan Ayah kita.
       Ayahmu memang tidak pernah berjalan dengan membawa beban berat di dalam perutnya selama 9 bulan 10 hari. Ayah juga tidak bertarung dengan kematian agar kita bisa terlahir ke dunia. Tapi apakah kau tahu, beliau adalah orang yang paling bahagia saat ibumu memberitahu padanya bahwa sebentar lagi akan ada seorang anak yang menemani hidup mereka. Memenuhi dunia dengan tawa dan tangis. Ayah akan mencium perut ibumu setiap dia akan berangkat dan pulang bekerja. Beliau juga senang mengajakmu berbicara, meskipun kau masih berada dalam perut ibumu.
          Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi. Beliau berpikir keras, mencari cara bagaimana mengajarimu tanpa harus bersikap otoriter ataupun diktator. Beliau tidak ingin menjadi sosok yang dibenci olehmu karena sering memarahimu.
       Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi. Ayahmu, adalah Ayah yang terbaik. Beliau sudah disiapkan oleh Allah khusus untuk mendidikmu. Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: "jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari Ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu". Dan Untuk masadepan anak gadisnya ayah berpesan: "jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! Laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu".
         Ayah akan dengan senang hati membantumu mengerjakan PR jika kamu meminta bantuannya, dengan catatan “JANGAN MAU ENAKNYA AJA YA….!!!” dan kamu juga harus bersabar jika saat mengajarimu beliau akan sedikit keras. Ayah tidak akan langsung memberitahumu jawabannya. Karena segala hal tak terjadi dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses. Maka ayahmu lebih senang untuk menemani dan menuntunmu untuk mencari jawabannya.
      Ayah menganggap setiap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan. Beliau akan memberimu kesempatan untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. Namun, tentu saja beliau tidak membebaskanmu tanpa pengawasan. Ia akan segera menyatakan rasa tidak setujunya, jika menurutnya pilihanmu tidak tepat.
       Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar SPP mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya. Tidak terhitung, berapa keringat yang tercucur dari tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menghambur-hamburkan uang untuk menghargai jerih payahnya.
      Kebanyakan Ayah tidak tahu bagaimana cara berbicara padamu, padahal beliau sangat ingin menjadi teman yang baik bagimu. Seorang laki-laki memang tidak didesain untuk banyak berbicara seperti wanita. Para ayah tidak pandai mengungkapkan perasaan. Beliau mungkin tidak akan sering-sering menelepon untuk menanyakan kabarmu saat kamu berada di perantauan. Tapi ketika kamu sedang berbicara dengan ibumu melalui telepon kemudian kau mengatakan bahwa keadaanmu baik dan sehat, ada sedikit senyum di bibirnya karena perasaan lega.

        Ayah mungkin tidak menangis saat kau sakit. Ayah juga tidak akan memanjakanmu. Kamu juga mungkin tidak akan mendapati ayahmu yang tak tidur karena menungguimu. Akan tetapi, beliau juga begitu resah sama seperti ibumu saat mengetahui bahwa kau sedang sakit.
         Ayahmu melarangmu ke luar hingga larut malam bukan karena tidak mempercayaimu. Beliau hanya ingin mendidikmu, bahwa sebuah kebebasan harus dibarengi dengan tanggung jawab. Suatu kebebasan bukan berarti tidak mempunyai batasan-batasan. Ketika kau menginap di rumah teman tanpa izin, beliau tidak marah karena tak suka kau bersenang-senang dengan temanmu. Akan tetapi karena kamu melakukan sesuatu tanpa seizinnya. Berbicaralah dengan sopan, berkatalah dengan jujur, dan tunjukkan bahwa kau orang yang menepati janji dan bisa dipercaya, maka kamu pasti akan mendapatkan izin darinya.
        Ayah yang baik akan berusaha menjadi imam yang baik bagi kamu dan ibumu. Dia akan bersikap keras jika melihat anaknya tak menjalankan kewajiban kepada Tuhan. Beliau berani memukulmu jika kau tak mau sholat, meskipun hal itu bisa membuatmu marah kepadanya. Seorang ayah tidak akan rela membiarkan anaknya tersesat.


