INDAHNYA ISLAM

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ”Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).


Minggu, 13 Mei 2012

Langkah Yahudi Menguasai Dunia

Diposting oleh Yusuf shadiq
Bagaimana upaya orang-orang Yahudi untuk mencapai cita-cita mereka Dari Ideologi Hingga Opini

Orang-orang Yahudi menguasai dunia  adalah dengan menentukan ide/pemikiran apa yang akan dipakai oleh masyarakat dunia. Dengan kata lain pemikiran tersebut haruslah berwujud ideologi. Dan apa yang dilakukan Yahudi adalah menciptakan ideologi dunia. Dengan ideologi inilah dibuat aturan-aturan untuk memecahkan persoalan kehidupan. Kemudian kaum Yahudi membuat aturan-aturan dalam berbagai bidang, baik ekonomi, politik, sosial yang mereka kampanyekan untuk masyarakat dunia. Sehingga ketika masyarakat dunia melaksanakan ideologi tersebut, otomatis telah tunduk kepada orang-orang Yahudi.

Dari perkembangan sejarah dunia, sejak masa renaissance di Eropa, dunia telah dibentuk ide-ide yang diciptakan kaum Yahudi. Baik ide yang mendasar (ideologi) ataupun pemikiran turunannya. Melihat sepak terjang kaum Yahudi untuk menguasai dunia paling tidak ada 3 langkah penting yang mereka buat :

Menguasai dunia dengan ideologi.
Menguasai sentral-sentral politik, hukum dan ekonomi internasional.
Menguasai media masa internasional

Ide-ide Berbahaya Kaum Yahudi

Tiga ide besar yang tidak bisa dilepaskan dari pemikiran orang dan keterlibatan orang Yahudi adalah Kapitalisme, Sosialisme, dan Zionisme. Dalam kenyataannya ketiga ide ini nyaris berhasil menundukkan kaum muslim dan membuatnya terjebak di dalamnya.

Kapitalisme dan Sosialisme pertama kali digagas di Eropa. Ideologi ini dibangun atas dasar pemikiran-pemkiran mendasar tentang manusia dan kehidupan. Peran orang-orang Yahudi untuk menghasilkan ide-ide yang merusak dunia ini sangatlah besar. Dalam periode ini menjulang tinggi figur-figur Yahudi seperti Marx, Freud, Bergson, Einstein sebagai kontributornya.

Dari Karl Marx muncul ideologi Sosialisme-Komunisme. Apa yang dirasakan oleh manusia dengan ide orang Yahudi ini ?
Ide ini telah membawa kehancuran yang dahsyat bagi dunia. Ideologi ini telah menciptakan jutaan manusia di dunia yang Atheis (tak bertuhan). Dengan prinsip menghalalkan segala cara, Sosialisme dan Komunisme telah menumpahkan begitu banyak darah manusia yang menentang ide ini. Ide yang memang tidak sesuai dengan akal dan fitrah manusia ini dipaksakan kepada masyarakat dengan cara militer dan kekerasan. Tidak berhenti sampai di situ, ide ini juga telah memiskinkan negara-negara yang menganutnya seperti Korea Utara. Menjadikan kemaksiatan merajalela di mana-mana. Komunisme dan Sosialisme ini juga telah memurtadkan banyak umat muslim. Menciptakan rezim-rezim penindas di dunia Islam. Seperi Irak, Syiria, Yaman, dan Indonesia. Sejarah telah membuktikan kerusakan dari ide rusak ini.

Pengaruh ide Marxis ini juga telah melahirkan seorang pemikir Yahudi yang dikenal dunia yaitu Sigmund Freud. Ia adalah seorang Yahudi Austria yang dikenal dengan teori psikoanalisisnya. Teori-teorinya yang gila juga telah berpengaruh besar bagi kerusakan umat manusia seperti pandangannya tentang masalah seksualitas dan penyakit jiwa. Teori ini telah melahirkan bencana bagi orang-orang yang percaya bahwa seks itu haruslah dibebaskan (tidak dibelenggu). Kebebasan seksual ini telah mengakibatkan banyak derita, diantaranya adalah penyakit AIDS yang mematikan itu.

Ide ekonomi kapitalis dunia juga tidak bisa dilepaskan dari seorang David Ricardo. Dia dianggap sebagai bapak kapitalisme yang telah merumuskan teori-teori ekonomi kapitalisme penting tentang hutang, kepemilikan, upah dan tentang kuantitas uang. Ia bercikal bakal di belahan Barat Eropa, tepatnya saat kaum Yahudi tinggal di sana, berdagang di sana dan menyelenggarakan fungsi-fungsi perbankan di sana. Dan dunia juga telah mengetahui bagaimana kerusakan yang disebabkan oleh ideologi Kapitalisme ini. Ide ini telah menjauhkan manusia dari Tuhan dan menyempitkan agama hanya sebatas individu (baca: sekulerisme). Ide ekonominya juga telah membuat kemiskinan massal di dunia ketiga. Sementara itu pemilik modal-modal besar menikmati kemewahan yang luar biasa.

Bagaimana hubungan Kapitalisme, Sosialisme dan Zionisme ?

Sebagai sebuah agama dengan aqidah yang sebatas aqidah ruhiyah (spiritual), Yahudi tidak bisa berdiri sendiri. Agama Yahudi membutuhkan aqidah siyayah (politik), dan seperangkat aturan kehidupan. Dengan demikian agama Yahudi ini kemudian bergabung dengan ideologi kapitalisme. Adapun bagi orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Tuhan (atheis) mereka cenderung berpikiran Sosialis dan Komunis.

Sedangkan Zionisme adalah gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi untuk mendirikan Negara Yahudi (Israel di Palestina). Mereka mendirikan Negara Israel ini sebagai institusi yang mengumpulkan kembali orang-orang Yahudi yang sudah bertebaran di seluruh dunia (diaspora). Dengan ketiga ide besar inilah kaum Yahudi menguasai dunia.

Bila ditelusuri dari kemunculannya, paham Zionisme merupakan sebuah pemikiran baru, bukan bagian dari sejarah Zionisme internasional dan belum terlintas di benak Yahudi, melainkan derivat dari pemikiran Barat, khususnya Eropa. Paham ini menjadi gerakan politik yang dimotori oleh Theodore Hertzl pada tahun 1882 yang mencetuskan ide mewujudkan negara Zionis Israel.

Yahudi dan Simpul-simpul Kekuasaan Dunia: Ekonomi, Politik dan Hukum

Sesungguhnya manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari ekonomi karena ia termasuk urat nadi kehidupan. Menguasai ekonomi adalah untuk bisa menguasai dunia. Orang-orang Yahudi sangat paham tentang ini. Namun tentu saja dengan agama Yahudi yang hanya sebatas mengajarkan masalah individual, mereka tidak bisa merealisasi keinginan tersebut. Dalam hal ini kaum Yahudi menyakini dan menjadikan Kapitalisme sebagai ide dasar untuk menguasai ekonomi dunia.

Tidak mengherankan, karenanya peran orang-orang Yahudi dalam kapitalisme ekonomi dunia menjadi sangat besar. Tentunya bukan berarti ekonomi kapitalisme hanya dibangun oleh orang-orang Yahudi. Namun orang-orang Yahudi inilah yang memperkokoh ide-ide dan pelaksanaan ekonomi kapitalis. Bankir-bankir Yahudi adalah inovator-inovator, pemberi ide-ide, organisator-organisator dalam sistem efek (securities), memainkan peranan besar dalam mendirikan bursa-bursa efek (stock exchange), dan bahwa mereka memainkan peranan penting dalam perkembangan uang kertas (bank notes) di dalam kegunaan modernnya sebagai sekuritas yang dapat diperjualbelikan. Hingga saat ini lembaga-lembaga kapitalisme internasional seperti IMF, Bank Dunia, Bursa Saham, Bank-bank internasional banyak dikuasai oleh orang-orang Yahudi.

Tidak hanya dalam bidang ekonomi, lembaga-lembaga politik dan hukum Internasional juga banyak dipegang oleh orang-orang Yahudi, seperti PBB, dan beberapa organ penting PBB seperti Majelis Umum, Dewan Keamanan, FAO, UNESCO. Mahkamah Internasional pun penuh dengan pakar-pakar Yahudi. Lewat lembaga inilah –yang sesungguhnya merupakan alat kapitalis global- orang-orang Yahudi menguasai dunia.

Dominasi Yahudi Dalam Media Massa Internasional

Opini umum adalah hal yang penting di tengah masyarakat. Arah dan kecenderungan masyarakat sering kali dipengaruhi oleh opini umum yang ada. Dan media massa adalah salah satu faktor penting dalam membentuk opini umum di dunia ini. Caranya dengan menguasai berbagai media massa berskala internasional yang penting.

Adalah merupakan fakta bahwa sebagian besar sumber berita internasional dikuasai oleh Barat yang sebagian besar pemiliknya adalah orang-orang Yahudi. Dan ironisnya, hampir semua surat kabar dan informasi di negeri-negeri Islam berkiblat dan mengambil informasi dari mereka, seperti Reuters (Inggris), AFP (Perancis), Associated Press (AS), CNN dan BBC. Karenanya tidak mengherankan, setting dunia informasi dibentuk oleh Barat yang intinya merupakan penyerangan terhadap Islam dengan stigma teroris, militan, fundamentalis dan radikal, serta pembelaan terhadap Kapitalis dan Zionisme.

Rencana Kerja Pimpinan Zionis terkait dengan media massa dapat dipaparkan sebagai berikut:

Menguasai dunia pers dan mengendalikannya.
Tidak memberi kesempatan pada media massa non Yahudi untuk membuat gagasan-gagasan anti Yahudi
Melakukan sensor ketat sebelum berita disiarkan.
Menerbitkan berbagai media massa untuk mendukung aristokrat, republikan, revolusioner, hingga kelompok anarki.
Mempengaruhi opini publik saat diperlukan sekaligus meredam gejolak yang timbul.
Memberi dorongan kepada orang-orang yang jenius untuk mengendalikan media massa yang beroplah besar, khususnya pers anti Yahudi. Jika suatu saat menunjukkan gejala-gejala tidak setia, dibongkarlah skandal-skandalnya sekaligus memberikan pelajaran kepada yang lainnya.

Yahudi Menguasai Amerika

Seberapa besar kekuatan pengaruh Yahudi di Amerika Serikat? Hal ini dapat diketahui dari beberapa sumber kekuatan Yahudi dalam politik AS, antara lain:

Ø Pertama, senjata politik. Lewat ini kelompok Yahudi akan dapat mencap dan memberi label anti Yahudi, Pro Arab, atau anti semit kepada mereka yang mengkritik Israel.
Ø Kedua, suara masyarakat Yahudi. Meskipun Amerika memiliki tradisi demokrasi sangat kental, namun sesungguhnya hanya sedikit penduduk AS yang memberikan suaranya, bahkan hampir setengah dari pemilih tidak memberikan suara. Sebaliknya enam juta Yahudi yang hanya 3% dari seluruh penduduk bisa secara maksimal memberikan 90% suara mereka.
Ø Ketiga, kemampuan orang-orang Yahudi dalam memberikan dana yang besar untuk kampanye-kampanye politik terutama calon yang mereka percaya akan mendukung kepentingan Yahudi.
Ø Keempat, alat-alat propaganda. Dari 1700 koran, 3%nya milik Yahudi dan begitu pula dengan majalah mingguan berpengaruh seperti Newsweek, Time, US News and World Report, majalah intelektual seperti; Nation, The Republic, The New York Times Review of Book, serta tiga jaringan televisi terkemuka seperti; The American Broadcasting Corporation, The Columbia Broadcasting Corporation, dan The National Broadcasting Corporation
Ø Kelima, organisasi-organisasi Yahudi yang jumlahnya sangat banyak hingga mencapai 200-an. Bentuk organisasi tersebut bisa berupa organisasi kemasyarakatan, Zionis, politik dan lobi seperti AIPAC (American Israel Public Affair Committee) yang terdaftar di kongres AS.

