Selasa, 16 Agustus 2011

menjadi wanita paling bahagia

Diposting oleh Yusuf Shadiq
akhwat-dech
Untuk setiap wanita muslimat yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya, islam sebagai agama yang dipeluknya, dan Muhammad SAW sebagai Rasul anutannya. Setiap ibu yang mendidik anak-anaknya untuk bertaqwa, menumbuhkan mereka sesuai dengan tuntunan As-sunnah, dan menanamkan ke dalam diri mereka cinta terhadap segala hal yang haq, dan untuk setiap wanita yang dirundung kesusahan dan kesedihan, berbahagia dan bergembiralah dengan datangnya kemudahan yang dekat waktunya, pemeliharaan dari Allah, pahala yang besar, dan terhapusnya segala dosa. Sebagai wanita muslimah sejati sudah sepantasnyalah kita mempercantik diri dengan perhiasan yang begitu cemerlang keindahannya, menyilaukan kecantikannya, dan bercahaya kebenarannya, sehingga melebihi kemilaunya emas dan cemerlangnya perak. Riasilah diri kita dengannya dalam keindahan dunia ini pada hari yang penuh kegembiraan, keceriaan, dan malam-malam yang indah. Agar kelak dengan ijin Allah kita akan bisa menjadi wanita yang paling bahagia.
Ada berbagai cara untuk dapat menjadi wanita paling bahagia, salah satunya adalah dengan memelihara kehormatan dan rasa malu. Hal ini akan menambah kecantikan wanita yang cantik. Nabi bersabda: “Barang siapa yang menyeret kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan memandangnnya pada hari kiamat nanti.”
Ummu Salamah, salah satu istri Nabi bertanya: “Bagaimanakah kaum wanita harus berbuat terhadap ujung kainnya?”. Kemudian Nabi menjawab: “Hendaknya mereka menjulurkannya sejengkal.”
Ummu Salamah bertanya: “Kalau begitu, mata kaki mereka akan kelihatan?”. Nabi pun menjawab: “Maka hendaklah mereka menjulurkannya sehasta dan tidak boleh lebih.”
Maksudnya adalah meskipun kita wanita mukmin bukan termasuk orang-orang yang sombong dan congkak, kita harus tetap mencintai suami-suami kita, memelihara kehormatan dan kesucian diri kita, tidaklah pantas bila mata kaki kita kelihatan. Oleh karena itu kita diperintah untuk mengenakan kain yang memiliki sedikit ekor di belakang agar kaum lelaki tidak dapat melihat sesuatu pun dari bagian tubuh kita. Bukan bermaksud untuk sombong ataupun congkak dengan menyeret kain yang kita kenakan, akan tetapi semua itu kembali kepada niat kita untuk menaati suami kita dan tentunya untuk mengharap ridha Allah SWT,
Berbeda dengan kaum wanita muslimin jaman sekarang, mereka justru mengangkat tinggi-tinggi menurut selera mereka karena takut basah atau takut debu. Bahkan mereka juga tega menanggalkannya hanya agar dianggap mengikuti jaman, mengikuti para wanita-wanita kafir yang mengobral kecantikan tubuhnya. Mereka mempunyai beribu alibi untuk menguatkan alasan atas apa yang mereka kenakan.
Memang benar, tiada daya dan upaya melainkan pertolongan dari Allah. Adapun kaum pria, mereka juga tidak mempunyai rasa cemburu sama sekali.mereka berjalan di samping wanita yang berpakaian buka-bukaan itu tanpa sedikitpun memperdulikannya. Sungguh rasa malu telah hilang dari diri mereka. Karena seseorang akan bisa hidup dengan baik selama dia mempunyai rasa malu sebagaimana batang kayu yang akan tetap lestari selama masih terbungkus oleh kulitnya. Dan tidak ada kebaikan bagi hidup ini, dan tiada pula bagi dunia ini apabila rasa malu itu telah sirna darinya.
Semoga kita menjadi orang-orang yang masih mempunyai rasa malu dan bisa menjaga kehormatan diri kita agar tetap menjadi wanita yang paling bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin..

0 komentar:

Posting Komentar