Rabu, 27 Juli 2011

Haruskah Ku Mengingat Ajalku…

Diposting oleh Yusuf Shadiq

"Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi dari Abu Huraira


Sejenak kita mengingat dan bercermin serta meratap selama satu hari berapa kali kita teringat dengan kematian yang pasti akan kita jalani nantinya, Allah berfirman “ Setiap yang bernyawa itu pasti akan mati.”

Betapapun bencinya manusia dengan kematian, tidak satupun yang sanggup mengelak darinya. Kematian laksana pintu yang setiap orang akan memasukinya. Kenyataan bahwa sebab kematian begitu mudah, seringkali tak menggugah kesadaran bagi orang yang sedang mabuk kepayang dengan hiasan dunia. Kita menyaksikan dan mendengar sebab kematian orang-orang, ada yang mati di usia muda, ada yang mati di saat sedang tidur, terpeleset atau bahkan ketika makan bakso, Betapa ajal begitu dekat.
Faedah Mengingat Mati

Ad-Daqaaq berkata, "Barangsiapa yang memperbanyak mengingat mati, akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu bersegera untuk bertaubat, qanaahnya hati, dan rajin dalam beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melalaikan kematian niscaya akan ditimpa tiga musibah, yakni menunda taubat, tidak puas dengan apa yang telah didapat dan malas dalam beribadah."

Ketika seseorang menyadari bahwa kematian akan menjemputnya, niscaya ia akan mengingat pula persiapan untuk menghadapinya, dia akan segera ingat dengan dosa-dosa yang nantinya akan dimintai tanggung jawabnya. Hal ini mendorongnya untuk segera bertobat. Ia juga akan berbuat qanaah, tidak serakah terhadap dunia karena dia sadar bahwa itu tidak akan dibawa mati. Selanjutnya dia akan mengalihkan perhatiannya untuk mempersiapkan kematian dengan beribadah. Kalaupun dia mencari harta, tujuannya adalah untuk memuliakan akhiratnya.

Berbeda halnya dengan orang yang malas mengingat mati. Dia akan sibuk mencari kenikmatan dunia, bernafsu melampiaskan syahwatnya dan bergelimang dengan dosa-dosa. Karena dia tidak sadar bahwa kelak kematian akan menghampirinnya dengan tiba-tiba, di saat ia belum memikirkan bekal untuk menghadapinya. Tak terpikir olehnya untuk bertaubat, atau dia merasa masih punya banyak waktu untuk menebusnya sehingga dia berangan untuk menunda taubatnya hingga waktu yang dia sendiri tidak tahu apakah nyawa masih setia bersamanya. Dia juga tidak merasa perlu untuk bersegera melakukan ibadah karena merasa belum saatnya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Hasan al-Bashri rahimahullah: "Tiada seorang pun yang panjang angan-angannya melainkan pastilah buruk amal-amalnya."

Mengingat mati adalah obat mujarab untuk melunakkan hati yang keras dan membersihkan karat hati. Telah datang seorang wanita kepada ibunda ummul mukminin Aisyah RH mengadukan akan kerasnya hati yang ia rasakan. Maka Aisyah RH berkata, "Perbanyaklah mengingat mati niscaya hilang penyakit di hatimu!" Akhirnya wanita itupun mengerjakan wejangan itu dan hilanglah penyakit di hatinya, lalu ia datangi kepada ibunda Aisyah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.

Yang Diingat Dalam Kematian:

Jika kita mengetahui faedah mengingat mati, lalu peristiwa manakah yang perlu kita ingat? Banyak peristiwa mengerikan yang dapat kita renungkan dalam peristiwa kematian, yang dengannya hati menjadi lembut, rasa takut bermaksiat semakin bertambah dan semangat ibadah semakin memuncak.

Pertama, bahwa kematian datang secara mendadak. Malaikat maut datang tanpa bisa dicegah, tanpa permisi dan tanpa peduli apa yang sedang dan akan kita kerjakan., baru selesai membangun rumah mewah namun belum sempat menempatinya, atau telah bekerja keras dan hampir saja mendapatkan upahnya, ajal datang tanpa ampun dan tanpa kompromi, atau baru lulus kuliyah tapi tidak dapat menikmati keberhasilannya, itulah kematian.

