Kamis, 11 Agustus 2011

Al Quddus

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Al Quddus
Adalah Alloh Maha Suci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh inderawi, Dia Maha Suci dari yang dikhayalkan oleh imajinasi, Dia Maha Suci dari praduga serta Dia Maha Suci dari sesuatu yang terlintas dalam nurani maupun pikiran. Dan kesucian-Nya tidak menerima perubahan, tidak tersentuh oleh cela, bahkan Dia Maha Suci dari kesempurnaan yang diduga oleh banyak makhluk dan Dia terus menerus terpuji dengan langgengnya sifat kekudusan itu tanpa terikat oleh ruang dan waktu.
Kami tidaklah berkata bahwa Dia Maha Suci dari segala macam kekurangan dan ketidak sempurnaan, karena ucapan semacam ini hampir mendekati pada ketidaksopanan atau bahkan cenderung pada penghinaan. Tidaklah baik jika seseorang mengatakan tentang kesucian-Nya sebagaimana berikut:
Pertama : Kesempurnaan pada diri mereka, seperti pengetahuan dan kemampuan mereka, pendengaran, penglihatan, dan gaya bicara mereka, kehendak dan pilihan mereka. Sehingga mereka menggunakan kata-kata ini untuk menyampaikan makna-makna atau istilah-istilah tentang kesempurnaan.
Kedua : Sifat-sifat tersebut mengandung apa yang tidak sempurna berkenaan dengan mereka, seperti kebodohan mereka, kebutaan, ketulian dan kebisuan mereka, dan mereka menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan tentang istilah atau makna tentang ketidaksempurnaan.
Dengan demikian, hal yang dapat kita lakukan untuk memuji dan menyifati-Nya adalah:
Pertama : melukiskan Dia dengan sifat-sifat yang diambil dari kesempurnaan yang telah diberitakan oleh kitab suci-Nya seperti hal pengetahuan, kemampuan pendengaran, penglihatan dan pembicaraan sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.
Kedua : menafikan Dia dari sifat-sifat yang diambil dari ketidaksempurnaan makhluk. Namun Alloh segala Puji bagi-Nya Yang Maha Tinggi melebihi sifat-sifat yang diambil dari kesempurnaan mereka. Dia juga mengatasi sifat-sifat yang mencerminkan ketidaksempurnaan mereka.
“Kesucian” adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh Alloh, Dia tidak dapat tergambar dalam benak, tidak terjangkau oleh indra, tidak dapat diduga oleh dugaan, dan tidak terlintas dalam nurani, tidak ada yang mengenal-Nya baik di dunia maupun di akherat kecuali Alloh atau yang sama dan setara dengan-Nya, namun karena tidak ada yang sama dan setara dengan-Nya, maka tidak ada yang mampu mancapai-Nya kecuali diri-Nya sendiri yaitu Alloh”.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, sementara pakar mengatakan bahwa kekudusan / kesucian mengandung tiga aspek yakni; Kebenaran, Keindahan, dan Kebaikan, sehingga Alloh Yang Qudduus adalah Dia Yang Maha Indah, Maha Baik dan Maha Benar dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya, keindahan, kebenaran dan kebaikan yang tidak ternodai dan dinodai oleh sesuatu apapun. Dari sinilah kemudian datang perintah untuk mensucikan Alloh dari segala sifat yang tidak layak untuk-Nya. Jika demikian, maka mensucikan Alloh, itu mengandung makna yang lebih dalam dan lebih luas dari sekedar bertasbih kepada-Nya, karena pensucian mengandung makna menetapkan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang tentunya sesuai dengan keagungan-Nya.
Saudaraku, sungguh, bahwasanya Alloh Azza wa Jalla bebas dari setiap sifat yang dapat dipahami oleh makhluk-Nya. Dia mengatasi semua itu dan apapun yang sama dengan semua itu atau dengan yang seperti itu. Jadi tidak ada wewenang yang diberikan untuk menggunakan sifat-sifat itu. Bukankah kita sering membaca dalam kitab suci-Nya ayat yang berbunyi “Wa lam yakun lahu kufuwan ahad Tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (Qs al Ikhlash 112:4). Begitu juga dalam ayat-ayat lainnnya didalam al Qur’an.
