Senin, 11 Juli 2011

Hanoman In Love

Diposting oleh Yusuf Shadiq

Bismillahirrahmanirrahim..

Arjuna, mungkin semua wanita mendamba laki-laki gagah layaknya Arjuna. Tapi aku tak memiliki kelayakkan seperti Arjuna. Simbol cinta yang di miliki Arjuna dan Rama seolah sudah menggema di seluruh antero percintaan. Tapi kalo si Hanamon yang jatuh cinta pada seorang wanita cantik bagaimana ??

” Assalamualaikum Farid “aku menoleh

” Waalaikumsalam Rendy ” kataku menyambut salamnya.

” Lagi ngapain “katanya yang melihatku duduk di bawah sebuah pohon yang ada di kampus kesayangan kami ini. Aku menatap jauh pada seorang wanita berjilbab biru yang sedang mengerjakan sesuatu bersama teman-temannya.

” Masih mikirin Dinda “  Farid mencoba membaca pikiranku. Aku hanya tersenyum.

” Aku ingat insiden kemarin Far ” Aku menerawang ingatanku.

” Kenapa?? ”

” Aku kemarin gak sengaja ngelihatin dia berlama-lama ketika dia duduk disana dengan laptopnya ” aku menunjuk sebuah pohon yang memang biasa di buat para mahasiswa duduk untuk berteduh.

” Tiba-tiba dia mendatangiku, aku makin deg-degan ketika dia menghampiriku. Kau tahu apa yang dia katakan ?? ” aku bertanya pada Farid. Pertanyaan yang tak butuh jawaban darinya. Farid pun menatapku semakin lekat.

” Dia bilang ” kamu ngapain ngeliatin aku terus, aku ngerasa di lecehin tau ” Dia bilang gitu padaku Far, bayangin aja mukaku yang kecut mendengarnya ”

Farid pun tertawa lebar.

” Ah..kamu malahan ketawa si Far ” kataku cemberut.

” Lagian kamu juga, macan tidur kayak si Dinda yang bener-bener jaga Izzahnya, kamu bangunin juga ” katanya menggodaku.

” Abisnya giman Far, aku gak bisa bohongin kata hatiku. Aku suka sama dia ”

” Cintamu udah kayak es campur si Ren, udah ke campur-campur sama nafsu ”

” Es campur kan enak Far ” Aku terkekeh.

” yang enak itu belum tentu nyehatin bro, kalo kebanyakan juga entar bisa mencret ” Farid tertawa lebar. Aku pun akhirnya ikut tertawa.

” Gimana kalo kamu melamar dia aja Ren ” aku langsung terdiam, melihat wajah Farid sebentar lalu kembali menerawang jauh.

” Lihat aku Far, aku tak punya apa-apa. Sedangkan dia punya segalanya. Aku tak punya prestasi, sedangkan dia gudangnya prestasi. Lihat tubuhku kurus gini gak ada cakep-cakepnya. Sedangkan dia, pesonanya luar biasa ” kataku

” Kamu kalo pesimis gitu persis kayak hanoman ” Farid tertawa.

” Biarlah kayak Hanoman, meskipun Hanoman jeleknya minta ampun karna berwajah kera. Tetap aja dia seorang pahlawan ” aku membalasnya telak.

” Pinter juga kamu, harusnya kamu punya jiwa optimis kayak hanoman donk. Meskipun tampang pas-pasan. tapi keberanian dan kegagahannya bisa disebut pahlawan. Kenpa kamu gak mencoba melihat kelebihanmu, perjalananmu masih panjang. Asahlah kemampuanmu agar bisa menjadi kebanggaanmu.”

” Aku tak punya kemampuan apa-apa buat di banggakan ” kataku tertunduk

” Kemampuan itu bukan apa yang bisa kamu kerjakan, tapi usaha apa yang bisa kamu lakukan untuk mengeluarkan kemampuanmu ”

Aku melihat senyuman Farid. Senyuman yang mengubah jalan pikiranku. Yaa.. aku harus mencari kemampuanku, bukan menunggu kemampuan itu datang padaku.

Detik itu pun ku mulai dengan belajar dan belajar. Aku mengandalkan otakku sebagai kemampuanku. Aku ingin menjadi lulusan terbaik dalam angkatanku. Harus. Itu lah kemampuan yang akan aku capai.

Lalu Dinda bagaimana ?? Tak ada lagi pikiranku tentang Dinda. Biarkanlah aku layaknya Hanoman yang sedang jatuh cinta tapi tak harus membuatku lekas memilikinya. Yang ku perjuangkan sekarang bukanlah cinta, tapi aku akan memperjuangkan apa yang aku bisa. Aku akan mempahlawankan diri dulu layaknya Hanoman, setelah itu baru aku mampu untuk merebut hati Tulang rusukku.

Aku pun tak berhenti , dengan modal Hobby dan PEDE aku melancarkan aksi mengirimkan karya-karyaku pada sebuah majalah. Dan tak terbayangkan, ternyata aku mempunyai kemampuan yang tak kupikirkan dulu. Semua orang menerima karyaku.

Hanoman ini akan terus maju, bukan hanya memperjuangkan cinta tapi memperjuangkan masa depanku.

” Assalamu’alaikum ” kataku dan Farid.

” Wa’alaikumsalam ” kata seorang wanita terdengar dari dalam rumah. Seorang wanita dengan jilbab birunya membukakan pintu. Dinda.

” Bapak ibu ada Dinda ” kata Farid. Aku hanya tertunduk.

” Ada , silahkan masuk ” kata Dinda. Aku dan Farid pun segera masuk. Menanti dengan tidak sabar.

” Assalamu’alaikum Tante Om ” Farid kembali membuka suara. Aku tetap terdiam.

” Wa’alaikumsalam ” Kata mereka serempak. Kini aku berhadapan dengan orang tua Dinda.

” Langsung saja Om dan Tante, kedatangan kami kesini ingin meminang Dinda untuk sahabat saya ini. Rendy. ” Aku bergetar luar biasa. Aku hanya tertunduk. Kadang melirik kedua orang yang ada di hadapanku.

” Owh ini yang namanya Rendy, kamu lulusan terbaik dari Angkatan kalian kan. Baiklah, biar ibunya berbicara sebentar dengan Dinda ” aku tersenyum mendengar ucapan Ayahnya Dinda.

Percakapan antara Ayah Dinda dan Farid tidak bisa masuk dalam pikiranku, aku masih menunggu dengan tegang.

” Gini ya mas Rendy, mas Farid ” Ibunya kini duduk di hadapanku. Aku mendengarkan dengan seksama.

” Maaf mas Rendy, mungkin Dinda bukan jodoh kamu ” aku tertunduk.Yaa..mungkin Hanoman memang belum menemukan jodohnya.

Apakah aku kecewa, sedih, menangis ?? Tidak..tidak sama sekali. Aku justru lega, karna memang cinta yang penuh nafsu itu telah hilang dalam diriku. Yang sekarang ada adalah Cinta yang ingin ku sambut karna Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Janji Allah pada makhluk Nya pastilah benar adanya. Tulang Rusukku pasti akan ku temukan atas kehendak Nya.

Kini Hanoman masih mencari Tulang Rusuknya yang Hilang.

0 komentar:

Posting Komentar