Kamis, 03 November 2011

Siapa Ayahmu?

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Siapakah Ayah itu? Ayahmu juga menyayangimu. 

       Siapakah beliau, yang kau panggil Ayah? Mungkin di antara kalian memanggilnya papa(h). Ada pula yang memanggilnya Abi. Beberapa orang memanggilnya Abah. Anak-anak dari lingkungan elite lebih senang memanggil beliau dady/dad. Sedangkan aku sendiri memanggilnya Bapak.
       Aku tahu, kita mungkin sering membicarakan betapa baiknya seorang Ibu. Betapa sayangnya beliau kepada kita, sehingga kitapun menyayanginya. Untuk menunjukkan dan menghargai kasih sayang seorang Ibu, dunia pun telah menetapkan adanya Hari Ibu. Di Indonesia, hari istimewa tersebut dirayakan setiap tanggal 22 Desember. Hari khusus yang dipersembahkan kepada para ibu, untuk memperingati dan berterima kasih atas peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.

       Kali ini, giliran Ayahlah yang kita bicarakan. Aku ingin mengajak kalian mengenal sedikit tentang Ayah kalian. Meski tidak ada Hari Ayah di Indonesia sebagai pengingat betapa pentingnya peran seorang Ayah bagi kita, tetapi tak lantas membuat kita menjadi anak yang lupa berterima kasih kan??? Baik Ibu maupun Ayah, sama pentingnya dalam hidup kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh melupakan jasa-jasa Ayah pada kita, apalagi membencinya.


         Mungkin, beberapa dari kita ada yang berpikiran bahwa Ayah tak sayang pada kita. Tak bersikap baik sebagaimana sikap Ibu kepada kita. Jangan salah paham dengan buru-buru menyalah artikan sikap seorang Ayah yang umumnya berbeda jauh dari sikap seorang Ibu. Ayah bersikap keras, bukan berarti karena tak sayang. Beberapa Ayah memilih cara seperti itu untuk mendidik anaknya agar menjadi manusia yang kuat dan tak gampang menyerah dengan masalah. Karena Ayahmu tahu, untuk bertahan hidup kita tidak sekedar bermodal perasaan tapi juga kekuatan. Ayah akan memberitahumu bahwa hidup adalah perjuangan. Hidup ini keras dan bisa sewaktu-waktu menjadi arena persaingan dan perselisihan. Jadi jangan terlalu berharap kamu akan mendapat perlakuan baik dari semua orang.

        Tahukah kamu, di balik kekerasan sikapnya tersimpan kasih sayang yang begitu besar padamu. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun, namun slalu membutuhkan kehadirannya. Ayah akan merasa sangat berharga jika anak-anaknya membutuhkan dirinya. Seperti yang kita ketahui, tak ada seorangpun yang ingin dilupakan. Tak terkecuali dengan Ayah kita.
       Ayahmu memang tidak pernah berjalan dengan membawa beban berat di dalam perutnya selama 9 bulan 10 hari. Ayah juga tidak bertarung dengan kematian agar kita bisa terlahir ke dunia. Tapi apakah kau tahu, beliau adalah orang yang paling bahagia saat ibumu memberitahu padanya bahwa sebentar lagi akan ada seorang anak yang menemani hidup mereka. Memenuhi dunia dengan tawa dan tangis. Ayah akan mencium perut ibumu setiap dia akan berangkat dan pulang bekerja. Beliau juga senang mengajakmu berbicara, meskipun kau masih berada dalam perut ibumu.
          Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi. Beliau berpikir keras, mencari cara bagaimana mengajarimu tanpa harus bersikap otoriter ataupun diktator. Beliau tidak ingin menjadi sosok yang dibenci olehmu karena sering memarahimu.
       Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi. Ayahmu, adalah Ayah yang terbaik. Beliau sudah disiapkan oleh Allah khusus untuk mendidikmu. Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: "jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari Ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu". Dan Untuk masadepan anak gadisnya ayah berpesan: "jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! Laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu".
         Ayah akan dengan senang hati membantumu mengerjakan PR jika kamu meminta bantuannya, dengan catatan “JANGAN MAU ENAKNYA AJA YA….!!!” dan kamu juga harus bersabar jika saat mengajarimu beliau akan sedikit keras. Ayah tidak akan langsung memberitahumu jawabannya. Karena segala hal tak terjadi dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses. Maka ayahmu lebih senang untuk menemani dan menuntunmu untuk mencari jawabannya.
      Ayah menganggap setiap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan. Beliau akan memberimu kesempatan untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. Namun, tentu saja beliau tidak membebaskanmu tanpa pengawasan. Ia akan segera menyatakan rasa tidak setujunya, jika menurutnya pilihanmu tidak tepat.
       Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar SPP mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya. Tidak terhitung, berapa keringat yang tercucur dari tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menghambur-hamburkan uang untuk menghargai jerih payahnya.
      Kebanyakan Ayah tidak tahu bagaimana cara berbicara padamu, padahal beliau sangat ingin menjadi teman yang baik bagimu. Seorang laki-laki memang tidak didesain untuk banyak berbicara seperti wanita. Para ayah tidak pandai mengungkapkan perasaan. Beliau mungkin tidak akan sering-sering menelepon untuk menanyakan kabarmu saat kamu berada di perantauan. Tapi ketika kamu sedang berbicara dengan ibumu melalui telepon kemudian kau mengatakan bahwa keadaanmu baik dan sehat, ada sedikit senyum di bibirnya karena perasaan lega.

        Ayah mungkin tidak menangis saat kau sakit. Ayah juga tidak akan memanjakanmu. Kamu juga mungkin tidak akan mendapati ayahmu yang tak tidur karena menungguimu. Akan tetapi, beliau juga begitu resah sama seperti ibumu saat mengetahui bahwa kau sedang sakit.
         Ayahmu melarangmu ke luar hingga larut malam bukan karena tidak mempercayaimu. Beliau hanya ingin mendidikmu, bahwa sebuah kebebasan harus dibarengi dengan tanggung jawab. Suatu kebebasan bukan berarti tidak mempunyai batasan-batasan. Ketika kau menginap di rumah teman tanpa izin, beliau tidak marah karena tak suka kau bersenang-senang dengan temanmu. Akan tetapi karena kamu melakukan sesuatu tanpa seizinnya. Berbicaralah dengan sopan, berkatalah dengan jujur, dan tunjukkan bahwa kau orang yang menepati janji dan bisa dipercaya, maka kamu pasti akan mendapatkan izin darinya.
        Ayah yang baik akan berusaha menjadi imam yang baik bagi kamu dan ibumu. Dia akan bersikap keras jika melihat anaknya tak menjalankan kewajiban kepada Tuhan. Beliau berani memukulmu jika kau tak mau sholat, meskipun hal itu bisa membuatmu marah kepadanya. Seorang ayah tidak akan rela membiarkan anaknya tersesat.


       Tidak ada kata yang tepat menggambarkan kebaikan orang tua kita, baik Ayah maupun Ibu. Mereka berdua mempunyai andil yang sangat besar dalam hidup kita. Mereka adalah sosok yang saling melengkapi. Ayah mendidikmu dengan kekuatan dan Ibu mendidikmu dengan kasih sayang. Oleh karena itu, mari kita sayangi orang tua kita, berbakti pada mereka, dan menjadi anak yang membanggakan.Salam manis dariku,Fitri Fatimah Zahra

0 komentar:

Posting Komentar