       Tidak ada kata yang tepat menggambarkan kebaikan orang tua kita, baik Ayah maupun Ibu. Mereka berdua mempunyai andil yang sangat besar dalam hidup kita. Mereka adalah sosok yang saling melengkapi. Ayah mendidikmu dengan kekuatan dan Ibu mendidikmu dengan kasih sayang. Oleh karena itu, mari kita sayangi orang tua kita, berbakti pada mereka, dan menjadi anak yang membanggakan.Salam manis dariku,Fitri Fatimah Zahra
Read More - Siapa Ayahmu?

Jilbab Syar'i itu Jilbab Fisik atau Jilbab Hati?

Diposting oleh Yusuf shadiq

Hingga hari ini masih banyak wanita yang memperdebatkan masalah jilbab. Banyak dari mereka tidak mengenakanjilbab dengan alasan masih merasa hatinya belum terjilbabi. Statemen ini awalnya merebak di kalangan artis. Untuk menghindari dan mengingkari

perintah hijab. Mereka menggunakan alasan di atas untuk menguatkan alasannya membiarkan kepalanya telanjang ditempat umum.

Pada hari ini, artis telah menjadi ‘berhala baru’ bagi anak muda. Tidak mengenal sahabat Rasulullah sudah  menjadi hal yang dimaklumi, tapi tidak punya idola artis akan mendapat  ulukan kampungan, kuper dll. Setelah artis dijadikan berhala baru yang diidam-idamkan, dipuji-puji, dikagumi, apa saja yang artis lakukan akan di ikuti, termasuk artis yang tidak mengenakan hijab.

Dalam kenyataannya, statemen ‘ingin menjilbabi hati’ ini telah melekat di hati banyak wanita muda. Mereka  enggan mengenakan hijab dengan alasan masih belum siap dan ingin menjilbabi hatinya dulu. Kelompok ini bukan tidak siap, tetapi bisa jadi enggan melakukan persiapan. Padahal perintah hijab itu bukan perintah biasa, tetapi perintah Allah SWT secara langsung bagi wanita beriman.

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan anak-anak orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang  demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Al-Ahzab 59).

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.....” (An-Nur 31).

Jika wanita islam enggan mengenakan hijab, lantas apa bedanya mereka dengan wanita non muslim? Sesungguhnya hijab itu adalah pembeda antara wanita muslim dengan non muslim.

Tidak ada satupun ada perintah yang mengatakan bahwa jilbab hati itu merupakan hal yang urgent dibanding jilbab fisik. Statemen jilbab hati muncul dari kalangan mereka yang belum memahami ilmu hijab dengan baik. Meski begitu, hijab itu bukan hijab yang menjadikan wanita tersebut tabarruj (memamerkan kecantikan), bukan pula yang bercorak-corak modis. Karena sesungguhnya ada batasan dan kriteria busana syar’i yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Harus menutup seluruh badannya, kecuali wajah dan telapak tangan, maka tidak boleh ditampakkan leher dan lain-lain walaupun hanya sebesar uang logam.

2. Bukan busana perhiasan yang justru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni.

3. Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis, dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk tubuhnya tampak atau transparan.

4. Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya.

5. Tidak menyerupai kaum laki-laki seperti memakai celana panjang (ketat), kaos oblong, dan semacamnya. Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan
yang menyerupai laki-laki.

6. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.

7. Bukan untuk mencari popularitas.


Jadi, jilbab hati itu tidak ada. Yang Allah perintahkan adalah jilbab fisik, adapun mengenai hati, itu merupakan kewajiban, tanpa harus menafikan masalah urgensi jilbab fisik.


Yulianna PS
Read More - Jilbab Syar'i itu Jilbab Fisik atau Jilbab Hati?

