Kamis, 10 November 2011

JANJI ALLAH UNTUK KEMENANGAN ISLAM

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Hikmah adalah mutiara tak ternilai bagi seorang Muslim. Terkadang, kita menemukan secercah cahaya justru dari lisan seorang anak kecil. Atau terkadang, kita tergugah dengan semangat berjuang dari seorang yang tampaknya lugu.
Dan barangkali, pertanyaan seorang murid tempo hari juga patut kita jadikan renungan bersama.
“Kenapa sih kita harus memperjuangkan Islam, padahal sudah jelas tertulis bahwa kelak Islam pasti akan menang?”

Saudaraku,
Saya sadar, memang tak cukup ilmu saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, sebisa mungkin saya mencoba menjawab pertanyaan adik kita itu.
Saya awali jawaban tersebut dengan penjelasan tentang takdir dan nasib. Takdir Allah meliputi hal-hal yang tidak dapat kita ubah, walau dengan usaha apapun. Hidup, rizki, jodoh, dan mati itu adalah takdir. Dan tidak akan mampu kita ubah, apapun caranya.
Allah berfirman:
Katakanlah (Muhammad): ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (QS At Taubah: 51)

Adapun nasib, hanya akan Allah ubah jika seorang hamba melakukan ikhtiar. Sebagaimana yang Allah titahkan dalam firman-Nya yang indah:
“Dan Allah tidak akan mengubah nasib seorang hamba sebelum mereka mengubah nasibnya sendiri..” (QS Ar Ra’d: 11)

Yaa ikhwahfillah…..
Memanglah, Islam sudah dijanjikan menang oleh Allah. Semua ketentuan itu sudah tertulis jelas di Al Qur’an dan Sunnah. Dan itulah takdir. Tidak dapat diubah. Tapiiiiiii…coba kita renungkan bersama. Seandainya tidak ada yang memperjuangkan kemenangan itu, lantas siapakah yang akan menjadi relawan masuk surga? Siapakah yang mau dipaksa untuk jatuh ke neraka?
Rasulullah SAW bersabda:

Allah akan segera memberi pahala kepada orang-orang yang keluar berperang dalam keadaan beriman kepada Allah, dan iman kepada Rasul-NYA, “Aku akan memulangkannya denganpahala dan kemenangan, atau akan Aku masukkan ia ke surga”. (HR Bukhari)

Tentang ini, Allah juga sudah berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki…..” (QS Ali Imran: 169)

Maka, itulah permasalahannya. Kemenangan Islam itu takdir. Kematian seorang hamba juga takdir. Akan tetapi, surga dan neraka itu nasib. Bisa kita upayakan. Bisa kita ikhtiarkan. Melalui upaya penegakan kalimatullah, insya Allah akan menentukan nasib kita di akhirat kelak. Dan itulah ujian keimanan. Ujian Allah untuk menyeleksi, siapakah di antara kita yang lebih tinggi imannya.

Sahabatku,
Adik kita itu bertanya lagi. “Lantas, mengapa pula kita tidak bersatu membela Palestina, padahal sudah jelas bahwa Bani Israel itu dilaknat oleh Allah?”
Wallahu a’lam.  Mungkin itu jugalah yang namanya nasib. Tiap orang dikaruniai bekal yang sama oleh Allah. Sebagaimana yang Allah firmankan:
Maka Dia mengilhamkan (sukma) kefasikan dan ketaqwaannya…” (QS Asy Syams: 

Nah, jika setiap orang mempunyai bekal yang sama, yakni kefasikan dan ketaqwaan. Nafsu dan hati. Tinggal apa yang akan dipilih. Apakah jalan yang dituntun oleh nafsu, ataukah jalan hati nuraninya.
Meskipun Bani Israel sudah jelas dilaknat oleh Allah, tapi kadang nafsu akan membutakan mata dan hati kita. Kebenaran yang nyata jelas di hadapan tidak mampu ia lihat.
Wallahu a’lam bish showwab

Fitri Fatimah Zahra

0 komentar:

Posting Komentar