Di perfilman apalagi, dunia glamour ini dominasi Yahudi amat kuat. Lihat saja William Fox yang memiliki Fox Company, Samuel Golden yang mengelola Golden Lewis Mayer, Harny Warner yang memiliki Warner & Bross dan Hot Dixon bos Paramount.

Amerika selalu mendukung Israel 

Sudah diketahui luas bahwa negara yang mendukung mati-matian Israel adalah Amerika. Hal ini bisa dilihat dari berbagai voting di PBB dan bantuan AS kepada Israel yang telah dimulai sejak berdirinya Negara Israel pada tahun 1947. Menyusul hal tersebut, AS paling banyak menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk membela Israel.

Pada bulan Juli 1975, Menlu AS Henry Kissinger (orang Yahudi) mengancam akan mengambil tindakan tegas apabila PBB menanggalkan keanggotaan Israel. AS juga mengeluarkan vetonya saat diajukan resolusi untuk mencap Zionisme sebagai Rasialis. Lagi-lagi AS menggunakan vetonya untuk membenarkan tindak kekerasan yang dilakukan Israel seperti rencana resolusi DK PBB mengutuk Israel terhadap Libanon (1975) dan hak menentukan nasib sendiri dan hak bernegara bagi rakyat Palestina, serta masih banyak lagi.

Namun demikian, benarkah AS akan selalu mendukung Israel ?

Inilah salah satu mitos yang sering digunakan oleh para penguasa Arab dalam rangka melemahkan perjuangan untuk melawan Israel. Di samping itu, lobi Israel dikancah perpolitikan begitu kuat. Posisi yang dilematis bagi AS, bagaimana tidak calon presiden Amerika saja bisa berhasil atau gagal ke tampuk kekuasaan tergantung kuat tidaknya dukungan Yahudi kepada mereka. Opini ini pun telah menyeret kaum muslim untuk menilai bahwa Yahudi begitu kuat dan tak terkalahkan karena selalu didukung AS.

Basis dasar kebijakan AS adalah doktrin kepentingan sendiri (self interest). Seperti diktum Lord Palmerston yang sangat terkenal; “Tidak ada lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi”. Berdasarkan ini dukungan AS kepada Israel bukanlah berdasarkan persahabatan, moralitas atau simpati terhadap pembantaian (holocaust) yang dialami bangsa Yahudi. Namun semata-mata keuntungan AS sendiri (self benefit).  
Sikap AS bisa saja berubah seandainya tidak ada lagi kepentingan mereka dengan negara Israel, atau Israel mengancam kepentingan AS sendiri. Hal ini pernah terjadi ketika Eisenshower mengancam untuk memberikan sanksi kepada Israel pada tahun1956.

Kepentingan AS sesungguhnya di Timur Tengah dan negeri muslim lainnya adalah sumber minyak yang kaya.
 Pengendalian terhadap negeri-negeri muslim dan penjagaan terhadap sumber-sumber penting di negeri-negeri muslim akan memelihara dominasi AS di dunia. Persoalan sesungguhnya adalah kita berhadapan dengan imperalis Bar`t lewat sepak terjang Yahudi. Dibalik dominasi Yahudi atas Amerika, ternyata tersimpan rencana besar yang sangat berbahaya dari imperalis Barat.

Apa yang sebenarnya paling berbahaya dari orang-orang Yahudi  ?

Jawabannya adalah ideologi dan pemikiran mereka yang telah menghancurkan dunia dan kaum muslim seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Justru serangan ide dan politik jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan serangan fisik dari orang-orang Yahudi.

Penjajahan secara fisik seperti militer akan mudah menyadarkan korbannya, karena di dalam diri manusia terdapat naluri mempertahankan diri. Namun penjajahan ide, ekonomi dan politik sering tidak disadari korbannya. Bahkan bisa jadi sang korban *menganggap penjajahnya sebagai mitra, teman penyelamat dan pemberi harapan. Dan lebih tragis lagi karena tertipu oleh penjajahnya tidak sedikit dari pihak korban yang lalu menjadi antek-antek penjajah yang justru memerangi saudaranya sendiri. Ide-ide mereka seperti Kapitalisme dan Sosialisme adalah desain mereka yang telah terbukti menghancurkan peradaban manusia dan menyengsarakan manusia.























































Read More - Langkah Yahudi Menguasai Dunia

Minggu, 06 Mei 2012

Beriman kepada Hari Akhir

Diposting oleh Yusuf shadiq

Abu Bakr Jabir al-Jazairi 

Orang Muslim meyakini bahwa alam kubur, siksa di dalamnya, dan pertanyaan dua malaikat adalah benar. Berdasarkan dalil-dalil wahyu dan dalil-dalil akal seperti berikut ini.

Dalil-Dalil Wahyu

Penjelasan Allah Ta'ala tentang hal tersebut dalam firman-firman-Nya.
"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), 'Rasakanlah oleh kalian siksa neraka yang membakar,' (tentulah kamu akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya." (Al-Anfal: 50-51).

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), 'Keluarlah nyawa kalian. Pada hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan kepada Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagai mana Kami ciptakan pada mulanya, dan kalian tinggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian dan Kami tidak melihat beserta kalian pemberi syafaat yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kalian sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kalian dan telah lenyap daripada kalian apa yang dahulu kalian anggap (sebagai sekutu Allah)." (Al-An'am: 93-94).

"Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar." (At-Taubah: 101).

"Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras'." (Ghafir: 46).

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Ibrahim: 27).

Penjelasan Rasulullah saw. tentang hal tersebut dalam sabda-sabdanya berikut ini:
"Jika seorang hamba telah diletakkan di kuburnya, dan sahabat-sahabatnya telah meninggalkannya, serta ia mendengar suara sandal mereka, maka dua malaikat datang kepadanya kemudian duduk padanya. Kedua malaikat tersebut berkata, 'Apa yang dulu engkau katakan tentang orang ini (Rasulullah saw.)?' Adapun orang Mukmin, ia berkata, ‘Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan Rasul-Nya,' kemudian dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah ke kursimu di neraka, Allah telah memberi ganti untukmu dengan kursi dari surga.' Orang Mukmin tersebut bisa melihat kedua kursi tersebut. Adapun munafik atau orang kafir, maka kedua malaikat bertanya kepada keduanya, 'Apa yang dulu engkau katakan tentang orang ini (Rasulullah saw.)?' Adapun orang Munafik atau orang kafir tersebut berkata, ‘Aku tidak tahu. Dulu aku hanya berkata seperti yang dikatakan manusia.' Dikatakan kepada orang kafir atau orang munafik tersebut, 'Engkau tidak tahu dan tidak mengikutinya?' Kemudian orang kafir atau orang munafik tersebut dipukul dengan martil besi dengan pukulan yang membuatnya berteriak dengan teriakan yang bisa didengar makhluk-makhluk yang berdekatan dengannya kecuali manusia dan jin." (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad).

"Jika salah seorang dari kalian meninggal dunia, maka kursinya diperlihatkan padanya pagi-sore. Jika ia termasuk penghuni surga maka ia termasuk penghuni surga, jika ia termasuk penghuni neraka maka ia akan menjadi penghuni neraka. Dikatakan kepadanya, ‘Ini kursimu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat'." (Al-Bukhari).

Sabda Rasulullah saw. ketika berjalan melewati dua kuburan, "Sesungguhnya dua orang di dua kuburan tersebut sedang disiksa karena dosa besar. Ya, salah seorang dari keduanya berjalan dengan membawa adu domba, sedang orang satunya tidak mengenakan tutup ketika buang air kecil." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Keimanan miliaran orang dari para ulama, orang-orang shalih, dan kaum mukminin umat Rasulullah saw., serta umat-umat sebelumnya kepada siksa alam kubur, kenikmatannya, dan apa saja yang bisa dilihat daripadanya.

Dalil-Dalil Akal

Keimanan seorang hamba kepada Allah Ta'ala, malaikat-malaikat-Nya, dan hari akhir mengharuskannya beriman kepada alam kubur, kenikmatannya, dan apa saja yang terjadi di dalamnya. Sebab, itu semua termasuk perkara-perkara ghaib. Jika seseorang mempercayai sebagian sesuatu, maka menurut akal ia harus mengimani sebagian satunya.

Alam kubur, kenikmatannya, pertanyaan dua malaikat bukan merupakan sesuatu yang mustahil menurut akal. Bahkan akal yang sehat mengakuinya memberi kesaksian terhadapnya.

Orang yang tidur terkadang bermimpi melihat sesuatu yang menyenangkan kemudian ia bahagia dengannya, dan menikmatinya. Namun ia sedih jika ia terbangun. Atau terkadang ia bermimpi melihat sesuatu yang dibencinya, kemudian ia murung karenanya, dan ia senang sekali kalau ada orang yang membangukannya. Kenikmatan dan siksa di alam mimpi tersebut betul-betul terjadi pada ruhani. Dan ruhani terpengaruh dengannya tanpa ia rasakan dan bisa dilihat oleh kita, serta tidak ada seorang pun yang memungkirinya. Bagaimana terhadap siksa alam kubur, dan kenikmatannya yang pada dasarnya sama persis dengan mimpi tersebut?

[I]Sumber:[/I] Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 56-60.
Read More - Beriman kepada Hari Akhir

Rabu, 02 Mei 2012

Kesadaran Hati Seorang Anak Atas Kelalaiannya Terhadap Sang Ibu

Diposting oleh Yusuf shadiq

Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang
Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.
Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…

Ibu…

Aku terima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.
Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’… Semenjak sholat isya’… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…
Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…

Ibu…

Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…
Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dg surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yg ibu rasakan.

Ibuku yg kusayangi…

Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…
Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.
Dengan jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…

Ibu…

Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…
Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dg segera.
Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.

Ibu…

maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yg diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.
Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dg anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan

Ibu…

Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yg engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa deganmu…

Wahai ibu…

Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dg himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yg baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu…

Ketika seorang laki-laki menikah dg seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…
Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yg aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…

Ibu…

Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yg hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dg keadaan orang yg penting bagiku… yg penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…

Ibu…

Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…
Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!
Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…

Ibu…

Sulit aku merasakan perasaanmu…
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yg sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…
Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari uang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dg ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang…

Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… ijinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…
Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…
Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dg kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yg tahan dg azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!
Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mau berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!
Kalaulah itu yg terjadi… dan do’a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do’akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…
Kalaulah do’amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…
Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…

Ibu…

Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.
Ibu… Suratmu akan kujadikan “jimat” dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.