Nasib Penghujad Islam Dalam siroh Nabawiyah

Diposting oleh Yusuf shadiq

Dalam bukunya berjudul ”Pedang Terhunus Bagi Penghujat Rasul” (”AsSarim al Maslul ’ala Shatim arRasul”), Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah pelajaran penting dari Siroh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa seorang pemuka Yahudi ahli syair warga Madinah bernama Ka’ab bin Al-Asyraf dibunuh oleh seorang sahabat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bernama Muhamad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu. Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.
Ceritanya, setelah berita kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi pasukan Islam di dalam perang Badar sampai ke Madinah, maka Ka’ab berkata: ”Jika berita ini benar, maka berada di bawah tanah lebih baik bagi kami daripada di atasnya.” Artinya, ia merasa dirinya lebih baik mati daripada hidup setelah kekalahan kaum kuffar Quraisy. Lalu Ka’ab bin Al-Asyraf membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan kaum musyrikin tersebut. Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan kaum muslimin. Lalu pergilah ia ke Mekkah untuk menampilkan puisinya dan turut berduka cita bersama kaum musyrikin Mekkah. Bahkan kaum muslimat juga ia lecehkan di dalam syairnya. Maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda:
من لي بكعب بن الأشرف فإنه قد أذى الله و رسوله
”Siapakah yang mau menangani Ka’ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh telah mengganggu Allah dan RasulNya?”
Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu, salah satu dari orang-orang Ansar dari suku Aus berkata: ”Saya akan melakukannya Wahai Rasulullah..! Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia?”.
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjawab: ” Ya!”
Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu telah memberikan suatu janji; ia telah berjanji dengan lisannya bahwa ia akan membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf!
Ia pulang ke rumah dan mulai berpikir tentang tugas tersebut dan mulai menyadari bahwa untuk mewujudkannya ternyata tidaklah ringan. Ka’ab tinggal di sebuah benteng di kawasan Yahudi dikelilingi para pendukungnya sehingga sangat, sangat sulit untuk membunuhnya..! Dia mulai menjadi prihatin memikirkannya. Suatu keprihatinan yang melalaikannya dari makan dan minum kecuali sekedar untuk bertahan hidup. Selama tiga hari ia praktis tidak makan dan minum...!
Berita ini sampai ke Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Lalu ia panggil Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan bertanya: ”Ada apa denganmu, Muhammad bin Al-Maslamah? Benarkah kamu berhenti makan dan minum?”
Ia menjawab: ”Benar, ya Rasulullah.”
”Mengapa?” tanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.
Ia menjawab: ”Aku telah berjanji sesuatu yang aku sendiri pertanyakan. Akankah aku sukses melakukannya dan memenuhinya?”
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda:
انما عليك الجهد
“Yang dituntut darimu hanyalah kesungguhan, sisanya serahkanlah kepada Allah Yang Maha Kuasa.”
Subhanallah...! Lihatlah semangat dan kesungguhan para sahabat. Tidak bisa makan atau minum bila menghadapi keadaan seperti itu. Baginya hal ini merupakan perkara sangat serius. Ia telah berjanji dan khawatir tidak dapat memenuhi janjinya. Ia tidak sanggup meneruskan hidupnya seperti biasanya sebelum Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan agar ia memenuhi bagiannya dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Barulah ia merasa terhibur dan bisa makan dan minum kembali...!