Tanbih.
Saudaraku, mungkin anda akan bertanya: “Akankah manusia dapat meraih tingkat kesucian, tentunya kesucian ditingkat manusia?” maka akan kami jawab: “Tentu saja bisa”. Seseorang akan dapat meraih kesucian jika ia mau bercermin kepada Yang Maha Suci. Sungguh. Bahwa hamba Alloh akan meraih tingkat kesucian jika ia berusaha dan mampu membebaskan dirinya dari pengetahuan dan kehendaknya. Ia harus membebaskan segala pengetahuannya dari khayalan/imajinasi dan dari segala tanggapannya yang sebagian besar dari tanggapan itu dimiliki juga oleh binatang.
Pembebasan diri dari pengetahuan adalah: hendaknya ia secara terus-menerus mengkaji pengetahuan yang berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat Ilahiyah, yang benar-benar bebas dari hal-hal yang dapat dipersepsi inderawi, dan semakin tersembunyi pengetahuan itu darinya, maka akan semakin baik. Seperti sabda Nabi saw: “Syair orang arab yang paling baik adalah syairnya Labib, yaitu “Segala sesuatu selain Alloh adalah sia-sia”. Jika seseorang dapat menjalankan hal-hal tersebut, maka ia akan membebaskan diri dari segala hal yang dapat menimbulkan khayalan.
Adapun mengenai kehendaknya, walaupun pada kenyataannya kita adalah manusia, hendaknya ia dapat membebaskan diri dari hal-hal yang bersifat manusiawi, yaitu hal-hal yang mengedepankan dan mengutamakan kesenangan hawa nafsu atau amarah, seperti kesukaan terhadap hidangan makanan, berhubungan seks, pakaian, atau apapun yang dapat disentuh atau dilihat, atau segala sesuatu yang dapat dinikmati dan dirasakan melalui pancaindera dan tubuhnya.
Singkatnya, tanggapan inderawi dan khayal adalah sesuatu yang juga dimiliki oleh hewan. Oleh karena itu, hendaknya kita dapat mengatasinya agar ia benar-benar manusiawi. Demikian juga hewan selalu bersaing dengan manusia dalam hal kenikmatan-kenikmatan yang berhubungan dengan pancaindera. Oleh karena itu, hendaklah ia selalu berusaha untuk membebaskan dirinya dari kenikmatan-kenikmatan tersebut. Orang yang berkeinginan niscaya akan sama tingginya dengan apa yang diinginkannya. Hal ini sama dengan orang yang menginginkan apa yang masuk kedalam perutnya, padahal akan sama nilainya dengan apa yang dikeluarkan oleh perutnya. Namun siapapun yang hanya menginginkan Alloh Azza wa Jalla, maka ia akan mendapatkan tingkat yang sesuai dengan keinginannya itu. Dan barang siapa meninggikan pikirannya diatas tingkat hal-hal yang bersifat khayali dan membebaskan kehendaknya dari hawa nafsu, maka ia akan ditempatkan dalam Pagar Kesucian oleh-Nya.
Memang sepintas akan terasa berat terhadap hal-hal yang telah disebutkan diatas, apalagi bagi seorang pemula yang sedang mencari Jalan Menuju Ilahi, namun jalan inilah yang ditempuh oleh para kekasih-Nya yang terpilih. Dengan cara yang telah disebutkan diatas, ia tidak akan menginginkan apapun kecuali Alloh swt. Ia tidak meniru apapun, kecuali meniru sifat-sifat Alloh Yang Agung lagi Sempurna. Yang dirindukannya hanyalah bertemu dengan-Nya, dan yang dapat membuatnya senang dan bahagia adalah ketika berdekatan dan dekat dengan-Nya. Meskipun surga dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan ditawarkan kepadanya, ia tidak akan memalingkan wajah dan harapannya. Dunia, langit bumi tidak akan sanggup untuk memuaskannya. Hanya Alloh Al-Quddus sajalah yang dapat memuaskannya.

0 komentar:

Posting Komentar