Bunda…

Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…?! siapa yg tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!
Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.
Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.

Ibu…

Do’akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yg durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.

Ibu…

sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yg jatuh karena ulah anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…
bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…
Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.

Salam hangat dari anakmu yg durhaka…
Read More - Kesadaran Hati Seorang Anak Atas Kelalaiannya Terhadap Sang Ibu

Untaian Nasehat Ibnu Taimiyah; Bahaya Syahwat Tersembunyi

Diposting oleh Yusuf shadiq
Syaikhul Islam berkata, “Kesyirikan mendominasi jiwa manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits وَهُوَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ “Kesyirikan pada umat ini lebih samar daripada rayapan semut”, dan dalam hadits yang lain “Abu Bakar berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ . كَيْفَ نَنْجُو مِنْهُ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ؟
“Wahai Rasulullah, bagaimana kita bisa selamat dari kesyirikan sementara ia lebih samar dari rayapan semut?”.
Maka Nabi –sallallahu ‘alaihi wa sallama-  berkata kepada Abu Bakar
أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَةً إذَا قُلْتَهَا نَجَوْتَ مِنْ دِقِّهِ وَجِلِّهِ ؟ قُلْ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah kalimat yang jika engkau mengucapkannya maka engkau akan selamat dari kesyirikan baik yang kecil maupun yang besar?, katakanlah, “Yaa Allah aku berlindung kepada Engkau dari perbuatan syirik kepadamu yang aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepadaMu dari kesyirikan yang tidak aku ketahui”
Umar senantiasa berkata dalam doanya,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهِ شَيْئًا
“Yaa Allah jadikanlah seluruh amalanku ikhlas untuk wajahMu, dan janganlah jadikan sedikitpun amalanku untuk seorangpun”
Sering sekali syahwat khofiyyah (syahwat tersembunyi) mengotori jiwa sehingga merusak perealisasian jiwa terhadap peribadatan dan kecintaan terhadap Allah dan pengikhlasan agama kepada Allah, hal ini sebagaimana disinyalir oleh Syaddad bin Aus –rahimahulloh-, beliau berkata
يَا بَقَايَا الْعَرَبِ إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الرِّيَاءُ وَالشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ
“Wahai kaum Arab yang masih tersisa, sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah riyaa’ dan syahwat khofiyyah”
Abu Dawud As-Sajistaani pernah ditanya, “Apakah itu syahwat tersembunyi?”, beliau berkata, حُبُّ الرِّئَاسَةِ “Senang kepemimpinan”.
Dari Ka’ab bin Malik bahwa  Nabi –sallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي زَرِيبَةِ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Kerusakan yang timbul di kandang kambing akibat dilepaskannya dua ekor serigala yang dalam keadaan lapar tidaklah lebih parah daripada kerusakan yang timbul terhadap agama seseorang akibat semangatnya untuk mencari harta dan kedudukan” Imam At-Thirmidzi berkata, “Hadits ini hadits hasan shahih”
Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan bahwasanya kerusakan pada agama seseorang yang semangat untuk mencari harta dan kedukukan tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala yang lapar yang dilepas di kandang kambing. Dan hal ini tentu sudah jelas, karena sesungguhnya agama yang lurus tidak akan termasuki semangat mencari harta dan kedudukan. Karena hati jika telah merasakan manisnya peribadatan kepada Allah dan indahnya kecintaan kepada Allah maka tidak ada sesuatupun yang lebih dicintainya daripada hal itu, apalagi sampai mendahulukan sesuatu diatas hal itu.
Karena hal ini maka orang yang ikhlas akan dipalingkan oleh Allah dari keburukan dan perbuatan keji sebagaimana firman Allah
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas (QS 12:24).
Sesungguhnya orang yang ikhlash kepada Allah telah merasakan manisnya peribadatan kepada Allah sehingga mencegahnya untuk menyerahkan peribadatan kepada selain Allah. Manisnya cinta kepada Allah yang dirasakannya mencegahnya untuk mencintai selain Allah, karena pada hatinya tidak ada yang lebih manis dan lebih lezat, lebih baik, lebih lembut, dan lebih nikmat daripada manisnya iman yang mengandung peribadatan kepada Allah, kecintaan dan keikhlasan kepadaNya. Hal ini melazimkan tertariknya hati kepada Allah, maka jadilah hati selalu kembali kepada Allah, disertai rasa khouf dan roghbah dah rohbah kepadaNya. Hal ini sebagaimana firman Allah
مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ
(yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat, (QS 50 :33)
Karena seseorang yang mencintai sesuatu maka dia kawatir akan kehilangan apa yang dicintainya dan  datangnya perkara yang dibencinya. Maka jadilah dia seorang hamba Allah dan pecintaNya yang berada diantara khouf dan rojaa’. Allah berfirman
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS 17:57)
 Jika seorang hamba ikhlash kepada Allah maka Allah akan memilihnya lalu Allah akan hidupkan hatinya dan menarik hatinya, lalu Allah akan memalingkan dari hatinya semua yang bertentangan dengan pemilihan Allah ini, Allah akan memalingkan hatinya dari keburukan dan kekejian, dan sang hambapun kawatir akan timbulnya hal-hal yang buruk.
Hal ini berbeda dengan hati yang tidak ikhlas kepada Allah, maka ia selalu dalam pencarian, kehendak, dan kecintaan yang tidak jelas dan terkendali. Maka ia akan menghendaki apa yang mendatanginya dan ia akan berpegang teguh dengan apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya sebagaimana ranting pohon kalau dilewati oleh hembusan angin apa saja maka akan menggoyangkannya mengikuti arah angin tersebut. Maka terkadang hatinya terpikat oleh gambar-gambar dan bentuk-bentuk yang haram dan juga yang tidak haram. Maka jadilah ia tawanan dan budak kepada dzat yang kalau seandainya dzat tersebut ia jadikan budaknya maka itu merupakan suatu kekurangan dan tercela (bagaimana lagi jika dia yang menjadi budak dzat tersebut?-pen).
Terkadang hatinya terpikat oleh kedudukan dan kepamimpinan, akhirnya ia bisa ridho karena sebuah kalimat dan juga bisa marah karena sebuah kalimat. Ia menjadi budak orang yang memujinya, meskipun dengan pujian yang batil, dan dia akan memusuhi orang yang memusuhinya meskipun musuhnya tersebut di atas kebenaran. Terkadang ia diperbudak oleh dirham dan dinar, dan demikian juga perkara-perkara yang lain yang semisalnya yang bisa memperbudak hati-hati manusia, dan ternyata memang hati-hati manusia menyukai perkara-perkara tersebut. Maka jadilah ia menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan dia mengikuti hawa nafsunya tanpa ada petunjuk dari Allah.
Barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah dan tidak menjadi hamba Allah, tidak menjadikan hatinya menyembah Allah saja tanpa syarikat dimana Allahlah yang paling ia cintai dari segala sesuatu, sehingga hatinya menjadi rendah, hina, dan tunduk dihadapan Allah, -barangsiapa yang tidak demikian- maka ia akan menjadi budak benda-benda yang ada, dan syaitan akan menguasai hatinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang disesatkan syaitan dan menjadi saudara-saudara syaitan. Maka jadilah hatinya terpenuhi dengan keburukan dan kekejian yang sangat banyak yang tidak mengetahui hakekatnya kecuali Allah.
Ini merupakan perkara yang pasti terjadi dan tidak bisa dihindarkan. Jika hati tidak condong dan berjalan menuju Allah, dalam kondisi berpaling dari selain Allah, jika tidak demikian maka akan terjerumus dalam kesyirikan” (Majmuu’ al-Fataawaa 10/215-217)
Sungguh nasehat emas Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- di atas mengingatkan kita kepada bahayanya syahwat tersembunyi, yang sering menghinggapi kita tanpa kita sadari. Karenanya dinamakan dengan syahwat yang samar dan tersembunyi. Bagaimana bisa kita menyadarinya sementara kesamarannya lebih samar daripada rayapan semut hitam di dalam kegelapan malam. Tidak seorangpun yang bisa merasakan bahwa dirinya dihinggapi syahwat ini kecuali orang yang diberi bashiroh (petunjuk) dari Allah.
Ada beberapa faedah yang bisa diambil dari nasehat di atas;
Pertama : Ternyata seorang sekelas Abu Bakar As-Shiddiq juga kawatir terjerumus dalam syahwat yang tersembunyi ini. Padahal kita tahu bahwasanya beliau telah dijamin masuk surga dan bagaimana tingkat keimanan beliau yang sangat tinggi. Oleh karenanya sungguh berbahagia orang yang selalu memperhatikan gerak-gerik hatinya, selalu mengecek apakah niatnya sudah lurus atau belum, karena orang yang seperti inilah yang sadar akan bahayanya syahwat yang tersembunyi. Adapun orang yang tidak pernah mengecek gerak-gerik hatinya, tidak pernah meneliti perubahan di hatinya bagaimana mungkin dia akan tahu bahwasanya hatinya sedang terjangkit syahwat tersembunyi ini atau tidak.
Kedua : Syahwat tersembunyi yang ditafsirkan dengan “cinta kepemimpinan dan cinta kedudukan (terpandang di masyarakat)” ternyata sangat berbahaya dalam merusak agama seseorang. Sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kerusakannya lebih parah daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala.
Perhatikanlah kembali lafal hadits nabi tentang serigala
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي زَرِيبَةِ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Kerusakan yang timbul di kandang kambing akibat diepaskannya dua ekor serigala yang dalam keadaan lapar tidaklah lebih parah daripada kerusakan yang timbul terhadap agama seseorang akibat semangatnya untuk mencari harta dan kedudukan”
Kita dapat merasakan kerusakan yang ditimbulkan serigala tersebut pada poin-poin berikut ini:
  • Serigala adalah binatang buas, jika tidak dalam keadaan laparpun ia sudah buas, bagaiamana lagi jika dalam keadaan lapar?, tentunya semakin lapar akan semakin buas.
  • Rasulullah tidak menyebutkan seekor serigala, akan tetapi beliau menyebutkan dua ekor serigala. Jika seekor serigala saja sudah merusak bagaimana lagi jika dua ekor serigala yang dalam keadaan lapar
  • Kambing-kambing yang didatangi serigala terdapat dalam kandang, tentunya kambing-kambing tersebut tidak bisa lari menyelamatkan diri dari dua ekor serigala buas tersebut.
Oleh karenanya tidak diragukan lagi kerusakan yang diakibatkan oleh dua ekor serigala tersebut, tentunya tubuh kambing-kambing tersebut akan tercabik-cabik oleh keganasan dua ekor serigala buas tersebut. Namun ternyata kerusakan ini tidaklah lebih parah daripada kerusakan dan tercabik-cabiknya agama seseorang yang diakibatkan oleh syahwat tersembunyi yang menjangkitinya. Bagaimana tidak?, agama seseorang yang dia sangka telah dia bangun di atas bangunan megah ternyata hancur lebur seperti debu yang beterbangan hanya karena adanya syahwat tersembunyi ini, tidak ada nilainya di sisi Allah.
Betapa banyak orang yang setelah banyak beramal merasa dirinya lebih hebat dari yang lainnya, sehingga akhirnya merasa bahwa perkataannya dan pendapatnyalah yang harus didengar dan diikuti, merasa bahwa dirinyalah yang pantas untuk dijadikan panutan. Merasa dirinyalah yang pantas untuk menjadi pemimpin??!! Merasa geram dan marah jika ada pendapatnya diselisihi, bukan karena diselisihinya al-haq(kebenaran), akan tetapi karena merasa perkatannya tidak diikuti dan tidak didengar?, merasa ada yang mendahuluinya dan berani membangkangnya?…inilah syahwat khofiyyah. Betapa banyak orang yang marah karena merasa perkataan mereka dilanggar –bukan karena syari’at yang dilanggar- namun mereka membungkus syahwat khofiyyah ini dengan label syari’at, seakan-akan kemarahan mereka dikarenakan pelanggaran syari’at, seakan-akan mereka marah karena Allah. Namun ternyata kemarahan mereka adalah karena syahwat khofiyyah. Wallahul musta’aan
Ketiga : Diantara faedah yang luar biasa dari keikhlasan adalah Allah menjaga orang yang ikhlas dari fitnah syahwat. Allah berfirman,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas (QS 12:24).
Ada dua qiro’ah dari lafal (الْمُخْلَصِينَ),
Pertama : Dengan memfathahkan huruf lam (المخلَصين) yang artinya Nabi Yusuf termasuk hamba-hamba yang dipilih oleh Allah.
Kedua : Dengan mengkasrohkan huruf laam (المخلِصين) yang artinya Nabi Yusuf –alaihis salaam- termasuk hamba-hamba Allah yang ikhlash (lihat penjelasan As-Syaukani dalam fathul qodiir dan juga As-Syinqiithi dalam adwaaul bayaan).
Akan tetapi dua tafsiran ini tidak bertentangan bahkan saling berkaitan yaitu orang yang ikhlas kepada Allah maka dia akan dipilih oleh Allah sehingga dijaga oleh Allah dari segala perbuatan keji dan keburukan. Hal ini sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyyah diatas “Jika seorang hamba ikhlash kepada Allah maka Allah akan memilihnya lalu Allah akan hidupkan hatinya dan menarik hatinya, lalu Allah akan memalingkan dari hatinya semua yang bertentangan dengan pemilihan Allah ini, Allah akan memalingkan hatinya dari keburukan dan kekejian”
Sesungguhnya keikhlasan akan membuahkan rasa manisnya iman dan lezatnya peribadatan kepada Allah, oleh karenanya orang yang ikhlas tidak akan mencari kelezatan dan kenikmatan pada perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, dan dia tidak akan mau meninggalkan kelezatan iman and ikhlas yang dirasakannya, maka dia tidak akan membiarkan dirinya terjangkiti oleh syahwat khofiyyah
Read More - Untaian Nasehat Ibnu Taimiyah; Bahaya Syahwat Tersembunyi