Akhirnya datanglah Muhammad Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan suatu rencana, namun ia minta izin terlebih dahulu: ” Wahai Rasulullah, untuk menjalankan rencana ini izinkanlah saya berbicara terhadap anda!” (Bagian dari rencananya ia akan berbicara negatif tentang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di hadapan Ka’ab)
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Katakanlah apa yang anda ingin!”
Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu dan sekelompok kecil dari orang-orang Ansar dari suku Aus, pergi menjumpai Ka’ab bin Al-Asyraf guna mengatur perangkap baginya. Mereka berkata kepada Ka’ab: ”Lelaki ini –maksudnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam - merupakan ujian Allah bagi kita semua. Ia masalah. Ia musibah. Dan bangsa Arab telah memerangi kita dan memusuhi kita karena dia.”
Ka’ab menjawab: ”Sudah kukatakan pada kalian sebelumnya. Kalian akan lihat keadaan bakal menjadi lebih buruk.”
AlMaslamah radhiyallahu 'anhu berkata: ”Ka’ab, semenjak kehadiran lelaki ini keadaan keuangan kami telah memburuk. Kami ingin pinjam uang darimu dan menitipkan jaminan.”
Ka’ab menjawab: ”Serahkan anak-anak kalian padaku.”
Mereka berkata: ”Kami tinggalkan anak-anak kami kepadamu sebagai jaminan untuk pinjaman yang tidak seberapa, maka itu akan menjadi aib bagi mereka seumur hidup.”
Ka’ab melanjutkan: ”Bila demikian, serahkanlah wanita kalian.”
Mereka berkata: ”Bagaimana kami serahkan kaum wanita kami kepada Anda sedangkan Anda lelaki paling tampan? Sudahlah, kami akan menjaminkan kepada Anda persenjataan kami.” Ka’ab berujar: ”Baiklah, setuju.”
Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu menjebaknya agar pada kunjungan berikutnya Ka’ab tidak akan curiga bila mereka datang membawa senjata. Maka mereka buat perjanjian untuk pertemuan berikutnya di malam hari karena lebih kondusif.
Maka pada malam yang disepakati Ka’ab datang menemui AlMaslamah radhiyallahu 'anhu. Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu bilang kepada kawan-kawannya: ”Jika kalian melihat aku memegang kepalanya itulah pertanda saatnya kalian menyerang dia dengan pedang-pedang kalian.”
Ketika Ka’ab berjumpa dengan AlMaslamah radhiyallahu 'anhu ia diajak untuk berjalan-jalan ke tempat nostalgia mereka dahulu. Yaitu tempat mereka dahulu biasa menghabiskan waktu ketika AlMaslamah radhiyallahu 'anhu masih jahiliyah, yaitu di Sya’ab al A’juz. Suatu tempat di pinggir kota menjauhi benteng Yahudi.
Saat tiba di tempat tujuan AlMaslamah berkata kepada Ka’ab: ”Harum nian aroma yang muncul dari rambutmu. Boleh aku menciumnya dari dekat?” (Ka’ab rupanya menggunakan parfum beraroma sejenis kesturi sebagai minyak rambutnya).
Ka’ab berkata: ”Silakan.”
Ia pegang kepalanya dengan kuat dan berdatanganlah kawan-kawannya menyerang Ka’ab dengan pedang mereka. Tapi serangan tersebut tidak cukup mematikannya. Ka’ab-pun menjerit memohon pertolongan. Benteng Yahudi mulai menyala pertanda warganya terbangun. Dengan sigap Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu mengeluarkan belati dan menusuk dalam-dalam perut Ka’ab hingga belatinya mencapai tulang pinggangnya...!
Demikianlah Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu beserta beberapa pemuda Aus menangani orang yang menghujat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam...!
Kemudian keesokan harinya, datanglah kaum Yahudi bersama beberapa kaum musyrik menemui Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Mereka berkata: ”Salah seorang yang  terhormat dari kalangan kami telah dibunuh semalam! Dan ia dibunuh secara licik. Bukan bertarung satu lawan satu. Ia dibunuh secara diam-diam dan tiba-tiba..!” Mereka selanjutnya berkata: ”Ia telah dibunuh tanpa sebab tindak kriminal apapun yang telah dilakukannya...!”
