Selasa, 02 Agustus 2011

Ada Apa Dengan Masa Lalu. . .

Diposting oleh Yusuf Shadiq
Andai setiap jengkal perjalanan yang kita lalui mesti kita simpan dalam-dalam, sesobek kaos oblongpun tentulah memiliki riwayat yang panjang. Akan banyak file-file masa lalu yang berjejalan menyesaki memori kita yang terbatas. Akan ada berjibun cerita yang tumpah ruah, memuntahkan kepedihannya masing-masing tanpa pernah kita mampu menahannya. Ya, masa lalu adalah rubaiyat hidup yang niscaya. Maka, sejauh manakah seseorang mampu memahami masalalunya, sejatinya ia akan memahami kehidupannya, memahami masa depannya.

Masa lalu, bagi mereka yang terbangun dari tidurnya adalah sketsa mimpi. Mimpi, seindah dan seburuk apapun tetaplah mimpi. Ia hanyalah ilusi dari bias-bias emosi yang menusuk liang-liang diri. Ada berbagai hal yang tidak ingin kita lepaskan dan ada banyak orang yang tidak ingin kita tinggalkan. Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia, melainkan awal dari kehidupan yang baru.

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih, meratapi jengkal demi jengkal kekalutan dan kegagalan di dalamnya, tentulah pekerjaan yang sia-sia. Tak ubahnya seperti pembunuhan diri secara perlahan. Mematikan semangat, memupuskan tekad, bahkan mungkin manyesali takdir. Kesedihan, tentu tak akan mampu mengembalikannya lagi. Keresahan, tentu tak akan sanggup memperbaikinya lagi. Kegundahan, tentu tak akan kuasa menghidupkannya kembali. Karena ia memang sudah tak ada...

Benar kata seorang yang bijak, ”Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masalalu atau di bawah payung gelap masa silam. Karen ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya.” Dan memang tak ada gunanya lagi mengurai bangkai masa lalu, dan memutar kembali roda sejarah. Mereka yang berusaha kembali ke masa lalu, tak ubanya seperti orang yang menumbuk tepung dan menggergaji serbuk kayu.

Adalah bencana besar manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh sesuatu yang telah terlewati, masa lalu yang telah sunyi. Sama halnya dengan kita mengabaikan harapan-harapan indah dan sibuk meratapi puing-puing yang telah runtuh dan lapuk. Bagi mereka yang ingin bangkit, masa lalu bukan dijadikan bahan ratapan, melainkan dijadikan materi pelajaran dan refleksi, untuk terus berbenah diri, agar penyesalan itu tidak terulang kembali....

0 komentar:

Posting Komentar