Wahai Para Wanita… Tahukah Anda…?

Diposting oleh Yusuf shadiq

Wahai para wanita…tahukah anda bahwa:
(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu…semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(3) Janganlah anda menyangka senyumanmu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya kelak..!!!. Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari.., apalagi keelokan tubuhmu….
(4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki??
(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu…maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…,
(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat…dan di akhirat kelak…bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam.
Read More - Wahai Para Wanita… Tahukah Anda…?

Omar Al-Mokhtar : Lion of the Dessert

Diposting oleh Yusuf shadiq
Lelaki renta itu melangkah menuju tiang gantungan. Kedua tangannya terbelenggu namun matanya masih tetap berbinar. Raut mukanya tak menampakkan rasa takut sedikit pun. Ia begitu gagah walaupun maut tengah merambat mendekatinya.

Suasana sendu justru menyergap orang-orang di sekelilingnya. Mereka menatap lelaki berusia 80 tahun itu, dengan wajah muram. Air mata tak dapat mereka bendung pula. Bahkan beberapa saat kemudian, jerit tangis bersahutan.

Tatkala mereka melihat lingkaran tali tiang gantungan, menjerat leher pahlawan mereka, Omar Al-Mokhtar. Singa Padang Pasir itu, berpulang ke Rahmatullah, pada 16 September 1931 di Kota Solouq. Usai sudah perjuangannya melawan penjajahan Italia.

Omar Al-Mokhtar memang dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan Italia bagi rakyat Libya. Sejak Italia mulai menancapkan cengkeramannya di negeri tersebut pada Oktober 1911. Ia telah menjadi pionir untuk menyalakan bara perjuangan rakyat Libya

Syahid di Tiang Gantungan
Gelora perjuangannya juga merambat kepada rakyat Libya lainnya, dan melahirkan para mujahid seperti Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar, Solaiman Al-Barouni dan Silima An-Nailiah.

Usaha Italia menguasai Libya, dilakukan dengan menyerang dan menguasai kota-kota pantai seperti Tripoli, Benghazi, Misrata dan Derna secara beruntun. Meski demikian, Omar kerap menjadi batu sandungan mereka. Ia mampu membangkitkan semangat perjuangan rakyat Libya.

Perlawanan mereka telah menciptakan sejumlah pertempuran hebat. Misalnya pertempuran yang terjadi di Al-Hani dekat Tripoli pada 23 Oktober 1911, Ar-Rmaila dekat Misrata, Al-Fwaihat dekat Benghazi pada Maret 1912 dan Wadi Ash-Shwaer dekat Derna.

Bahkan tak jarang perjuangan rakyat Libya menuai hasil gemilang. Kala itu, mereka terlibat dalam pertempuran besar di Al-Gherthabiya, dekat Sirt pada April 1915. Italia kehilangan ribuan serdadu. Pertempuran semacam ini sering terjadi, membuat Italia harus melalui tahun demi tahun untuk menguasai negeri ini.

Meski pada akhirnya, wilayah-wilayah yang dipertahankan oleh para mujahidin jatuh pula ke tangan penjajah. Jatuhnya wilayah demi wilayah membuat para pejuang meninggalkan rumahnya dan menuju ke pegunungan. Mereka tak berdiam diri, namun merencanakan beragam serangan lanjutan.

Pada 1922 Omar mengorganisir para mujahidin dan mengobarkan kembali perlawanan terhadap pendudukan Italia atas negerinya. Ia mengumpulkan kembali mujahidin di The Green Mountain (Aj-Jabal Al-Akdar), bagian Tenggara Libya. Hal itu terjadi setelah Perang Dunia I ketika Italia berpikir telah mampu meredam sepenuhnya perlawanan rakyat Libya.

Perlawanan yang kembali mencuat membuat otoritas Italia merasakan bahaya yang mengancam. Mereka tak mau membiarkan perlawanan semakin merajalela. Lalu pemerintah pusat Italia Badolio yang terkenal haus darah untuk meredam bara perlawanan tersebut.

Ia tak hanya mendapatkan tugas memimpin pertempuran untuk menumpas Omar Al-Mokhtar dan pasukannya. Bahkan ia pun diizinkan untuk membunuh rakyat jelata yang hidup tenang baik di desa maupun pegunungan hanya karena di anggap membantu para mujahidin.

Beberapa saat kemudian, sang diktator, Musolini, juga mengirimkan komandan yang berperilaku seperti Badolio. Ia mengemban tugas yang sama untuk mengenyahkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa dan tak lupa menumpas gerakan mujahidin.

Dan Musolini berpikir bahwa untuk menyelesaikan masalah Libya secara tuntas adalah Rodolfo Grasiani. Bahkan kepada kabinetnya Musolini menyatakan kedatangan Grasiani kelak membuat suasana di Libya dapat terkontrol sepenuhnya.

Kala itu, Grasiani setuju pergi ke Libya dengan catatan tak ada aturan yang dapat membelenggunya dalam melakukan berbagai tindakan di Libya. Bahkan peraturan internasional sekalipun. Sebelum ditugaskan ke Libya, ia pergi ke Morj, Switzerland untuk merencanakan serangan terhadap Libya.

Rancangan Grasiani tentu saja disetujui sepenunya oleh Musolini. Pasalnya, ia berpegang pada prinsip ''jika tak bersamaku maka kalian adalah lawanku''. Dengan demikian untuk menguasai Libya segala cara harus dihalalkan tak peduli akan mengorbankan banyak jiwa yang tak berdosa.

Rencana pertama Grasiani adalah mengisolir Libya serta mencegah adanya kontak baik langsung maupun tak langsung dengan mujahidin dan negara tetangganya yang memasok senjata dan informasi kepada para pejuang Libya. Ia membangun kawat berduri sepanjang 300 km, tinggi 2 meter dan lebar 3 meter dari pelabuhan Bardiyat Slaiman Libya Utara sampai Al-Jagboub Libya Tenggara.

Rencana lainnya adalah membangun kamp konsentrasi di mana ribuan warga Libya harus hidup dalam pengawasan angkatan perang Italia. Ia membangun kamp konsentrasi di Al-Aghaila, Al-Maghroun, Solouq, dan Al-Abiyar.

Pada akhir November 1929 semua warga Libya yang hidup di tenda di Al-Jabal Al-Akdar, Mortaf-Aat Al-Thahir dari Beneena Utara sampai Ash-Shlaithemiya Selatan, dari Tawkera ke bagian selatan padang pasir Balt Abdel-Hafeeth, digiring untuk hidup di kamp-kamp konsentrasi.

Kehidupan rakyat Libya di kamp sangat mengerikan. Bahkan ribuan warga Libya mati kelaparan. Tak jarang pula mereka mati karena ditembak atau digantung sebab diyakini membantu perjuangan para mujahidin.

Pada 1933, Ketua Departemen Kesehatan Angkatan Darat Italia, Dr Todesky menuliskan dalam bukunya bertajuk Cerinaica Today. Dalam bukunya itu ia menyebutkan bahwa dari Mei sampai September 1930, lebih dari 80 ribu warga Libya dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya dan hidup di kamp konsentrasi.

Iring-iringan warga Libya yang berjumlah 300 orang sekali jalan, mendapat kawalah ketat dari militer Italia. Todesky melanjutkan bahwa pada akhir 1930 semua warga Libya yang hidup di tenda-tenda dipaksa untuk hidup di kamp konsentrasi. Sebanyak 55 persen dari 80 ribu warga Libya meninggal di kamp konsentrasi tersebut.

Seorang sejarawan Libya, Mahmoud Ali At-Taeb menyatakan bahwa pada November 1930 paling tidak terdapat 17 pemakaman dalam sehari terjadi di kamp konsetrasi akibat kelaparan, penyakit, dan depresi.

Di luar kamp konsentrasi, mujahidin yang bertahan di daerah pegunungan terus berjuang melawan penjajahan Italia. Namun pada 1931 mujahidin kehabisan bahan pangan dan amunisi. Pimpinan mujahidin, Omar Al-Mokhtar, sakit-sakitan dan banyak mujadihin memintanya untuk berhenti dan meninggalkan negeri tersebut. Namun ia menolak tawaran tersebut dan tetap mengobarkan perjuangan.