Mereka mempertanyakan mengapa Ka’ab ibn Al-Asyraf dibunuh padahal terdapat perjanjian damai yang telah disepakati antara Rasulullah dengan kaum Yahudi di Madinah. MENGAPA? BAGAIMANA INI BISA TERJADI?
Apa jawab Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ? Beliau bersabda:
انه لو قر كما قر غيره ممن هو على مثل رأيه مغتيل و لكنه نال منا                                                                                                                   الأذى و هجانا بشعر و لم يفعل هذا احد منكم الا كان السيف
“Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi dia telah mengganggu kami dan menghujat  kami dengan puisinya, dan tidak ada seorangpun di antara kalian yang melakukan hal semacam itu kecuali kami akan tangani dengan pedang!”
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa banyak orang yang keyakinan di dalam hatinya mirip dengan Ka’ab bin Al-Asyraf, ia bukan dibunuh karena itu! Ia bukan dibunuh karena ia tidak percaya, ia tidak dibunuh karena ia membenci Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, ia tidak dibunuh karena membenci kaum muslimin. TIDAK...! Banyak orang lain yang mempunyai penyakit hati seperti itu namun tidak dibunuh, mereka dibiarkan hidup. “Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi ia telah berbicara menentangku dan mengumpatku,” demikian Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.
Lalu Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan sejelas mungkin kepada kaum Yahudi: ”Jika salah seorang di antara kalian, kaum Yahudi atau musyrikin, mencoba untuk mengumpatku melalui ucapannya demikianlah kami akan tangani dia. Tidak ada di antara kami dengan kalian selain pedang..! Tidak akan ada dialog, tidak ada pengampunan, tidak ada jembatan, tidak akan ada upaya rekonsiliasi. Hanya ada pedang di antara saya dengan kalian..!” Dan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan hal ini sejelas-jelasnya. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengajak kaum Yahudi dan musyrikin menanda-tangani dokumen kesepakatan yang memuat perjanjian bahwa mereka tidak akan berbicara menentang beliau.
Ibnu Taimiyah berkata: ”Ini merupakan bukti bahwa mengganggu Allah dan RasulNya merupakan alasan untuk mendorong kaum muslimin membunuh siapa saja yang melakukan gangguan tersebut meskipun mereka punya perjanjian dengan kaum muslimin.”
Sebagian orang berusaha memelintir pelajaran dari cerita Siroh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ini dengan berpendapat bahwa Ka’ab ibn Al-Asyraf dibunuh karena ia menganjurkan kaum musyrik Mekkah untuk memerangi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, bukan karena kata-katanya.
Ibnu Taimiyah menegaskan: ”TIDAK! Ia dibunuh karena syairnya yang ditulisnya dan dibacakannya bahkan sebelum ia pergi ke Mekkah.” Jadi tidak ada kaitannya karena ia pergi ke Mekkah dan menganjurkan mereka memerangi kaum muslimin. Ka’ab bin Al-Asyraf telah dibunuh semata-mata karena puisinya...!
Ibnu Taimiyah melanjutkan: ”Semua yang dilakukan Al-Asyraf ialah mengganggu dengan lidah. Meratapi terbunuhnya kaum kuffar, dukungannya kepada mereka untuk berperang, kutukan dan umpatannya dan ucapannya merendahkan agama Islam dan mengutamakan agama kaum kafir, semua ini ialah ucapan dengan lidahnya. Inilah hujjah-bukti terhadap siapapun yang berselisih pendapat tentang isyu-isyu seperti ini. Jelaslah tidak ada perlindungan dengan cara apapun bagi darah manusia yang mengganggu Allah dan RasulNya melalui puisi dan umpatan.”
Wallahu a’lam bish-showwaab.-
(Dikutip dari sebagian ceramah berjudul "The Dust Will Never Settle Down"  Syaikh Anwar Al-Awlaki)
Read More - Nasib Penghujad Islam Dalam siroh Nabawiyah