Betapa banyak kita dapatkan seseorang berangkat ke kantor naik mobil mewah, namun siangnya harus naik keranda roda manusia? Betapa banyak orang yang paginya memakai pakaian indah berdasi lalu siangnya harus orang lain yang melepaskan bajunya untuk diganti dengan kafan? Betapa banyak orang tua yang pagi harinya memandikan anaknya namun siang harinya dia harus dimandikan orang lain sebelum dikafan dan dishalatkan?

Inilah realita yang setiap hari kita dengar dan saksikan, namun keadaan kita seperti yang digambarkan Ar-Rabi bin Barrah: "Aku heran dengan manusia, bagaimana mereka lupakan kejadian yang pasti terjadi? Mereka lihat dengan matanya, mereka menyaksikannya, dan hatipun meyakininya, mengimaninya, dan membenarkan apa yang dikabarkan oleh para Rasul, namun kemudian mereka lalai dan mabuk dengan senda gurau dan permainan."

Kedua, hendaknya kita juga mengingat bahwa kematian itu ada masa sakaratnya. Seperti yang difirmankan Allah "Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya." (Qaaf: 19)

Ketika kematian menjemput Amru bin ‘Ash RA, putranya berkata, "Wahai ayah, Anda pernah berkata, "Sesungguhnya aku heran terhadap seseorang yang di ambang kematiannya, sedangkan akalnya masih lekat, lisannya pun masih sehat namun bagaimana dia tidak mau bercerita?" Maka Amru bin ‘Ash berkata, "Wahai anakku, kematian itu terlalu sulit untuk dikatakan! Akan tetapi baiklah, aku ceritakan sedikit tentangnya, demi Allah seakan-akan di atas pundakku ada gunung Radhwa dan Tihamah…Seakan aku bernafas dengan lubang jarum...Seakan di perutku ada duri yang runcing…Dan langit seakan menghimpit bumi, sedangkan aku berada di antara keduanya..."

Maka marilah kita memperbanyak doa:
"Ya Allah, tolonglah aku untuk menghadapi penderitaan tatkala mati dan sakaratnya."
Kapan mengingat Mati dilakukan

Dzikrul maut (mengingat mati) dapat dilakukan ketika kita mengantar jenazah. Dengan melihatnya kita membayangkan bagaimana jika jenazah yang diusung itu kita.

Ketika Umar bin Abdul Aziz mengurus jenazah, mayat sudah dikubur, diapun berbalik kepada orang-orang sembari berkata: "Seakan kubur itu berkata kepadaku, wahai Umar maukah kuberitahu apa yang aku perbuat terhadap orang ini? Aku bakar kafannya, ku robek badannya, ku sedot darahnya, ku kunyah dagingnya, aku cabut telapak dari tangannya, tangan dari lengannya dan lengan dari pundaknya. Lalu ku cabut pula lutut dari pahanya dan betis dari lututnya dan telapak kaki dari betisnya" kemudian Umar pun menangis.

Dzikrul maut bisa juga dilakukan di keheningan malam, dan bisa juga dengan ziarah ke kuburan, banyak hal yang harus dipahami batas-batasnya. Tidak boleh menentukan waktu tertentu, atau mengkhususkan kuburan tertentu, tidak ada amal tertentu selain ucapan salam, mendoakan si mayit atau untuk mengingat mati.

Dengan mengingat mati kita akan lebih terkendali. Dan memiliki rem untuk tidak melakukan maksiat. Kita pun akan lebih terarahkan untuk melakukan hanya yang bermanfaat saja. Kalau kita lihat para 'arifin dan salafus shalih, mengingat mati bagi mereka, seperti seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Di mana seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Menjelang kematiannya, Sahabat Hudzaifah berkata lirih, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemuimu”, jadi kita di anjurkan tuk mengingat kematian yg akan kita alami.

Semoga dengan tema kematian pada jumat ini lebih mendekatkan diri kita kepada sang pemilik Alam dan seisinya Amin

0 komentar:

Posting Komentar