Atas kegigihannya melawan penjajahan Italia tak heran jika ia dijuluki sebagai 'Singa Padang Pasir'. Meski akhirnya, usia senja tak mampu membuatnya bertahan untuk memanggul senjata. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Eksekusi tetap dilakukan tanpa mempertimbangkan kerentaan Omar Al-Mokhtar dan hukum internasional.

Semakin redupnya bara perlawanan, membuat Italia akhirnya dapat menguasai Libya setelah melakukan pertempuran selama 20 tahun. Meski Italia hanya mampu berkuasa di sana hingga 1943 akibat kekalahannya di Perang Dunia II. Libya kemudian berada di bawah kekuasaan pasukan sekutu hingga 24 Desember 1951. ferry kisihandi/berbagai sumber (RioL)

Omar Al-Mokhtar


imageOn 16 September 1931 the Italians hanged the Libyan fighter [Mojahid] Omar Al-Mokhtar. Omar al-Mokhtar is considered the great symbol for the Libyan resistance (Jihad) against the Italian occupation. In 1922 he reorganized the Mojahideen and re-ignited the resistance against Italy after World War I when the Italians thought that they succeeded in silencing the Libyan resistance. Omar Al-Mokhtar, was ill couple of times and many of his comrades asked him to retire and leave the country, he was 80 years old. But he refused and kept fighting and he deserved a name given to him as "The Lion of the Desert." On 16 September, 1931 the Italians hanged Omar Al-Mokhtar in the city of Solouq and they forced the Libyans to watch their hero been hanged. No consideration to Omar Al-Mokhtar's old age, no consideration to international law and no consideration to world war treaties

The Italian Occupation and the Libyan Resistance


In October 1911 the Italian fleet invaded Libya and the Libyans resisted the invaders with whatever little weapons they could get. The Italians first concentrated their attack on the coast cities, Tripoli, Benghazi, Misrata and Derna. Major battles took place in Al-Hani near Tripoli (October 23, 1911) , Ar-Rmaila near Misrata, Al-Fwaihat near Benghazi (March 1912) and Wadi Ash-Shwaer near Derna. Other battles took place on the coast and in other cities, villages, mountains and desert. One of the major battles was Al-Gherthabiya near Sirt (April 1915) where the Italians lost thousands of their soldiers. Although the Italians succeeded in controling most of Libya after years of resistance and struggle (Jihad), they could not control the whole country because the Libyan fighters (Mojahideen) left their homes and headed for the mountains where they planned their attacks against the Italian armies. Some of the major Libyan fighters (Mojahideen) against the Italians were Omar Al-Moktar [see photo on the right] , Ramadan As-Swaihli, Mohammad Farhat Az-Zawi, Al-Fadeel Bo-Omar, Solaiman Al-Barouni and Silima An-Nailiah to name a few. Omar Al-Moktar is considered the great symbol for the Libyan resistance (Jihad) against the Italian occupation. He reorganized the Mojahideen in The Green Mountain (Aj-Jabal Al-Akdar) North East Libya and he re-ignited the resistance against Italy after World War I when the Italians thought that they succeeded in silencing the Libyan resistance.

Feeling that they may lose Libya to the Mojahideen, the Italian authorities sent one of their bloodiest high ranking officers Badolio who used the most inhuman measures to end the resistance. He did not just lead the fight against Omar Al-Moktar and his comrades, but he also punished even those who were living peacefully in the cities and villages accusing them of helping the Mojahideen. Badolio was not the only one whome the Italian government thought able to end the Libyan resistance through using the most inhumane and blodiest measures. Mosoliny, the infamous Italian dictator, sent another high ranking officer to kill thousands and thousands of inocent Libyans, young and old. fighters and non-fighters. Mosolini thought that the solution to the Libyan problem was Rodolfo Grasiani and by sending him to lead the fight against the Libyans he was telling his cabinet that anything and everything must be done to control Libya.

Grasiani agreed to go to Libya if and only if Mosolini let him do the job without any consideration or respect for rules and laws in Italy or in the World and Mosolini agreed immediately. Before coming to Libya, Grasiani went to Morj, Switzerland where he enjoyed a vacation in which he planned his murderous attack on the Libyans, all Libyans according to Mosoliny's Motto "If you are not with me, you are against me !" which means the only way to control the country is by killing almost half of its population and the Italians did cause the death of half of Libya's men, women, elderly and childern, directly through public hangings and shootings and indirectly (hunger, illness and horror) for the sake of one thing: showing the world that they have the power to invade and capture colonies just like the other powers in the world. Grasiani's plan was: First to isolate Libya completely and prevent any direct or indirect contact between the Mojahideen and their neighbours who supply the Libyan Mojahideen with weapons and information. Grasiani built a wired wall 300 Kilometers long, 2 meters high and 3 meters wide from Bardiyat Slaiman port North Libya to Al-Jagboub South East Libya. The second part of the plan was to built concentration camps where thousands of Libyans must live under complete control of the Italian army. Grasiany built concentration camps in: Al-Aghaila, Al-Maghroun, Solouq and Al-Abiyar to name a few. By the end of November 1929 all Libyans who live in tents in Al-Jabal Al-Akdar, Mortaf-Aat Al-Thahir from Beneena North to Ash-Shlaithemiya South, from Tawkera to the southern desert of Balt Abdel-Hafeeth and all the members of any tribe that has one or more of its sons fighting with Mojahideen, all those and more, thousands and thousands of Libyans were forced to leave their land and live in one of the concentration camps mentioned above.

Life in the camps was miserable and thousands of Libyans died of hunger, illness and some of them were hanged or shot because they believed to be helping the Mojahideen. In 1933, the Italian Army Health Department Chairman, Dr. Todesky wrote in his book (Cerinaica today): "From May 1930 to September 1930 more than 80,000 Libyans were forced to leave their land and live in concentration camps, they were taken 300 at a time watched by soldiers to make sure that the Libyans go directly to the concentration camps. " Dr. Todesky continued " By the end of 1930 all Libyans who live in tents were forced to go and live in the camps. 55% of the Libyans died in the camps." The Libyan historian Mahmoud Ali At-Taeb said in an interview with the Libyan magazine Ash-Shoura (October 1979) that in November 1930 there were at least seventeen funerals a day in the camps due to hunger, illness and depression.

When some world newspapers talked about the inhumane life in the concentration camps in Libya, the Italian army started giving the Libyans some dry parley (22 Kilo-grams per person per month !) which was too little to late. Outside the camps, in the mountains, the Mojahideen continued to fight the Italian occupation, but by the year 1931 the Mojahideen were out of food, out of information and out of ammunitions. The leader of the Mojahideen, Omar Al-Moktar, was ill couple of times and many of his comrades asked him to retire and leave the country, he was 80 years old. But he refused and kept fighting and he deserved a name given to him as "The Lion of the Desert." In September 16, 1931 the Italians hanged Omar Al-Moktar in the city of Solouq and they forced the Libyans to watch their hero been hanged. No consideration to Omar Al-Moktar's old age, no consideration to international law and no consideration to world war treaties. But, remember that the Italians caused the death of half of Libya's population and killing Omar Al-Moktar to the Italians was ending the Libyan resistance which to them means finally taking control of the country after 20 years of struggle. Libya was under the Italian occupation till 1943 when Italy was defeated in World War II and Libya became under the Allies Armies occupation till December 24, 1951 when Libya achieved its independance after years and years of occupation.




Read More - Omar Al-Mokhtar : Lion of the Dessert

Selasa, 01 Mei 2012


 –** Episode Empat **-
Ke Bandara
Ketika aku naik mobil, aku berkata kepada sopirnya dengan menggunakan bahasa Rusia; “ke bandara, Pak supir!”  Aku telah mengenal bahasa Rusia sedikit-sedikit. Tapi istriku berkata: “Tidak, kita tidak pergi ke bandara. Kita akan pergi ke kampung ‘anu’.”
“Kenapa tidak ke bandara? Bukankah kita mau pergi dari negeri ini?” tanyaku heran.
Ia menjawab: “Benar. Tapi, jika keluargaku mengetahui pelarianku ini, mereka akan langsung mencari kita ke bandara. Maka sebaiknya kita pergi ke kampung ‘anu’ dulu.”
Ketika kami sampai di kampung yang ia sebutkan, kami pun turun, lalu naik mobil lagi, kemudian turun, dan naik mobil lagi yang ketiga kalinya, serta naik lagi menuju salah satu kota yang memiliki bandara internasional. Ketika kami sampai di bandara itu, kami tak bisa langsung terbang ke negeri kami. Ada gangguan teknis yang cukup lama, sehingga kami perlu menginap dan menyewa sebuah kamar terlebih dahulu.
Setelah kami berada di kamar dan merasa nyaman, istriku melepas mantelnya. Kulihat ia, ya Allah, tak ada satu pun anggota tubuhnya yang selamat dari noda darah; kulitnya terkelupas, darah di sekujur tubuhnya telah mengering, rambutnya rontok, serta bibirnya membiru….

Cerita Pilu
Kutanyai istriku: “Bagaimana ini bisa terjadi?” Ia menjawab: “Ketika kita masuk ke rumah keluargaku, aku duduk-duduk bersama mereka. Mereka pun bertanya kepadaku; “Pakaian apakah ini?” Aku jawab; “Ini pakaian Islam.” Mereka bertanya lagi; “Sipakah laki-laki itu?” Aku menjawab: “Ia suamiku. Aku telah masuk Islam, dan menikah dengan lelaki itu.” Mereka pun berkata: “Tidak, ini tidak mungkin.”
Kukatakan kepada mereka: “Dengarkan, aku ingin menceritakan awal mula kejadiannya…….” Kuceritakanlah kepada mereka tentang si pengusaha Rusia yang bermaksud mempekerjakanku dalam pekerjaan bejad itu, lalu bagaimana aku bisa lari darinya, dan selanjutnya bertemu denganmu.
Mereka malah mengatakan: “Jika saja kamu melakukan pekerjaan mesum, itu lebih kami sukai dari pada kamu masuk Islam.” Lalu mereka berkata: “Kamu takkan bisa keluar dari rumah ini, kecuali setelah kembali menjadi ortodoks, atau dengan tubuh yang telah hancur!!
Saat itulah, mereka lalu menjambakku dan mengikat kedua tanganku. Dan setelah itu, mereka menuju ke arahmu dan memukulimu. Aku mendengarmu ketika engkau dipukuli itu. Engkau berteriak, sedangkan aku telah diikat. Ketika engkau mampu melarikan diri, saudara-saudaraku itu kembali kepadaku, menghardikku, dan mencelaku lagi. Lalu mereka pergi membeli rantai, dan mengikatku dengannya. Mulailah mereka mencambukku… Maka, aku harus merasakan cambukan demi cambukan yang mengerikan, setiap hari!! Dimulai setelah waktu Ashar, hingga menjelang tidur.
Adapun di pagi hari, ayah dan saudara-saudaraku pergi ke tempat kerjanya, sedang ibuku tinggal di rumah. Tak ada yang menemaniku saat itu, kecuali adik perempuanku yang berusia 15 tahun. Ia selalu datang sambil tersenyum untuk melihat keadaanku. Inilah satu-satunya waktu santai yang bisa kurasakan. Percayakah kamu, mereka mencambukku hingga aku tertidur. Aku tidur, dalam keadaan tak sadarkan diri! Mereka mencambukku hingga aku pingsan dan tertidur. Mereka hanya menuntutku untuk keluar dari agama Islam saja. Namun aku menolak dan tetap bertahan. Suatu saat, adik kecilku bertanya-tanya kepadaku; “kenapa engkau meninggalkan agamamu, agama ibumu, agama ayahmu, dan agama nenek moyangmu…?