Renungan Buat Ikhwan-Akhwat yang Berta'aruf di Dunia Maya

Diposting oleh Yusuf shadiq


“Ukhti, aku tertarik ta’aruf sama anti.” Itulah kalimat yang sering diadukan oleh para akhwat yang penulis kenal. Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat, rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat.
Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.

Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.
Kasus ta’aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.
Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.

Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya:

“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.
“‘Wa’alikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.
“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.
Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.
“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”
Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”
....Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya....
Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.
Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay.
Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a’udzubillah, bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!

Muslimah  itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.
....Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?....
Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.
Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.

Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.
Wahai Ikhwan,
Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.
....luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis....
Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!

Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang  tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.
Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?
Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.
....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram....
Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.
Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah. [Yulianna PS/voa-islam.com]
Read More - Renungan Buat Ikhwan-Akhwat yang Berta'aruf di Dunia Maya

Selasa, 01 November 2011

"Tarbiyah bukan segala-galanya tetapi segala-galanya bermula dengan tarbiyah."

Diposting oleh Yusuf shadiq
Merenung dan memahami ayat ini sedalam-dalamnya pasti akan membawa kita kepada pelbagai memori lama.

Bagaimana kita tersadung dengan jalan tarbiyah?
Bagaimana kita mula jatuh cinta dengan ukhwah fillah?
Bagaimana kita mula meninggalkan karat-karat jahiliyah?

Semua itu adalah satu kenangan yang boleh menjadi daya tolak untuk kita terus melangkah. Kita masih melangkah walau kepenatan maha dahsyat menjengah. Kita masih melangkah kerana kecintaan kita, kesyukuran kita dengan jalan yang telah merubah hidup kita dari segala aspek samaada luaran dan dalaman..Fikrah, ruhiyah dan jasad. Begitulah tarbiyah mengajarkan kita. Ia telah berjaya membentuk manusia biasa menjadi luar biasa.

"Dan Allah melebihkan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mahu memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama (merasakan) rezeki itu. Mengapa mereka mengikari nikmat Allah? (al-Quran, 16:71)."
Sedari awal lagi kita mengimani bahawa jalan tarbiyah yang sedang kita lalui ini adalah satu nikmat dan rezeki yang besar dari Allah untuk kita.

Dan atas dasar keimanan itu jugalah, kita bergerak dalam meyampaikan dan menyeru manusia untuk bersama-sama merasai nikmat jalan ini.

Sehinggalah suatu ketika,

Setelah bertahun ditarbiyah dan mentarbiyah,

Tiba-tiba kita sudah tiada rasa. Terasa hambar dan ada juga yang melemah hanya kerana asbab teknikal yang sangat remeh untuk difikirkan (lagi-lagi kepada para daei).

Mula kering ketika menerima taujihat dari murabbi. Mula berat untuk bertemu mutarabbi yang sedia untuk ditarbiyah.

Dimana masalah sebenarnya?

Dalam diri kita?hati kita?murabbi kita?

Sedangkan, ini adalah pendapat Imam Hassan Al-Banna tentang mujahid yang membawa islam:
 “Saya dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang sentiasa mempersiapkan dan membekali diri, berfikir tentang keberadaannya dalam segenap ruang hatinya. la selalu dalam keadaan berfikir. Waspada di atas kaki yang selalu dalam siap siaga. Bila diseru ia menyambut seruan itu.

Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan permainannya, tidak melanggar arena yang dia persiapkan untuknya. Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya.

Anda dapat membaca hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya. Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan kecil di sebalik perjuangan.

Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang, dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin.”
Tidakkah kita tertampar?

Masih ada masakah untuk kita memikirkan tentang lemah?

Lemahnya jiwa adalah kerana keringnya iman kita.

Keringnya iman kita kerana kurangnya mutabaah amal kita.

Kurangnya mutabaah amal kita kerana lemahnya mujahadah kita.

wallahuallam

Jom kita tingkatkan iman dan amal bersama-sama. Semoga Allah lindungi kita dari azab yang tidak terkata dahsyatnya.


"Dan kalau bukan kerana kurniaan Allah dan rahmatNya kepadamu (nescaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Sungguh, Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang."(24:20)
Read More - "Tarbiyah bukan segala-galanya tetapi segala-galanya bermula dengan tarbiyah."