Allah Memberi Jalan Keluar
Mulailah aku meyakinkan adikku, menjelaskan perihal agama ini kepadanya, serta menanamkan tauhid ke dalam hatinya. Dan, ia tampak terpengaruh dengan penjelasanku. Kebenaran agama Islam ini mulai tergambar di depannya! Tiba-tiba, ia mengatakan kepadaku; “Engkau berada di jalan benar. Ini agama yang benar. Ini agama yang layak pula aku anut!!” Kemudian ia berkata: “Aku ingin menolongmu.” Kukatakan kepadanya: “Jika kamu hendak membantuku, tolonglah aku agar dapat bertemu suamiku!” Maka, ia pun sering naik ke atas rumah untuk melihat-lihatmu di luar, lalu ia melaporkan hasil pengamatannya kepadaku; “aku melihat seorang lelaki dengan ciri-ciri begini…dan begini.” Aku pun berkata: “Ya, itu suamiku. Jika kamu melihatnya lagi, bukakan pintu, agar aku bisa berbicara dengannya!”
Ia benar-benar membukakan pintu, maka aku keluar dan bercakap-cakap denganmu. Namun aku tak bisa keluar, karena keadaanku terikat oleh dua rantai yang kuncinya dipegang kakakku., serta satu rantai lagi diikatkan ke salah satu tiang rumah ini, sehingga aku tak bisa keluar. Kunci rantai yang ketiga ini, dipegang adik perempuanku, agar ia bisa melepasku jika aku hendak pergi ke wc.
Ketika aku berbicara denganmu dan memintamu untuk tinggal di kamar kontrakan sampai aku datang kepadamu, keadaanku masih terikat oleh rantai-rantai itu. Dan, aku masih meyakinkan adik perempuanku untuk masuk Islam. Hingga, ia pun masuk Islam, dan punya keinginan memberikan pengorbanan yang bisa melebihi pengorbananku ini. Ia pun memutuskan untuk membantuku lari dari rumah. Namun, kunci-kunci rantai itu ada pada saudaraku yang laki-laki. Ia terus menerus berpikir keras bagaimana caranya menyelamatkanku….
Suatu hari, ia menyiapkan arak yang berkadar tinggi untuk saudara-saudaraku. Mereka pun meminumnya, dan terus meminumnya sampai semuanya mabuk berat, dan tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Maka adikkku mengambil kunci-kunci itu dari saku kakakku, dan membuka rantai-rantai ini. Kemudian aku mendatangimu di malam yang pekat itu.
Aku bertanya kepada istriku: “Lalu adik perempuanmu, bagaimana nasibnya?” istriku menjawab: “Tak perlu dirisaukan, aku telah memintanya agar tidak mengumumkan dulu keislamannya, sampai tiba waktu yang tepat.” Lalu kami tidur di malam itu, dan besoknya sudah bisa terbang ke negeri kami….
Setibanya di sana aku langsung membawa istriku ke rumah sakit, ia diharuskan untuk dirawat beberapa hari, untuk memulihkan setiap luka akibat penyiksaan keluarganya. Dan saat ini kami masih mendo’akan adik perempuannya; supaya Allah semakin meneguhkannya untuk tetap berada di atas agama-Nya…
*** TAMAT ***
–**–**–**–**–**–**–**–**–**
Sumber: Kutaib “Innaha Malikah” Penulis: Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-’Arifi. Penerjemah: Abu Haitsam Buldan M.Fattah
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:4}

–** Episode Tiga **–
Kunjungan Pedih
Setelah urusan paspor kami selesaikan, kami langsung berangkat untuk mengunjungi keluarganya. Tak lama, kami sampai di rumahnya. Lalu kami mengetuk pintu rumahnya; sebuah rumah sederhana yang sudah tua. Dilihat dari bentuknya, cukuplah menandakan penghuninya termasuk golongan menengah ke bawah. Pintu pun dibuka oleh kakak laki-lakinya, yang nampak berotot kuat. Istriku begitu gembira bertemu dengannya, lalu ia membuka penutup wajahnya, seraya menyunggingkan senyumnya!
Namun kakaknya, sejak pertama kali melihat istriku, terlihat jelas pada mukanya rona bergantian; antara gembira atas kepulangan adiknya, juga perasaan aneh karena melihat pakaian serba hitamnya yang menutupi seluruh tubuhnya. Masuklah istriku sambil tersenyum, dan merangkul kakaknya. Aku pun turut masuk di belakangnya, kemudian duduk sendirian di ruang depan rumah itu.
Istriku masuk ke ruang tengah. Kudengar mereka bercakap-cakap dengan bahasa Rusia, yang tetap tak kumengerti. Namun, kuperhatikan tekanan suaranya mulai terdengar mengencang!! Nadanya pun berubah!! Terdengar teriakan!! Semuanya meneriaki istriku!! Sedang istriku membela diri, dan menjawab teriakan mereka. Aku merasa keadaannya kian memburuk! Namun, aku tak bisa bertindak apapun, karena tak bisa mengikuti percakapan mereka sama sekali…
Tiba-tiba, terdengar beberapa suara mendekat ke ruangan tempat aku duduk. Ternyata tiga orang pemuda kekar menghampiriku, yang dipimpin oleh seorang lelaki yang telah berumur. Awalnya, aku menduga mereka bermaksud menyambutku sebagai suami dari anak wanita mereka! Ternyata, mereka langsung menyerangku bagaikan binatang buas!! Ya, sambutan mereka adalah kepalan tangan, bogem mentah, dan terjangan yang membabi buta!! Aku pun berusaha membela diri. Aku berteriak meminta tolong. Hingga, kekuatanku semakin melemah, dan aku merasa hidupku akan berakhir di rumah ini. Pukulan dan terjangan mereka semakin menjadi-jadi. Sontak aku memutar pandangan ke sekelilingku, mencari-cari celah untuk lari. Ketika kulihat pintu, segera aku menujunya, membukanya, dan lari. Mereka berusaha mengejar di belakangku. Aku pun masuk ke dalam keramaian manusia, hingga selamat dari kejaran mereka. Segeralah aku menuju ke kamarku yang tak begitu jauh dari rumah keluarga istriku itu.
Aku mencuci darah di wajah dan mulutku. Kudapati dalam diriku bekas pukulan dan terjangan pada kening, pipi, dan hidungku, sedangkan darah mengalir dari mulutku. Begitu pula pakaianku koyak. Aku bersyukur kepada Allah, yang masih menyelamatkanku dari terkaman binatang-binatang itu. Namun, bagaimana dengan istriku?! Mulailah bayangan istriku melambai-lambai di depan mataku. Apakah ia pun menghadapi penyiksaan seperti ini? Aku laki-laki, tapi hampir saja tak bisa menahan serangan mereka. Istriku seorang wanita, bagaimana ia bisa melawan mereka?!! Aku khawatir ia telah roboh….
Inikah Saatnya Berpisah…?
Mulailah syaitan melaksanakan tugasnya; mereka membisiki pikiranku; “istriku akan murtad dari agama Islam, ia akan kembali menjadi Nashrani. Dan kamu akan pulang ke negerimu sendirian.” Aku terdiam gelisah.. Apa yang harus kulakukan di negeri ini? Kemana aku harus pergi? Bagaimana tindakanku selanjutnya? “Jiwa begitu murah di negeri ini. Anda bisa menyewa seseorang untuk membunuh orang lain dengan bayaran hanya 10 dollar!” Uhh…, “bagaimana jika mereka menyiksa istriku, hingga ia tega menunjukkan tempatku ini? Mereka tinggal mengutus seseorang untuk membunuhku di kegelapan malam.” Segeralah kukunci kamarku, dan tinggallah diriku di dalamnya dengan resah dan penuh rasa takut.
Paginya, aku segera mengganti baju dan pergi untuk mencari kabar istriku. Kuamati rumahnya dari kejauhan. Tiba-tiba, rumahnya terbuka, dan tiga orang pemuda keluar dari sana, juga seorang lelaki yang telah berumur itu. Ya, merekalah yang memukuliku tempo hari!
Melihat penampilannya, tampaknya mereka hendak pergi ke tempat kerja mereka. Lalu mereka menutup pintu dan menguncinya! Aku masih mengamati, mengintai, dan mengawasi rumah itu. Aku berharap dapat melihat wajah istriku. Namun tak ada hasilnya. Aku pun terus menerus dalam keadaan ini sekian lama, hingga para lelaki itu kembali dari tempat kerja mereka dan memasuki rumahnya.
Aku merasa kecapekan, kemudian pulang ke kamarku. Di hari kedua, aku pergi lagi mengawasi rumah itu, namun masih tak bisa melihat istriku. Begitu pula di hari ketiga, hingga aku putus harapan membayangkan keadaan istriku. Terpikirlah dalam diriku, bahwa ia telah meninggal karena dahsyatnya siksaan, atau memang sengaja dibunuh! Namun, jika ia mati setidaknya harus terlihat tanda-tandanya di rumah itu; akan datang orang-orang yang berbela sungkawa, atau yang melayatnya. Namun, tak kulihat sesuatu yang aneh di sana. Maka kuyakinkan diriku bahwa ia masih hidup, dan pertemuan akan segera terjadi….
Perjumpaan
Di hari keempat, aku tak sabar untuk berdiam diri di kamar. Maka aku pun berangkat lagi mengawasi rumah itu dari kejauhan. Ketika para lelaki itu berangkat bersama ayah mereka ke tempat kerjanya, seperti biasanya, aku tetap menanti penuh harap. Tiba-tiba pintu terbuka, dan wajah istriku menyembul di belakangnya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Dan aku melihat wajahnya penuh tetesan darah dan membiru bekas pukulan, yang nampaknya dilakukan bertubi-tubi. Begitu pula pakaiannya dilumuri darah. Aku begitu ngeri melihatnya, serta merasakan iba kepadanya. Segera aku mendekat, dan melihatnya lekat-lekat. Darah mengucur dari sekujur badannya; di mukanya, di kedua tangannya, juga di kedua kakinya…. Bajunya terkoyak, ia hanya tertutupi sesobek kain yang seret. Dan, kulihat kedua kakinya terikat dengan rantai. Juga kedua tangannya dirantai di belakang punggungnya. Melihat keadaan itu, aku menangis. Aku benar-benar tak mampu mengendalikan diri. Kupanggil istriku dari kejauhan….
Nasihat Peneguh Jiwa
Istriku berkata kepadaku, seraya menahan derai air mata, dan mengerang karena dahsyatnya rasa sakit: “Dengarlah wahai Khalid… Jangan kau cemaskan diriku. Aku akan teguh di atas janjiku. Demi Allah, apa yang kuhadapi saat ini, tidaklah sebanding seujung rambut pun, dengan siksaan-siksaan yang dialami para sahabat dan tabiin, apalagi para nabi dan rasul. Kuharapkan engkau tidak terlibat dalam urusanku dengan keluargaku. Cepatlah pergi sekarang juga, tunggulah aku di kamar kontrakan, sampai aku menemuimu, insya Allah. Namun begitu, perbanyaklah do’a, perbanyaklah qiyamullail, dan perbanyaklah shalat…!”
Aku pun pergi darinya, dengan segunduk rasa sakit dan penyesalan di hati. Aku berdiam diri di kamar sepanjang hari, sambil menantikan kedatangannya. Begitu pula di hari selanjutnya. Dan, di hari ketiga dalam penantian itu, ketika malam telah begitu larut, terdengar pintu kamarku diketuk! Aku terkejut. Siapakah yang ada di balik pintu? Siapa yang mengetuk? Sungguh aku jadi merasakan ketakutan yang luar biasa; Siapakah yang datang ke rumahku, di tengah malam begini?! Jangan-jangan, keluarga istriku mengetahui tempatku. Jangan-jangan istriku menyerah dan menunjukkan tempat ini kepada mereka. Lalu mereka pun datang untuk membunuhku. Rasa takutku semakin menjadi-jadi membayangkan kematian. Tidak lagi tersisa antaraku dan antara maut, kecuali seujung rambut. Kuberanikan diri untuk bicara; “Siapakah di luar sana?”
Ternyata, suara istriku yang menjawabku dengan sangat lirih: “Bukakan pintu. Aku Fulanah.” Maka, segeralah kunyalakan lampu kamar, dan kubuka pintunya. Istriku masuk sambil gemetaran, kondisi badannya begitu lemah, serta dipenuhi luka di sekujur tubuhnya.
Istriku berkata: “Mari kita segera pergi dari sini!”
“Dalam kondisimu seperti ini?” tanyaku.
“Ya, cepatlah.!” jawabnya.
Mulailah ia membereskan pakaiannya, lalu mengambil tas, dan mengganti pakaiannya. Ia mengenakan hijabnya juga mantel sebagai pengaman. Kemudian kami bawa semua barang kami. Kami pun pergi, dan naik ke mobil angkutan. Istriku yang malang itu menjatuhkan tubuhnya yang lusuh, lapar, dan kesakitan itu di atas kursi mobil….
Insya Allah Bersambung…
–**–**–**–**–**–**–**–**–**
Sumber: Kutaib “Innaha Malikah” Penulis: Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-’Arifi. Penerjemah: Abu Haitsam Buldan
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:3}

*-* Episode Dua *-*
Di Rusia
Khalid bercerita: “Ketika kami turun di bandara, aku menyangka kami akan pergi ke rumah keluarganya, dan tinggal bersama mereka. Kemudian setelah selesai urusan, barulah kami pulang kampung. Namun, pemikiran istriku ternyata jauh dari dugaan. Ia malah berkata: ‘Keluargaku adalah kaum Ortodoks yang fanatik terhadap agamanya. Aku tak akan pergi untuk menemui mereka sekarang! Untuk sementara kita menyewa kamar sebagai tempat tinggal, lalu kita menyelesaikan pengurusan paspor. Menjelang pulang, baru kita mengunjungi keluargaku.’
Kurasa pikirannya benar juga; maka kami menyewa sebuah kamar dan tinggal di sana. Besoknya, kami pergi ke kantor imigrasi. Kami menemui seorang pegawai. Dan pegawai itu meminta paspor lama disertai photo istriku. Istriku lalu mengeluarkan photo hitam putih, yang hanya menampakkan wilayah muka saja.
Pegawai itu berkata: “Photo ini berbeda dengan photo yang ada di paspor lama. Kami minta photo berwarna, yang menampakkan wajah, rambut, dan leher Anda!!…
Istriku menolak untuk memberikan photo selain photo tersebut. Kami pun mencoba menemui pegawai yang lainnya, lalu pegawai yang lainnya lagi. Namun mereka semua tetap meminta photo yang terbuka. Istriku pun berkata: “Aku tak akan memberikan photo yang menampakkan auratku, sampai kapan pun!” Para pegawai pun tak ada yang memproses permohonannya. Maka kami mencoba menghadap kepada kepala kantornya.
Istriku berupaya menjelaskan kepadanya, agar menerima photo yang ia bawa. Namun kepala kantornya pun menolak. Istriku terus menerus mendesaknya seraya berkata: “Tidakkah kamu memperhatikan photoku ini, lalu bandingkan dengan photo yang ada di paspor. Yang penting wajahku kelihatan. Sebab rambutku boleh jadi telah berubah. Photo ini telah mencukupi!”
Sang kepala kantor tetap bersikukuh bahwa peraturan tak mungkin menerima photonya. Istriku berkata: “Aku tak akan memberikan photo selain photo ini. Lalu bagaimana penyelesaiannya?”
Kepala Kantor itu menjawab: “Permasalahan ini tak akan bisa diselesaikan, kecuali melalui kepala imigrasi tertinggi di Moskow.”
Kemudian, kami pun segera keluar dari kantor itu. Istriku menoleh kepadaku dan berkata: “Wahai Khalid, kita mesti pergi ke Moskow.”
Aku mengatakan kepadanya: “Berikanlah photo seperti yang mereka inginkan. Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya. Bertaqwalah kepada Allah semampunya. Ini kondisi darurat. Dan paspor itu hanya dilihat oleh beberapa orang saja. Selanjutnya engkau bisa menyembunyikannya di rumah, sampai habis masa berlakunya. Selesailah urusan, dan kita tak perlu lagi pergi ke Moskow.”
Istriku menjawab: “Tidak, tak mungkin aku memberikan photo yang memperlihatkan aurat, setelah aku mengenal agama Allah!”
Di Moskow
Istriku terus mendesakku. Maka berangkatlah kami ke Moskow, kemudian menyewa sebuah kamar untuk beristirahat. Besoknya, kami pergi ke kantor imigrasi. Kami menemui seorang pegawai, kemudian beralih ke pegawai yang lain, dan beralih lagi ke pegawai yang lainnya, hingga kami pun diharuskan menghadap langsung kepada kepala kantor yang asli. Kami menemuinya, dan sungguh ia adalah manusia yang paling buruk sikapnya! Ketika ia melihat paspor istriku, ia membolak-baliknya, kemudian mengangkat kepalanya untuk memandang istriku, lalu ia berkata:
“Bagaimana aku bisa yakin, bahwa Anda adalah pemilik paspor ini?” Ia berkata demikian, dengan maksud agar istriku membuka penutup wajahnya, hingga bisa dilihatnya.
Istriku berkata: “Suruhlah salah seorang pegawai Anda yang wanita, untuk aku bukakan wajahku di depan mereka, sehingga mereka dapat mencocokkannya dengan wajah yang ada di photo itu. Adapun Anda, selamanya tak bisa mencocokkan photo ini, dan selamanya aku tak akan membukakan wajahku kepada Anda.”
Sontak kepala kantor imigrasi itu marah, lalu ia mengambil parpor lama istriku, beserta photo dan berkas-berkas lainnya, kemudian ia gabungkan dan ia masukkan ke dalam laci khusus. Kemudian ia pun berkata kepada istriku: “Anda tak memegang paspor lama; dan Anda tidak dapat memperoleh paspor yang baru, kecuali setelah Anda membawa photo sesuai prosedur, yang akan kami cocokkan dengan wajah Anda sendiri.”
Istriku masih berbicara dengannya, ia bersikeras memohon perpanjangan paspornya. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Rusia. Sedangkan aku hanya melihat mereka, tak mengerti sedikit pun. Aku marah, namun tak bisa berkata apa-apa.
Jawaban sang kepala imigrasi itu ternyata tetap: “Anda harus membawa photo yang sesuai syarat kami.”
Istriku terus mendesaknya, namun tak ada faedahnya. Ia pun terdiam dan tetap berdiri mematung di depannya. Kepala Imigrasi itu memandangnya sinis. Maka, kukatakan kembali kepada istriku: “Istriku yang tercinta! Allah tidaklah membebani seseorang, kecuali sebatas kemampuannya. Sekarang kita dalam kondisi terpaksa. Sampai kapankah kita akan berkelana di kantor-kantor imigrasi?”
Istriku menjawab: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar, serta memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.”
Adu argumen di antara kami semakin seru saja. Hingga kepala imigrasi itu marah dan menyuruh kami keluar dari kantornya. Kami pun keluar dari sana. Sungguh, saat itu aku berada di antara rasa sayang bercampur rasa kesal terhadapnya.
Kami pulang ke kamar sewaan kami, dan membicarakan kembali permasalahan itu di kamar. Aku berusaha meluluhkannya, namun ia pun bersikukuh dengan prinsipnya. Hingga, malam semakin larut. Kami pun shalat Isya, dan pikiranku sungguh masygul dengan musibah ini. Kemudian kami mencicipi sedikit makanan, lalu kurebahkan kepalaku untuk tidur.
Bagaimana Kau Bisa Tidur…?
Ketika ia melihatku hendak tidur, berubahlah rona wajahnya. Kemudian ia berkata kepadaku:
“Wahai Khalid, engkau mau tidur?!”
Aku menjawab: “Ya, tidakkah engkau merasa capek?!”
Istriku menjawab: “Subhanallah… dalam kondisi kritis ini, engkau mau tidur? Saat ini kita berada dalam keadaan butuh akan pertolongan Allah. Dan inilah saat yang tepat untuk meminta kepada-Nya.”
Aku pun bangun, dan shalat sekedar yang kuinginkan, lalu aku tidur. Sedangkan istriku terus menerus shalat sendirian. Setiapkali aku terbangun, aku pun melirik kepadanya yang sedang larut dalam qiyamullail. Terkadang kulihat ia sedang ruku’, sedang sujud, sedang berdiri, sedang berdo’a, atau sedang menangis. Ia terus-terusan melakukannya, hingga terbit waktu fajar. Kemudian, ia membangunkanku;
“Waktu fajar telah tiba. Mari kita shalat bersama-sama!” ujarnya kepadaku.
Aku pun bangun, berwudhu, dan kemudian shalat berjama’ah bersamanya. Setelah itu, istriku tertidur sebentar…
Ketika matahari telah terbit, ia pun terbangun, lalu berkata: “Mari kita pergi ke kantor imigrasi!!”
Aku mengatakan kepadanya: “Untuk apa kita pergi? Mana photonya?? Bukankah kita tidak memiliki photonya!!”
Ia menjawab: “Kita akan pergi untuk berupaya lagi. Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah.”
Kami pun pergi, dan demi Allah, tidaklah kami memasuki ruang-ruang di dalam kantor imigrasi itu, kecuali para pegawainya sungguh telah mengenali kami karena hijab yang dipakai istriku. Dan tiba-tiba, salah seorang di antara pegawai itu memanggil istriku;
“Engkau Fulanah?” tanyanya.
Istriku menjawab: “Ya.”
Pegawai itu berkata lagi: “Ambillah paspormu!”
Ternyata paspor itu telah selesai dengan sempurna, terpampang photo istriku lengkap dengan hijabnya yang hanya membuka wilayah muka. Istriku tampak begitu gembira, lalu menoleh kepadaku;
“Bukankah telah kukatakan kepadamu; Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar,” serunya.
Ketika kami bermaksud keluar, pegawai itu berkata kepada kami: “Kalian mesti kembali ke kota kalian yang menerbitkan paspor ini pertama kali; dan mintalah kepada mereka untuk melegalisirnya!”
Kemudian, kembalilah kami ke kota yang pertama; terlintas dalam hatiku: “Inilah kesempatan yang tepat untuk mengunjungi keluarga istriku di sana, sebelum kami pergi dari Rusia.”
Ketika sampai di kota tujuan, kami pun menyewa kamar lagi, dan segera memproses legalitas paspor istriku ke kantor imigrasi……
Insya Allah Bersambung…
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Sumber: Kitab “Innaha Malikah” Penulis: Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-’Arifi. Penerjemah: Abu Haitsam Buldan
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:2}
PROLOG
Penuturan kisah ini bukanlah untuk membangkitkan rasa sentimentil kalian, tidak pula untuk melemahkan kekuatan kalian, atau mengaduk-aduk emosi kalian. Sekali-kali tidak! Namun, penuturan kisah ini agar kalian mengerti bahwa Islam membutuhkan para pemberani yang siap menjaganya, mau berkorban untuknya, rela meremukkan tempurung kepala mereka demi kejayaannya, serta siap menumpahkan darah dan berpisah dengan raga mereka.
*-* Episode Satu *-*
Seorang pemudi Rusia (sebut saja namanya Fulanah), ia berasal dari keluarga Kristen Ortodoks yang sangat fanatik terhadap agama Nashrani. Suatu hari, seorang pengusaha Rusia mengajak serta pemudi tersebut bersama beberapa wanita muda lainnya untuk berangkat ke negara teluk, dalam rangka berbelanja barang-barang elektronik, yang kelak akan dijual kembali di Rusia. Itulah penawaran resmi si pengusaha yang disepakati pula oleh para wanita itu…
Ketika mereka telah sampai di tempat tujuan, tiba-tiba pengusaha itu menyeringai menunjukkan gigi taringnya, dan mulailah menawarkan kepada mereka sebuah pekerjaan mesum, disertai berbagai rayuan yang mempesona; seperti harta yang melimpah, relasi yang luas, serta iming-iming menggoda lainnya. Hingga, banyaklah di antara para wanita itu yang terjerat rayuannya. Namun, tidak demikian dengan wanita Ortodoks yang sangat fanatik kepada agamanya itu; Ia menolaknya mentah-mentah.
Pengusaha itu hanya tertawa menanggapi penolakannya, dan ia berkata kepadanya: “Kamu wanita yang terlantar di negeri ini, serta tidak memiliki apa-apa kecuali baju yang kamu pakai. Dan aku takkan memberikan apapun kepadamu.”
Mulailah laki-laki itu mengisolasinya bersama beberapa wanita yang belum terbujuk, dengan menempatkan mereka di sebuah apartemen, serta menahan paspor mereka untuk mem-pressure. Lama kelamaan para wanita itu banyak yang menyerah dan hanyut ke dalam bujukan lelaki yang angkuh itu, sedangkan Fulanah tetap kukuh mempertahankan kesucian dirinya. Setiap hari, Fulanah mendesak lelaki itu untuk memberikan paspornya, atau memulangkannya ke negeri asalnya. Namun ia selalu menolak.
Maka, pada suatu kesempatan, Fulanah mencari sendiri paspornya di dalam apartemen itu, hingga ia pun mendapatkannya dan langsung menyambarnya. Kemudian, ia segera kabur dari sana, keluar ke arah jalan raya. Ia pergi dengan membawa pakaian yang menempel di badannya saja. Entah kemana arah tujuannya. Di sana ia tak punya keluarga, tak punya kenalan, tak ada harta, tak ada makanan, dan tak ada tempat tinggal. Mulailah ia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri karena kebingungan…
Tiba-tiba, ia melihat seorang pemuda berjalan bersama tiga orang wanita, yang dari penampilannya cukup menenangkan dirinya. Ia pun menuju ke arahnya, dan mulailah berbicara kepada mereka dengan menggunakan bahasa Rusia. Namun, pemuda itu tampak mengemukakan permakluman bahwa dirinya tak mengerti bahasa Rusia.
“Apakah kalian bisa berbahasa Inggris?” tanya Fulanah selanjutnya.
Mereka pun menjawab: “Ya.”
Fulanah terlihat senang, namun kemudian ia menangis seraya berkata; “Aku berasal dari Rusia……,” Lalu mengalirlah dari mulutnya cerita tentang kejadian buruk yang baru menimpanya, “sedangkan aku tak punya bekal, juga tak memiliki tempat tinggal di sini,” lanjutnya.
Di akhir ceritanya, Fulanah pun berkata; “Aku hanya menginginkan bantuan kalian untuk menjaminku barang dua atau tiga hari, sampai aku bisa mengurus permasalahanku bersama keluargaku.”
Khalid, nama pemuda itu, tercenung mendengarkan penuturannya; terlintaslah di pikirannya, “jangan-jangan ini penipuan! Jangan-jangan wanita ini sedang memperdayanya!”
Fulanah menunggu jawaban Khalid sambil menangis. Sedang Khalid nampak bermusyawarah dengan ibunya serta dua saudara perempuan yang turut bersamanya.
Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk membawa Fulanah ke rumah mereka… Mulailah Fulanah berusaha menelpon keluarganya di Rusia. Namun tak pernah tersambung. Di negeri itu, jaringan telpon sering mengalami gangguan…! Maka, ia terus-terusan berusaha menelpon lagi pada setiap kesempatan, namun selalu gagal.
Khalid dan keluarga telah mengetahui Fulanah seorang Nashrani. Dan mereka tetap berlaku ramah kepadanya, serta selalu berlemah lembut terhadapnya. Hingga Fulanah pun menyenangi mereka. Suatu waktu, mereka mengajaknya masuk Islam. Namun Fulanah menolak, bahkan ia tak mau berdiskusi tentang masalah agama bersama mereka. Ya, karena ia berasal dari keluarga Ortodoks yang fanatik, serta sangat membenci Islam dan kaum Muslimin!
Khalid pun berkonsultasi ke pusat-pusat dakwah Islam. Lalu, mereka memberikan buku-buku keislaman yang berbahasa Rusia, untuk dibaca Fulanah. Fulanah pun membacanya, dan mulailah ia terpengaruh. Selang beberapa hari, setelah berbagai upaya yang dilakukan Khalid, dengan bantuan para aktivis dakwah itu, Fulanah pun masuk Islam, bahkan dengan keislaman yang sangat baik. Mulailah ia memperhatikan aneka pengajaran agama Islam, serta mengikuti berbagai majelis ilmu. Sampai-sampai ia mempunyai kekhawatiran jika pulang ke negeri asalnya, maka ia akan kembali menjadi seorang Nashrani.
Pernikahan
Khalid menikahi si Fulanah. Dan keteguhan wanita itu terhadap ajaran agama tampak semakin mengokoh, bahkan melebihi kaum Muslimah kebanyakan. Suatu hari, ia pergi ke pasar bersama suaminya. Di sana, ia melihat ada seorang perempuan yang berhijab, hingga menutupi bagian mukanya. Baginya, inilah kali pertama melihat seorang wanita berhijab dengan sempurna seperti itu. Ia benar-benar heran melihatnya!!
“Wahai Khalid, kenapakah wanita itu memakai pakaian yang demikian? Apakah karena ia memiliki penyakit yang membuat wajahnya memburuk, hingga ia pun harus menutupinya!?” tanyanya kepada Khalid.
Khalid menjawab: “Tidak, perempuan itu memakai hijab seperti yang dikehendaki Allah dan diperintahkan oleh Rasul-Nya.”
Istrinya terdiam sejenak, kemudian berkata: “Oh, inilah rupanya hijab Islami yang Allah kehendaki.”
Khalid bertanya: “Apa yang hendak kau lakukan?”
Istrinya menjawab: “Sekarang, jika aku masuk ke tempat-tempat perbelanjaan, maka semua mata para pemilik toko itu tak boleh melihat mukaku! Boleh jadi mereka ‘melahap’ mukaku ini sedikit demi sedikit!! Karena itu, aku tak akan keluar dari pasar ini, kecuali setelah menggunakan hijab seperti itu. Di manakah kita bisa membelinya?”
Khalid berkata: “Teruslah engkau dengan hijabmu yang sekarang; seperti ibuku dan saudari-saudariku.”
Istrinya menjawab: “Tidak… Aku ingin memakai hijab seperti yang dikehendaki Allah.”
*****
Tak terasa, hari-hari pun bergulir begitu cepat. Tak ada yang bertambah pada wanita itu, kecuali keimanan yang semakin teguh. Ia dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Begitu pula pesonanya semakin memikat hati sang suami.
Suatu hari, ia melihat paspornya ternyata telah hampir habis masa berlakunya. Hingga, ia pun mesti memperbaharuinya. Namun masalahnya, proses perpanjangan paspornya harus dilakukan di kota tempat ia berasal. Maka, tidak bisa tidak, ia harus pergi ke Rusia. Jika tidak, maka mukimnya di negeri teluk itu akan terhitung illegal. Khalid pun memutuskan untuk pergi bersamanya ke Rusia, dan istrinya memang tak ingin pergi tanpa disertai mahram.
Berangkatlah mereka menggunakan pesawat Rusia. Sang istri berangkat lengkap dengan hijabnya yang sempurna!! Ia duduk di samping suaminya dengan penuh rasa percaya diri. Khalid berkata kepadanya; “Aku khawatir kita akan menemui berbagai kesulitan karena hijabmu itu.” Istrinya menjawab: “Subhanallah! Engkau menginginkan aku mengikuti kehendak orang-orang kafir itu, dan menentang kehendak Allah? Tidak… Demi Allah! Biarkan mereka berkata semau mereka….”
Orang-orang pun mulai memperhatikannya. Para pramugari membagikan makanan kepada para penumpang, juga minuman keras sebagai penyertanya. Sebagian besar penumpang langsung meminumnya. Ketika minuman itu mulai bereaksi di kepala-kepala mereka, keluarlah dari mereka ucapan-ucapan meracau. Istri Khalid pun menjadi sasaran kecaman para penumpang yang mabuk itu dari beberapa penjuru pesawat. Sebagian membentak-bentaknya, sebagian lagi menertawakan, sebagian lagi mencelanya, sebagian lagi berdiri di sampingnya dan menunjuk-nunjuk mukanya.
Khalid melihat mereka, tak mengerti. Sedangkan istrinya hanya tersenyum atas kejadian itu, lalu ia menerjemahkan kepada suaminya apa-apa yang mereka lontarkan. Kontan saja Khalid marah.
Namun istrinya berkata: “Tidak, engkau jangan bersedih… Hatimu tak perlu merasa sumpek. Ini masalah kecil dibanding kecaman dan celaan yang dihadapi para sahabat, juga cobaan-cobaan yang dialami oleh para shahabiyyat.” Maka, Fulanah dan suaminya berusaha menahan diri, hingga sampailah mereka di bandara Rusia.

Fitri F.Z
Insya Allah Bersambung…
Read More - _*_Serial Kisah Penggugah Jiwa_*_ Masuk Islamnya Seorang Pemudi Rusia Penganut Kristen Ortodoks {Episode:1}